
"Nona Sha semua ini adalah kesalahan mu"
Tiba tiba Eri datang ke kantor dan marah marah pada Sila. Dodi dan Sila terbengong tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"salah saya apa tuan saya tidak tau"jawab Sila yang memang tidak tau apa apa.
"kamu kan yang waktu itu memilihkan Sarah sebagai partner dijamuan makan malam Tama?" Eri nampak benar benar kesal. Tiba tiba pintu terbuka dan muncul Natan bersama Tama. semua terdiam. Tatapan Tama lurus kearah Sila yang duduk disamping Eri. Dan pada saat yang sama sedang mengintip dari balik punggung Eri. Tak lama Tama langsung menuju ke ruangannya. Natan berjalan mendekati ketiganya dengan langkah lemah tak bertenaga.
"apa sebenarnya yang terjadi?, yang satu datang dengan marah marah. yang satu lagi datang dalam keadaan lemah kayak gini?" tanya Dodi pada kedua sahabatnya di iringi anggukan penasaran Sila.
"hari ini,, tuan besar memutuskan,bahwa minggu depan, pada acara aniversari pernikahan mereka akan mengumumkan pertunangan Tama." cerita Natan sedih.wajahnya tertunduk lesu namun tatapan matanya melirik ke arah Sila ragu. Dodi dan Sila yang ketinggalan berita itu begitu terkejut.
"dengan siapa?. jangan bilang yang Eri maksud Sarah?...." Dodi tak melanjutkan tebakannya. dan langsung mendapat jawaban dari anggukan Eri.
Air muka Sila langsung berubah dan hal itu diketahui oleh Dodi dan Natan.
"e..e... bukankah... bukankah nona Sarah me,,memang cantik ya?. lalu apa masalahnya?" tanya Sila gagap mencoba menyembunyikan gejolak hatinya yang tak karuan. hancur berkeping keping bagai kaca yang remuk. Dodi dan Natan saling pandang.
"memang cantik,,, tapi dia hanya mengejar ketenaran. jika dia menikah dengan Tama, bukan hanya kaya tapi dia sebagai model akan sangat terkenal" Jawab Eri lesu.
Sementara diruangan Tama, lelaki tampan itu berdiri termangu menatap pengawal cantiknya dari balik kaca. Rasa kesal, marah, bingung dan sedih bercampur tak bisa ditanganinya satu persatu. Semua bermunculan menghancurkan pertahanannya. Sila tak lagi muncul dan Shakira tak bisa lagi jadi miliknya.
"tapi,, bukankah suaminya mencampak kannya?". batinnya.
"tapi dia masih mencintai suaminya. andai aku bisa merebut hatinya,," ide ide kacau menghantui pikirannya.
Tama melangkah keluar dari ruangannya.
"Natan,, ikut aku" ajak Tama. Natan tak menjawab hanya berjalan mengikuti sang tuan muda.
"bawa kerumah kecil"perintahnya dengan suara bergetar.
"srrr" hati Natan seolah terhiris mendengar Tama menyebut rumah kecil.
"pasti saat ini hatinya benar benar terluka" batin Natan.
"Tam,, apakah kau yakin pada keputusannu?". tanya Natan. Natan bertanya perlahan
"tentang pertunangan itu"lanjutnya ragu
"lalu apa?. apa yang harus aku tunggu?. 2tahun aku menunggu Sila. Dia tak kunjung ditemukan" ratal Tama
"bagaimana bila dia ditemukan setelah pernikahan mu?. bukan aku ingin menghalangimu, jika pilihanmu tepat dan kamu bahagia tidak jadi masalah. Tapi kali ini bukan karena kamu mencintainy melainkan karena kamu kesal." nas3hat Natan.
"jika Sila masih di sekitar kita, aku ingin dia muncul saat pertunanganku. dan kita akan menemukannya." ungkap Tama.
Mobil menapaki halaman luas nan asri. Taman itu memang terawat, Tama mempekerjakan pak Parjo untuk merawat taman kecil dihalaman itu. Tama keluar dan berjalan pelan mengelilingi taman itu disentuhnya tiap tiap bunga yang bermekaran.
" tak biasanya Tama seperti ini. Saat ia sedih biasanya langsung kekamar dan membenamkan diri di ranjang istrinya. tapi kali ini,,,"batin Natan. Kali ini ia tak mampu membaca ekspresi Tama dengan jelas.
__ADS_1
"Natan,, jika aku menggelar acara tunangan, dia akan datang kan?. jika dia masih mencintaiku dia pasti datangkan?. dia pasti kembali padaku kan?. "tanya Tama seolah putus asa.
" ya, dia pasti datang. Tapi bagaimana jika dia datang tapi dengan diam?. bagaimana jika dia tak mencegahmu?. bagaimana jika dia beranggapan bahwa kamu telah menemukan cinta lain dan merestuimu?." jawab Natan membuat Tama tertegun.
"setidaknya aku mencoba membuatnya kembali." jawab Tama. Ia berjalan menuju ke dalam rumah dan masuk ke kamar istrinya seperti biasa. Natan tak berani mengikuti nya.
"nona Sha!, apa sebenarnya tujuanmu?. mengapa tak juga kau ungkapkan siapa dirimu?. masihkah kau mampu menanggung beban cinta ini?. aku tahu kau masih mencintai tuan muda dan apakah kau tak tahu betapa tuan muda juga sangat mencintaimu?." gumam Tama.
