
Dikediaman Wijaya
"mau kemana?" tanya Tama saat Sila melangkah menuju pintu setelah selesai berpakaian.
"menemui ibu. dari kemarin pengen ngobrol belum kesampaian" jawab Sila
"kemarilah sebentar" panggil Tama yang duduk di sofa sambil memutar ponselnya.
Sila berjalan mendekat.
"duduklah"
"ada apa"
Sila duduk disampingnya. Langsung saja Tama meraih tubuh istrinya dan menariknya dalam pelukan. Menciumi rambut dan leher dengan ganas.
"mas,, aku ingin ngobrol dengan ibu"
"kapan kau siap untuk kita,," tanya Tama sambil mengecup mesra tengkuk sang istri. merambat hingga ke telinga
Ada perasaan merinding tak biasa dalam tubuh keduanya, suatu aliran panas menjalar diseluruh bagian sel sel. Desiran desiran aneh mengiringi degub jantung yang semakin cepat. Dan nafas yang semakin tak terkontrol.
Telunjuk Tama menari nari diwajah istrinya, turun ke leher dan terus meluncur turun dengan perlahan hingga dengan sigap menangkap dan merem*s lembut sesuatu yang membuat gadis itu mendesah tanpa sadar.
Sila menengadah dan menyandarkan kepalanya di pundak Tama hingga membuat lelaki yang penuh gairah itu lebih mudah dan leluasa memberi kecupan di l3her hingga selangka putih mulus yang hanya terhalang tali tanktop.
"mas,,,," panggilnya dalam desahan lirih
"hm,,"jawaban pendek penuh kemesraan
"aku takut,,"
"apa yang kamu takutkan?" jawab Tama tanpa menghentikan aktivitasnya.
"akankah kau menyakitiku" tanya Sila dengan ragu.
Tama tersenyum,tangan kirinya mengalung keleher dan tangan kanan mengelus serta sesekali merem*s perut Sila seakan memberi relaksasi tersendiri.
"tidak akan,, akan kulakukan dengan hati hati agar kamu nyaman"
"bagaimana jika sakit"
"berteriaklah"
Tama mengangkat tubuh istrinya menuju keranjang big size nya.
"berteriak?"
"hm,, mungkin akan mengurangi rasa sakitnya"
"bagaimana jika di dengar orang orang."
Tama tersenyum
"tidak akan,, kamar ini kedap suara. mereka yang diluar tidak akan mendengar apapun suara dari dalam, meskipun kamu menyalakan sound dengan volume tinggi."
__ADS_1
Tama menjelaskan dengan sabar dan menenangkan sehingga celana jeans selutut yang dikenakan Sila sudah terlepas tanpa disadari sang pemakai.
"benarkah"
"ya benar, semua kamar dirumah ini dipasang pengedap suara"
Tanktop warna pink itu juga telah melayang dan jatuh kelantai.
"apakah pernah diuji coba?"
"sudah pasti,, apa kamu mau mencobanya?"
tanya Tama sambil memiringkan tubuh sang istri hendak melepaskan kait bra yang masih bertaut. Namun, sebelum berhasil Sila beranjak duduk dan berteriak sekuat dia bisa
"ibu!!!!!! tolong!!!!!!" teriak Sila membuat Tama tertawa kecil. Ia menarik tali piyamanya hingga terbuka dan mempertontonkan dada bidang yang putih bersih dan sempurna membuat jantung Sila semakin kencang berdegup dalam keterpanaan.
Pandangan Sila menyusuri sosok tubuh sempurna dihadapannya. Dari rambut hitam lebat berkilau yang sedikit berantakan karena proses pengeringan setelah keramas, alis hitam tebal mata tajam bersinar penuh kehangatan, hidung mancung asli Asia, bibir seksi dengan senyum menggoda, leher jenjang pundak yang kokoh, hingga sampai sesuatu yang tegak menantang membuatnya melotot kaget dan ternganga. Dengan reflek menutup kedua mata dan bibirnya dengan telapak tangan. Membuat Tama tersenyum menyeringai. Wajah gadis itu seketika merona.
Tama mendekat dan menurunkan tangan Sila dari menutup wajah, diraih lehernya dan ditarik hingga dapat menangkap bibir manis istrinya. Dikulumnya lembut sambil sedikit mendorong tubuh Sila agar kembali ke bantal empuknya.
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat keduanya terkejut.
