Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
pesta


__ADS_3

Sabtu malam


Sila telah bersiap dengan setelan seragam yang melekat ditubuhnya.


"kak, malam ini mungkin aku akan pulang sedikit malam, tuan muda ada acara dan memerintahkan aku menemaninya" pamit Sila pada Har.


"acara malam kenapa kamu yang harus bertugas?. kemana kedua pengawal lainnya." tanya Har tak mengerti jalan pikiran bos dari adik nya ini


"mereka juga mendapatkan undangan yang sama. mana mungkin mereka bertugas sambil menghadiri acara resepsi?" Sila menjelaskan


Sila berjalan tegap keluar apartemen kakaknya, menuju mobil dan melaju kerumah kediaman Tama. Baru pertama kali Sila datang kerumah itu setelah beberapa bulan bekerja untuk suaminya itu.


"Rumah ini,, dulu aku pernah tinggal satu minggu disini. masih tetap sama" gumam Sila saat memasuki pekarangan rumah mewah itu. Dia tak berniat turun dari mobilnya.


"tuan saya sudah berada di halaman rumah anda. saya menunggu diluar" sebuah pesan dikirimkannya kepada majikannya tersebut. Tak berapa lama Tama terlihat keluar dari pintu besar rumah itu, Sila segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk sang majikan. kemudian dia masuk dan membawa mobil mewah itu meluncur menyusuri jalanan menuju tempat pesta. Ditengah jalan


"didepan ada butik. mampir dulu sebentar aku ada janji dengan pemilik butik itu" perintah Tama.


"baik tuan" jawab Sila datar seolah enggan mengeluarkan kata kata.


"bahkan sekarang tak perlu lagi menyuruh kami memilih partner untuknya?. dia telah buat janji sendiri?". batin Sila begitu tidak terima saat suaminya buat janji dengan perempuan yang akan diajaknya menghadiri sebuah acara. Selama ini, Tama selalu menyerahkan pilihan partner pada mereka bertiga. Eri dengan gaya konyolnya selalu memilih gadis yang paling cantik dan Natan dengan kebijaksanaannya pasti mempertimbangkan tentang sifat dan pribadi sang model agar tak membahayakan sang majikan. Dan kali ini? mereka bahkan tidak tahu bahwa Tama telah membuat janji dengan pemilik sebuah butik.


"cantik kah?. baik apa tidak? akan membahayakan atau tidak?." Sila terus memikirkan betapa berat tugasnya malam ini. Dia harus menyaksikan suaminya bergandeng mesra dengan wanita lain., dan dia tidak tahu bagaimana akan menanganinya. Karena selama ini Natanlah yang bertugas saat acara acara seperti ini. Sila mengikuti langkah Tama masuk kedalam butik tersebut.


"selamat datang tuan Tama, pesanan anda sudah kami siapkan." sapa ramah seorang pekerja dan mengantarkan Tama menuju sebuah ruangan khusus. Didalam sana telah menunggu beberapa orang, seorang wanita cantik nan anggun berdiri dan menyapa Tama dengan begitu elegan dan dua orang lainnya membungkuk memberi hormat dari tempat mereka berdiri. Pada saat Tama mengangguk, tangan kanan wanita itu diangkat setinggi pundak dan memutar jari telujuknya mengarah ke Sila. Tanpa suara dan kata kata apapun, kedua orang yang berada dibelakang berjalan menuju kearah Sila dan memegangnya kiri kanan serta menuntun paksa Sila memasuki sebuah ruang yang lebih kecil di ruangan itu. Setelah beberapa lama Sila dipersilakan keluar. Mata Tama begitu terbelalak perasaannya kacau. "dia Sila. ini benar benar Sila." gumamnya lirih


"maaf tuan, kenapa saya harus didandani seperti ini?." tanya Sila. saat itu kedua pegawai itu mengganti seragam Sila dengan sebuah gaun panjang berwarna biru toska yang indah. dan memoleskan sedikit make up kewajah Sila yang bagitu natural. Tama memberi isarat pada ketiga orang itu untuk keluar. Sepeninggal pemilik butik, Tama berjalan mendekat kearah Sila yang merasa mulai gugup dan salah tingkah


"Kau Sila, ya kau Sila!" gumam Tama lirih sambil membelai lembut wajah gadis cantik dihadapannya yang mulai merona merah. Dan tiba tiba Tama mendekap erat tubuh pengawal cantiknya itu seakan enggan untuk melepaskan. Jantung keduanya berdetak begitu hebat. Sila tak ingin memberontak sama sekali.

