
Hampir dua jam Sila terbaring tak berdaya di lantai kamarnya. Tak ada yang datang, Tama juga tidak kembali. Meskipun sudah tersadar dari pingsan nya. Tapi Sila tak bisa berbuat apapun. Terlalu lemah, terlalu capek, terlalu sakit. Sampai pada saat mbok Nah, tetangga sebelah rumah datang berniat memberi semangkuk sayur.
Wanita paruh baya itu memanggil manggil Sila berkali kali. Namun tak ada sahutan dari dalam. Wanita itu mengintip dari jendela kaca samping pintu. Jendela itu lurus pintu kamar Sila yang kebetulan tak tertutup pada saat dia keluar tadi. Terkejut mbok Nah melihat sesosok tubuh yang ia kenal sedang terbaring di lantai dalam kamar.
"Neng... neng Sila,, bangun!!, ngapain tiduran dilantai neng,,,?" teriak mbok Nah dari luar rumah. Dia berusaha membuka pintu namun tidak bisa karena terkunci dari dalam. Akhirnya mbok Nah memutari teras dan mencoba membuka pintu depan. Dan benar pintu depan bisa di buka.
"Neng Sila,,, apa yang terjadi?? aduh bangun" mbok Nah mengangkat kepala gadis muda itu ke pangkuannya.
"Kenapa neng,, sadarlah!!" mbok Nah panik.
Dengan bantuan beberapa warga sekitar mbok Nah membawa Sila kerumah sakit.
"Bagaimana dok,, neng Sila sakit apa?" tanya mbok Nah pada dokter yang baru saja memeriksa Sila.
"Begini bu,, pasien mengalami maag kronis.tapi ibu tidak perlu khawatir. Kami sudah menangani kok. "
"Maag kronis dok? apakah berbahaya." mbok Nah khawatir
"Mungkin klo terlambat ya memang menyebabka kematian. Tapi mohon ibu tenang bu.. kami sudah memberikannya obat yang sesuai." dokter mencoba menenangkan
Selama 3 hari mbok Nah menemani Sila di rumah sakit. Karena Sila tidak mau menghubungi siapapun. Tidak suami yang baru saja meninggalkannya, tidak kakak atau pun ayahnya, tidak Yuni sahabatnya, atau bahkan kedua mertuanya.
"Mbok Nah,, maaf ya Sila ngrepotin mbok Nah"
"Jangan bicara begitu. mbok sudah anggap kamu sebagai anak mbok sendiri."
"Oh ya mbok anak anak mbok Nah kemana? kok sudah beberapa lama timggal di sana g pernah liat anaknya mbok"
"'Anaknya mbok cuma 1 anak perempuan. Rumah yang kamu tempati itu dulu rumahnya. Tetapi karena suaminya mengajaknya pulang ke negara asalnya, rumah itu dijual" kenang mbok Nah sedih.
Akhirnya setelah beberapa hari di rawat inap, Sila sudah diperbolehkan pulang.
Sesampainya dirumah, segala kesedihannya pun muncul kembali. Sila tak tahu lagi harus berbuat apa. Apa yang harus dia putuskan. Hingga pada akhirnya Sila memutuskan untuk pergi.
Pagi pagi sekali Sila menemui mbok Nah dirumahnya.
"mbok Nah.."
__ADS_1
"Ya neng ada apa pagi pagi sekali mencari mbok??."
" Mbok,, terima kasih selama ini mbok yang udah ngrawat dan sayang sama Sila, mbok juga mengajari Sila tentang banyak hal. Kali ini Sila mohon pamit"
"lho mau kemana?"wanita itu menatapnya bingung
"Ini mbok,, MasTama kan saat ini ada di luar negri dan tidak tau kapan pulangnya . Karena urusan perusahaan yang agak banyak jadi mas Tama meminta Sila untuk menyusulnya ke luar negri."
"Ohh begitu,, kamu berangkat sama siapa?"
"Sila naik ojek ke bandara nanti di jemput mas Tama sesampainya di sana."
" Baiklah kalau begitu kamu hati hati ya,, jangan lupa obatnya diminum."
" Iya mbok terima kasih sudah diingatkan"
Sila mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya kepada mbok Nah
"mbok,, ini sedikit pegagan buat mbok Nah"
" G apa apa mbok. Terima saja."
