Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
keterlaluan


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat tanpa meninggalkan kedua pasangan yang dimabuk asmara.


Tama semakin giat dalam menjalankan perusahaannya yang kian melejit.


Sila memutuskan untuk tinggal dirumah kecilnya menunggu suami pujaan pulang kerja dan mengurus semua kebutuhannya. Sila tak menerima saat sang ibu mertua menyiapkan beberapa orang pelayan untuk membantunya mengurus rumah. Sila dan Tama hanya memperkerjakan Pak Parjo tetangga sebelah rumah, suami dari mbok Nah almh. dengan gaji yang lumayan untuk menyambung kehidupannya yang sebatang kara. Pak Parjo tidak perlu lagi bekerja sebagai kuli seperti dulu. Hanya perlu merawat taman dihalaman rumah kecil Sila dan Tama.


Sesekali Sila datang mengunjungi ayah dan kakaknya. Meskipun sang ayah masih begitu tak menghiraukannya, namun perlakuannya sedikit lebih hangat dari sebelumnya. Karena biar bagaimana pun kepergian Sila selama dua tahun membuatnya khawatir juga.


Yohan telah menikah dengan Kirana gadis yang dicintainya dan memutuskan untuk pensiun dini dan kembali ke kota T. Meneruskan dan melebarkan sayap bisnis madu murni orang tuanya, dengan dibantu sang istri yang memiliki dasar pendidikan manajemen pemasaran.


Silvi telah mahir dengan ilmu herbal yang diajarkan bu Darmi.


Sila dan Yuni, kini hubungan persahabatan mereka terjalin kembali


Dipagi yang cerah.


Ria dan Shakira mengajak Sila dan Yuni ke sebuah mall. Dan itu tepat di sebrang kediaman Manggala.


Entah alasan apa yang digunakan Shakira, hingga dia bisa berpisah dengan rombongannya. Dia berjalan menuju rumah mewah disebrang mall.


"katakan pada bosmu. alice Hardianto ingin menemuinya" pinta Shakira pada seorang penjaga gerbang. Tak berapa lama penjaga itu mempersilaka masuk dan menga tarkannya ke dalam rumah


"Selamat datang nona Alice,, senang bisa bertemu dengan anda. ada apa? setelah kabur anda malah datang sendiri menemui ku?"


sambut Aditya sang pemilik rumah


"ada hal yang harus kita bicarakan"


"katakan saja. apakah mengenai Simon kekasihmu itu?"


"tidak.. ini lebih penting. mengenai kita."


Aditya tertawa


"mengenai kita? hahahaha!! ada apa lagi mengenai kita? kamu sudah berani kabur masih mau membahas hal ini?"


"maafkan aku,, aku hanya tidak ingin menipu mu saja"


Tawa Aditya semakin menggema keras diruangan itu


"menipuku? apakah soal hubunganmu dengan Simon? aku tau apa yang sudah kalian lakukan selama ini. Tapi tidak jadi masalah. Hubungan kita hanyalah demi kerjasama antara aku dan ayahmu. aku tidak mempermasalahkan apa yang sudah berlaku. toh aku juga punya banyak wanita wanita lain."


Shakira tersenyum


"Aku percaya,, dengan kekuasaan dan kekayaan yang tuan miliki tidak sulit mendapatkan wanita yang anda inginkan."


"hmm. lalu sekarang apa yang ingin kau bahas"


"Aku hanya ingin, anda sendiri yang mengatakan pada ayahku, bahwa anda yang tidak bisa menerimaku. Katakan padanya aku memiliki hubungan dengan seorang pria disini."


"hmm, apakah dengan begitu ayahmu tidak akan memutuskan hubungan kerja sama kami?"


"aku rasa tidak. yang berbuat salah adalah aku. bukan anda."


"baiklah. akan aku lakukan sesuai keinginanmu.. tapi,, kalau boleh aku tau apa alasanmu menolakku?"


" ada penyakit yang bersarang dalam tubuhku"


"penyakit? penyakit apa?"


"gagal ginjal, selama ini aku sudah mengkonsumsi obat obatan namun semua itu tak bisa menyembuhkanku. aku ingin berhenti dari ketergantungan obat ini. aku ingin menikmati sisa hidupku dengan hal yang aku inginkan dengan kebahagiaan ku. tolong jangan bilang ini pada siapapun termasuk ayahku."


Aditya terdiam.


Shakira pun pamit dan kembali ke mall menemui Ria, Sila dan Yuni.


Setelah dirasa cukup dengan belanjaan, mereka pun pulang.


"Sha kamu g pulang ke apartemen?" tanya Sila saat Shakira turun di rumah Ria.


"enggak. diapartemen kakak sepi. aku gak ada temennya."


Sila tersenyum, dia tahu hal itu.


"kapan kamu akan mengunjungi ibu lagi?"


