
Setelah beberapa lama Yohan keluar kamar, Tama berjalan ke ruangan tempat Sila istirahat. Diperhatikannya gadis itu tertidur lelap. Terlihat begitu kelelahan. "Mungkin karena beberapa hari ini dia sibuk membantu pekerjaan Dodi yang semakin banyak" pikir Tama
Padahal kenyataannya adalah gadis itu kelelahan melerai pikiran dan perasaannya yang sedang tawuran.
"Sebenarnya apa yang terjadi?. Siapa yang ada diruangan sana?." tanya Wiijaya penasaran.
"gadis yang disana itu yang sebenarnya mendonorkan darahnya buat tuan."jawab Natan Wijaya mengerutkan keningnya.
"bahkan meski golongan darahnya lebih langka dari tuan" lanjut Natan
"maksud kamu?" tanya Wijaya.
"dia memiliki golongan darah paling langka didunia. jika sampai terjadi kesalahan, dia potensi kematiannya lebih tinggi." Tama menjelaskan
"sudahlah tidak perlu dibahas lagi, dia sudah lebih baik sekarang. Ayah, ada hal yang lebih penting" lanjut Tama menghela nafas panjang.
"ada masalah apa?" tanya sang ayah penasaran
"mengapa ayah mengirim pesan pada pengawal Sha agar tidak datang kepesta?"
sang ayah tersenyum sinis
"bahkan hal seperti ini diadukannya padamu?" tanya Tuan Wijaya
"tidak ada yang mengadu apapun padaku, sampai kapten Yohan mengeluhkan tidak bisa menangkap pelaku penusukan ayah karena ketidak hadiran pengawal Sha." terang Tama,
"Gadis murah*n itu. apa pentingnya?." ejek Wijaya. Emosi Tama mulai meningkat, kedua tangannya mengepal keras
"tuan besar, entah informasi apa yang tuan dapat dari orang yang salah. tapi apa yang anda sebutkan tadi sangatlah tidak pantas" Natan yang tahu perubahan emosi Tama mencoba menengahi
"bahkan kaupun berani menasehatiku?." teriak Wijaya.
"ayah!. aku tahu Sarah sudah memutar segala informasi tentang nona Sha. namun aku harap ayah tidak menelannya mentah mentah" pinta Tama
"aku sengaja meminta Eri mencari seorang pengawal pribadi yang tangguh, dan dia menemukan nona Sha". tambah Tama.
"untuk apa lagi menambah pengawal pribadi. sudah ada Eri, Natan. untuk apa lagi?."
"buktinya dia sudah menyelamatkanku beberapa kali.." jawab Tama.
"Tuan besar,,entah kata kata apa yang sudah Sarah masukkan ke hati tuan tentang nona Sha. Hal yang paling penting yang harus tuan besar tahu adalah hari ini, gadiis yang anda sebut murahan itu, tidak memperdulikan nyawanya sendiri demi menyambung darah tuan. Dan nona cantik benama Sarah yang tuan banggakan, meskipun tahu dia bisa menolong tapi dia tidak mau". Natan pun ikutan geram dan menjelaskan kenyataannya pada Wijaya.
Wijaya terdiam, bukan hanya pembelaan Natan pada rekan sekerjanya itu. Tapi dari pembicaraan dua suster yang tadi benar benar mengungkapkan gadis ini memang baik.
"maafkan aku yang sudah termakan hasutan." suara Wijaya meredakan emosi putranya.
Tiba tiba ponsel Natan berbunyi menandakan pesan masuk. Dari Eri.
*mau bilang apa. Gadis jal*ng itu datang dan mendonorkan darahnya. Situa bangka itu jadi tertolong. Seandainya saja sial an itu tidak datang. situa itu pasti akan mati dan seluruh asetnya akan menjadi milikTama. Setelah aku menjadi istrinya, aku akan,,,, siapa disana?...."*
pesan suara dari Eri membuat telinga Natan seakan terbakar. Wajahnya merah padam karena emosi. Tama dan Wijaya menatapnya heran.
