
Sila telah sampai di belakang Tama dan mengikuti nya dari dekat. Monica sangat sebal
"ngapain kamu disini?. bukankah sudah kusuruh nunggu di mobil! " bentak Monica. sehingga begitu banyak pengunjung mall tersebut menoleh kearah mereka
"maaf nona,, saya sebagai pengawal pribadi tuan muda hanya mendengarkan perintah tuan muda saja. Anda bukan majikan saya" jawab Sila tak kalah tegas. Ada sekilas senyum dibibir Tama. Monica kesal dan berbalik melangkah pergi
"lumayan" bisik Tama di dekat telinga Sila. Berdesir rasanya dada Sila saat angin lembut bertiup bersama suara lirih Tama. Dia pun melangkah cepat mengikuti keduanya.
"akan aku tunjukkan dimana kelas kamu sebenarnya." gumam Monica sambil menyeringai licik. Dia pun melangkah ke sebuah butik yang terkenal mahal dan tak menerima pengunjung dari kelas bawah. Sesampainya di sana Monica dan Tama bisa langsung dipersilakan masuk oleh pegawai butik tersebut. Sementara Sila di hadang dan dilarang masuk, tentu karena penampilannya. Celana jeans dengan atasan kaos dirangkap jaket dengan topi hitam menutup rambutnya, seperti preman.
"maaf anda tidak diijinkan masuk kesini." ucapan seorang pegawai yang menghadang
"kenapa?."
"ini hanya khusus orang kelas atas. siapa kamu berani masuk kesini?"
"dia pengawalku." bela Tama. Dan akhirnya Sila diperbolehkan masuk. Tama duduk disofa yang disediakan butik itu sementara Monica memilih milih gaun yang ingin dibelinya. Dan Sila berdiri tegap disamping sofa pandangannya lurus kedepan, nafasnya sedikit berat menahan segala hal yang tidak enak dalam hatinya. Tama membuka sebuah majalah dan sesekali melirik ke arah Sila.
"kenapa tak memakai seragam?" tanya Tama sambil meletakkan majalah
"saya belum bertemu dengan tuan Eri" jawab Sila singkat
Tama merogoh saku dan mengeluarkan poselnya. dia terlihat menghubungi seseorang.
"Natan,, dimana kau?.... Hm..... Eri belum sempat melaksanakan tugas dariku bantu dia" langsung menutup tèlpon.
Sila bingung,, "tugas apa yang di berikan buat tuan Eri?. hhhh apakah aku besok juga akan menemui tugas yang seperti ini?. jika seperti ini apa yang harus aku lakukan? bagaimana tuan Natan tau tugasnya tuan Eri?" pikir Sila.
"bener bener orang misterius"gumam Sila
"jika ada yang tak disukai jelaskan secara langsung, tidak perlu bergumam"
"eh tidak ,, tidak ada apa apa" Sila menjawab dengan panik
"bagaimana orang ini mendengarku"
__ADS_1
Setelah beberapa lama ditempat itu,, akhirnya mereka pun keluar. Monica menyuruh Sila untuk duduk dibangku belakang dan dia disamping Tama. Monica juga merengek mengajak makan di sebuah restoran bintang 5. Namun Tama menolaknya.
"Tam,, ayolaah kita makan sebentar saja disana." rengek Monica.
"sudah aku bilang aku sibuk! apa belum cukup menemanimu belanja?. sekarang pekerjaan ku terbengkalai di kantor dan itu karena kamu!" bentak Tama.
" kenapa sih cuma sebentar saja kan?.?" Monica masih membujuk. Tama membelokkan mobilnya dan memasuki area parkir. Monica begitu senang. dia merasa benar benar diprioritaskan oleh Tama. setelah mobil berhenti,,
" keluarlah dulu aku akan parkir." kata Tama pada Monica. lalu melirik kearah spion mencoba melihat Sila dan pada saat yang sama Sila pun mencoba melihat ekspresi wajah Tama dari spion juga yang membuat saling beradu pandang di sana. tanpa pikir panjang, Sila membuang muka kearah lain. Setelah Monica turun, Tama mengulurkan tas belanjaannya
" ini jangan sampai ketinggalan" kata Tama sambil mengulurkan beberapa paper bag milik Monica.