Sila kembali ke kamarnya. Diletakkan kembali map biru berisi surat perceraian yang harusnya di tanda tangani. Ditaruh pula Hp pemberian Tama. Semua perhiasan yang dia miliki, kecuali cincin nikah nya. kartu ATM, kartu kridit tanpa batasnya juga. Semua ditaruh di meja di samping map biru yang membuatnya bergetar itu.
Sila naik ojek menuju rumah mertuanya. Hatinya benar benar tak karuan. Takut, sakit, bimbang, semua bercampur dalam angan Sila. Sudah berhari hari mata sila tak bisa kering oleh air mata nya.Tak bisa di bendung benar benar tidaknbisa.
"Ibu,, Sila mohon maaf bila Sila melakukan banyak kesalahan pada keluarga ini. Tapi Sila tulus sayang pada kalian. Dan sekarang mas Tama mengingin kan kami berpisah. Sila tak tau harus berbuat apa?"
Nyonya Wijaya tidak punya kata kata apalagi, dia hanya menangis mendengar ucapan menantunya ini. Sementara sang Tuan besar Wijaya terlihat marah dan kesal pada Sila.
"Tidak perlu lagi berbasa basi. pergilah! kami melepaskanmu! kami sudah tidak ada hubungan lagi sama kamu. Terserah apapun yang ingin kamu lakukan."
"Entah kesalahan apa yang Sila lakukan hingga membuat keluarga ini begitu membenci Sila. Sila minta maaf. mungkin tanpa sengaja menyakiti hati kalian."
"Pergilah"
"Sila,,," nyonya Wijaya berlari memeluk Sila erat, erat sekali seolah tidak mau melepaskannya.
__ADS_1
" Ibu,, maafkan Sila ya jika Sila ada salah kata atau salah bertindak di keluarga ini".
"Iya nak ibu maafkan. Ibu selalu sayang sama Sila,seringlah main kemari ya??."
Sila mengangguk.
"Sila pamit ya ibu,, doakan yang terbaik buat Sila."
Nyonya Wijaya mengangguk sesengguka tak dapat menahan deras air mata nya.
Sila meninggalkan rumah itu dengan perasaan hancur. Dia meminta ojek mengantarkannya ke terminal. Dia duduk begitu lama di salah satu sudut terminal itu. Mengharap seseorang datang mencarinya membawanya pulang kerumah. Deras air matanya masih membanjiri pipi gembulnya yang terlihat pucat. Dengan langkah gontai dia menyeret kopernya keluar terminal. Bingung tidak tau mau kemana. Mau pulang takut pada ayahnya. kerumah Yuni, dia tidak mau merepotkan sahabatnya itu. Mau menginap di hotel, ia tahu uangnya tidak akan cukup untuk seminggu dihotel. Sila tak tau kemana dan sudah sejauh mana kakinya melangkah. Dia sampai di sebuah halte, dia menunggu lagi dan lagi lagi berharap suaminya datang menjemputnyaa pulang. NIHIL.
Saat sebuah bus datang dia hanya masuk begitu saja. Tidak tau kemana bus itu akan membawanya.
"Turun dimana neng?" tanya seorang kernet
"Terminal" jawabnya ragu
"Terminal mana?"
"Saat bus ini lewat terminal, turunkan aku disana"
"Baiklah"
30 menit perjalanan akhirnya bus itu melewati sebuah terminal.
"Neng kita sudah sampai diterminal. silakan turun"
"Ohh baik pak. berapa?"
"50rb neng"
"Terima kasih pak."ucap Sila sambil menyodorkan uang
Dengan ragu Sila menuju loket karcis dan membeli 1 lembar kaarcis tujuan kota T. Dia tidak yakin akan kesana. Tapi tidak ada lagi tempat tujuan dia. Sila berfikir dia harus menghilang dari orang orang yang mengenalnya. Dan dia yakin tak akan ada yang mencari sampai kota T.
Kota T adalah tempat kelahiran Sila. juga tempat dimana ibunya meninggal. Sewaktu kecil, Sila dirawat oleh neneknya di kota itu. Karena Rudi, sang ayah tidak mau menerimanya. saat usianya 7tahun sang nenek meninggal dan seluruh kekayaan yang dimiliki neneknya dijual oleh tantenya. Jadi saat ini yang tersisa di kota itu hanyalah kenangan pahit dan 2 makam kakek dan neneknya. Sementara saat ibunya meninggal, sang ayah memboyong jenazah nya ke kota A. Sila diambil pulang oleh Niya dan di rawatnya.
__ADS_1