"shitttt" umpat Tama kesal. Dia yang dalam tegangan tinggi harus mengurungkan niatnya dengan perasaan kecewa
"Tam,,, Sila,,,,"Suara sang ibu terus memanggil manggil
"kamu bilang meskipun aku teriak tak ada yang dengar, buktinya aku panggil ibu. Ibu datang" kata Sila cemas. ia segera menarik selimut tebal menutupi tubuhnya.
Tama melangkah ke pintu setelah menyimpulkan tali piyamanya.
"kalian g turun turun ditunggu makan malam."
"kalian makan saja dulu. Nanti kami akan turun jika sudah lapar"
"mmm,,, baiklah!" jawab sang ibu dalam senyuman saat melirik bagian piyama yang menonjol dibawah
"ck" decak Tama malu saat ketahuan
"yang lembut ya sayang,,, jangan sampai menyakiti gadis cantikku" lanjut sang ibu dan berbalik meninggalkan pintu kamar Tama.
Tama kembali pada istrinya hendak melanjutkan aktivitasnya yang belum tuntas. Namun Sila tak lagi berada di ranjang besar itu. Tama memungut tanktop dan jeans Sila dan melemparkannya ke sofa. Dia berjalan menuju kamar mandi karena yakin Sila berada di sana.
"sayang,, kamu didalam" tak ada jawaban. Tama mencoba membukanya. Berhasil namun sang istri tidak ada.
"dimana dia?" gumamnya.
Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, dai berjalan menuju rangan tempat baju dan memang istrinya ada disana. duduk meringkuk di bawah
"kamu kenapa"
Tama mendekat dan membelai mesra tubuh telanjang itu
"aku takut mas"
__ADS_1
"kamu ini,, berkelahi saja tidak takut"
" aku bisa menghindari pukulan" bela Sila
"ya sudahlah,, pakai bajumu. kita turun dan makan."
Akhirnya Tama yang mengalah dan menahan hasrat yang bergolak dalam jiwanya. Diapun mandi lagi untuk mendinginkan bara yang menyiksanya
*
*
Dikediaman Manggala
"apakah benar pengawal itu istri Aditama? rasanya tidak mungkin. Aditama selama ini terkenal gonta ganti pasangan skandal namun juga jijik pada perempuan. apa mungkin dia tertarik pada nona Sha pengawalnya?"
Aditya masih menggenggam jaket Sila. Ia memerintahkan seorang kepercayaannya untuk menyelidiki tentang Sila. Karena dia tak mendapatkan informasi apapun sebelum adiknya terbang ke Amsterdam setelah mengetahui Tama telah beristri.
" hatiku telah dicuri olehnya. aku tidak perduli meskipun aku sudah punya janji pada tuan Hardianto. aku menginginkan gadis itu. aku menginginkan nona Sha" gumamnya.
*
*
Nyonya Wijaya kaget saat melihat putra dan menantunya berjalan beriring menuruni tangga
"kenapa begitu cepat? apa anakku benar benar tidak punya kemampuan" bisik hatinya
"Cepet bener Tam,," sapanya membuat sang ayah menoleh penasaran
"apanya yang cepet bu?"
"ah ayah,,, itu, ," nyonya Wijaya tak melanjutkan ucapannya
"Tadi mandinya Tama cepet, keburu lapar" potong Tama.
Selesai makan keempatnya ngobrol dan berbagi cerita di ruang tengah. Sampai waktu menunjukkan pukul 11 malam
"sudah dulu ngobrolnya di lanjut besok saja."ucap sang ayah
"tapi ibu masih kangen sama Sila kita ayah"
"ibu,,, mereka kan pengantin baru, butuh waktu lebih buat bersama. kalau Sila ditahan terus sama ibu, kapan kita punya cucunya?"
Sila senyum merona. Tama meliriknya dengan menyeringai.
"oh iya,, sudah sudah kalau begitu sana. bikinkan ibu cucu" usir sang ibu dengan mendorong tubuh san menantu.
sang ibu menuju ke dapur dan menyeduhkan dua gelas susu buat anak dan menantunya, dan segera mengantarkan nya ke kamar buru buru karena takut akan mengganggu lagi
"Sil,, ini minum susu dulu sebelum tidur"
" terima kasih bu, tidak usah repot repot begini."
"tidak apa apa. Yang penting ibu segera mendengar kabar baik" senyum sang ibu menggoda.
__ADS_1
Sila menaruh nampan berisi dua gelas susu itu di meja samping. Keduanya terlibat obrolan seru, dan kerena keseruannya hingga mereka terlelap tanpa meminum susu itu.. lupa.
"selamat malam sayang mimpi indah" kecup Tama saat mendapati istrinya tertidur dalam dekapannya.