"terima kasih,,, senangnya diperhatikan" Monica dengan kesombongannya
Namun setelah memberikan Paper bag itu, bukannya menuju tempat parkir tapi malah putar balik dan pergi meninggalkan halaman restoran mewah itu.
Sila sangat kaget dengan apa yang dilakukan majikannya ini.
" tapi tuan,, " Sila tak melanjutkan pertanyaannya saat melihat mata yang nampak kesal. mereka menuju ke arah kantor kembali.
"bagainama, sudah kamu siapkan? " tanya Tama pada Natan
"siap!!" jawab Natan sambil menunjukkan setumpuk pakaian yang terlihat sama dan ternyata itu adalah seragam kerja Sila. Tama pun menuju ke ruangannya.
"kalian dari mana? " tanya Natan setelah mempersilakan Sila duduk.
"nganter nona Monica belanja hihi,," tak sengaja ada sedikit tawa yang tak bisa ditahan Sila.
" apakah ada yang lucu nona Sha?. " tanya Dodi di barengi Natan yang penasaran
"ah tidak.. hanya ada sesuatu yang sedikit menggelitik hati saja" jawab Sila sedikit merasa tidak enak.
"oh ya tuan Natan,, apakah pekerjaan sebagai pengawal itu bener bener rumit ya?" tanya Sila pada Natan yang merebahkan tubuhnya di sofa panjang.
"apakah menurutmu rumit?" Natan bertanya balik
__ADS_1
"saya tidak tau,, cuma tuan muda kalau bicara bener bener tidak dijelaskan secara detail, saya harus menerka nerka apa maksudnya., oh ya! bukannya tadi tuan muda menelpon tuan Natan memberitahu tugas tuan Eri yang belum di selesaikan apa tuan Natan langsung tau tugas apa itu?" Sila penasaran
"hm!" jawab Natan singkat sambil menunjuk setumpuk pakaian.
"bagaimana tuan Natan bisa langsung tau?.. bahwa itu yang dimaksud?."
"kita harus benar benar jeli saat tuan muda memberi perintah. bahkan jika perintah itu bukan untuk kita. ada saatnya hal itu berguna. ya seperti ini.." Sila mengangguk paham.
"jadi,, model mana yang nona Sha pilihkan untuk patner tuan nanti malam?" tanya Natan sambil mendorong tumpukan foto
"eh tuan Natan tau?"
"bukankah sudah kubilang, ketelitian dan kejelian itu dibutuhkan. hm,, foto ini.." Natan menunjukkan setumpuk foto model.
"saya tidak tau yang tuan muda suka tipe seperti apa,," ungkap Sila sedikit ragu.
"ah nona Sha,, tidak perlu di pikirkan sampai sejauh itu, toh cuma menemani jamuan makan. siapapun yang kita pilihkan tuan muda g akan komplain kok. paling paling besok media geger dengan berita skandal lagi" jelas Natan.
"hmm ,, yang gaun biru ini kelihatannya anggun." Sila menyodorkan foto seorang yang berparas cantik kepada Dodi
" hmm,, penilaian nona bagus juga. dia ini memang sedang naik daun. Namanya Sarah.." Dodi mengusap dagunya sambil memandang foto itu.
"sarah??" Natan tiba tiba bangun mendengar nama Sarah. Sila kaget bersamaan Dodi menoleh kearah Natan.. Dodi mengangguk namun sedikit mencibirkan bibir.
"apakah ada yang tidak beres? " pikir Sila
"sepertinya,, akan ada sedikit tantangan." Natan tersenyum
"maksudnya?" Sila benar benar penasaran
"kita lihat dalam beberapa hari yang akan datang. pasti ada keseruan..
rasanya sudah lama tak menemukan keseruan seperti ini" senyum Natan geli
"ya.. dua tahun belakangan ini waktu dan tenaga kita terkuras untuk masalah Sil.." Dodi tak meneruskan. Hati Sila terhenyak mendengar tentang nya meskipun Dodi tak menyebutkan dengan jelas.
__ADS_1