Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
berhasil


__ADS_3

Yohan dan Sila berada tepat disebrang kediaman Sarah. Disana ada mall besar dan hal itu memberi keuntungan bagi keduanya.


Dering ponsel Sila mengagetkannya.


"siapa?" tanya Yohan saat Sil mengambil ponsel dari sakunya.


"tuan Natan" jawab Sila.


"ya tuan, apa sudah ada kabar?"


"aku dengar kau dan kapten Yohan menyelidiki kediaman Sarah"


"benar tuan"


"disana ada orang ku yang memberi kabar mobil Eri tadi pagi ada disana tapi sekarang sudah di pindah. Kemungkinan besar memang Eri di sana. mereka juga mengirimkan jadwal Sarah nanti akan aku kirim padamu."


"terimakasih tuan"


" baiklah" "berhati hatilah cantik,,," terdengar suara Tama ikut menimpali.


"cieee,,, ada cantiknya,,,," goda Natan


Sila tersenyum wajahnya merona.


"ei,,, apa yang dikatakan Natan sampai kamu tersipu seperti itu? Jangan bilang dia merayumu"


"kakak apaan sih?"


tring,,, ada notifikasi masuk.


"Jadwal Sarah hari ini" ucap Sila setelah membuka pesan.


"dia ada pemotretan sore ini pukul 17 sampai pukul 20. itu kesempatan kita untuk masuk. " kata Yohan. Dia melirik arlojinya.


"sudah jam 2. kita masuk dulu, kita cari tempat makan."ajak Yohan


keduanya masuk ke mall besar itu. Mereka membeli dua jaket hoodie senada, satu kaos untuk Yohan dan dua celana jeans panjang serta menyempatkan makan.


Dikantor


"sudah ada langkah maju rupanya?" goda Natan dengan senyum nakalnya.


"diamlah"

__ADS_1


"apakah semalam ada rayu rayu seperti ini juga? aku benar benar penasaran bagaimana tampang tuan mudaku ini saat merayu gadis,"


"kamu ini bisa diam tidak" geram Tama sambil menutup mulut Natan


"jangankan untuk merayu, saat menatap matanya lidahku benar benar kaku"


*


*


Pukul 16.30 Sarah meninggalkan rumahnya. Sila menghubungi Natan meminta nomor orangnya yang berada disekitar kediaman Sarah itu dan Natan memberikannya.


Sila menghubungi mata mata Natan dan menyuruhnya datang keparkiran tempatnya mengintai.


"ya nona, apa yang bisa saya bantu"


"berapa banyak pengawal yang di dalam?"tanya Yohan


"kurang lebih 10 orang. dua orang pembantu dan satu orang supir dan dua orang tukang kebun, kalau tidak salah tuan Eri disekap di gudang yang berada disamping garasi dekat dengan pintu belakang". mata mata itu menjelasakan


"baiklah, pak tolong bawa mobil ini dan tunggu di sekitar pintu belakang. aku dan kak Yohan akan masuk. segera menuju pintu saat saya hubungi."


"baiklah nona Sha."


Yohan dan Sila mencari cara untuk masuk pekarangan rumah mewah itu karena mengingat gerbangnya selalu ditutup dan pintu itu begitu tinggi.


"kak" panggilnya sambil menunjuk kearah pohon. Yohan tersenyum. Sila memakai jaket hoodie barunya begitupun Yohan


"kak pakai maskermu, kamu aparat negara. bahaya kalau sampai tertangkap kamera cctv." Yohan pun menggunakan masker dan tambahan topi.


Keduanya berlari dan memanjat pohon tersebut, panjat panjat, panjat


dan melompat kedalam pekarangan. Saat menyelinap disamping rumah mereka ketahuan oleh seorang tukang kebun dan memangcing semua pengawal datang.


Baku hantam pun tak terelakkan. Namun dengan kemampuan yang telah dilatih Yohan, Sila sama sekali tak mengalami kesulitan menghadapai beberapa pengawal rumah itu. Bahkan meskipun jumlah mereka tidak imbang.satu persatu pengawal itu tumbang dan tak sadarkan diri.


Setelah selesai dengan para pengawal itu, Sila dan Yohan bergegas ke arah gudang yang disebutkan mata mata Natan tadi. Benar apa yang sdi duga. Eri berada disana dengan keadaan beberapa luka lebam diwajah dan lengannya. dengan Tangan dan kaki terikat, dia tergeletak tak bertenaga. Ada dua orang pengawal juga didalam sana. Kembali berantem lagi dan Yohan berhasil memenangkan perkelahian itu.


