
Natan panik dan menghubungi Tama, namun tak tersambung. Dia menghubungi Eri
"ada apa Tan,,"
"Sila ada dikamar 309. kedengarannya tidak baik. ada suara laki laki juga" tanpa menunggu jawaban Natan menutup telponnya.
Eri yang mendapat kabar langsung beranjak dan menggeret tangan Tama.
"kemana?"
"gawat!" hanya satu kata yang terucap.
Keduanya keluar dari ruang itu diiringi senyum seorang cewek cantik.
"kalian tak akan bisa menemukannya" gumamnya
diluar ruangan
Eri dan Tama bergegas mencari kamar 309. mereka bertemu pegawai hotel yang baru saja keluar dari lift.
"nona , maaf mengganggu sebentar," sapa Eri
"eh tuan muda Wijaya ada yang bisa saya bantu?"
"kami mencari kamar nomor 309. tolong antarkan kami" jawab Eri
"baiklah ikut saya" jawab sang pegawai sambil berbalik masuk kedalam lift.
"kalau boleh tau ada hal penting apa sehingga tuan muda terlihat sangat tergesa gesa?"
" segera bergegas saja nona "jawab Tama saat mereka keluar dari lift.
Eri menghubungi keamanan hotel dengan ponselnya
Saat pegawai itu menunjukkan kamar yang di cari. Tanpa basa basi Tama menendang pintu dengan kekuatan penuh amarah, hingga dengan sekali tendang langsung terbuka.
"siapa kalian. berani beraninya mengganggu kesenanganku!"
"pak manajer?" bisik sang pegawai
Ketiganya terkejut saat mendapati tubuh seorang perempuan terbaring tak berdaya diranjang tanpa sehelai benang pun, dan seorang lelaki yang hanya mengenakan kolor berdiri disamping tubuh perempuan itu membungkuk hendak menciumnya.
"tetaplah ditempatmu Er!" teriak Tama
Dan berlalu menghampiri lelaki bugil itu. Tak perlu banyak kata, langsung di tendangnya wajah si lelaki tersebut. Dengan emosi yang sudah membakar hati dan pikirannya, Tama menghajar tanpa ampun laki laki yang mencoba melecehkan istrinya.
"bajing*n!!! kepar*t,," umpat Tama penuh emosi
Sang pegawai menghampiri tubuh perempuan itu dan menyelimutinya. Ia kaget saat melihat wajahnya
"Sila!" teriaknya tak percaya.
"Sila,,, bangun! bagaimana ini bisa terjadi,,,Sila!!!"
"tolong aku,,, badanku lemas sekali,," hanya itu kata kata yang keluar dari bibir Sila
Eri masuk dan meredamkan amarah Tama.
"Tam sudah,,, keamanan hotel sudah disini,, sudah biar ditangani mereka"
bujuk Eri.
__ADS_1
"kaparat kau!" umpat Tama sekali lagi sambil menendang perut laki laki itu
"ampun tuan,, ampuni aku. aku tidak tahu apa apa. ini,,, ini hanya hadiah dari teman saja"
Tama menghampiri tubuh Sila yang terbalut selimut. Dia merogoh bagian intim sang istri dan tersenyum saat tak didapatinya cairan apapun. Hatinya merasa lega. Dia mengangkat dan menggendongnya pergi.
"tolong,, aku,, ugh,, merasa tidak enak,, aku,,, tolong" Sila masih meracau
Si manajer dibawa keamanan hotel untuk diserahkan ke polisi diikuti Eri.
Pegawai yang tak lain adalah Yuni itu mengambil semua pakaian dan ponsel Sila
"Simpan barang barangnya" perintah Tama
Tama membawa istrinya ke Presidential suite pribadinya. dan membaringkan tubuh Sila pelan.
Namun gadis yang dalam pengaruh obat itu malah menggantungkan kedua lengannya keleher Tama.
"badanku rasanya,,, ahh,, aku kepanasan. bantu aku"
Senyum Tama menyeringai
"buka mata mu dan lihatlah aku,,"
Sila mengerjap pelan
"ah,,, mas,,, mas, tolong aku. aku tidak tahan"
"apa kau sudah lihat benar benar siapa aku?"
