
Setelah beberapa saat lamanya, Sila dapat menguasai dirinya. Dia bangkit menutup pintu dan beranjak kedapur. Mengambil sisa nasi goreng di wajan. Dia mulai menyuap
" Pufffhhh" dia semburkan nasi dalam mulutnya
"Asin banget... tapi kata mas Tama tadi enak,,, apa jangan jangan dia sering minum tadi karena ini?" Sila tersenyum sendiri.. diapun tidak jadi sarapan
Dikantor
"Maaf tuan muda,, ada masalah di salah satu kantor cabang di kota S.." sekretaris itu menyerahkan amplop berwarna coklat yang berisi dokumen kepada Tama.
"Ikutlah keruanganku"Tama menerima amplop itu dan mengajak sekretarisnya keruangan.
Tama membuka dan membaca dengan seksama dokumen tersebut.
"Bagaimana ini bisa terjadi? ini bukan dari waktu dekat ini saja. ini sudah berlangsung 2 minggu. bagaimana kamu bisa ceroboh dan tidak memberitahu padaku?" Tama terlihat kesal. Dia membanting kertas2 itu ke meja
"Maaf tuan muda, saya dan staf yang lain mencoba menyelesaikan masalah ini tanpa memberitahu tuan muda karena anda baru saja menikah, mana kami berani mengganggu tuan muda.. tapi kami tidak berfikir akan separah ini."
jawab sekretaris Dodi
" Baiklah,,, kelihatannya aku sendiri yang harus turun tangan."
" Siapkan tiket ke kota S untuk keberangkatan besok pagi. beritahu Eri dan Natan untuk ikut denganku."
"Baik tuan muda."jawab Dodi
"Kamu urusi urusan yang disini." perintah Tama
"Baik".
21:30
Sila menengok kearah jam dinding
"Kenapa sampai jam segini mas Tama belum pulang?"
Dia mengangkat Hp barunya yang diberikan oleh Tama beberapa hari yang lalu. Tapi ragu untuk menelfon
"Mungkin masih sibuk,"
Sila terlelap disofa dimana biasa Tama tidur. Saat Tama sampai.. dia membangunkannya
"Kenapa tidur disini?."
"Uggh maaf,, kamu sudah pulang? sudah makan?".
"Sudah. tidurlah diranjang."
"Oh ya besok aku harus pergi keluar kota. kamu baik baik dirumah.."
"hmmm" Sila mengangguk
"Kalo kamu mau ketemu cowokmu itu ajak saja pak Arip.." lanjut Tama.
"he!!!" Sila kaget. "mungkin suasana hatinya sedang tidak bagus" gumamnya. Sila memilih untuk diam meskipun hatinya sakit saat suaminya menyangka dia punya cowok lain.
*
*
Seminggu sudah Tama berada di kota S. Sila begitu merindukan suaminya,, ya,,, meskipun setiap hari telpon sekedar menanyakan kabar karena tidak tau apa yang harus dibicarakan.
" pak Arip antar aku ke kafe Asri ya,," pinta Sila pada pak Arip
__ADS_1
" ya neng.. " jawaban dari sebrang
Pak Arip melaju mobil menuju kafe Asri. Sesampainya di kafe, Sila menggandeng lengan pak Arip. Bergelayut seperti seorang anak yang bermanja pada ayahnya.
"Jangan seperti ini neng,, g enak di lihat orang. masa iya neng Sila menggandeng pak sopir"
"Anggap saja pak Arip ini ayah nya Sila" tersenyum manja.
"hhhh " pak Aril menghela nafas panjang.
setelah masuk kedalam,, Sila mengajak pak Arip menuju bangku pojok, dimana biasanya dia melihat Tama duduk disana.
"Aku kangen dia yang biasa duduk disini" ucapnya lirih. Tapi pak arip masih mendengarnya.
Datang Ryan berjalan kearah tempat mereka duduk.
"Sila,, lama g ketemu,, makin cantik saja." goda Ryan
"kak Ryan bisa saja." Sila tersipu
"Tumben g sama Yuni.."
"Yuni sibuk sama kuliahnya. kangen ya??? ntar berantem sama Yoga looo..."
ledek Sila. Yoga pacar Yuni
" Kamu ini,,, ini siapa " tanya Ryan menoleh pak Arip.
"Paman ku"jawab Sila cepat.
"Ohh,, malam paman,," sapa Ryan sopan. pak Arip hanya tersenyum
"Oh ya Sil.. maaf ya g bisa nemenin."
"Ihhh.. masih juga??" Sila mendorong tubuh Ryan" Selamat bersenang senang..." lanjut Sila mengantar langkah Ryan.. Ryan hanya mengangkat jempol tanpa menoleh.
Setelah menghabiskan kopi pesanan mereka pun pulang.
"Pak,, apasih makanan kesukaan mas Tama?"
" Tuan muda tidak pernah pilih pilih makanan,, apapun yang disajikan di makan juga. kecuali kacang panjang,, tuan muda sangat tidak suka kacang panjang. Favoritnya ayam dan telur."
