Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
identitas


__ADS_3

Pagi yang cerah Sila berada dikantin perusahaan dan memesan teh hangat. ada beberapa karyawan yang juga sudah datang dan sarapan di kantin yang sama.


"aku dengar pengawal Arya hari ini akan datang" kalimat seseorang yang duduk dibelakang Sila.


"benar. aku juga dengar kabar itu" timpal yang lain.


sepanjang hari itu Sila begitu ramai para pegawai membicarakan tentang pengawal Arya. Sila jadi ikut penasaran seperti apa pengawal Arya sampai ia benar benar populer. Saat Sila melihat mobil Eri datang ia langsung beranjak dari kantin dan menuju ruangan presdir.


"Nona Sha kamu sudah datang?" tanya Eri yang melihat kedatangan Sila. Sila hanya tersenyum


"Tama kelihatannya sudah datang kenapa kamu tidak masuk dari tadi?" lanjutnya yng mengetahui bahwa bos mereka sudah datang


"saya takut tuan,," jawab Sila ragu. Eri berhenti sejenak sebelum membuka pintu ruangan itu


"takut kenapa?. takut Tama akan memakanmu?" goda Eri sedikit meledek


"hm hm.." Sila mengangguk. Eri tertawa


"saya tidak membawakan bekal seperti yang di perintahkan tuan muda kemarin" jawab Sila.


"oh masalah itu,, jangan dianggap serius,, dia bilang seperti itu hanya agar Monica berhenti mengacau" jawab Eri sambil menepuk lengan Sila memberi semangat. keduanya pun masuk ke ruangan itu. Didalam terlihat Tama dan Dodi duduk santai di sofa. melihat kedatangan kedua orang ini, Tama menoleh dan menatap tajam kearah Sila. Sila yang sadar akan tatapan bosnya itu merasa serba salah dan sedikit takut. Dia mundur sedikit dan berusaha bersembunyi di balik tubuh Eri.


" kenapa kau bersembunyi? apa kau berbuat salah??" tanya Tama dengan nada yang sangat dingin.


Sila melangkah maju sambil terus menunduk saat Eri bergeser dari fempatnya berdiri semula.


" maaf tuan muda,, saya,, saya salah karena tidak membawakan bekal seperti perintah tuan muda kemarin." kata Sila sedikit gemetar.


"sudah kuperintahkan kenapa tak laksanakan? apa kau membantahku?"


"bukan,, bukan begitu!" Sila tergagap sambil melambaikan tangannya cepat.

__ADS_1


"lalu ?" tanya Tama dengan sedikit memiringkan kepalanya seolah ingin mengintip wajah yang di sembunyikan itu


"maaf dirumah saya tidak ada persediaan bahan untuk dimasak,, dan kakak saya semalam lembur sampai tengah malam jadi tidak sempat belanja." jawab Sila


" hah.. sudah! duduklah!" perintah Tama. Eri memalingkan wajahnya sambil membuang tawa kecil yang ditahannya dari tadi.


"aku pikir karena kamu tidak mau dianggap seperti Monica dan Sarah?"goda Eri Sila hanya cemberutdan melirikmtajam kearah Eri.


"Natan dan Arya tadi katanya sudah dijalan kok belum sampai."' lanjut Eri. Tak lama pintu terbuka dan muncul Natan diikuti sesosok wanita cantik berpakaian pengawal dengan rambut pendek.


"selamat datang Arya! apa kabarmu?" sapa Dodi yang seketika berdiri menyambut kedatangan Natan dan cewek itu. begitu pun Eri yang langsung menghampiri keduanya. Dia menjabat tangan cewek itu dan berusaha untuk memeluknya.


ctak!!


sebuah sentilan mendarat di kening Eri.


"auw!.. apaan sih?. aku cuma ingin menyambut kakak iparku doang!" gerutu Eri.


"tidak perlu peluk!."sergah Natan sembari menarik kedua lengan pengawal cewek itu menjauh dari Eri.


"Arya kenalkan ini adalah nona Shakira pengawal baru. nona Sha,, kenalkan." Sila berjalan mendekat dan menjabat tangan cewek itu.


"tadi pas para pegawai membicarakan tentang pengawal Arya, aku pikir seorang cowok yang super tampan,, ternyata cewek cantik." mendengar ucapan Sila semua tertawa kecuali Tama yang melirik Tajam kearah Sila.


Setelah berbincang bincang sebentar


"dengar,, Arya,, untuk seminggu ini aku ingin kamu kembali bekerja. jaga ibu. Heru juga sudah kembali dia akan bersama ayah. Dodi kamu tetap di perusahaan menghendel pekerjaan disini, sementara kalian bertiga ikut aku keluar kota." Tama menjelaskan


"Eri,, apa SIM untuknya sudah kamu urus?"tanya Tama pada Eri


"hhh ribet. tapi tenang aku sudah meminta bantuan kapten Yohan untuk mengurusnya selama kita keluar kota. tinggal menyerahkan identitas nona Sha saja." Sila kaget mendengar tentang surat identitas.

__ADS_1


"nona Sha,, berikan identitasmu padaku biar aku serahkan pada kapten Yohan."


"emm itu, bisakah saya bertemu langsung dengan kapten Yohan tuan Eri?"


"ada apa?"


"ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya."


"apa kau mengenal kapten Yohan?" tanya Dodi.


"em.. sebenarnya,, saya dan,,," Sila tak meneruskan kata kata ragunya, dia hanya menunduk.


"baiklah, aku akan menelfonnya untuk menemui kamu."potong Eri.


Natan menyadari sesuatu, tatapan Tama yang seolah tak bersahabat begitu tajam mengarah pada gadis yang tertunduk itu. Natan menoleh kearah Arya yang ternyata juga menyadari hal yang sama.


Tama tiba tiba berdiri dan beranjak meninggalkan tempat itu menuju ke ruangan pribadinya. Natan mengikutinya


"kenapa kau mengikutiku?." tanya Tama dengan nada kesal


"aku takut saja ada yang terbakar disini... kalau sudah kupastikan aman aku akan keluar kok"


Tama tak menghiraukan sahabatnya ini sama sekali.


"kau cemburu kah? saat dia ingin bertemu kapten?"selidik Natan


"apa maksudmu? bahkan aku tidak mengerti." elak Tama


"tidak perlu mengelak. aku tau kau menaruh harapan bahwa gadis ini adalah istrimu yang kau buang 2th yang lalu kan?. " tpTama tak menjawab


" wajahnya memang serupa. tapi belum tentu mereka adalah sama!."

__ADS_1


"aku,, aku tak dapat mengendalikan perasaanku. aku masih merasa mereka adalah satu. aku benar benar ingin memeluknya, seandainya bisa,, bahkan itu meskipun mereka orang yang berbeda sekalipun, rasanya aku ingin melepaskan kerinduanku." ungkap Tama dengan suara yang semakin berat. Dadanya sesak bila mengingat kerinduannya pada Sila. Natan mendekat dan menepuk nepuk bahu sahabatnya ini.


"kita pasti akan menemukannya,,, suatu hari nanti" hibur Natan


__ADS_2