"hish,,tuan Eri kenapa bisa kayak gini sih." ucap Sila sambil melepaskan ikatan ditangan dan kakinya.


Eri membuka mata dan tersenyum lemah


"nona Sha,,,"

__ADS_1


"tuan ayo kita keluar dari sini. Sila menopang tubuh lemah Eri dabantu Yohan yang baru saja menyelesaikan perkelahiannya,


Tiba tiba mereka mendengar suara mobil datang.


"kak ada yang datang" bisik Sila. Mereka segera menapah tubuh Eri keluar dari gudang itu.


*


"Dimana semua orang!" terdengar teriakan seorang lelaki dengan suara yang penuh wibawa. Seorang lelaki tampan berdiri di depan pintu rumah dan memandang sekeliling mencari para pengawal dirumah itu.


"tuan,,, mereka pingsan di pekarangan samping!" teriak seorang bawahan. lelaki itu bersama dua pengawal lainnya bergegas ke tempat yang ditunujukkan


*


Sila menghubungi mata mata yang berjaga di mobil untuk berada di posisi pintu belakang.


"kakak bawa tuan Eri, aku akan menghadang mereka. langsung bawa kerumah sakit. aku akan cari jalan pulang sendiri"


"kamu hati hati."


"oke"jawab Sila memberi jempol dan nyengir.


*


Lelaki dan tiga pengawalnya sampai di pekarangan samping. Dia terlihat murka saat menyaksikan sepuluh orang pilihannya bergelimpangan tak berdaya.


"siapa yang melakukan ini!" teriaknya terdengar ganas. Sampai mereka melihat Sila dan Yohan keluar dari gudang dengan memapah seseorang yang kelihatannya terluka.


ketiga pengawal itu berlari hendak mengejar, namun Sila yang telah melepaskan rangkulannya pada Eri segera menghadang dan berusaha membawa ketiga orang ini menjauh dari posisi Yohan dan Eri. Yohan memanfaatkan kesempatan dan berhasil membawa Eri keluar dari pintu belakang.


Dua pengawal sudah tumbang, dan Sila menyempatkan menoleh ke arah kakaknya. Namun karena Sila sedikit lengah saat memastikan kakaknya sudah keluar pintu, dia mendapatkan satu pukulan yang lumayan membuatnya terhuyung. Dan dengan sigap pengawal itu menangkap tangan Sila dan menekuknya kebelakang.


Lelaki muda yang terlihat berdiam diri dari tadi berjalan mendekat dan membuka hoodie penutup kepala Sila.


"cewek?" ia kaget saat hoodie itu jatuh dari kepala Sila. Dia menarik resleting jaket Sila untuk memastikan. Dilihatnya tubuh seksi dibalut tangtop ketat berwarna hitam. kulit pundak dan dada putih mulus. Lelaki itu tersenyum menyeringai.


Sila pun tersenyum Nakal dan mengangkat kaki kanannya ke belakang, tepat ditengah antara selangk*ngan sang pengawal gagah. Reflek, pengawal itu melepaskan tangan yang mencengkram tangan Sila. Lelaki dtampan didepannya itu menjulurkan tangannya hendak meraih tubuh Sila, namun hanya terpegang jaketnya saja. Dengan cepat Sila menarik kedua tangannya dari dalam lengan jaket hingga terlepas. Kini, jaket baru yang telah basah oleh keringat itu berpindah tangan dan Sila berlari dengan hanya mengenakan atasan tangtop yang melekat ketat ditubuhnya.


"jaket barunya buat anda saja ya,,, " teriaknya sambil berlari menuju bebatuan air mancur yang tertata di dekat dinding pagar. Dia melompat dan menjadikan hiasan dinding itu sebagai pijakan menuju keatas dinding. Lelaki tampan itu menatapnya bengong. Diatas dinding yang tinggi itu Sila berjalan ke arah pohon rindang dimana dia memanjat untuk masuk tadi. Sebelum meloncat ke pohon, Sila menoleh dan melambaikan tangannya.


"da,,da,,,, " teriaknya sambil tersenyum puas.


"maafkan kami tuan Aditya,,,"

__ADS_1


"kalian semua tak berguna" jawabnya enteng.


Diangkatnya jaket ditangan dan dihirupnya aroma jaket baru yang telah basah oleh keringat Sila. Lelaki itu tersenyum menyeringai


__ADS_2