Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
kekacauan


__ADS_3

Akhirnya sang mentari bersembunyi dalam peraduan sang malam.


Gemerlap cahaya berkilauan di kediaman keluarga Wijaya. Riuh penuh suka cita.


Lain halnya di sebuah apartemen yang Har.


"Dek kamu kok masih dirumah saja." tanya Har yang aneh melihat adiknya masih berantakan di depan televisi. Har sudah siap untuk berangkat menghadiri pesta atasannya itu.


"memang mau ngapain?. aku g dapat undangan pun. Kerjaan juga disuruh libur mau apa?."jawab Sila dengan menahan sesak dihatinya.


"libur?. " Har semakin heran. "Hari ini hari besar bagi keluarga Wijaya dan pasti memerlukan pihak pengamanan yang ketat bagaimana bisa meliburkan pengawal?".


Sila menyodorkan ponselnya pada sang kakak.


* hari ini kamu tidak perlu datang, istirahat saja dirumah. Karena sudah banyak para petugas keamanan yang bertugas. kami juga sudah mengerahkan para tentara untuk membantu keamanan.*


sebuah pesan chat yang diterima Sila dari kontak Boss muda. dan itu adalah nama kontak Aditama.


"ya rasanya aneh saja. masa iya pengawal pribadi malah disuruh istirahat disaat acara besar seperti ini." gerutu Har. Dia berlalu dari duduknya dan menuju ke kamar.


Bel berbunyi dua kali. Sila beranjak dari duduknya dan membuka pintu. Di depannya nampak sesosok pemuda gagah yang tak lagi asing baginya.


"kakak" sambut Sila memeluknya sebentar. Suaranya yang parau terdengar menyayat dihati Yohan.


"apa kau tak bekerja hari ini?. Tidakkah kau ingin hadir disana dan mengambil cintamu?. atau sekedar memberi restu jika memang kamu sudah merelakannya?." tanya sang kakak bertubi tubi.


Sila menggelengkan kepalanya.


"aku tak mendapatkan undangannya dan bahkan aku disuruh istirahat dan tidak boleh bekerja hari ini." tutur Sila


"jika kamu tak mendapat undangan kenapa tak datang sebagai pasangan kak Har?" usul Yohan.


"dan akhirnya dia akan tau kalau kak Yohan bukan suamikudan dia akan membatalkan tunangannya? dan mempermalukan keluarganya?" jawab Sila.


"kan itu akan mempermudah bagimu membuka identitasmu?" ucap Yohan.


Sila tersenyum getir.


"lagi pula hari ini kakak akan datang dengan kekasih kakak." lanjut Yohan


"kakak akan kesana dengan kak Kirana?." Tanya Sila antusias.


"hm"jawab Yohan singkat


Har keluar dari kamar


"Har ajaklah adikmu datang bersamamu ke pesta itu." pinta Yohan.


"aku tidak bisa,, aku sudah ada janji sama seseorang." jawab Har.


"sama siapa?" tanya Yohan dan Sila bersamaan. Karena keduanya tahu Har tidak memiliki kekasih. Har tersenyum penuh arti.


"Niya, sekretaris cantikku" jawab Har malu malu


"hah! kak Niya?. " Sila kaget dan terbelalak mendengar jawaban Har.


"kenapa memang?"tanya Har.


"ah gak apa apa. cocok kok."jawab Sila.


"memang kamu sudah kenal?" tanya Yohan pada Sila.

__ADS_1


"hem,, pas aku ke kantor kakak aku melihatnya. Dia cantik dan baik. tapi waktu itu katanya bukan siapa siapa?." jawab Sila


"ya memang kami dekat sejak saat itu." jawab Har sambil nyengir.


"ya sudah aku berangkat duluan."lanjut Har meninggalkan Yohan dan Sila.


"kamu benar benar tidak apa apa?."tanya Yohan khawatir.