"minggu depan apa kamu mau ikut"


"bolehlah"


*


*


Pagi yang dingin


Sepasang suami istri sedang bergelut mencari kehangatan dan kenikmatan dalam ketelanjangan mereka dibawah selimut. Suara nafas yang memburu dan erangan disertai desahan nikmat menggema di kamar yang luas. Sesekali pekikan keras terdengar saat Tama menghujamkan keras torpedo miliknya.


Setelah beberapa saat terselesaikan sudah segala hasrat birahi muda mereka, nampak Sila terkulai lemas dengan senyum manisnya. Tama beranjak ke kamar mandi dan membersihkan diri.


"hhh, bagaimana bisa tenaganya tetap luar biasa, dia tak kelelahan sedikitpun?" gumam Sila


Tama keluar kamar mandi dengan pakaian kerjanya yang rapi. Senyum kepuasan dan kemenangan pria sejati tersungging indah di bibirnya.


"sayang,, kamu belum mau bangun?"


"kamu mengerjaiku, aku capek,," jawab Sila manja


"kamu yang selalu membuatku bergairah" Tama mendekat dan merangkak ke ranjang mencium mesra istrinya.


"ummm,,, sudah, ntar dedeknya bangun lagi" dorong Sila melepaskan ciuman Tama.


"kalau bangun ya diurus lagi,," senyum Tama nakal

__ADS_1


"kamu memang sengaja membuatku tak bisa beranjak dari sini"


"hm,,agar kamu tak bisa mencari yang lain."


"buat kamu sendiri saja, aku sudah ampun, gak pingin cari yang lain."


Tama tersenyum


"mas berangkat kerja ya"


Sila mengangguk pelan*


*


*


*


"ughhh " Ria menggeliat pelan membuka mata dan mencari seseorang yang seharusnya berbaring disampingnya.


"kemana itu anak, masih sepagi ini sudah tidak ada." dia mencari Shakira


Ria beranjak kekamar mandi dan membersihkan diri. Selesai mandi dia nbergegas kedapur, mengira sahabatnya ada disana mengganggu kakaknya yang sedang masak. Ternyata tidak ada. Dia ke ruangan depan dan berhenti mematung saat melintasi kamar sang kakak yang tak tertutup dengan sempurna.


Jantungnya berdetak hebat dan bola matanya serasa hendak melompat menyaksikan sebuah adegan syuuur dari dalam.


Terlihat tubuh kekar sang kakak terlentang horisontal dari ranjangnya dengan piyama yang terbuka. Diatas pinggulnya nangkring sosok sahabat yang dicarinya bergerak naik turun dengan erangan yang menjijikkan bagi Ria. Tangan sang kakak menyusup didalam atasan babydol dan bergerak pelan memijat isi didalamnya.


Pemandangan itu membuat darah Ria bergolak panas, marah, sedih. Perutnya serasa diaduk dan nafasnya serasa ditekan, sesak.


Dia tahu kakaknya adalah penikmat kepuasan birahi, namun ia tak menduga, kini sahabatnya menjadi salah satu pemuasnya. Dia sungguh kecewa.


Setelah beberapa saat dia tersadar dan menguasai hatinya


,,biar bagaimanapun itu adalah privasi mereka. tak seharusnya aku ikut campur,,, bisik hatinya.


Dia melangkah menuju pintu.


"kakak,, aku lapar aku akan cari makanan sendiri. Setidaknya tutuplah pintunya dengan benar. agar mataku yang cantik ini tak ternodai oleh perbuatan kalian!!" ucap Ria sambil menutup pintu kamar kakaknya.


Rasa berdebar yang tak bisa di sembunyikan membuat suaranya bergetar.


Dia bergegas pergi meninggalkan rumah dan dua orang yang sedang kuda kudaan.


Shakira terkejut dan terbengong dengan kemunculan Ria. Begitu juga Eri. Hasrat keduanya menurun drastis hingga tak ingin lagi melanjutkannya.


Ria meminta sopir mengantarkannya kerumah kecil Sila. Dia mampir ke warung untuk membeli sarapan.


Sesampainya di rumah kecil. Ria memanggil manggil Sila


"kak Sila! kak!"


"ya,, masuklah. Tidak dikunci"


" lah.. kenapa beli sarapan diluar"


"iya,, kakak lagi hoho hihe." jawab Ria kesal


"maksud kamu,, hoho hihe " Sila mengangkat dua jari telunjuk dan tengah sambil menggerakaknnya. Ria mengangguk. "dirumah?"Ria meengangguk lagi


Sila menggelengkan kepala.


"keterlaluan" gumamnya


Ria bersungut


"Dia begituan dengan Sha,,,,!" teriak Ria tiba tiba. Sila tersentak mendengar ucapan Ria.


"Sha? Shakira?" tanya Sila tak percaya.


"aku tak percaya mereka melakukannya. didepanku,,,"


"maksud kamu?"


"pintunya tidak ditutup jadi,,, aku melihatnya,,, aduuuh mataku yang cantik ternodai hu,,hu,, "


Sila tersenyum mendengar rengekan Ria.