__ADS_1
"untungnya aku gunakan headset dan mereka tak mendengarnya,"batin Natan
"Natan ada apa?.pesan dari siapa?" Tanya Tama.
"oh,, dari orang rumah. mereka belum bisa mendapatkan petunjuk apapun". bohong Natan, dia tidak ingin memperburuk keadaan Wijaya.
Tama berjalan keruangan Sila. Dilihatnya gadis itu masih tertidur dan cairan infusnya tinggal beberapa tetes lagi. Dia bergegas ke ranjang sang ayah dan memencet tombol pemanggil perawat.
Tanpa menunggu lama datang seorang perawat tampan keruangan itu. Tama kaget "harus cowokkah perawatnya?"pikirnya
"ada apa tuan?." tanya ramah perawat tersebut.
"infus gadis yang disana habis. tolong dilepas. pelan saja dia sedang tidur jangan sampai mengganggu tidurnya" perintah Tama. Perawat itu berjalan ke ruangan Sila diikuti Tama. Natan yang duduk di sofa sebrang ranjang sang tuan besar, tersenyum melihat Tama yang begitu perhatian. Wijaya pun merasa adahal yang tidak biasa pada putranya
"sejak kapan dia peduli pada perempuan?mungkin ini yang membuat Sarah memprovokasiku" batinnya.
Perawat itu melepas alat medis ditangan Sila dengan lembut dan berhati hati. "ugh" sedikit lenguhan gadis itu mungkin kaget atau sedikit rasa sakit dipergelangan tangannya mampu membuat mata Tama melotot pada sang perawat
"maaf"bisik perawat tampan itu sambil sedikit menunduk pada Tama. Tubuh Sila bergerak menggeliat menarik perhatian Tama dan sang perawat. Sejenak perawat itu tertegun dan menikmati pemandangan indah dihadapannya. selimut Sila sedikit melorot karena pergerakannya. Mempertontonkan tulang selangka yang indah hingga sedikit belahan dada yang mulus itu terlihat jelas.
"ehem!." dehem Tama sambil membenarkan posisi selimut. Perawat itu segera meninggalkan tempat dengan senyuman geli.
"dia pikir apa?. aku sudah banyak melihat tubuh wanita. lihat yang begitu saja pakai di dehemi segala". batin perawat itu
" tuan Wijaya harus segera istirahat, ini sudah larut. kalau tidak ada hal lain saya permisi" pamit nya pada Natan dan Tuan Wijaya. Wijaya dan Natan mengangguk mempersilakan.
Tama kembali ke tempat sang ayah dan duduk disamping ranjang. Dan berbincang bincang beberapa waktu.
"ayah istirahatlah." ucap Tama.
"nona Sha kamu ini apa apaan. ngapain pakai selimut seperti itu?" kelakar Natan tak bisa menahan tawanya. Sila membuka kepalanya dan menunduk pada tuan Wijaya yang tertegun melihatnya. wajahnya familier. Pertama kali dia melihatnya dikantor tak begitu memperhatikan karena rasa bencinya sudah tertanam.
"maaf tuan,, tapi pakaian saya,,," Sila tak meneruskan.
"ada apa dengan pakaianmu?" tanya Wijaya lembut.
"tadi sore tuan Eri menyeret saya begitu saja jadi saya tak sempat ganti" jawab Sila ragu
"tidak apa apa. pasti pakaian nyamanmu dirumah kan?" bela Wijaya mencoba menghilangkan rasa canggung Sila. Sila mengangguk. Tama mencoba untuk acuh.
"nona Sha mau kemana?. bukankah kapten Yohan menyuruh anda untuk menginap disini?." tanya Natan yang sudah bisa mengendalikan diri.
"emm. saya mau pulang saja." jawab Sila" tuan Natan bisa antar saya?" pinta nya ragu. Mata Tama langsung menatap tajam kearah Natan. yang mendapat hujaman tatapan itu menyadari.
