Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
bahagia


__ADS_3

Waktu terus berjalan


Kebahagiaan yang berlimpah pada keluarga Wijaya. Kini sang ibu mertua lebih sering datang ke rumah kecil.


"Sayang,, maafkan ibu ya, bukan ibu tak sayang lagi sama Sila. Tapi waktu itu ibu memang merasa kesepian. Kamu jarang mengunjungi ibu dan si Lidya itu sering ada saat ibu sedang sepi. Jadi ibu kebawa suasana deh, jadi ngikutin maunya dia."


"Maafkan Sila juga ya ibu,, Sila malah lebih memilih ikut mas Tama kerja. Harusnya Sila memang dirumah nemenin ibu."


"Sudahlah. Kita perbaiki lagi ya. Ibu akan lebih sering kesini jenguk kamu"


"Terima kasih ibu."


Niya kini juga sering datang berkunjung saat dia mendapat liburan. Kini rumah kecil itu semakin ramai karena para sahabat yang datang silih berganti.


Bahkan mereka semua over protektif menjaga Sila


"Aku tidak apa apa. Aku sehat. Kenapa semuanya jadi cerewet sih? Ini tak boleh itu tak boleh. Begini jangan begitu jangan. Masa iya aku harus dikasur terus. Aku bosan" teriak nya saat Natan tak mengijinkannya menyiram bunga dihalaman.


"Arya nasehati dia, tidak boleh kecapean."


Arya hanya tersenyum melihat suaminya begitu over dalam menjaga istri sang majikan.


" Capek apanya. Bahkan jika saat ini ada maling aku masih bisa menghajarnya"


"Sudah,,, nurut saja. Duduk disitu bersama Arya. Aku yang akan menyiram bunganya."


"Kalian semua ini akan membuat anakku malas nantinya" gerutu Sila


"Tidak ada. Kamu tidak boleh mengerjakan pekerjaan berat"


"Mas,,,,, kenapa aku tidak diajak keluar negri saja sihh. Kenapa aku harus ditinggal dirumah bersama orang orang cerewet ini,,, " keluh Sila


Ya, pada saat ini Tama, Eri dan Dodi memang sedang ada urusan keluar negri untuk beberapa minggu. Mengurusi beberapa pekerjaan penting.


Entah kini dimana keberadaan Lidya. Mungkin dia kembali ke rumahnya, tidak ada yang peduli lagi.


Sarah yang sempat protes pada keputusan Aditya akhirnya dapat menerima setelah di jelaskan bahwa dirinya bukanlah bagian dari keluarga Manggala.


Airin masih menjadi CEO yang mengelola Permata jaya, dan hubungannya dengan Eri yang selama ini ditutupi, telah menjadi rahasia umum


"Kak Arya aku ingin jalan jalan ikut yuk"


"Boleh lah tapi jangan capek capek ya,,"


"Aku merasa seperti orang berpenyakitan yang sekarat"


"Kenapa bicara seperti itu?. "


"Bagaimana tidak. Ingin makan ini itu banyak aturannya. Mau kesini kesitu gak boleh."


"Semua ini demi kesehatanmu"


"Okelah demi aku tapi kan gak gini juga"


"Iya iya,,"


Keduanya berjalan kesekitar rumah kecil. Melewati beberapa rumah hingga akhirnya Sila melihat sebuah pohon mangga yang sedang berbuah. Pohon itu agak tinggi.


"Kak tiba tiba aku pengen mangga itu deh"


"Kita dapat membelinya dipasar"


"Kak mau,, aku mau yang itu. yang agak ranum dekat dengan dahan yang itu"


Sila menunjuk kearah buah yang terlihat ranum menggoda diatas sana


"Baiklah,, kita minta ijin dulu sama yang punya"


Arya dan Sila mampir kerumah pemilik pohon dan pemiliknya pun dengan senang hati mengijinkan


"Kak Arya panjat ya?"


