
Tama mengizinkan Sila untuk kembali menjadi pengawalnya. Jadi setiap hari dan setiap saat bisa melihat dan menjadi penyemangatnya dalam bekerja. Lidya masih terus barusaha untuk merayu sang nyonya Wijaya.
"Ibu,, apa ibu juga sangat menyayangi Sila. Aku dengar bahkan dia juga punya hubungan dengan Eri."
"Apa maksudmu nak Lidya"
"Ya aku sering lihat dia bersama Eri. Bahkan sekarang dia juga ingin kembali bekerja agar bisa terus bersama dengan pengawal itu"
"Jaga mulutmu! Kau tidak tahu ap apa tentang Sila. Tidak perlu kamu menjelek jelekkan nya disini. Kami lebih mengenal putri kami"gertak Wijaya
"Maaf ayah,,"
"Siapa yang menyuruhmu memanggilku ayah. Jaga sopan santunmu"
"Maaf tuan".
,,, apa sih istimewanya Sila. sampai semua orang begitu menyayanginya,,,
"mmm, aku pamit dulu ya nyonya,,"
"Kenapa kamu terburu buru. Tinggallah sebentar lagi. Lagi pula kamu masih bisa memanggilku ibu jika kamu mau"
"Terima kasih ibu"
,,,setidaknya, ibunya Tama dalam genggamanku. Tama pasti tidak akan pernah melawan pada ibu nya. ini adalah keberuntunganku, toh Tama dan Sila pastinya juga belum resmi menjadi suami istri, tidak ada foto pernikahan dirumah ini,Tama pasti hanya menikahinya secara siri saja. Mengingat kedudukan keduanya tidaklah sederajat. Hhh Sila hanya anak seorang sopir. Jika suatu hari nyonya Wijaya menyuruhnya menikah denganku pasti dia akan dicampakkan,,,
Siang hari
Sila datang bersama Tama ke kediaman Wijaya.
" Sayang kalian kemari? ayah sudah sangat kangen sama kalian"
"Iya ayah. Akhir akhir ini sibuk jadi jarang ada waktu main kesini. Ibu mana?"
"Ada di dapur"
Sila bergegas kedapur, dia berniat membantu ibu mertuanya memasak. Namun di sana sudah ada Lidya yang sedang bantu bantu.
"Lidya kamu disini?"
"Ya,, eh nyonya muda datang. Kamu duduklah saja ini sudah hampir beres."
"Ibu,, apa ada yang perlu Sila bantu"
"Tidak. Lidya sudah menyelesaikannya" jawab sang ibu mertua sambil terus menyiapkan hidangan dimeja.
"Sudahlah. Kamu tinggal makan saja nanti"
__ADS_1
Sila hanya diam memperhatikan seringaian teman barunya itu. Dia beranjak ketempat suami dan sang ayah mertua berbincang.
"Mas,, tidak ada yang bisa Sila lakukan disini. Apa sebaiknya kita pulang saja?"
"Kaliankan baru saja datang. Kenapa buru buru pulang. Ayah kira kalian akan nginap disini"
" Baik lah ayah,, kami akan menginap disini malam ini"
"Baguslah,, malam ini ibu juga meminta Lidya untuk menginap di sini menemani ibu ngobrol" sahut sang ibu tiba tiba.
Sila yang menyadari perubahan sikap sang ibu hanya diam saja
"Makan siang sudah siap. Kita makan bersama sama. Lidya sudah masak hari ini" ajaknya.
Semua menuju ruang makan. Lidya berusaha melayani semuanya namun Tama menolaknya.
"Kenapa Tam,, biarlah Lidya mengambilkannya untukmu." Tegur ibunya
Sila mengangguk dan Tama pun setuju.
Selesai makan mereka berkumpul dan ngobrol di ruang keluarga. Sila yang baru saja masuk membawakan minuman terkejut saat melihat Lidya duduk begitu dekat dengan suaminya. Namun dia bukanlah tipikal orang yang mudah terprovokasi. Dengan senyumannya dia hidangkan minuman dimeja dan duduk disamping sang ayah mertua.
"Nak,, kamu kenapa bekerja seperti ini lagi,,"
"Aku bosan dirumah terus ayah"
"Aku sama sekali tidak mengerti tentang pekerjaan seperti itu"
"Ya,,, kalau jadi pengawalkan masih bisa sama sama yang disukai" Ejek Lidya
"Mm,, Lidya benar ayah. Dengan menjadi pengawal mas Tama kan bisa ikut kemanapun mas Tama pergi. hehehe"
"Ya sekalian bisa ngawasi kalau ada cewek yang menggangguku kan yah" Timpal Tama.