"kak, sebenarnya hatiku sakit. Tapi mau apa lagi, toh aku sudah memberinya izin saat aku meninggalkan rumah waktu itu. aku sudah mempersiapkan diriku jika hal ini terjadi suatu hari. Tapi kenapa hatiku masih saja sakit ya?." Sila mulai terisak kembali. Yohan memeluknya mencoba memberi semangat.


"ini juga baik bagiku tak datang kesana. aku bisa lebih menenangkan hatiku. toh masih tunangan sajakan?. mereka belum menikah juga.""


"apa kau berfikir akan menghancurkan pertunangan nya suatu hari?." tanya Yohan mulai khawatir tentang pikiran adiknya


"aku yang sudah dinikahi saja bisa dia ceraikan,, "pikir Sila. Namun ia tak menjawab pertanyaan Yohan.


*


*


*


Dodi datang dengan keluarga kecilnya. Bertegur sapa sebentar dengan tuan dan nyonya Wijaya dan berbaur dengan tamu lainnya. Dodi memperhatikan seluruh area mencari Natan sahabatnya.


" sayang kamu bergabung dengan yang lain aku akan mencari Natan." pamit Dodi pada istrinya. istrinya hanya mengangguk. Dodi berlalu sambil menenteng tas belanjaan dari mall yang sudah dia persiapkan bersama istrinya. Akhirnya setelah beberapa saat mencari dia menemukan Nagan dan Arya baru saja datang.


"bagaimana?. sudahkah ketemu nona Sha?" tanya Arya pada Dodi yang baru saja menghampiri.


"belum. aku sudah berkeliling mencari kalian sekalian mencari keberadaan Nona Sha. tapi tak ketemu juga." jelas Dodi


"coba hubungi ponselnya."Usul Natan.


"nona Sha kamu ada dimana?"tanya Dodi setelah tersambung dengan Sila. Namun karena begitu ramai Dodi tak dapat mendengar jawaban dari Sila.


Nada terputusnya sambungan telepon. Dodi mencoba lagi dan lagi tapi tak tersambung.


"Eri!!!" panggil Arya saat melihat Eri melintas didekat mereka.


"apa? "tanya Eri saat sudah didekat mereka.


"kamu tau nona Sha ada dimana?" tanya Arya seolah dia membutuhkan seorang teman.


"ehm,, sampai saat ini aku belum melihatnya. aneh juga, biasanya dimanapun dia akan mencariku terlebih dahulu jika menghadiri acara acara seperti ini." ucap Eri penuh percaya diri


"narsis amat jadi orang" cibir Natan.


"ya tapi memang aneh dia sampai jam segini belum datang juga." tambah Dodi.


*


*


diruangan lain


Tama melihat sosok Yohan datang menggandeng mesra seorang gadis cantik, dan itu bukan Shakira.


"dasar brengs*k!! Yohan bajing*n!!." umpat Tama dalam hati. Matanya menyiratkan kekesalan yang mendalam pada Yohan. ingin rasanya dia menghajar lelaki yang tersenyum ramah dihadapannya itu. Giginya gemeretak menahan amarah. setelah beberapa saat basa basi, Yohan membawa pasangannya untuk berbaur dengan tamu yang lain. Pandangan Tama masih menyapu setiap sudut ruangan menyibak lalu lalang tamu mencari sesosok pengawal cantiknya. Dia terus berfikir bagaimana jika dia melihat suaminya datang dengan wanita lain. Namun sosok yang dicarinya tak kunjung ketemu.


Tama masih tetap berdiri ditempatnya sampai pada saat dia melihat Yohan meninggalkan pasangannya disuatu tempat di antara para tamu. Dia melihat Yohan keluar seorang diri dengan tergesa gesa.


Tama pun beranjak dri tempatnya berdiam sedari tadi

__ADS_1


"kemana sayang?" tanya sang ibu.


"aku melihat teman lamaku disana. aku akan menemuinya sebentar" jawab Tama memberi alasan pada ibunya.


"jangan lama lama. acara akan segera dimuali" perintah sang ayah.


Tama pun bergegas mencari sosok wanita yang di gandeng Yohan tadi.


"permisi nona boleh kita ngobrol sebentar" tanya Tama pada wanita yang kaget saat melihat dirinya.