*
*
*
Di satu pagi
"selamat pagi nona Sha" sapa Dodi pada Sila yang baru saja datang. Sila tersenyum menyamarkan wajahnya yang murung beberapa hari ini sejak mendengar kabar pertunangan itu.
"selamat pagi tuan Dodi. sudah jam segini kok sepi?. tuan Natan dan tuan Eri ada tugaskah?" tanya Sila balik. Suaranya semakin hari semakin serak dan berat. Dodi menatapnya sejenak.
"iya mereka sedang ada tugas dari tuan besar. nona Sha sakit?. kenapa suaramu?.."
"ah ,, hanya sedikit, mungkin akan pilek atau batuk. g masalah nanti minum obat juga sembuh." jawab Sila.
Seharian Sila membantu pekerjaan Dodi, akhir akhir ini Sila memang mempelajari tentang pekerjaan Dodi dan Natan. Sampai sore hari terlihat sibuk disela sela candaan yang sedikit menghibur hatinya yang kacau.
"tuan,,pekerjaan sudah di selesaikan, saya pamit duluan." ucap Sila pamit pada sang Presdir. Namun tidak ada jawaban sama sekali, dia mengetuk pintu sekali lagi. "tuan,,, " dia memastikan bosnya untuk menjawab. "ya,, pulanglah" sahutan dari dalam. Sila pun melangkah keluar ruangan dan menuju liff eksekutif, namun sebelum pintu liff tersebut benar benar tertutup,Tama masuk.
"jangan pulang dulu,, aku ada janji makan malam dengan Sarah, kamu ikut aku" ucap Tama dengan nadanya yang datar dan dingin, namun terdengar sedikit berat dan tertahan.
mata Sila panas terasa seperti terbakar dan hendak menyemburkan pemadam otomatisnya. Namun sekuat hati ditahannya, dadanya begitu sesak seolah nafasnya tak mau keluar.
"baik tuan " jawabnya tak ingin kehilangan rasa sopannya.
"kenapa suaramu seperti itu" tanya Tama khawatir.
"ah saya sedikit terserang flu tuan" jawabnya mencoba untuk berbohong.
Ternyata di depan pintu liff yang baru saja terbuka telah menunggu Sarah dengan gaun seksinya. Dia segera bergelayut manja dilengan Tama.
"kita ke rumah makan x. "perintah Tama
"baik" Sila melaju mobil menuju sebuah rumah makan mewah yang disebutkan Tama. Setelah menurunkan kedua penumpangnya, Sila memarkirkan mobilnya di deretan paling ujung.
Tama mengambil duduk di dekat jendelaa kaca hingga bisa leluasa mengawasi kearah parkiran. Dilihatnya sosok pengawal cantik nya menunggu di belakang kemudi dengan membuka kaca pintunya. Dari balik kemudi pun Sila juga dapat melihat dengan jelas.
"kakak.. aku merasa tak tahan lagi" sebuah pesan chat terkirim kepada Yohan.
"kenapa lagi?" balasan dari sang kakak
__ADS_1
"saat ini aku harus melihatnya bermesraan dengan wanita lain. hatiku sakit"
"kenapa kamu tak berterus terang saja"
"tentang apa??. aku belum tau perasaannya untukku.
Dulu dengan tiba tiba orang tuanya melamarku dan membuat kami menikah. bahkan berbulan bulan dia juga tak berniat menyentuhku. dan tanpa alasan mengodorkanku surat cerai.. tapi setelah dua tahun aku pergi dia juga belum menikah lagi. aku ingin tau saja bagaimana perasaannya terhadapku.
Tapi ini terlalu menyiksa hatiku kak."
"kamu dimana?"
"dirumah makan x"
"oh kakak juga ada disekitar situ.
"aku diparkiran,,, bawakan aku coklat dan es krim plisss"
"oke"
Sila menyimpan kembali ponselnya. Dia keluar dan berdiri bersandar di mobil itu menantikan kakaknya datang. Dilihatnya sang tuan muda sedang menunggu pesanan makanannya sambil menatap serius layar ponselnya.
tiba tiba ponsel Sila berbunyi menandakan ada chat masuk
"masuklah makan malam sekalian"
Tama mengirimkan pesan kepada Sila
"terima kasih tuan muda" balas Sila.
Tak lama setelah Sila mengirim balasan datang sebuah motor sport yang dikendarai seorang pria keren. Pria itu turun dengan gagahnya dari kuda besinya itu.
Tama melihat Sila sangat girang dan berlari memeluk lelaki itu.
Hatinya begitu geram, tanpa dia sadari tangannya mengepal begitu kuat, nafasnya pun kian berat. Hatinya dikuasai rasa marah
"siapa lelaki itu"batinnya
Sementar diluar, Sila mendekap erat tubuh kakaknya, dia membenamkan wajahnya didada bidang itu dan menangis.
"kakak, hatiku sakit,, rasanya aku ingin pulang ke tempat mama dan ibuk."
"kamu tenang dulu sayang," Yohan membelai lembut rambut adiknya itu. Dia menoleh kearah dalam rumah makan. Disana dilihatnya Tama berdiri kesal dan menggebrak meja dengan kuat hingga membuat pengunjung lainnya menoleh. Yohan tersenyum saat melihat Tama berjalan cepat keluar rumah makan.
"sayang,, kamu adalah gadis yang kuat. pengorbananmu pasti meraih hasil."
"tapi rasanya teramat sakit,, rasanya aku ingin menyerah saja.".
"jangan bicara seperti itu".
__ADS_1