
Hari itu Har pulang terlambat karena harus menyelesaikan beberapa hal penting.
"kak.. aku mendapat tawaran untuk menjadi pengawal pribadi keluarga Wijaya.. apa pendapat kakak?." tanya Sila pada Har setelah mereka duduk santai sambil menonton Tv
"benarkah? wah.. itu keren." jawab Har dengan senang.
"apa menurut kakak begitu?. " Sila menggeser tubuhnya menghadap kakaknya
"jelas dong.. kamu tau?. perusahaan Wijaya dan Adijaya memiliki puluhan bahkan ratusan orang pengawal yang hebat. tapi mereka tidak memiliki kesempatan menjadi pengawal pribadi keluarga itu. dan sekarang kamu yang bukan siapa siapa malah mendapatkan tawaran itu. pastinya mereka memiliki penilaian yang lebih terhadapmu." Har begitu antusias menjelaskan pada Sila. Sila hanya diam seolah memikirkan sesuatu.
"tidakkah ini berlebihan?" tanya Sila ragu
"emm.. iya sih, kamu orang baru dan darimana mereka tau kamu punya kemampuan untuk menjadi seorang pengawal?." Har memutar bola matanya mencoba menerka nerka
"kalau untuk itu, kemarin tuan Eri memperlihatkan sebuah video padaku,"
"video apa?" Har penasaran. Dia mematikan tvnya dan fokus pada Sila
" kemarin lusa, ada sekelompok orang yang tiba tiba menyerangku. aku pikir dari mana mereka, aku tidak punya musuh. Ternyata orang orang itu suruhan tuan Eri. Dan aku membuat mereka babak belur." Sila menunduk penuh penyesalan.
"seandainya aku tak melawan mungkin,,,"
"hhh itu hal yang bagus, kamu akhirnya mendapat pekerjaan yang lumayan hebat. bayangkan,, tiap hari kamu berada diantara orang orang hebat. Dimana tak sembarang orang bisa mendekati mereka. Gaji juga tinggi." dukubg Har.
"apakah aku bisa bertahan" Sila kembali ragu
"berada dekat dengannya, tanpa bisa menyentuhnya. melihatnya setiap saat tanpa bisa memeluknya. apakah aku akan kuat?. haruskah aku mengakui keberadaanku? tapi tidak! dia tidak menginginkanku. dia sudah mengajukan untuk bercerai. mungkin sekarang dia sudah memilik yang lain.. ohhh apa yang harus aku lakukan?." batin Sila berkecamuk
__ADS_1
"apakah kamu sudah memberi kabar ini pada kakakmu yang ganteng berotot itu?" tanya Har membuyarkan kebimbangan batin Sila.
"maksud kaK Har?." tanya Sila sedikit kaget
"siapa lagi kakakmu yang berotot dan ganteng yang kamu bangga banggakan?"
"kak Yohan?.. belum. aku belum memberitahunya." jawab Sila
"telfon dia dan kabarkan hal ini. Dia pasti senang mendengarnya." perintah Har Sila tersenyum dan mengangkat ponselnya. Dia beranjak dan melangkah meninggalkan Har
"tak bolehkah aku mendengar kebahagiaan kakak mu yang satu itu?. Dia pasti bangga pada apa yang sudah diajarkannya padamu." ucap Har yakin. Sila berhenti dan menoleh. sedikit ragu, dia takut Yohan akan mebyebutkan sesuatu tentang hubungannya dengan keluarga Wijaya. Namun pada akhirnya dia kembali duduk dan mhlai menghubungi Yohan
"Sila,,, tumben ingat kakak. ada apa, apa Har berlaku jahat padamu?" suara di sebrang memberondongnya dengan pertanyaan.
"memangnya kau pikir aku ini orang sejahat apa?."jawab Har yang juga mendengar pertanyaan sahabat karibnya itu.