__ADS_1


"apa semua ini?. apakah dia merindukanku sebagai Sila? ataukah dia tertarik pada Shakira?. aku mencintainya bahkan sebelum aku tahu namanya dan dengan tiba tiba aku menjadi istrinya. kenapa dia memilihku menjadi istrinya waktu itu jika dalam beberapa bulan bersama bahkan dia tak menyentuhku. Dan dengan tiba tiba pula dia memberiku surat perceraian tanpa kutahu kesalahanku. dia membuangku. Dan saat ini aku kembali dengan sosok yang berbeda, dia bahkan memelukku seerat ini. apa yang dipikirkannya? dan apa yang harus aku pikirkan?." Batin Sila terus beradu dalam kebimbangan. Dengan perlahan dia mencoba mendorong tubuh kekar suaminya agar melepaskan pelukannya.


"maaf" satu kata meluncur dibibir Tama dan melepaskan pelukannya dengan perasaan begitu kecewa. Dia segera berlalu meninggalkan Sila dalam kegelisahan. Setelah beberapa lama Sila tak beranjak dari tempatnya berdiri tertegun. Tama kembali memanggilnya "ayo berangkat" ajaknya diikuti langkah Sila yang lemas. Tama membukakan pintu belakang mobil dan mempersilakan Sola masuk. Sila menatapnya penuh tanya


"lalu siapa yang mengemudi?" pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Sila. Tama tak menjawab. Dia memutari mobil dan masuk dari pintu sebelah. Sila melihat sudah ada seseorang duduk dibelakang kemudi.


"pak Han. kita berangkat" perintah Tama dengan nada khasnya yang datar dan dingin


"baik tuan " jawab sang sopir sopan. Sila bertanya tanya dalam hatinya.


"dimana pak Arip?." sudah beberapa bulan dia bekerja untuk Tama tapi tak pernah sekalipun melihat pak Arip, sopir pribadi Tama 2 tahun yang lalu.


Disepanjang perjalanan Tama tak ber ekspresi sama sekali. Dingin dan datar tanpa senyum ataupun amarah. Sila hanya menunduk diam sesekali membuang pandangannya keluar jendela.


"siapa kau sebenarnya, Sila? Shakira?. Aku tak menemukan informasi apapun tentang Sila. Dia hilang dan lenyap sama sekali. Bagaimana keadaannya, apakah dia baik? apakah sudah mendapatkan seseorang yang bisa membahagiakannya, apakah sudah lupa padaku. Dan disini, dekat disampingku ada wajah yang begitu mirip dengannya dengan latar belakang yang jelas namun tak bisa membuatku yakin." Tama masih bergelut dengan batinnya sendiri.


"tuan kita sudah sampai" ucap sang sopir membuyarkan lamunan Tama. Tama turun dan berjalan hendak membukakan pintu untuk pasangannya, namun karena terbiasa mandiri, Sila sudah berada diluar saat Tama sampai di tempatnya. Tama merenggangkan lengan kirinya berharap pengawal cantiknya itu menyelipkan tangannya dan berjalan beriring mesra seperti pasangan lainnya. Namun yang diharap tak kunjung bergerak. Sila diam terpaku bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Dipandangnya lengan kekar itu beberapa saat kemudian beralih ke wajah tampan suaminya. Tama menoleh dan melirik ke lengannya memberi perintah. Sila pun menyelipkan tangannya dan bergandeng masuk ke tempat acara.


"lihat!,tuan muda Wijaya menggandeng pasangannya!" satu suara berseru yang membuat seisi ruangan menoleh kearah mereka berdua. berbisik berbisik berbisik. Semua berbisik, kerna selama ini Tama tak pernah datang dengan menggandeng tangan pasangannya seperti hari ini. Dia selalu berjalan didepan dengan penuh wibawanya dan pasangannya mengiringi di belakang seperti seorang sekretaris.


