Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
Tambah salah


__ADS_3

"Bagaimana mungkin,, aku tidak bisa percaya" ratap nyonya Wijaya.


"Tidak,, mungkin dia hanya masuk angin biasa,, kalian belum kedokter kan?"


Tama hanya menggeleng..


"Baiklah.. sebaiknya tunggu beberapa hari. jika gejala itu tidak sembuh maka bawa dia kedokter, jika tidak mau,,, mungkn dia memang menyembunyikan sesuatu." saran sang ayah


"Tapi jika dia benar benar hamil,,, kamu harus menceraikan dia. Ayah tidak mau menerima nya" lanjut sang ayah tegas


"Sil,, makan siang sama aku ya hari ini" ajak Yuni melalui telfon


"Boleh,, dimana?."


"Di restoran hotel NA. aku yang traktir,,"


"Boleh lah"jawab Sila menerima ajakan sahabatnya


Sila berangkat dengan ojek ke hotel tempat Yuni bekerja paruh waktu. Diluar hotel dia melihat Ryan berdiri disamping mobil mewah berwarna merah mencolok, lelaki tampan itu melambaikan tangan dan tersenyum pada si pengemudi mobil tersebut. Saat mobil itu melintas di depan Sila, Sila sedikit melirik.


"hmmm.. cantik juga.."gumamnya. Lalu menoleh kearah Ryan yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Ngapain kamu disini?? kangen ya sama aku.."goda Ryan


"G lah..masih gantengan suamiku dari pada kak Ryan,, ngapain kangen sama kakak." jawab Sila lalu berjalan masuk ke lobi hotel


"Klo g kangen ngapain kamu sampe kesini??." celoteh Ryan mengikuti langkah gadis cantik itu


"Aku ada janji sama Yuni buat makan siang di retoran hotel NA."


"Wahhh kebetulan aku juga laper,, ikutan ya?"


"Wahhh yang habis *** ***,,, tenaganya terkuras tu,,, " ledek Sila. Sila menelpon Yuni


"Yun aku dah sampai."


" Oh ya ya.. aku juga udah selesai. kamu tunggu di lobi bentar ya."


"Oke,," jawab Sila sambil duduk di Sofa.


"Iya bener,, tu cewek tenaganya udah kayak kuda liar aja." jawab Ryan


"hiiiii,,,"Sila bergidik geli.


"Ngapain kamu kayak gitu??..pasti inget malam pertama ya?..." gantian Ryan yang meledek Sila.


"Ahhh apaan sih! enggak lah!."

__ADS_1


Terlihat Yuni berlari kecil dari dalam menuju kearah Sila dan Ryan


"Kalian janjian?"tanya Yuni heran saat melihat Sila sama Ryan


"Enggak lah, tu kak Ryan habis *** *** tadi,, kita ketemu di luar.."


Yuni menyipitkan matanya menatap penuh selidik kearah Ryan..


"habis ene ena? siang siang begini?? ihhhh..."


"Tck ,, apaan sihhh..." Ryan berdecak dan mengusap cepat wajah Yuni. seolah menghilangkan ekspresi Yuni.


"Bentar kita tunggu Yoga, bentar lagi juga datang." belum selesai Yun ngomong.. Yoga sudah muncul dari balik pintu


"Itu dia..berangkat yuk.."


"Bentar aku mau istirahat dulu,,, tenaga ku udah terkuras banyak" ucap Yoga sambil ngos ngosan


"Abis ngapain kamu sampai ngos ngosan kayak gitu?."tanya Yuni curiga


" Abis *** *** juga tu kayak nya,,,,"ledek Ryan dan membuat Yuni cemberut


"Enggak sayaang,, itu motorku kehabisan minyak karna buru2 tadi g keisi. jadinya nuntun deh sampai dapat SPBU.." Yoga menjelaskan sambil menggandeng lengan pacarnya itu..


"Sil,, kelihatannya kamu kurang sehat,, wajahmu sedikit pucat, kamu juga sedikit murung kenapa?"tanya Yuni khawatir


"Iya Yun. akhir akhir ini badanku agak meriang., agak pusing juga mual bahkan sampai muntah. makan sedikit saja perutku rasanya penuh.."


"Enggak kok kak. baru kemaren aku selesai dapet....cumaa lagi banyak pikiran...." Sila tak melanjutkan bicaranya.


"kenapa??"tanya Ryan lembut


"Akhir akhir ini mas Tama g seperti dulu lagi. Meski g pernah menyentuhku tapi,, dulu dia hangat dan perhatian. Tapi setelah pulang dari kota S dua minggu lalu dia berubah.. dingin, kasar, sorot matanya seolah kesal banget sama aku. Aku pikir mungkin karena pekerjaannya menyita banyak waktu dan pikiran."


