Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
kejutan


__ADS_3

Anton dan dua orang bodyguard yang hari itu mengawal Sila menjadi heboh. An histeris majikannya hilang. Mereka tahu konsekuensi lalai dalam tugas. apalagi ini tugas menjaga kesayangan Manggala.


Anton segera ,enghubungi Adryan


" maafkan kami tuan, kami kehilangan nona di mall"


"bagaimana bisa"


" dia menyamar dan menyelinap keluar tanla sepengetahuan kami nona meninggalkan ponsel dan kartu kreditnya di kasir."


" baiklah pulanglah kalian, aku yang akan bicara dengan Aditya"


"baik tuan"


*


" tuan, , maafkan aku"


"ada apa?" tanya Aditya.. tangan dan pandangannya masih fokus pada beberapa berkas pengalihan nama yang barusaja di rptanda tanganinya


"nona kesayangan anda kabur"


"apa maksudmu!" teriak Aditya


" sesampainya di mall dia menyamar dan kabur"


" apakah selama ini dia hanya pura pura saja"


"mungkin juga tuan"


Aditya tersenyum kecut. Hatinya yang sudah patah dan hancur saat menerima laporan Adryan kini hanya bisa pasrah.


"mau bilang apa Yan,, sekarang dia pulang pada pemiliknya. biarlah."


"tuan,,,"


"aku bisa menerimanya Yan. aku sudah mencerna ucapanmu waktu itu. dia harus bahagia. walaupun aku punya segalanya, dia tetap bahagia bersama suaminya"


" apa rencana tuan kedepannya"


"mau apalagi. kita jalani hidup kita seperti biasanya."


"tentang aset yang anda alih namakan?"


"kita jalankan dulu. kita berikan kalau sudah saatnya."


"mengerti tuan"


"Adryan,,"


"saya tuan"


"selama ini,, kamu yang selalu setia denganku. bagaimana kalau aku denganmu saja?"


"tuan,, saya masih normal."


"kamu pikir ,,, hhh tidak usah dipikir. kita ke klub saja cari cewek disana. kita senang senang Adryan,,,,,"


Adryan hanya menggelengkan kepala dan mengikuti langkah majikannya.


Aditya pergi ke sebuah bar untuk bermabuk mabukan dan membawa pulang wanita penghibur ke vilanya. Tapi tak ada hal yang bisa dilakukannya. Dia terus saja teringat pada Sila. Dia hanya bisa marah marah dan marah. Dan mengusir lagi para wanita yang biasanya menjadi kesenangannya


"hhh sungguh kasihan majikanku ini" gumam Adryan.


*


*


*


Mobil yang membawa Sila dan ketiga gadis itu terus melaju menyusuri jalanan hingga malam tiba. Tepat pukul 9 malam Sila minta diturunkan dis3buah kafe kecil yang berada di ujung jalanan.


"turunkan aku disini saja. terima kasih atas tumpangannya"


"sama sama"

__ADS_1


"oh ya Yuki,,, bolehkah aku minta nomor ponselmu?"


"boleh, kita bisa berteman selanjutnya"


"benar. dan juga jika suatu hari aku ada lowongan kerja mungkin kamu masih butuh aku akan menghubungi kamu dan Rena."


"wah terima kasih. ini belanjaanmu" ucap Rena mengulurkan beberapa kantong belanjaan Sila


"tidak usah buat kalian saja. kelihatannya tidak masalah dengan ukuran"


"wah,,, benarkah buat kami?"


"iya. aku sudah sangat senang sampai disini."


"sudah sudah,, kita pergi dulu. kalau aku bisa mendapatkan Tama aku akan memberikan undangan pernikahan kami padamu. jadi jangan lupa menghubungi Yuki ataupun Rena. Aku akan meminta alamatmu pada mereka"


Sila hanya tersenyum geli mendengar ucapan Lidya.


"wah,,, Lidya sudah memikirkan sampai kesana juga" celoteh Rena


"iya dong aku percaya dengan kecantikan dan hubungan kami dimasa lalu aku pasti bisa meluluhkan hatinya."


"baiklah,, aku akn tunggu undanganmu"


Mobil itu melaju meninggalkan Sila berdiri sendirian di depan kafe.


"hhh setidaknya, dengan minta diturunkan disini mereka tidak akan tau alamat rumahku." gumam Sila


"Saat ini mas Tama pasti dikediaman ayah. aku akan kerumah kecil dulu untuk bersiap siap pulang ke kediaman Ayah."


Sila masuk kedalam kafe dan menemui seorang pelayan yang sangat dikenalnya


"Sila,,, kamu kemana saja?" sambut sang pelayan kafe girang. Mata para pengunjung menoleh kearah mereka berdua.


"wah itu kan Sila,,"


"itu nyonya muda Wijaya,"


"itu istrinya Aditama"


"wah,, dia masih selamat dari ledakan itu"


Suara sahut sahutan dari para pengunjung membuat Sila tidak nyaman


"Fer,, ada apa sebenarnya?"


"Ada apa? kamu ini kan baru saja hilang dan semua orang tau presdir frustasi dan sekarang seperti orang linglung. bahkan perusahaan nya pun hancur kalau saja orang kepercayaannya tidak kompeten." Sila terkejut


"apakah seperti itu?"


"katakan padaku kamu dari mana saja. kapan kamu sudah kembali"


"oh,,, itu,,,"


"sudahlah. kamu mau pesan apa?"


