
Keesokan harinya Eri sengaja menungggu di depan gedung gm itu. berharap melihat pria berhoody itu datang.
Sementara Sila berangkat bersama Har. Sesampainya Sila di tempat kerja dia melepas jaket birunya dan menggantunnya di tas pinggangnya.
"kak aku turun ya?"
"hm"jawab Har malas. Dan melaju mobilnya saat Sila sudah turun
Sila melihat Eri berada disamping mobilnya yang terparkir di halaman tempatnya kerja. Namun tidak berniat menyapa atau menghampirinya. Sila takut ketahuan. Namun malah Eri yang menghampiri kearahnya
"nona!!"panggil ERI
"ehh iya,, tuan yang kemarin ya?. apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Sila sedikit kaget. Dia terus menunduk
"iya.. aku masih penasaran sama pria berhoody kemarin."jawab Eri
"apa kamu banyak kenal dngan pelanggan di club ini?"lanjutnya
"maaf tuan,, saya baru satu bulan bekerja disini. dan kerjaan saya tidak dekat dengan pelanggan jadi,,,"Sila tak melanjutkan. Namun Eri paham maksudnya
"ya sudah tidak apa apa. maaf sudah mengganggu"
"tidak kok tuan. kalau begitu saya permisi" pamit Sila. sekilas Sila menatap kearah Eri begitupun sebaliknya. ada desiran dihati Eri saat menatap mata Sila
"mata ini,,, senyumnya.. ini bener bener mirip dengan Sila. apa mungkin?" pikir Eri. Namun segera menepisnya
"hhh aku terlalu banyak berpikir. Yang penting sekarang aku harus menemukan pria beerhoody itu. kemampuannya pasti bisa membuat Tama senang." gumam Eri. Namun lagi lagi hari itu benar benar sia sia. Eri hampir kehilangan akal sampai dia memutuskan untuk membuat rencana.
SORE HARI
"kak hari ini aku menerima gaji pertamaku. ayo bersiaplah aku traktir makan malam" ajak Sila penuh semangat
"berapa banyak uang yang kamu dapatkan pake mau nraktir kakak?. sebaiknya kamu simpan buat keperluan yang lain" tutur Har. Selama ini Har yang menanggung kehidupan Sila. Tapi dia sama sekali tak merasa keberatan.
"ada deh,, sekali kali aku traktir kakak g apa apa kan? yuk kita makan diluar" rengek Sila
" baiklah,, aku mandi dulu" jawab Har berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
Mereka akhirnya berangkat ke sebuah rumah makan keluarga. Setelah mereka memesan menu dan mulai menyantap makanan tiba tiba dikejutkan oleh sapaan seseorang
"hai!, ketemu lagi". Sapa Eri yang tiba tiba duduk dibangku samping Sila. membuatnya tersedak karena kaget. Har mengulurkan segelas jus lemon.
"anda... anda kenapa disini? " tanya Sila agak gugup dan sedikit melirik ke arah Har.
"siapa?"tanya Har pada Sila. Eri tersenyum
"saya bukan siapa siapa. saya pernah bertemu kekasih anda yang bekerja di Club gym di jalan xxx" Eri menjelaskan. kini ganti Har yang tersedak.
"kakak g apa apa?." tanya Sila khawatir
"hmmm"
"tuan apa yang bisa saya bantu untuk anda. kenapa anda mengikuti saya sampai kemari?." tanya Sila tanpa berani menatap ke arah Eri.
"tidak tidak.. aku tidak mengikutimu. kebetulan aku juga mau makan disini dan tak sengaja melihatmu jadi hanya menyapa." Eri menjelaskan.
"oh iya kita belum kenalan. aku Eri. siapa namamu?" lanjut Eri mengulurkan tangan
"oh bukan Sila. sebenarnya apa yang aku pikirkan. kenapa terngiang akan Sila lagi Sila lagi. apa aku ikutan tidak waras seperti Tama?." kata hati Eri
"ehemm" Har berdehem. Eri segera melepaska tangannya
"ini kakakku, kak Har!" Lanjut Sila memperkenalka Har. Har tersenyum begitupun Eri
"senang bertemu anda" sapa Har.
"saya juga senang bertemu anda. Tapi sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya"jawab Eri sambil mengingat ingat.
"saya tau anda. anda adalah pengawal presdir muda. saya bekerja di perusahaan properti Wijaya. saya manager pemasaran." jelas Har
"ohhh pantes mungkin sering kali berpapasan.." gelak Eri diikuti senyuman Har dan Sila.
