Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
kesempatan


__ADS_3

keesokan paginya


Eri sengaja menemui Sila ditempat kerjanya.


"eh tuan Eri datang kesini lagi?." sapa Sila saat Eri menghampirinya


"iya. ada yang perlu aku bicarakan dengan nona shakira" jawab Eri


"ada apa?..apakah masalah kemarin?. tentang orang yang anda cari?." Sila mencoba menebak


"benar." jawab Eri singkat.


"bisa kita bicara ditempat lain? yang lebih nyaman? sambil sarapan mungkin?" ajak Eri


"maaf.. saya sudah sarapan. lagi pula saya harus bekerja. tidak bisa menemani tuan lama lama." ucap Sila hendak pergi pamit


" tidak apa apa. aku sudah memintakan ijin pada managermu. jadi kita bisa leluasa ngobrol"


" eh.. mana bisa begitu?" Sila sedikit ragu.

__ADS_1


Pada saat bersamaan datang seseorang menghampiri mereka


"Sha.. tuan ini memintakan ijin untukmu. jadi kamu tidak usah repot repot datang untuk hari ini."


"tapi pak manager,, " Sila hendak mengikuti sang manager namun Eri menarik lengannya dan mengajaknya ke sebuah kantin. Sesampainya di kantin mereka mendapatkan tempat duduk dan Eri pergi membeli semangkuk bubur dan dua gelas teh. karena memang Sila tidak mau dibelikan sarapan lagi.


"ada yang ingin aku bicarakan dengan nona Shakira." kata Eri setelah menelan sesuap buburnya.


"panggil saya Sha juga g apa apa kok tuan" Eri hanya tersenyum.


"tuan ingin bicara apa?" lanjut Sila.


" aku mencari orang ini"


Sila begitu terkejut saat melihat video perkelahiannya dengan orang orang yang tak dikenalnya kemarin. Sejenak dia melirik kearah Eri dan kembali ke layar ponsel.


"apa yang bisa saya bantu" tanya Sila sedikit gugup.


"lihatlah videonya sampai selesai. kamu akan mengerti." Eri melanjutkan menyuap buburnya sesendok demi sesendok. setelah beberapa menit, Sila nampak terperanjat. Eri sudah menduga.

__ADS_1


"tuan,,, apa maksud dan tujuan tuan sebenarnya?" tanya Sila sembari mengulurkan Ponsel itu kepada Eri.


"aku ingin kamu gabung dan bekerja dengan kami." Eri meletakkan sendoknya


"maksud tuan..." Sila seakan tak percaya dengan yang diucapkan Eri


"bergabunglah dengan kami dan menjadi pengawal pribadi keluarga Wijaya."


"hah... apakah aku akan bertemu dia?. sering? dekat?" batin Sila matanya mulai berkaca kaca.


" kenapa?. kenapa harus saya?" tanya Sila


"karena kamu punya kemampuan. Tuan muda kami mencari seseorang yang benar benar punya kemampuan, dan dedikasi yang tinggi pada pekerjaan. Dan kamu punya itu" Eri menjelaskan.


"tapi maaf. saya sudah punya pekerjaan. tidak bisa begitu saja berhenti apalagi saya masih tergolong orang baru di kota ini. jadi,,," Sila menunduk. Sebenarnya dia ingin sekali langsung mengatakan iya.


"untuk masalah pekerjaan, kamu tidak usah khawatir. aku bisa membantu mengatakannya pada managermu. Yang penting kamu setuju dulu untuk bergabung dengan kami. untuk gaji bisa dibilang beberapa kali lipat dari yang kamu terima sekarang. karena sebagai pengawal tantangan yang harus dihadapi lebih berat. " Eri menjelaskan secara detail pada Sila


" baiklah nona Sha,,, aku pikir aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Silakan nona pikirkan dan kabari saya secepatnya. ini nomor yang bisa anda hubungi". Eri menyodorkan sebuah kartu nama. Dia berdiri dan berpamit pada Sila

__ADS_1


"Nona Sha.. Hari ini aku sudah sampaikan ajakan pada nona. sekarang aku pamit duluan. jika nona sudah memutuskan hubungi saya." kata Eri kemudian melangkah meninggalkan Sila yang masih terbengong tak percaya.


__ADS_2