"Kakak tidak bisa manjat pohon. Kita cari galah saja" Arya kesana kemari mencari galah untuk mengambil buah tersebut. Saat Arya kebingungan, Sila justru mengambil ancang ancang, berlari dan dengan gesit melompat kearah dahan yang paling bawah.


"Wah,, dedek pinter ya? gak ngeberatin mami mau lompat" bisik Sila sambil mengelus perutnya yang mulai sedikit buncit.


Arya kembali dengan sebuah galah dan celingukan mencari majikannya. Sementara Sila terkikik lirih diatas dahan melihat Arya kebingungan mencarinya.


"Sila,,, dimana kamu?"


"Neng cari siapa?" tanya pemilik rumah


"Adik saya tadi nek,, kemana dia?"


Wanita tua itu menunjuk keatas sambil mendongak di ikuti Arya


"Sila!!!! apa yang kamu lakukan?"


"Tck. Apaan sih? Begini saja... ini juga biasa jadi kerjaanku"


"Kamu benar benar ya,,, tunggu di situ aku cari tangga. Jangan sampai lompat"


"Oke lah,,"


Sila memetik beberapa buah mangga dan akhirnya turun dengan menggunakan tangga yang dibawa Arya.


"Kamu benar benar ingin membahayakan anakmu?"


"Kak! percayalah aku bisa. Aku benar benar masih kuat dan sehat. Kalian jangan keterlaluan terhadapku."


Mereka masih cek cok sampai dirumah


"Kenapa kalian bertengkar terus sih,, Arya. Apa kamu tidak bisa mengalah sedikit sayang"


Natan mencoba melerai saat mereka sudah sama sama duduk dibangku diteras. Natan memeluk dan mencium kening istri nya dengan mesra.


Sila melirik dan sedikit menoleh dengan kesal.

__ADS_1


"Kalian pulanglah"


"Kenapa? Kamu marah sama kakak?"


"Ya" Jawabnya singkat sambil mengerucutkan bibir


"Kakak minta maaf,, bukan maksud kakak memarahimu, kakak cuma khawatir"


"Tidak perlu."jawabnya singkat dan beranjak masuk kedalam dan mengunci pintu


"Kenapa tiba tiba marah? Meskipun kami tadi bertengkar tapi dia tidak marah kok" tutur Arya


"Apa yang kalian ributkan?"


"Dia manjat pohon mangga buat ngambil buahnya. Padahal aku sudah carikan galah" ucap Arya dambil mendorong sekantung buah mangga diatas meja


"Mungkin suasana hati bumil itu begitu gampang berubah.. kamu pulanglah. Biar aku jagain disini"


"Kamu tidak apa apa?"


Natan tersenyum dan mengusap lembut rambut istrinya. Mengecupnya sebelum dia berdiri dan mengetuk pintu.


"Sayang,, bukalah pintunya,, ngapain didalam dan mengunci pintu?"


"Pulanglah, aku tidak mau melihat kalian" suara itu terdengar jauh didalam.


"Mungkin dia dikamar" lirih Natan


"Ya sudah aku pulang saja. Kabari aku setiap saat" ucap Arya


"Baiklah sayang, aku akan menjaganya disini."


Sila mengangkat ponselnya


"Mas kapan pulang?"


"Kenapa? Kangen?"


"hm,,, aku bener bener kangen,, cepatlah pulang"


"Iya lusa bisa pulang kok"


"Kenapa lusa,,, hari ini saja pulangnya. Aku pengen dipeluk.."


"Jangan manja deh.."


"Pokoknya aku gak mau keluar kamar kalau belum dipeluk,,"


"Biar dipeluk Natan gimana " goda Tama terkekeh


"Gak mau!! maunya dipeluk kamu yang ganteng,, "


" Natan kurang ganteng dimana nya coba? "


" Pokoknya aku mau dipeluk yang mesra sama kamu,,, apa boleh Natan memelukku mesra begitu?"