"aku bukan untuk nongkrong disini. aku mau pinjam motormu"


"untuk apa?"


"aku mau pulang. ini tadi kesini nebeng teman"


"ini. aku pulang dengan temanku saja malam nanti. tidak perlu buru buru mengembalikan".


Sila menerima kunci dan bergegas ke parkiran. Dia melaju motor sport warna merah milik temannya itu menuju rumah kecilnya. Sudah dua bulan ia tidak berada dirumah itu. Ia ingin segera sampai dan membersihkan dirinya kemudian berbaring malam ini dan berangkat ke kediaman Wijaya besok pagi pagi sekali.


Sila sampai di jalanan sekitar rumahnya saat berpapasan dengan mobil yang sangat familiar baginya.


"tuan Natan?" gumamnya


" kenapa berpapasan mobil tuan Natan disini?"


Sila masih melaju motornya dan berhenti di depan gerbang yang di gembok dari dalam. Ia menstarter motornya lagi dan menuju rumah kecil disamping rumahnya. Ia mengetuk pintu dan seorang pria tua membukakan nya.


"pak Parjo belum tidur?"

__ADS_1


"ini,,, neng Sila? kemana saja? tuan begitu stres memikirkanmu"


"maaf, Sila jauh diluar kota. oh ya pak. apa kunci rumah bapak ada pengang? yang ada padaku hilang."


"oh,, ada neng. tapi saat ini tuan muda disini. neng Sila tak perlu pake kunci bisa panggil tuan buat buka pintu"


"aku ingin memberinya kejutan pak"


"baiklah kalu begitu"


Pak Parjo masuk kedalam mengambilkan kunci untuk Sila. Setelah menerima kunci, Sila minta izin menitipkan motor temannya di rumah pak Parjo. Diapun segera bergegas pulang lewat pintu samping. perlahan dibukanya pintu dan dilihatnya sekeliling.


"mungkin mas Tama sudah tidur" gumamnya


Dia melangkah perlahan menuju kamar tidurnya. Tidak dikunci dan lampu menyala terang. Tidak ada Tama disana, pintu luar kamar itu terbuka. Tirai putih melambai lambai tertiup angin malam.Sila melangkah dan melihat keluar.


Disana, disofa besar diteras samping, terbaring sesosok tubuh kekar yang dirindukannya, tapi tidak. Wajah itu,,, lebih kusut dan pucat. Wajah tampannya bersembunyi dibalik kekalutan. Sila merasa sangat bersalah. Dihela nya nafas panjang.


"aku akan memberinya kejutan"


Sila beranjak ke ruang gantinya. mengganti pakaiannya dengan gaun tidur kesukaan Aditama.


"Dia suka aroma tubuhku saat selesai olah raga. jadi aku tidak akan mandi dulu untuk saat ini."


Selesai berganti baju, ia berjalan tanpa alas kaki ketempat Tama tidur diteras. Karena sofa itu sangat besar, sehingga masih tersisa tempat untuk Sila berbaring disamping tubuh Tama.


Saat Sila mencoba membaringkan tubuhnya, tangan Tama telah meraih dan mendekapnya dalam pelukan. Semalaman Sila terlelap dalam pelukan sang suami yang tak membuka mata dan terus menyusupkan wajahnya di leher Sila.


,,,apakah dia tau aku datang? dia sama sekali tidak kaget, bahkan dia memelukku erat sampai pagi,,,


Sila menepuk nepuk lembut wajah Tama.


"jangan lakukan itu,, jangan ganggu khayalanku, biarkan aku memelukmu lebih lama. aku tau,, kau akan menghilang saat aku bangun. Aku tidak mau bangun. Biarkan aku terus bermimpi. Biarkan aku menghirup aromamu lebih lama lagi."


Sila kembali menepuk wajah Tama


" bangunlah,, sudah siang. "


Mendengar suara Sila Tama membuka matanya dan tersenyum


"kamu tidak hilang saat aku membuka mataku? bahkan kamu berbicara padaku?"


"mas,,, aku sudah kembali. aku pulang untukmu" jawab Sila sambil bangkit dari posisinya


Tama terperanjat. Dia langsung duduk dan meraih tubuh istri yang begitu dirinduinya. Ditariknya tubuh itu hingga terjatuh dalam pelukannya.


"jangan tinggalkan aku lagi, jangan menghilang lagi."


permohonan itu disertai deraian airmata.


"rasanya aku tak sanggup hidup lagi tanpamu.


apa kau tahu aku sangat merindukanmu."


"maafkan aku mas, maafkan aku"


"jangan bicara lagi. jangan bicara lagi"


Dalam waktu yang begitu lama, Tama tak mau melepaskan tubuh molek itu.


"mas aku lapar."


Tama melepaskan pelukannya dan menggendong tubuh istrinya kedapur. Di turunkannya di kursi dan diapun beraksi dengan peralatan masaknya


"kamu bisa masak mas?"


"jangan remehkan aku. biarpun cuma bikin omelet aku bisa"


"baiklah.. biarkan aku mandi dulu baru kita sarapan."


Sila beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar. Dia menuju kamar mandi dan menyalakan shower.


Tiba tiba sepasang tangan kekar mendekap pinggang bugilnya dari belakang


"aaah!!" Teriaknya terkejut.

__ADS_1


"uuummmm" mulutnya pun langsung dibekap rapat tanpa aba aba saat tubuhnya diputar balik oleh tangan itu.


__ADS_2