"sudah sudah mungkin karena keenakan mereka lupa nutup pintu,,"


Ria masih bersungut kesal


"nanti kalau kamu sudah punya pengalaman pasti akan tahu"


"ah,,, kak Sila,,, eh! apa kakak juga begitu?"


"apaan sih,, " wajah Sila seketika merona.


Sila pun menyantap nasi pecel yang dibawa oleh Ria.


Selesai makan


"Ria,, nanti kakak akan ke Rumah Sakit menemui dokter Yoga, apa kamu mau ikut atau dirumah saja"


"ngapain dirumah sendirian? aku ikut. kak apa kakak sakit?"


"tidak,, cuma konsultasi saja"


Hari telah beranjak


Sila menghubungi Natan minta untuk diantarkan ke Rumah sakit


"akan aku kirim mobil kerumah. saat ini aku menemani Tama rapat tidak dapat menjemput. mungkin ini akan selesai sekitar jam 13 nanti."

__ADS_1


"baiklah, aku akan langsung kesana setelah dari rumah sakit"


"oke, aku akan memberitahu Tama"


Setelah menunggu beberapa lama mobil yang membawa Tama tadi pagi telah datang.


" pak kerumah sakit Permata"


"siap nyonya"


Sila dan Ria masuk dan mobil pun melaju ke rumah sakit yang dituju.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Sila dan Ria berbincang dengan dokter Yoga


" kak Yoga, kok bisa putus sama Yuni kenapa?"


Yoga tersenyum.


"ya,,,mungkin memang belum jodoh. Lalu aku menemukan jodohku dirumah sakit ini."


"benarkah? siapa ?"


tanya Sila antusias.


" dia juga seorang dokter "


" wah,, seprofesi enak dong dok, bisa pulang pergi bersama sama." celoteh Ria


Mereka berbincang beberapa lama sambil menunggu hasil tes Sila.


Yoga membacakan hasil dari tes yang sudah ditangan nya. Dia tersenyum


"tidak perlu promil lagi,, ini hasilnya sudah positif"


"maksud kak Yoga?" senyum indah merekah di wajah Sila


"apa kamu tak mengenali perubahan dalam dirimu? nafsu makan, kesukaan, mungkin mual dipagi hari. yang paling mudah tanggal haid"


"hehee gak ada. aku gak merasa ada perubahan apapun. kalau masalah haid,, ya ampun, bulan lalu aku gak dapet. dan ini sudah hampir akhir bulan juga"


"kamu ini, sembrono, atau karena keenakan?" goda Yoga.


"jadi,, kak Sila hamil?" tanya Ria senang


Yoga dan Sila mengangguk.


"baiklah,, aku harus memberi kejutan ini pada Tama. terima kasih kak Yoga"


"sama sama"


Sila dan ria berpamit, mereka keluar dari ruangan dokter Yoga. Di depan pintu mereka berpapasan dengan seorang dokter cantik.


"sayang,, aku ada janji temu dengan seorang pasien kamu antar ya setelah dinas,,"


ucap dokter cantik itu saat membuka pintu ruangan Yoga


"baiklah,,"


Sila menoleh


"kak,, apakah ini kakak ipar?"


" hmmm" jawaab Yoga singkat


"siapa sayang,,"


"perkenalkan,, saya Sila." Sila mengulurkan tangannya dan disambut


"oh,,, yang kamu sahabatnya Yuni ya? saya dokter Cristin istri dokter Yoga"


"iya,, kakak juga kenal Yuni?"


"kenal,, kami juga masih berteman."


"oh,, baguslah Yuni juga orang yang baik"


"maksud kamu,,, eh berarti kamu ini is,, "


" ah,, kak Yoga aku pamit ya. sampai jumpa kakak ipar"


Sila memotong kata kata Cristin. Sila dan Ria berlalu


Sila meminta sopir mengantar Ria ke kampus karena ada mata kuliah yang harus diikuti. Setelah itu mereka ke tempat dimana Tama mengadakan pertemuan.


Sila ingin memberi kabar kejutan untuk Tama.


Saat sampai di luar gedung pertemuan tepatnya disebrang jalan, Sila melihat seorang anak kecil menangis di pinggir jalan


"pak, berhenti sebentar."


" ada apa nyonya,, itu tuan sudah keluar."


"sebentar saja,," Sila keluar dari mobil dan berjalan menuju anak kecil yang dilihatnya. Beberapa langkah dari mobil ada seorang perempuan pejalan kaki yang menabraknya


"maaf,"ucap perempuan itu


"tidak apa apa" jawab Sila tersenyum dan melanjutkan langkahnya meninggalkan perempuan tadi.


Tiba tiba


BOOM DUAARRRR


Suara ledakan hebat disusul kobaran api yang besar membumbung tinggi

__ADS_1


Tubuh Sila terpental membentur aspal. Dia terkapar bersimbah darah.


__ADS_2