Akhirnya Eri pun memesan makanan dan bergabung berbincang bincang dengan Har dan Sila. membucarakan entah apa sampai beberapa lama.
Keesokan pagi Sila berangkat bekerja. Seperti biasa berlari jogging dengan hoody hitam yang menutup kepalanya. Di satu tempat yang memang selalu terlihat sepi dia dicegat 8 orang yang badannya kekar kekar. Sila berpikir dilihat dari tubuh mereka yang rata rata sama mereka bukanlah preman. mungkin mereka adalah orang2 suruhan. tapi Sila tak merasa punya masalah dengan siapapun. lalu mengapa mereka menghadangnya. Dan bahkan tanpa basa basi mereka langsung menyerang Sila. Sila hanya menghindar dan sesekali menangkis. Namun lama lama dia semakin tak punya pilihan selain melawan.
__ADS_1
Dari arah belakang Yohan yang mengendarai motor sportnya melihat kejadian itu.
"bukankah itu jaket Sila? ngapain dia disini, berkelahi segala?" gumam Yohan
Ya ,, jaket hoody hitam memang banyak orang yang memiliki. Yohan hapal itu milik Sila karena dipunggung nya ada stiker besar, gambar kartoon anime yang menampilkan sesosok raja yang gagah dengan mata terang. Yang dicetakkan di percetakan di kota T. seperti yang Yohan tau adik angkatnya itu memang menyukai kartoon anime, kekanak kanakan memang.
Yohan berhenti dan hendak melompat menolong adiknya yang sedang berkelahi tak seimbang itu. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang sedang merekam adegan itu dengan ponsel genggam di sebrang jalan.
"ini bukan kebetulan. pasti sebuah rencana."pikir Yohan. lagipula dia tidak melihat kalau adiknya terpojok dan memerlukan bantuan. bahkan tudung kepalanya pun belum tersentuh. itu berarti Sila masih santai.
setelah kurang lebih sepuluh menitan, 7dari delapan orang penyerang itu sudah benar benar kewalahan. Begitupun Sila juga mulai lelah tapi tak mau lengah. Seorang itu masih terus menyerang dan berhasil menyenggol tudung dikepala Sila. Namun dengan segera Sila melompat dan menendang kepala orang tersebut hingga jatuh tersungkur. akhirnya mereka lari meninggalkan Sila. Sila menghela nafas sejenak dan kembali melanjutkan perjalanannya
"gila. bener bener bisa diandalakan." gumam Eri seorang diri. Ya,, seseorang yang Yohan lihat itu adalah Eri. Yohan melaju motornya dan mendekat menghampiri Eri.
"tuan Eri.. kenapa anda disini?" sapa Yohan
" eh kapten!, iya ini ada sedikit tugas dari tuan muda"jawab Eri
"tugas?" Yohan mengernyikan dahi mencoba memahami ucapan Er
" ini.. tuan muda menyuruhku mencari seorang pengawal yang bener2 bisa diandalkan." Eri menjelaskan
"bukankah Wijaya Grup punya ratusan pengawal kenapa masih mencari lagi?." yohan memastikan
" memang benar seperti itu. Tapi kapten tau sendiri bagaimana sikap dan sifat tuan muda dua tahun belakangan ini. dia yang tak pernah bisa dimengerti, tak seorangpun dari pengawal perusahaan ada yang bisa memuaskan hatinya.".
" beberapa hari ini aku mengincar seseorang yang luar biasa tapi selalu kehilangan jejaknya. jadi hari ini aku sengaja menyuruh orang2ku untuk menyerangnya. hhhh belum ada sepuluh menit mereka sudah kewalahan. dan bahkan belum bisa menguak siapa dibalik hoody tersebut." jelas Eri diraut wajahnya nampak begitu kecewa. sedangkan Yohan tersenyum bangga. Apa yang diajarkan pada adiknya itu benar benar dikuasai. Setelah berbincang agak lama Yohan dan Eri berpisah
"mungkin ini saatnya dia bertemu suaminya. Tapi apakah akan semudah itu?." gumam Yohan setelah meninggalkan Eri.
Eri menghubungi seseorang
"dia sudah bergerak ke arahmu. jadi bersiaplah. jangan sampai aku kehilangan dia laagi"
"baik" jawab disebrang sana.
"kali ini aku pasti mendapatkanmu" gumam Eri percaya diri.
__ADS_1