
Siang itu, selesai sarapan dengan Tama, Sila menyempatkan menjenguk Wijaya dikamarnya. Karena sudah ada Natan yang bejaga disana, diapun pamit.
"tuan besar sudah dijaga tuan Natan. dan tuan Eri sudah ada adiknya yang menemani, jadi,, aku bisa pulang dan lanjut bobo lagi" senyumnya girang. Tiba tiba dia teringat akan cincinnya yang hilang
"apakah harus ku cari ke tempat itu ya?" gumamnya
"tapi jika aku ketangkep lagi gimana?"pikirnya ulang
Dia melaju motor sportnya ke arah kantor Yohan
"kakak" panggilnya saat melihat sang kakak duduk bersama beberapa rekan kerjanya di sebuah kantin kantor pemerintahan itu.
Yohan menghampirrinya dan mengajak adik kesayangannya itu ke ruangannya
"ada apa sampai menyusul kakak kesini?"
Sila merengut sambil mengangkat tangan kirinya terbuka memperlihatkan cincin keramatnya tak lagi bertengger disana.
Yohan mengerutkan keningnya.
"kemana cincinmu?" tanya Yohan memegang tangan sang adik.
"gak tau! tadi pagi bangun sudah tidak ada,, aku cari di tempat tidur juga gak ada.." jawabnya sedih.
"apa mungkin,, "Yohan belum menyelesaikan kata katanya
"aku pikir jatuh pas berantem kemaren,," potong Sila.
Mungkin juga. pikir Yohan.
"kak gimana caranya aku nyari kerumah itu?"
"apa kamu gila? bahaya. lagian kemaren kamu sudah bikin orang orang disana babak belur. jika kamu kesana lagi cari mati namanya" cegah Yohan
"terus cincinku gimana kak,,,"
Yohan diam.
"sudahlah lupakan saja cincin itu.."
"tapi kak,,,," Sila tak melanjutkan.
Dia tahu kakaknya tak bisa membantu diapun pamit untuk pulang.
__ADS_1
"mungkin jika aku datang baik baik, tuan rumah itu akan mengijinkan aku mencari cincinku di pekarangannya. kalau dia marah soal yang kemarin,,, itukan salah Sarah jadi,, kan aku hanya membebaskan tuan Eri..." pikir Sila
"tapi kalau orang itu marah dan ganti menyekapku bagaimana?"
"haaaah!!!"
Sila melajukan motornya kembali ke apartemen. Dia ganti baju seragamnya dengan setelan kaos pendek dan celana jeans selutut. Dia mennuju dapur dan masak mie telur dan melahapnya sendiri.
Diletakkan ponsel nya dimeja dan dia keluar ke parkiran.
"akan aku coba datang baik baik" ucapnya dan segera mengakahi motor sport berwarna biru itu menuju kediaman Sarah.
Dipintu gerbang dia dicegat oleh sekuriti dan menanyakan tentang kedatangannya
"aku ingin bertemu tuan kalian"
"ada perlu apa? apakah sudah ada janji?"
"belum. aku datang untuk,,," Sila yak melanjutkan kata katanya
"mau ambil jaket kemarin aku sudah bilang kuberikan padanya.,pakai alasan apa ya?" Silla berfikir keras.
"katakan pada tuanmu aku datang untuk mengambil mobil perusahaan Adijaya."
ya pake alasan itu saja. pikirnya.
"tuan mempersilakanmu masuk nona." kata salah seorang dengan tenang
"sebentar,, aku parkirkan motorku dulu, biar nanti tidak usah kesini lagi" kata Sila sambil memutar motornya menuju mall disebrang jalan. Sila kemudian masuk pekarangan rumah itu dan diantarkan penjaga memasuki rumah kediaman Sarah.
"selamat siang nona cantik,," sapa Aditya saat Sila masuk. Sila hanya tersenyum sekilas
" langsung saja pada inti permasalah saya tuan,, saya kemari untuk mengambil mobil tuan Eri. mohon kerja samanya"
"jangan buru buru nona cantik," kata lelaki tampan itu berjalan mendekati Sila yang masih berdiri.
"keluarlah kalian,," ucap sang tuan rumah untuk para penjaga nya.
Setelah penjaganya keluar semua, lelaki itu semakin mendekat pada Sila
"kemarin,, kamu telah membuat pengawalku babak belur, kompensasi apa yang ingin anda tawarkan nona cantik,," ucap Aditya sambil memainkan jari telunjuknya di wajah Sila. Dari kening dia sibakkan rambut Sila yang tergerai rapi didahinya, hingga merambat turun sampai ke dagu. Sila sama sekali tak bergeming. Bibirnya mengembang senyum sinis
"untuk masalah itu tuan pasti sudah tahu kenyataannya, tidak perlu ada kompensasi" jawabnya tegas
__ADS_1
"uuuu,, jangan galak galak jadi cewek."
"maafkan saya tuan, satu lagi, selain saya ada perlu mengambil mobil tuan Eri, saya ada perlu lain."
"apa itu cantik,,," ucapnya sambil mencubit dagu Sila gemas, seakan ingin menggigitnya.
"saya minta ijin untuk mencari cincin pernikahan saya yang terjatuh saat anak buah anda mengeroyok kami kemarin." jawab Sila tenang
Aditya menarik dagu Sila dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sila. Nafas segar lelaki itu terasa hangat berhembus diwajah Sila.
"jadi kau sudah menikah?""
"ya,, seperti yang anda dengar" jawab Sila tetap tenang. lelaki itu melepaskannya.
"aku memberimu waktu 15 menit untuk mencari. pergi dari rumahku setelah 15 menit" kata kata lelaki terdengar kesal dia melangkah meninggalkan Sila.
Sila tersenyum puas dan segera berlari mencari cari disekitar dia berkelahi kemarin. Namun waktu yang diberi telah habis dan dia belum menemukannya. Dengan langkah kecewa Sila melangkah kearah mobil Eri. Beberapa meter jarak dari mobil Eri, dia mellihat Sarah berada dihalaman belakang. Begitu pula Sarah melihat kearahnya dan berteriak
"hai kau jal*ng! berani berani nya kau datang kerumahku! cari mati kau?" teriak Sarah terdengar sampai dalam rumah dan membuat kakaknya keluar untuk melihat
"aku kemari karena mendapat tugas mengambil mobil perusahaan" jawabnya kalem
"dasar kau lac*r,, banyak alasan kau."
Sila tersenyum dan melangkah ke mobil, masuk dann membawanya pergi
"terima kasih atas waktunya tuan Aditya," ucap Sila melambaikan tangan pada Aditya.
"dasar kau jal*ng. pelac*r murahan,," teriak Sarah yang mendapat tamparan dari kakaknya.
" kakak apa apan. kenapa memukulku lagi?"
"diam kau! apakah kau tidak tau siapa dia?"
" ya tau,, dia adalah jal*ng murah an yang mencoba merayu Tama.."
"dia adalah pengawal Aditama!"
"aku tau! dia melamar jadi pengawal agar bisa merayu Tama. dia pengawal murahan, jal*ng" Sarah berteriak di depan kakaknya.
"dia sudah menikah"
"kakak sudah dibohongi.. pengawal Tama yang menikah bernama Arya, bukan Shakira. Pelac*r itu bernama Shakira."teriak Sarah semakin menjadi.
__ADS_1
Namun kakaknya malah senyum menyeringai
"jadi aku ditipu?. hmmm beraninya kau menipuku,,, lihat saja jika suatu hari bertemu lagi. akan kulumat habis tubuhmu. akan kucabik cabik kau tanpa ampun" gumam lelaki Tampan itu