"diam kau!!"bentak Har. Sila hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua kakaknya itu
"ah,, kenapa marah?. bukannya benar yang aku katakan??. sampai sampai kau tak izinkan adikku ikut denganku." goda Yohan membuat wajah Har memerah, malu dan marah.
"sudah sudah. jangan bertengkar lagi " lerai Sila
"kak., aku dapat tawaran kerja dikeluarga Wijaya sebagai pengawal pribadi..."
"benarkah?.. apakah kamu benar benar sudah siap?" Yohan bertanya dan terdengar khawatir tentang sesuatu hal
"apa kau tidak senang kalau Sila dapat kerjaan bagus. ini tawaran hebat kau tahu?. berapa banyak yang menginginkan kesempatan ini?. " tanya Har
__ADS_1
" bukannya tidak senang. aku bahkan bangga. apa yang aku ajarkan selama ini akan berguna. tapi apa kamu lupa? adikmu itu perempuan, dan menjadi seorang pengawal ?. dan bukan pengawal orang kaya biasa.. itu adalah keluarga Wijaya.. apa kamu benar benar tidak tahu berapa banyak pihak yang ingin menjatuhkan keluarga itu?. aku hanya khawatir" Yohan mencoba menjelaskan.
"kakak.. jika kakak tidak setuju aku juga tidak akan menerimanya."jawab Sila sedikit sedih.
"kakak bukan tidak setuju sayang,, tapi apa kamu benar benar sanggup?. kau masuk keluarga Wijaya,, apa kau,,,"
"iya iya... aku tau maksud kakak" Sila memotong perkataan Yohan sebelum Har mendengar tentang hubungannya dengan keluarga Wijaya.
"jika kamu merasa sanggup, kakak hanya bisa mendukung." Sila diam. Har mengernyitkan keningnya mencoba memahami sikap adik nya itu.
"aku merasa mungkin aku siap!" jawab Sila. Har tersenyum dengan keputusan Sila.
" dengarkan kakak. Menjadi seorang pengawal sama saja dengan seorang prajurit. Ingat semua yang kakak sudah ajarkan padamu. Kamu harus benar benar kuat jiwa raga, mental dan fisik, gunakan otak sebelum otot, kamu harus disiplin, keras dan tegar, harus profesional, tidak boleh ada kata menyerah dan menangis.. kau harus lupakan bahwa kau gadis yang lemah dan cengeng. kau adalah seorang prajurit." wejangan Yohan begitu merasuk dalam jiwa Sila. Dia ingat betul bagaimana kakaknya menggemblengnya selama satu setengah tahun dan kini semua itu harus dia terapkan.
"aku tau kak. aku akan selalu mengingatnya. Seorang prajurit tidak ada waktu untuk bersedih dan menangis biarpun aku cewek sama saja. aku harus kuat dan tegar, tidak boleh rasa gentar dan gugup. hmm aku siap" jawab Sila mantab
" bagus,, kakak mendukung apapun keputusanmu. kakak Yakin kamu sudah mempertimbangkan semuanya. semangat!!!" dukung Yohan
Har hanya bengong mendengar percakapan keduanya.
"sekeras inikah Yohan mendidik gadis ini?. aku benar benar penasaran seperti apa Sila yang sebelumnya." batin Har. Dia mengamati wajah gadis disampingnya dengan seksama. Sila tersenyum penuh semangat setelah berbicara dengan Yohan.
"sebesar ini pengaruh kakak ganteng berototmu itu?" goda Har
"apa sih kak!!. makanya rajin olah raga biar berotot kayak kak Yohan!," balas Sila. Dia pun beranjak meninggalkan Har menuju ke kamarnya.
"aku harus siap. apapun yang terjadi aku akan siap. bukankah dulu aku sudah katakan bahwa aku ikhlas melepasnya bahagia?? walaupun itu bukan dengan ku. hati ku kuat. dan aku akan selalu dekat dengannya. walaupun tak lagi memilikinya". tekat Sila
__ADS_1