"hmm hmm," Sila mengangguk "mas tolong aku agh,,, mas"
"baiklah,,, kamu yang memintanya." ucap Tama sambil melepaskan pakaiannya
Dimalam itu, meskipun tak diharapkan melakukannya dalam keadaan seperti itu, namun Tama berhasil membuat sang istri mengerang hebat. Dan diapun mendapatkan kenikmatan luar biasa setelah pernikahannya yang berjalan hampir mencapai tahun ketiga.
Namun, ada suatu yang mengganjal dihati Tama
,,,tak ada darah, yang disebut darah perawan,,,
"apakah hal ini yang membuatnya takut selama ini? dia takut aku akan mempertanyakannya?" gumam Tama dalam hati
Meski malam itu adalah pengalaman pertama baginya dan tak didapatinya darah perawan sang istri tak membuatnya marah. Walaupun sedikit rasa kecewa dia berusaha berfikir positif
"Selama ini, dia berlatih bela diri dengan begitu keras, sering berkelahi aku juga tidak tahu apa yang terjadi selama dia pergi, mungkin itu robek karena latihan atau kecelakaan,," Tama menenangkan hatinya yang sedikit kecewa.
Diapun membaringkan tubuhnya yang kelelahan dan memeluk erat sang istri dengan senyum puasnya.
*
Di pagi hari
Eri dan Natan datang kehotel tersebut dengan baju ganti untuk kedua bosnya dan juga obat untuk nyonya muda mereka.
drrrrt drrrt
Ponsel Tama bergetar, diraihnya dan muncul wajah Eri dilayarnya
"hmmm apa?"
"bangun woi !!! sudah siang!!" teriak Eri memekakkan telinga Tama.
__ADS_1
"iya iya,, bawakan aku pakaian dan obat buat nyonya mu"
"kami sudah siap dengan keperluanmu. kami sudah didepan kamarmu sekarang"
kali ini Natan menjawab dengan tenang
"baguslah"
Tama bangun meraih dan memakai piamanya, berjalan membuka kan pintu.
Eri berusaha menyelonong masuk.
"mau kemana kau?"hardik Tama
"aku mau tanya nyonya ku, bagaimana semalam? tuan mudaku ini mampu membuatnya mengerang tidak?" jawabnya tanpa beban
"dasar bawahan kurang ajar kau" Tama memukul Eri dengan baju yang ada ditangannya. Natan hanya tersenyum geli melihat tingkah keduanya.
"jangan ganggu, dia belum bangun"
"wah,,, berapa ronde semalam sampai sesiang ini kalian masih molor?"
"bukan urusanmu" jawab Tama sambil masuk ke kamar dan menutup pintu
"jangan masuk. panggilkan pegawai yang semalam suruh kesini" kata Tama sebelum pintu benar benar tertutup.
Selesai mandi, Tama mendekati tubuh sang istri yang masih tergolek lemas diranjang. dengan lembut dibelai dan diciumnya mesra.
"sayang,,, sudah siang."
"hm,,, uhg," hanya lenguhan kecil yang terdengar dan geliatan menggoda
"bangunlah,, kau membuatku bergairah lagi pagi ini" goda Tama
"badanku masih lemas sekali. bentar lagi,,"
"baiklah,, kalau sudah bangun segera makan dan minumlah obat yang di nakas itu agar badanmu segera segar."
"hmm."
"aku akan ke kantor, kalau kamu sudah segar hubungi Natan untuk menjemput dan mengantarmu pulang"
"baiklah" jawab Sila malas.
Yuni, pegawai yang di minta Tama untuk datang telah berada diluar kamar
"Tam,, ini pegawai yang kamu minta datang sudah disini." teriak Eri sambil membuka pintu kamar itu"
"kamu tetaplah disitu biar dia saja yang masuk" jawab Tama saat melihat sahabatnya sudah muncul di pintu
"pelit amat,, " ucap Eri sambil melongokkan kepalanya kearah ranjang
"awas jaga mata kamu" hardik Tama. Eri terkekeh
"kamu tunggulah disini sampai istriku bangun, layani kebutuhannya. kamu bisa pulang lebih awal setelahnya." perintah Tama pada Yuni.
"baik tuan muda"
Tama pun meninggalkan istrinya untuk pergi ke kantor bersama dua sahabatnya.
Yuni menggeret sebuah kursi untuk duduk dekat dengan ranjang Sila
__ADS_1
"Sila,,, kemana saja kamu. sudah hilang sampai dua tahun, dan tiba tiba kamu dalam keadaan seperti ini. untung suamimu orang baik."