" Eh kok bisa sama ya.. aku juga paling suka sama ayam atau pun telur, dimasak apapun tetap oke deh. trus paling geli juga sama kacang panjang,, hiii geli,,," sahut Sila bergudik mengingat kacang panjang
Setelah 2 minggu Tama berada di luar kota akhirnya pulang juga.
"Pak Arip jemput aku di bandara." perintah Tama saat panggilan telponnya diangkat oleh si sopir
"Baik tuan muda."
Sesampainya didalam mobil
"pak Arip,, apakah Sila pernah mengajak mu ke kafe Asri?? "tanya Tama ragu
"Iya tuan muda ,, beberapa kali.." jawabnya
"hmm,,," Tama mengangguk saat Pak Arip menginyipnya dari kaca
"Apakah dia bertemu cowok itu lagi??."
"Iya tuan, neng Sila selalu bertemu dengannya,, tap,,,"
"Ya sudah tidak usah dijelaskan" potong Tama
__ADS_1
"rasanya begitu sakit,, mendengar istri tercintaku menemui lelaki lain,," batin Tama membuang pandangannya keluar
Sesampainya dirumah,, wajah Tama masih menunjukkan kekesalannya. Terlihat benar benar kesal. Dia mengacuhkan Sila yang mendekat dan berusaha menyapanya.
"ada apa?." pikirnya.,
Tama tidak masuk ke kamar mereka , melainkan kamar sebelah. Dia benar benar kesal..
Tapi Sila mengira mungkin beban pekerjaannya memang sedang berat.
Beberapa hari sejak kepulangannya dari kota S, Tama berubah. Tak lagi menyapa Sila senyum pun tidak, bahkan sarapan yang dibuatkan Sila juga tidak pernah di sentuh. Hingga di satu pagi,, Sila muntah muntah di kamar mandi, jalannya sempoyongan. Tama sebenarnya sangat khawatir, tapi dia masih sangat kesal.
Mbok Nah,, yang tinggal di samping rumah mereka pun datang
" Neng Sila,, tadi mbok dengar sedang muntah2 apa neng Sila sakit?"tanya wanita tja itu khawatir
"Enggak mbok!! cuma sedikit pusing,, perutku juga g enak rasanya.."
" Kita kedokter saja" sahut Tama
"Tidak usah istirahat sebentar paling juga sembuh..kamu pergilah kekantor."jawab Sila tidak mau merepotkan suaminya
Sila merebahkan tubuhnya diranjang, Tama dan mbok Nah keluar "
"Mungkin neng Sila hamil,,"ucap mbok Nah yang berjalan mengikuti Tama. Seketika Tama berhenti,, bagai disambar petir mendengar mbok Nah menyampaikan hal itu.
"Maksud mbok Nah??"Tama penasaran
"Ya biasanya ciri ciri orang hamil muda ya begitu den,, perut mual kadang muntah, badan lemes, nafsu makan berkurang, gampang marah, pusing, kelakuan aneh tidak seperti biasanya,, itu bawaan si jabang bayi biasanya,,"mbok Nah menerangkan pengetahuannya tentang hamil muda
Entah dari mana datangnya,, badan Tama serasa di pukul gada besar yang bertubi tubi.. Dia seakan tak kuat menahan rasa sakitnya, badannya sempoyongan dan dijatuhkannya ke sofa ruang tengah..
"Den,, mbok Nah pamit dulu ya,, ini mau berangkat kerja." Tama hanya bisa mengangguk.
"bagaimana bisa?? bagaimana mungkin kau menghianatiku sedemikian rupa?? benar benar tak berhargakah aku dimatamu?aku telah berusaha membuatmu bahagia,, tak berarti sama sekali kah?."
"pak Arip antar aku kerumah ayah." tak ada obrolan sepanjang perjalanan.
"Tama,, kamu kesini sendiri? mana Sila??"tanya sang ibu
"Dia sakit,,"jawabnya singkat..
"ada yang tidak beres"pikir sang ayah
" Istri sakit malah kamu tinggalin!" seru sang ibu "Sudah dibawa kedokter?" lanjutnya
"Dia tidak mau,, katanya istirahat sebentar juga sembuh."jawab Tama malas
"Apa kalian bertengkar?" nyonya Wijaya curiga ada pertengkaran antara anak dan menantunya. "Apa keluhannya?" lanjutnya bertanya sebelum mendapat jawaban
"Perutnya tidak nyaman, pusing, tadi juga muntah2." sang ibu tersenyum bahagia mendengar jawaban putra tunggalnya ini.
"Mungkin itu tanda tanda kehamilan,,," tebak ibunya.
"Tapi bukankah dia masih terlalu muda untuk hamil?" sang ayah khawatir
"Bahkan aku masih menjaganya agar hal itu tak terjadi,,,"gumam Tama
ayah dan ibunya bengong tak mengerti.
" Apa maksudmu?" tanya mereka bersamaan.
"Aku belum pernah menyentuhnya,, bahkan kami pun tidur terpisah,,"jawab Tama dengan nada sedikit meninggi
__ADS_1
kini giliran kedua orang tua Tama yang bagai disambar petir.. bagai mana menantu mereka yang polos itu,,,,