"Ya sudah mas usahakan secepatnya". Tama menutup telpon


"Ada maasalah apaTam"


"Bukan masalah. Si bumil lagi pengen dimanja"


"Iya juga. Sudah hampir dua minggu kita disini, mana tahan?" goda Eri


"Tck kamu ini."


"Baiklah" jawab Dodi singkat


"Wah Presdir kita sudah jadi budak istri,,,"


"Dia mengancam tidak akan keluar kamar jika aku tidak cepat pulang. Satu lagi aku sampaikan pada kalian. Dodi kamu pegang dan jalan kan Adijaya. Airin biar tetap di permata, Eri,, kamu jalankan perusahaan peralihan dari Manggala. Sementara Natan biar membantu ayah"


"Kamu sendiri ngapain" tanya Eri heran mengapa si bosnya ini memberikan tanggung jawab perusahaan ketangan mereka


"Aku akan mengendalikan dari belakang. Setelah kita memenangkan tender disini Sampaikan keseluruh jajaran bisnis kita, aku mengundurkan diri dari dunia bisnis. Tapi kita akan tetap bekerja dari balik layar saja. Kalian cari orang orang yang berkomprten mengurus perusahaan itu."


"Apa alasanmu melakukan ini"


"Aku ingin keluarga kita aman. Aku merasa begitu banyak pengintai disekitar kita. Aku hanya ingin memastikan keluarga kita tak lagi jadi sasaran para musuh"


"Aku mengerti. Lebih baik saham milikmu dibagi menjadi beberapa bagian dan dipegang oleh orang orang yang benar benar setia dan tetap jadikan salah satu dari mereka tetap berada paling atas dengan perbandingan yang tidak terlalu mencolok. Jadi semua pekerjaan lancar tapi kamu masih bisa mengendalikan mereka"


"Seperti itulah rencanaku Er"


*


Sore hari, Natan kebingungan membujuk Sila agar keluar. Apapun alasan sudah diutarakan namun tak bisa membuat si bumil itu beranjak dari kasur empuknya


"Sayang,, jika kamu tetap seperti itu nanti junior sakit lo"


"Gak akan,, junior kuat kok, dia juga mau papinya"


"Nunggu papi bisa sampai lusa. "


"Pokoknya sebelum mas Tama datang dengan pelukannya aku gak mau keluar. Siapa suruh kamu pamer didepanku"


Natan menepuk jidatnya


"Ampun deh ni anak cemburu ya saat aku peluk Si Arya tadi. Aduuuh ribet deh urusannya" gumam Natan


" Kalau gitu biar aku saja yang peluk gimana? gak apa apa kan?" Lanjut Natan menahan senyum


"Gak!" ketus yang didalam


"Tan .. ada apa kamu teriak teriak diteras. Kenapa dengan Sila"


Sapa Tama yang baru saja sampai dengan mobil perusahaan Wijaya.

__ADS_1


"Eh,, kenapa kamu sudah pulang. Bukannya rapatnya diakhiri lusa?"


"Sudah aku serahkan pada Dodi sama Eri."


"Baguslah kamu pulang, tuh bujuk istrimu. Dari pagi tidak mau keluar kamar, minta dipeluk katanya. Tapi aku nawarin diri malah gak mau"


"Dasar emang maunya kamu" jawab Tama menepuk bahu Natan yang mengambil koper ditangannya


"Sayang,, buka pintuny" abujuk Tama mengetuk pintu


" Mas kamu sudah pulang?" Sebuah senyum riang muncul saat pintu terbuka. Sosok Sila langsung berhambur kepelukan suaminya dan mencium seluruh wajah lelah itu tak menyisakan tempat yang terlewat.


Natan menggelengkan kepalanya menahan geli.


"Kamu meminta suamimu pulang dari perjalanan bisnis cuma karena pengen nyiuminya di depanku? kamu ini. "


"Biar saja wle,," ledek Sila kekanakan


"Siapa suruh kalian bermesraan didepanku" lanjutnya


"Jadi ini semua ulahmu Tan?"