"biar Tama saja yang mengantar nona. saya harus menemani tuan besar disini." jawab Natan. Wijaya menoleh bergantian antara ketiganya.
"ternyata aku yang tak mengerti anakku" batinnya.
"oh ya nak,, terimakasih yang sebesar besarnya atas pertolonganmu"
"tidak masalah tuan. selagi saya bisa saya akan menolong."jawab Sila
__ADS_1
"kenapa kamu sampai membiarkan dirimu dalam bahaya?"
Sila tersenyum manis. senyuman itu mengingatkan Wijaya pada menantunya yang begitu disayangi istrinya dulu
"siapalah saya tuan, jika sesuatu terjadi pada saya paling paling segelintir orang yang terdampak. Tapi jika hal berbahaya terjadi pada tuan besar begitu banyak orang yang akan merasakan kekecewaan."
"bahkan dia memikirkan banyak orang?" batin Wijaya semakin kagum pada gadis yang pernah ia benci ini.
"kamu mengingatkanku pada menantuku yang telah hilang" ucap Wijaya lirih penuh penyesalan.
"memang benar kata pepatah, segala sesuatu terasa tidak berharga sebelum kita benar benar kehilangannya" lanjut Wijaya
Tiba tiba pintu terbuka dan seorang perawat masuk.
"Ada apa?." tanya Tama segera berdiri dari tempatnya dan mendekat pada Sila.
"tidak tuan! maaf, hanya memeriksa saja. ini waktunya pasien harus istirahat dan saya masih melihat lampu belum dimatikan jadi saya cuma periksa." jawab perawat tampan itu sambil melirik kearah Sila.
" nona sudah bangun?." tanyanya pada Sila membuat Tama geram
"eh iya. saya mau pulang saja." jawab Sila tersenyum manis
" oh begitu, karena nona tidak tercatat sebagai pasien jadi nona bisa pulang kapan saja. tapi ini sudah sangat larut apa tidak lebih baik besok saja"
"ada aku yang akan mengantarkannya, apa ada masalah?" tanya Tama sinis.
" tidak Tuan. ."
"tapi selimut rumah sakit sebaiknya jangan dibawa pulang. saya permisi." pamit perawat itu.
"lepaskan selimut itu." perintah Tama.
" tapi tuan,, pakaian saya sungguh tidak pantas. tidak sopan didepan tuan besar juga". jawab Sila
"tidak apa apa nak. tidak perlu sesungkan itu. " jawab Wijaya
Dengan ragu Sila membuka selimutnya. Natan dan Tama yang tak begitu memperhatikan saat Sila datang tadi merasa kaget.
"eh anak ini. kalau pakaiannya kayak gini seksi juga" gumam Natan.
"tuan Natan jangan liatin seperti itu,, saya malu" ucap Sila malu malu.
"hrm,,hrm." Natan berdehem menghilangkan canggungnya
"kalau aku sih gak begitu tertarik ya,,, aku sudah ada Arya ku yang paling cantik. tapi,,, kalau untuk jomblo yang di situ sih kagak tau juga!. " lanjut Natan menoleh kearah Tama yang memasang tatapan membunuhnya.
"diam kau!, br*ngsek!" umpat Tama sambil mengambil dan melempar selimut itu ke wajah Natan. Natan terkekeh.
Tama menarik tangan Sila dan membawanya pergi.
"awas! jangan sampai runtuh benteng pertahananmu Presdir muda yang sombong!!" teriak Natan menggoda sahabatnya itu.
__ADS_1
"dasar brengs*k!. sial an kau!." balas Tama sebelum melangkah keluar kamar.
Wijaya tersenyum," anakku yang arogan dan penuh ekspresi telah kembali." gumamnya, airmata nya menyembul seakan hendak meluncur karena keharuannya. Dua tahun dia kehilangan ekspresi pemberontakan dari anaknya itu.