"wah ini kejadian langka,"


"ya ini tak pernah terjadi"


"hah apa yang terjadi?."


"siapa wanita istimewa ini?"


berbagai pertanyaan menggema di ruangan tersebut. Sila merasa canggung dengan keadaan itu. "tuan, saya lebih nyaman menggunakan seragam saya." bisik Sila

__ADS_1


"diamlah."jawab Tama singkat dan mengajak Sila menemui sang mempelai. Kedua mempelai nampak sangat bahagia menyambut kedatangannTama.


"Selamat atas pernikahan kalian. semoga berbahgia" ucapan selamat dari Tama.


"wah,,, terima kasih. aku benar benar tersanjung kedatangan seorang Aditama. Tuan muda Wijaya yang sangat sibuk meluangkan waktunya untuk datang diacara ku yang sederhana ini." jawab sang mempelai laki laki. Dia mengajak Tama menuju sebuah ruang yang dikhususkan untuk tamu VIP. Didalam sana sudah beberapa orang yang sedang duduk santai menikmati hidangan dan ngobrol. Saat Tama masuk menggandeng Sila, semua mata terbelalak tak percaya. bahkan banyak dari mereka tanpa sadar berdiri menyambut keduanya bak pengantin. Eri yang telah sampai duluan segera berjalan mendekat menyambut keduanya.


"dimana nona Sha?" bisiknya pada Tama dan Sila. Sila tersenyum dan Tama pun melirik jengah. Natan dan Arya juga menghampiri


"sungguh cantik nona Sha dengan gaun dan riasan ini."puji Natan sambil tersenyum dan menoleh kearah istrinya.


"ya kalian benar benar pasangan serasi" lanjut Arya. Tama tersenyum dan sila tersipu malu.


Semua menyantap dan minum sajian yang dihidangkan. Sila merasa haus dan mengambil satu gelas air berwarna putih berbuih.


"ini hanya soda. aku bisa meminumnya" pikirnya. tanpa pikir lama lagi dia menyeruput dan meneguk air itu. ia merasa pahit dan terbakar dilidahnya.


"apa ini?" gumamnya. ia meletakkannya kembali.


pada saat yang sama Tama melihatnya dan sedikit khawatir


"apa dia bisa minum itu?"pikirnya.


Sila merasakan kepalanya sedikit berat dan berputar. dia berjalan sedikit sempoyongan dan menabrak seseorang yang tak lain adalah Sarah


"kalau jalan lihat lihat ! eh" hardik Sarah yang tiba tiba terkejut melihat Sila dengan gaun indahnya. "heh ternyata kamu dasar kampungan!".


"maaf saya tidak sengaja. permisi!" Sila berlalu meninggalkan Sarah begitu saja. Dia menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya. Sarah tidak tertarik untuk mengganggu Sila karena dia melihat Tama sedang sendirian di tempat duduknya.


keluar dari toilet, Sila di hadang oleh seorang tamu yang mencoba merayu dan mengajaknya kenalan. Sila tak menanggapi dan berusaha berlalu dari hadapan lelaki itu. Namun tetap saja dihalangi dan mencoba untuk merangkul tubuh Sila. Namun tiba tiba Tama datang dan merengkuh pinggang Sila dari belakang

__ADS_1


dan menyandarkan dagunya yang indah di bahu mulus Sila.


"sayang,, kamu lama sekali,," suara lembut Tama di sertai tatapannya yang tajam menggetarkan hati. baik Sila maupun lelaki yang mencoba merayunya. lelaki itu merasa hatinya bergetar takut akan sikap Tama yang tak biasa ini. dia segera pergi untuk menghindar. Tama merasa tak ingin waktu bergerak. dia ingin seperti itu dalam waktu yang lama. Namun tiba tiba tangan kiri Sila diangkat menyilang sebatas pundak. Dia menunjukkan sesuatu yang melingkar dijari manisnya. Tama segera melepaskan pelukannya dan berlalu dengan kesal meninggalka pesta itu.


__ADS_2