"Mana aku tahu? Seandainya aku tahu kan biar aku saja yang peluk dan cium kamu. Kenapa ganggu yang diluar negri?" oceh Natan ditanggapi mata yang melotot ke aranya.


"Sory sorry,, becanda" jawab Natan cepat.


Hari berlalu, dan setelah dua hari Dodi dan Eri kembali kenegara itu. Dan setelah melaporkan semua tugasnya Dodi dan Eri pamit pulang. Namun pada saat Eri melangkah sampai didepan pintu, Har dan Niya datang. Akhirnya, Eri menunda pulang sore itu. Mereka ngobrol


"Eri,, aku ingin ngomong sama kamu" tiba tiba Har bermimik serius


"Ada apa?"


"Anakmu sudah lahir, perempuan"


Seketika semuanya terperanjat kaget.


"Anak? Anak apa maksudmu?"


"Shakira,, saat pulang kembali ke prancis, dia membawa oleh oleh darimu. Anaknya lahir prematur, karena Shakira sudah menyerah pada penyakitnya diusia kandungan 7 bulan. "


"Kak Har, perjelas bicaramu. Apa maksudmu, sakit? Sha sakit apa?"


"Saat itu, Sha kabur dari rumah. Bukan hanya kabur menghindari perjodohan dengan rekan kerja ayah. Tapi juga kabur dari rutinitas obat dan cuci darah. Dia mengalami gagal ginjal kronis dan harus cuci darah sebulan sekali. Ayah kami menjodohkannya dengan rekan bisnisnya dengan maksud memperpanjang pengobatan. Karena pengobatan nya perlu biaya besar maka ayah berniat menjodohkan dengan pria kaya. Saat dia sampai disini, dia bertemu kalian dan menjalani hari hari menyenangkan. Dia bilang bahwa saat disini adalah saat saat paling bahagia dalam hidupnya. Saat dia mencintai Eri, dan dia tau cintanya tak berbalas dia diam diam menggoda Eri dan akhirnya mereka,,,, hingga dia tau dia hamil dan pulang ke Prancis. Diusia 7 bulan kehamilan dia sudah menyerah pada rasa sakitnya dan meminta tim dokter melakukan operasi sesar dan dia pergi dengan tenang setelah melihat putrinya. Dia berharap tak ada yang membrritahu ini pada Eri, karena dia ingin anak itu sebagai ganti dia menemani ayah dan nenek kami. Tapi aku merasa, Eri harus tau hal ini. Tapi aku mohon jangan mengambilnya" Har menceritakan sebuah kabar besar


Sila menangis tak henti henti mendengar Saudara kembar palsunya telah pergi.. Eri pun syok, tapi dia berjanji dia tidak akan menemui ataupun mengambil anak itu. Dia cukup tau saja dia punya darah daging diPrancis yang tak membutuhkan nya. Bahkan tak ada satupun dari mereka yang tahu bahwa orang yang dijodohkan untuk Shakira adalah Manggala. Har pun tak tahu mengenai hal itu.


Waktu terus merambat hingga usia kehamilan Sila telah memasuki masa HPL. Sila menjalani kehamilannya dengan santai dan bahagia. Tak pernah mengeluh apapun bahkan saat kakinya sering kram atau saat si junior sering membatu dalam perutnya dia menahan sakitnya dengan senyum. Tama yang mengetahui senyum itu menyembunyikan sebuah rasa sakit, Tama yang menjadi lebih panik di hari hari perkiraan kelahiran ini. Dalam kehamilan ini tak ada hal hal aneh yang biasa orang sebut ngidam. Kecuali dia ingin selalu berada dalam dekapan sang suami dimanapun dan kapanpun.


"Mas,,, sepertinya junior pengen louncing deh" ucap Sila dalam senyum nya meringis menahan sakit. Tama panik namun sigap segera membopong tubuh istrinya masuk kemobil dan melajunya hati hati menuju rumah sakit Permata. Sila langsung mendapat penanganan dari Dokter yang bertugas. Tama tak sekalipun meninggalkannya. Dia menghubungi Natan dan mengabarkan keadaannya. Tak lama, seluruh keluarga beramai ramai datang ke rumah sakit menyambut kedatangan junior.