"eh iya,, kok tuan muda disini?" tanya Kirana balik


"ada hal yang ingin saya tanyakan pada nona."


"tentang apa ya?." Kirana begitu penasaran


"apakah nona sudah lama kenal dengan kapten Yohan?" tanya Tama


"em,, kami sudah pacaran sekitar 3tahun. ada apa ya?."


Tama kaget sekaligus geram. Ia mengepalkan kedua tangannya.


"apakah nona tahu kalau Yohan sudah menikah?"


Kirana tertawa mendengar pertanyaan Tama.


"menikah?. anda bercanda ya tuan?. Yohan belum menikah dan rencananya kami akan menikah tahun depan di kampung halaman Yohan."


Ada rasa lega atau entah apa yang merasuki dalam rongga dada Tama.


"lalu nona Shakira?" Dia masih mencoba mencari tahu


"Shakira itu adik kesayangan Yohan dan Har.. Yohan pernah bercerita bahwa adiknya itu pernah menikah diusianya yang masih belia, tapi dia dicampakkan begitu saja oleh suaminya bahkan sebelum malam pertama pernikahan mereka." Kirana menjelaskan pada Tama yang mulai bisa mengontrol emosinya.


Tiba tiba terdengar suara gaduh dari ruangan lain. Teriakan sang ibu membuat Tama panik dan berlari menuju tempat sang ibu berdiri saat ia tinggalkan tadi. Orang orang berhamburan berlarian tak tentu arah. Tama melihat sang ibu terduduk lemas dilantai, di depannya tubuh sang ayah terkapar bersimbah darah. Tama menghampiri dan memerintahkan orangnya memanggil ambulan. Semua orang sibuk dengan tugas masing masing.


" Natan urus ibu aku akan ikut ambulan kerumah sakit."


"baik" jawab Natan singkat.


Semuanya Kacau. akhirnya para undanganpun bubar masing masing.


Natan membawa nyonya Wijaya menyusul kerumah sakit diikuti Sarah. Sementara Dodi dan Eri menangani para tamu, Arya mengantar istri dan anak Dodi pulang. Yohan mengawal ambulan yang membawa tuan besar Wijaya.


Sesampainya dirumah sakit, tim dokter langsung menangani tuan Wijaya. satu luka tusukan di perut dan dua sayatan di lengan cukup lebar dan dalam. hangga perlu penanganan secara serius. Dan akhirnya diputuskan untuk operasi. Setelah beberapa saat menunggu, seorang suster keluar. Tama dan sang ibu segera berdiri menghampiri. Natan dan Yohan pun juga mendekat.


"bagaimana sus?"tanya sang nyonya panik. Sarah mengambil kesempatan dengan memberi dukungan pada ibu calon tunangannya.


"ibu yang sabar,, "ucap Sarah sambil mengelus punggung Wanita paruh baya tersebut.


"pasien kehilangan bayak darah harus segera transfusi. golongan darah pasien O- adakah yang punya golongan darah sama?. di bank darah saat ini kosong untuk golongan darah tersebut." tak ada yang menjawab.


"golongan darah saya Ab+ sama seperti ibu." jawab Tama.


" cari siapapun yang golongan darahnya sama seperti ayah"perintah Tama pada Natan.


"harus cepat tuan, pasien dalam keadaan kritis." lanjut si suster.


Yoha melangkah menjauh dari mereka. dia mengangkat ponslnya mencoba menghubungi beberapa orang. Namun panggilannya tersambung pada nomor Eri. "tolong jemput Sila di apartemen S lantai 7 nomer 14. bawa dia kerumah sakit segera. keadaan gawat." Yohan langsung menutup panggilannya.


Di sebrang telpon

__ADS_1


"Sila?. Apa aku yang salah dengar atau??." Eri tak lagi sempat berfikir. Dia melaju mobilnya menuju alamat yang ditunjukkan Yohan.


"Dodi kamu langsung kerumah sakit aku akan menjemput seseorang dulu."


__ADS_2