"Pintar juga kamu. Ya memang harus seperti itu. Jadikan tidak ada kesempatan buat kamu main main." Bela sang ayah mertua. Dan hal itu membuat Lidya semakin membencinya.
"Ayah, ibu, Sila mau ke kamar dulu" pamit Sila dan beranjak menaiki tangga menuju kekamar paling besar dirumah itu.
Lidya mengikutinya setelah menemukan alasan tepat pada keluarga Wijaya
"Wah,,, kamar kamu benar benar besar ya. " Suara Lidya mengagetkan Sila
"Ngapain kamu disini?"
"Sila, kita kan sudah jadi teman. Kenapa kamu kasar seperti ini?"
"Dari dulu aku memang seperti ini"
__ADS_1
"Apa kamu marah padaku? "
"Untuk apa? Untuk apa aku marah padamu. Aku tau apa tujuanmu selalu datang kesini"
"Apa? Apa tujuanku. Aku hanya mengunjungi orang tuanya Tama saja. dan kebetulan mereka suka dengan keberadaanku disini."
"Tidak usah berlagak deh."
"Sila!kenapa kamu jadi kasar seperti ini" hardik nyonya Wijaya yang tiba tiba masuk
"Ibu,, aku tidak kasar pada siapapun"
"Ibu melihat kamu berubah,, kamu dulu tidak seperti ini dulu kamu lembut dan selalu nurut sama ibu. Kenapa sekarang kamu jadi kasar seperti ini"
"Karena Sila tidak suka pada Lidya dan sekarang ibu membelanya. Jadi maaf jika Sila berubah kasar." jawab Sila lirih
,,, dia begitu terbuka pada mertuanya jika tidak menyukaiku,,,
"Aku punya salah apa padamu Sila,, kenapa kamu begitu membenciku" ucap Lidya seolah olah sedih.
"Apa aku ada bilang membencimu?"
"Sudah sudah. Jangan diteruskan. Lidya kamu keluar dulu. Ada yang ingin ibu katakan sama Sila"
Lidya tersenyum merasa menang, dia yakin Nyonya Wijaya akan menyampaikan bahwa Tama akan menikah dengannya, seperti yang mereka obrolkan beberapa waktu lalu.
Pintu ditutup dan dikunci. Akhirnya Lidya tak dapat menguping apapun dari luar.
"Nak,, maafkan ibu." Wanita paruh baya itu memeluk Sila yang terduduk dipinggir ranjang.
"Maafkan Sila juga ibu. Sila bukan bermaksud kasar, Sila cuma tidak suka pada Lidya. karena saat Sila dalam perjalanan, dan diberi tumpangan oleh Lidya. Ucapannya kala itu membuatku gak suka"
"Beberapa lama ini, dia memang sering kesini dan menemani ibu. Ibu juga merasa senang padanya, ibu jadi tidak kesepian. Tapi ternyata lama lama dia minta ibu untuk membujuk Tama menikahinya. Ibu pikir,, dia sangat mencintai Tama dan dia rela menjadi istri kedua Tama. Tapi,,, ibu tidak berani bicara pada Tama."
"Jadi,, ibu memang ingin menjadikan Lidya menantu ibu juga?"
wanita itu diam.
"Jika memang seperti itu yang ibu mau.. aku akan bicara pada Tama"
"Kamu serius,,, akan mengatakan ini pada Tama? Tapi,,, jika dia tahu ini ibu yang meminta Tama akan membenci ibu"
"Tidak mungkin Tama membenci ibu. Biar bagaimana pun darah lebih kental dari pada air kan.."
Dengan hati yang berdesir, terasa menyayat Sila memaksakan bibirnya tersenyum dan berusaha kuat di depan sang mertua. Dalam hatinya penuh perasaan sakit dan dalam pikirannya penuh pertanyaan
,,,sudah begitu dalamkah rasa sayang ibu pada wanita yang baru dikenal beberapa waktu lalu itu. Ya,, Selama aku jadi menantunya, aku tak pernah membahagiakan ibu mertuaku. Mungkin dia butuh menantu yang bisa menemaninya setiap saat, dan aku tidak pernah melakukannya,,,
__ADS_1