Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
Dia dimana


__ADS_3

pagi hari


pagi yang cerah menurut Sila, meski dia belum beranjak dari tempatnya berbaring. Namun hangatnya sinar sang mentari telah menyapa tubuhnya dari balik jendela kaca dikamar itu. Korden yang sudah tersibak oleh sang tuan rumah. Dari pintu terlihat Bu Darmi masuk sambil membawa mangkuk berisi bubur ditangannya. Di belakangnya ada langkah tegap mebgikuti sosok keibuan itu. Yohan sudah sampai disana . wanita itu tersenyum kepada Sila dan meletakkan mangkuk itu di meja samping ranjang.


"kamu sudah bangun?."sapa Bu Darmi lembut


"iya bu.. tapi badanku rasanya tak ada tenaga. bener bener lemas. rasanya aku tak bisa beranjak dari sini."jawab Sila malas


" itu karena kamu kurang gizi" canda sesosok tegap yang kini berdiri di samping ranjang tempat Sila terbaring lemah itu


"mana ada kurang gizi? lihat tubuhku yang segede gajah gini di katain kurang gizi.."jawab Sila ketus


Yohan dan bu Darmi tertawa.


"itu karena pola hidup dan pola makanmu yang mungkin berantakan akhir akhir ini. istirahatlah yang cukup." timpal bu Darmi.


"apa yang kau bawa itu nak Yohan?" tanya bu Darmi sambil memandang ke arah tas kantong berwarna hitam yang di tenteng Yohan


"ini bu,, madu"jawab Yohan seraya mengulurkan bawaannya kearah bu Darmi yang duduk disamping Sila.


"kebetulan stok madu ibu habis. terima kasih ya" ucap bu Darmi menerima kantong berisi 2 botol madu murni. Dirumah Yohan memang memiliki penangkaran lebah madu sendiri. Jadi bisa di pastikan madu yang dibawanya itu murni. Bu Darmi juga menjadi pelanggan dari usaha ibu Yohan itu. Meskipun lebih sering tidak boleh membeli alias gratiss.


"Sila,, minum 2 sendok madu dulu,, sambil menunggu buburnya hangat sekarang buburnya masih panas." bu Darmi menyuapi 2 sendok madu pada Sila.


"baiklah setelah ini, ibu akan kerumah pak Rt untuk melaporkan keberadaanmu disini. ini sudah kewajiban warga yang menerima tamu lebuh dari 24 jam."


bu Darmi berdiri dan hendak beranjak pergi


" bu,,, dimana Shakira?. kenapa aku tak melihatnya?." Sila menanyakan keberadaa sahabat sekaligus saudara masa kecilnya.


" sejak lulus sekolah dasar Shakira di bawa ayahnya untuk sekolah di prancis. 3 th sekali baru pulang. 5 bulan yang lalu dia juga baru pulang. pas lulus SMA." tutur wanita keibuan itu


"bu,,, bolehkah,,," Sila tak melanjutkan ucapannya


"apa sayang,,,"bu Darmi kembali mebgelus rambut Sila. Yohan pun di buat penasaran. "katakanlah" lanjut bu Darmi


"b- bolehkah aku menggunakan identitas Shakira?." bu Darmi dan Yohan sedikit kaget dengan permintaan gadis itu. Tapi bu Darmi mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga gadis itu ingin menyamar menjadi Shakira putrinya.


"apakah kamu ada masalah yang mungkin boleh ibu tau?? mengapa sampai kamu ingin menggunakan identitas Shakira?.". wanita itu kembali duduk disamping Sila. Yohan meraih kursi dan ikut duduk di dekat ranjang.


"ceritakanlah,, mungkin setelah kamu bercerita pada kami bebanmu akan berkurang. " bujuk Yohan.

__ADS_1


Sila memulai bercerita bagaimana dia pergi dari rumah. Tentang lelaki yang dicintainya, tentang pernikahannya, tentang perubahan sikap suaminya dan tentang surat cerai yang di tinggalkan suaminya untuk mendapat tanda tangannya. Dia juga mengatakan bahwa tak seorangpun yang tahu dia ke kota itu. Tidak ayah atau pun kakaknya. Karena kota itu telah mati dihati mereka. sejak kematian ibunya.