"Jangan2 suamimu punya nyonya muda...."ledek Ryan


"Emmmm.. bisa jadi mungkin.. secara diakan ganteng banget, konglomerat, gagah. perfeclah pokoknya, pasti cewek2 banyak yang rela jadi nyonya kedua ke tiga juga,, sementara aku,,,heeeh!!!"Sila mendesah kesal sambil memandang ke arah tubuhnya sendiri yang bohayy.


"Ahhh jangan mikir yang macem macem. g usah dengerin si Ryan ini." hibur Yoga


"Eh tunggu,, kamu tadi bilang dia belum nyentuh kamu?? jadi sampai sekarang ,,, kamu ini masih perawan dooong..jangan jangan dia impoten,,kalo enggak,, sini sama kakak aja..." goda Ryan sambil mencubit pipi tembem Sila


"iiiiihhh apaan sih???.. " kesal Sila sambil melepaskan cubitan Ryan.


Yuni dan Yoga hanya tertawa melihat tingkah keduanya yg saling ledek. mereka ber4 pun beranjak menuju restoran hotel yang berada di sampig kiri bangunan hotel.


Setelah beberapa hari mual dan pusing Sila tak juga sembuh namun semakin bertambah. Tapi dia sudah beraktifitas seperti biasanya. Namun Tama masih juga acuh tak acuh. Entah marah, entah terlalu banyak pikiran , entah banyak masalah di kantor, Sila sama sekali tidak pernah berani bertanya. Setiap pagi dia selalu menyiapkan sarapan untuk Tama meski tak disentuh sekalipun. Dia sudah belajar memasak berbagai jenis olahan ayam maupun telur kesukaan Tama.

__ADS_1


bib bib ,,,bib bib,,,


Hp Sila menyala. Ada panggilan masuk


"Hai Yun,, tumben. Lagi g sibuk ni keliatannya."


"Iya Sil.. eh Sil tau nggak? si Indah,, teman SMP kita dulu,,sekarang satu kampus sama aku"


"Indah yang cantik itu??."


"Iya,,, sekarang dia juga sudah nikah. sudah hamil pula."


"Masak sih?kan masih muda banget,, dah buru2 hamil aja"


"Denger denger,, dia diperkosa seminggu sebelum menikah"


Karena asiknya ngobrol Sila tak menyadari kedatangan suami nya. dia pun tetep asik ngobrol


"Kira kira lelaki itu tau g ya klo itu bukan darah dagingnya?." suara Sila sedikit pelan.


bruuk


Sila menoleh dan melihat Tama berdiri di dekat pintu kamar ,, kaget.


"Sudah dulu ya,, nanti ku telfon lagi." buru buru mengakhiri percakapan dan meletakkan hpny. Dia berdiri menghampiri Tama yang langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.


"Mas kamu sudah pulang,, makan lah dulu. aku sudah masak opor ayam"


tak ada jawaban. Tapi Sila sudah terbiasa dengan sikap Tama belakangan ini.


Tama keluar kamar namun bukan pergi makan melainkan pergi keluar dan tidak pulang rumah selama 2 hari. Berkali kali Sila menelpon tidak juga di angkat.


Sampai pada malam ketiga kepergian Tama akhirnya pulang larut malam dan langsung mengunci diri di kamar.


"Ayah,, aku sudah tidak tahan lagi.. haruskah aku lepaskan dia?."


" Ayah hanya ingin putra ayah bahagia.. jika dia membuatmu menderita ceraikan saja, ayah akan menyuruh paman yosep mengurusnya, kalian menikah secara diam diam. sekarang ayah usahakan berceraipun dengan diam diam. Agar tak jadi sorotan publik."


Tak ada jawaban dari Tama. Sang ayah hanya melihat kemurungan di wajah putra semata wayang nya ini.


Suara pintu di banting membangunkan lelap Sila. Dia pikir Tama mungkin baru dari dapur, diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi. Tapi tiba2 suara deru mesin mobil membuyarkan kantuk nya yang masih tersisa. Sila buru buru turun dari ranjang dan berlari keluar kamar. Tapi suara mobil sudah jauh dia pun kembali ke dalam kamar. Dilihatnya ada map biru di atas meja rias. ada secarik kertas diatasnya diangkat dan dibacanya


 


^^^"*Setelah berbagai cara ku upayakan, aku masih tidak bisa memiliki hatimu. Bahkan tak kau beri aku kesempatan sekalipun. Tidak ada jalan lain selain melepasmu untuk bahagia. Aku tak kuat lagi menahan hati. Aku tak ingin ada kesalahan. Gapailah kebahagiaanmu bersama cintamu. Ingatlah hatiku tulus*."^^^


 

__ADS_1


di bukanya map biru ." SURAT CERAI". Duarrrrr Sila merasa ada petir yang menyambar di atas kepalanya.


"cerai???" Dia pun limbung dan jatuh pingsan.


__ADS_2