Tama melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perjuangan Sila dalam mengadu nyawanya demi sang buah hati. Hatinya kelu, sakit, tak terasa air matanya mengalir melihat perjuangan sang istri.


"Mas,, aku tidak apa apa. Jangan menangis."


"Kamu pasti merasa sangat kesakitan"


"Mas,, rasa sakit ini setimpal dengan kehadiran si kecil eemmmm" jawab Sila ditangah tengah kontraksinya.


"Tuan,, nyonya kuat dan harusnya tuan memberi dukungan. Tuan juga harus kuat. Ayo nyonya tarik nafas dalam,, jika dedek mengajak keluar dorong ya"


Sila mengangguk dan tersenyum


,,, aku tahu itu pasti sakit,maafkan aku sayang, aku janji kedepannya akan lebih menyayangi kalian,,,


Suara tangis bayi menggema sesaat setelah perjuangan tim Dokter dan Sila. Seorang bayi mungil berjenis kelamin laki laki telah hadir dan mereka menunggu untuk yang kedua. Ya,, Sila mengandung dua janin dalam rahimnya. Namun mereka tidak pernah memeriksakan apa jenis kelaminnya. Dan ternyata junior kedua adalah cewek.


Keluarga dan para sahabat bergembira. Ibu dan anak semua selamat dan sehat. kedua malaikat kecil itu diberi nama Sean Pratama Manggala dan Jean Permata Wijaya. Kedua bayi itu hadir kedunia disambut dengan segala kebahagiaan dan penuh kasih sayang.


*


*


Tiga tahun berlalu


Sean dan Jean tumbuh dengan ceria ditengah tengah keluarga yang menyayanginya. Bahkan mereka seperti memiliki banyak ayah dan ibu. Mereka sering dibawa pulang bergantian antara Eri, Natan, Har, dan kakek neneknya. Bahkan tak jarang Tama dan Sila tak kebagian waktu untuk merawat si dua bocah kecil yang imut dan menggemaskan itu.


Arya yang tak lagi bisa memberikan keturunan karena sebuah kecelakaan mengharuskan rahimnya diangkat, sangat menyayangi kedua buah hati majikannya itu seperti sayangnya Natan pada Tama. Bahkan jika nyawapun sebagai ganti mereka tak pernah ragu untuk memberikannya.


"Mas,, kita punya dua anak. Tapi kenapa malah kita yang sering kesepian seperti ini? Mereka malah lebih sering berada diluar rumah. Mau bagaimana juga melarang mereka membawa sikecil tetep saja dibawa. Hari ini Sean ada dirumah kak Har dan Jean bahkan lebih sering dirumah Kak Arya." Gerutu Sila sambil manyun di teras samping kamar dalam dekapan Suaminya.


"kita bikin lagi aja yuk,, "


"Mas,,, kamu ini bukankah sudah beberapa malam ini gak henti hentinya ngerjain aku ya,, mentang mentang tiap malam si junior gak pernah dirumah"


"Hehehehe. kita produksi lagi,, biar saja Sean dan Jean dibawa mereka. Kita akan punya Sean dan Jean kecil lagi."


"Enak deh ngomongnya ya. Siapa yang waktu kelahiran junior nangis nangis didepan dokter."


Tama tersenyum mengingat bahwa dia sendiri yang menangis melihat sang istri menahan rasa sakitnya.


Namun, apapun kata mereka akhirnya proses pembuahan itu pun dilakukan dengan penuh cinta dan gairah.


Dan akhirnya pun berhasil pula. Kabar gembira mereka dapatkan kembali.


*


*


*


*


*


*


END

__ADS_1


Mohon maaf bila karya ini belepotan karena masih belajar. semoga lain kali bisa lebih bagus lagi mohon saran dan kritiknya


TERIMAKASIH


__ADS_2