" kemungkinan mereka tak akan mencari sampai kesini. Tapi,,, setidaknya aku harus berjaga jaga." ungkap Sila


" kamu yakin tak ingin kembali,,, sepertinya kamu masih sangat mencintai suamimu. Dan suamimu mungkin khilaf sesaat". hibur Yohan


"entahlah kak. untuk saat ini aku ingin menghindar dari mereka. memang aku masih mencintainya. maka dari itu aku tak menandatangani surat cerai itu. aku ingin pergi sebagai istrinya. jikalaupun suatu saat dia menikah lagi,, aku merelakannya untuk bahagia." tutur Sila tersenyum menyembunyikan kegetiran hatinya.


"menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik. tidak perlu pura pura tersenyum " hibur Yohan


"baiklah jika itu maumu,, lagi pula warga disini juga tidak begitu mengenal Shakira. karena setiap kali dia pulang tidak pernah bergaul dengan tetangga." ucap bu Darmi setuju dan meminta Yohan juga mau memanggilny dengan nama Shakira.


.


.


waktu terus berjalan satu bulan sudah setelah perginya Sila


.


di kota


"Tama.. ayah tau kamu sedih, ini kesalahan ayah juga. Tapi, perusahaan mu juga membutuhkanmu. Jika ini berlarut larut usahamu akan hancur.ayah sudah berjanji tak akn ikut campur disana."


"aku tak perduli lagi ayah,, hidupku kini yang telah hancur. Aku kehilangan nya. aku sudah hancur ayah,, aku sudah hancur." jawab Tama tanpa ekspresi sama sekali. datar.


"jika seperti itu,, kau bukan hanya menghancurkan perusahaanmu. Tapi juga menghancurkan hidup para karyawanmu, mengecewakan klien klienmu. Mungkin para model itu bisa mencari kerjasama dengan perusahaan lain. Tapi bagaimana para kru, para pegawai kantormu, para pegawai kecil, para sopir, cleaning servis, OB?? apakah mereka semua akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan?. jaman sekarang yang sarjana saja sulit dapat pekerjaan bagaimana nasib keluarga mereka?" Tama hanya melirik sinis pada ayahnya


" ayah tahu ayah salah telah menyarankan perceraian itu.. Tapi ayah tidak tau jika kita akan kehilangannya. Ayah hanya kecewa saat itu.. ayah pikir dia hanya akan pulang kerumah orang tuanya." sesal sang ayah


Tama tak menyahut apapun, dia hanya berdiri dan pergi meninggalkan sang ayah di ruang tengah. Dia merogoh saku celananya mengambil ponselnya dan menghubungi Eri


" Er,,, ada kabar?." tanya Tama pada orang yang di sebrang telponnya


"belum. . aku sudah menyebar orang orangku sampai perbatasan provinsi. tak ada yang pernah melihatnya." Eri yang di sebrang mencoba menjelaskan


"Dimana dia Er??. apakah dia baik baik saja?." suara Tama berat seolah ada yang mencekik lehernya


"aku yakin dia baik baik saja.aku akan terus mencarinya. kamu jangan khawatir kita pasti menemukannya." Eri mencoba menghibur


Tanpa kata kata yang diucapkan lagi ,Tama mematikan panggilannya. Dia berjalan menuju mobilnya dan melaju cepat menuju rumah kecil yang sempat ditinggalinya bersama istri tercintanya yang kini hanya bisa dirinduinya itu. Dia membanting tubuhnya di sofa kamar dimana dia biasa tidur, memandang sedih kearah ranjang kosong di depannya. Disana lah setiap hari Tama menghabiskan waktu nya. Tak jarang tiba tiba ia melihat tubuh istrinya meringkuk di ranjang itu, perlahan didekatinya dan coba didekapnya namun tubuh itu hilang. Bagai memudar bersama hembusan angin. Tama hanya bisa meremas sprei kosong dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


kringgg


suara ponsel Tama membuyarkan lamunannya. Dilihatnya di layar tertera nama Natan yang sedang menghubunginya.


"apakah kau menemukannya? atau ada petunjuk?" Tanya Tama tak sabar


"belum,,"-


"lalu kenapa kau menghubungiku?" sergah Tama sebelum Natan selesai bicara


" Ryan ingin menemuimu. katanya ada yang ingin di katakan padamu." jelas Natan


" baiklah suruh dia ke cafe asri. Aku akan kesana sekarang"


"dia sudah menunggumu di sini. aku sedang bersama nya"


Tak ada jawaban kecuali nada putus sambungan telepon. Tama segera melaju mobilnya ke cafe asri. Tak memakan waktu lama dia sampai ke cafe itu. Dan langsung mendapatkan dimana Ryan dan Natan duduk.


"apa yang kau lakukan disini? bukankah aku menyuruhmu mencari Sila? ngapain kamu disini saja?." Ucapan Tama memerintah dengan kasar. Namun itu bukan hal baru bagi Natan


"aku sudah mengerahkan orang orangku. aku juga lelah juga. kau pikir aku ini robot? sehingga tak boleh istirahat." sahut Natan yang mambuat emosi Tama semakin bergejolak. Namun bagainamapun juga, Natan dan kedua Sahabatnya Dodi dan Eri telah begitu banyak membantunya


"apa yang ingin kamu katakan" Tama mengalihkan pandangan pada Ryan yang duduk didepannya. Menyaksikan betapa kalutnya lelaki tampan itu. wajahnya yang dulu selalu nampak cerah kiini terlihat sangat muram kacau, pucat.


Ryan benar benar melihat cinta Tama untuk istrinya.


" satu bulan lalu ada yang tidak sengaja mengambil foto Sila menaiki bus antar Provinsi. Tapi tidak tau ke provinsi mana yang dia tuju." ucap Ryan tanpa basa basi lagi. Sambil menyodorkan sebuah foto seseorang sedang selfi di sebuah terminal yang entah dimana itu. Dari foto itu jauh di belakang terlihat Sila sedang berjalan naik keatas sebuah bus besar dan disampingny tertera Bus Antar Provinsi. Tama mengambil dan memperhatikannya dengan seksama.


"sebelumnya aku minta maaf. aku hanya bisa membantu sampai disini. aku harus kembali ke negaraku, ibuku sakit dan mengharapkanku ada disana." lanjut Ryan


Tiba tiba Tama berdiri dan mencengkram kaos Ryan


"apa maksutmu? pasti kau yang menyembunyikannya. iya kan?. katakan dimana Sila? dimana kau sembunyikan dia?. kau pasti akan membawanya ke negaramukan?. aku tak akan membiarkanmu. aku tak akan melepaskanmu!!" hardik tama meledak ledak. Dia tak mampu mengontrol dirinya lagi. Dia merasa satu orang berhenti mencari maka satu peluang menemukan istrinya hilang dan dia tidak terima akan hal itu.


semua mata di cafe itu menatap kearahnya


Ryan yang tau keadaan emosi Tama hanya diam tak terpancing emosi. Natan mencoba meredakan amarah sahabatnya itu.


"Tam,, Ryan sudah memberikan petunjuk. kita pasti akan menemukannya. Ryan hanya ingin berbakti pada orang tuanya. ibunya sedang sakit dan dia harus berada di rumah" Natan menjelaskan dengan suara pelan. Tama pun melepaskan cengkramannya.


Tama ingat dia juga punya orang tua. Ayahnya, ibunya,, ya ibunya yang menjadi sering sakit sakitan setelah kepergian Sila. Dan bahkan dia sama sekali tak perduli pada wanita yang melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang itu. Dia sadar dirinya terlalu larut dalam kesedihan.

__ADS_1


__ADS_2