Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
pulang


__ADS_3

"sayang,,, kamu kenapa disini?"


tanya Tama setelah berhasil mendekap isteinya dari belakang bangku. Sila kaget dan menoleh


"mas, kamu dari mana datangnya?" Tama hanya tersenyum


"bukankah sudah ku bilang hubungi Natan saat kamu sudah bangun"


"maaf. aku asik ngobrol dengan Yuni."


Tama beralih dan duduk disamping Sila, diraihnya tubuh sang istri dan disandarkan ke badannya.


"bagaimana keadaanmu?"


"aku sudah baik. mas,, maafkan aku"


"maaf untuk apa?"


"aku selalu buat kesalahan dan membuat kalian repot"


" kamu tidak pernah salah dimata mas. mas juga tidak pernah merasa kamu repotkan" Tama mengecup kening Sila


"jangan pernah pergi lagi, jangan tinggalkan mas. mas bisa gila jika kamu pergi lagi"


"aku,, tidak akan "


Tama mendekapnya lebih erat.


"mas,,, "


"hm,,"


"bisakah kita pulang ke rumah kecil kita"


Tanya Sila mengangkat kepalanya tegak. Tama menoleh dan menatapnya


"kamu ingin pulang kerumah kecil?"


Sila mengangguk yakin


" baiklah,, apapun mau mu, mas ikut. Tapi janji kamu harus nurut sama mas, jangan pergi tanpa memberitahu mas, jangan sembarangan meninggalkan ponsel" Sila tersenyum. Tama meraih tubuhnya kembali kepelukan


"aku janji."


"apa,, kamu ingin pulang kerumah kecil agar lebih leluasa saat,,,," Tama tersenyum nakal


"apaan sih,,"


"biar tidak diganggu ibu lagi kan,"


" ah,,, mas ih!" Sila memukul manja dada suaminya


"awas,,, jangan menggoda, mas mudah bergairah lo,,, "


"mas,, cabul ah."


"hehehe"Tama terkekeh


" satu lagi"


"apa itu?"


"aku tidak mau tuan Natan, tuan Eri dan Tuan Dodi memanggilku nona atau nyonya lagi" Tama mengerutkan kening.


"maksudmu?"


"ya,,, aku gak mau di panggil seperti itu. mereka bisa memanggil namaku saja kan"


"kamu istriku, mana bisa mereka memanggilmu dengan menyebutkan nama saja?"


"kalau kami tidak boleh memanggil mu nona, nyonya, ataupun langsung nama. kami akan memanggilmu sayang saja bagaimana?" tanya Natan yang berdiri tegap dibelakang mereka.


Tama dan Sila menoleh bersamaan


"tidak boleh!!" gertak Tama kesal


"tuan Natan sejak kapan di situ" tanya Sila, wajahnya merona malu


"dari tadi sayang." jawab Natan dengan senyum.


"kau!" Tama mengarahkan kepalan tangan kearah Natan yang terkekeh


"bagaimana tuan muda,,, kita pulang kerumah kecil sekarang? mumpung bergairah,, jangan sampai kelepasan dijalan" goda Natan


"kau,,, berani kurang ajar sekarang" jawab Tama berdiri dari duduknya.


Natan berlalu meninggalkan keduanya


"heh brengs*k! kembali kau!"


" buat apa? melihatmu bermesraan atau untuk kamu pukul? ogah keduanya" teriak Natan sambil tetap berjalan menuju kearah mobil yang di parkir tak jauh dari kedua majikannya.


Sila dan Tama pun menyusul Natan. dan Natan melaju mobilnya kerumah kecil.


"wah,,, rumah ini masih tertata rapi, bersih."


" ya,, tuan membayar orang buat merawatnya."


"terima kasih mas." Tama hanya tersenyum


Dalam ingatan Tama. segala kesedihannya tertumpah disini, kini dia datang dengan penuh kebahagiaan. Natan menepuk bahu sahabatnya seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Tama.


Tama membuka pintu dan berjalan selangkah masuk kedalam diikuti Sila. Tama berhenti dan berbalik cepat. Sila dan Natan yang kaget juga ikut berhenti.

__ADS_1


Tama meraih tubuh istrinya dalam dekapan, tangan kanannya mencengkram dagu Sila dan memagutnya pelan. Sila yang terbius lum*tan lum*tan nikmat ikut mengimbangi permainan Tama


"kalian memang pasangan kurang ajar" umpat Natan sambil berlalu masuk kedalam.


Sila yang terkejut oleh suara Natan segera berontak dan berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. Namun Tama tak melepas begitu saja. di bopongnya tubuh sang istri dan dibawanya masuk. Tama menurunkan Sila di ruang tengah di mana Natan telah duduk santai di sofa sambil menyalakan tv.


"kok sudah? apa aku mengganggu?"


"menurutmu?"


"oke oke,, aku akan pergi. Tapi setidaknya buatkan aku kopi dulu sayang,,"


"kau!"


"mas,,," Sila menggeleng


" apa disini ada kopi?"


"semuanya lengkap disini." jawab Natan


" baiklah"


Sila pun kedapur dan membuatkan kopi untuk Natan dan Tama.


"akankah kau bicarakan?"


"tidak"


"terserah kamu saja"


Setelah ngobrol beberapa lama hingga malam pun tiba


"kalian tetap disini?"


"ya pulanglah. besok tak perlu menjemputku."


"baiklah tuan muda,,, selamat bersenang senang malam ini,, hajar tanpa ampun pokoknya" goda Natan


Sila diam saja hanya tersipu malu


"sudahlah, sana cepetan pulang" Tama mendorong tubuh sahabatnya hingga kepintu luar


"sayang,,, ingat. jangan mau ditindas terus, sekali kali kamu beri dia pelajaran. oke sayang,, bye bye. " celoteh Natan pada Sila.


"sayang sayang,,, pergilah"


*


"Eri.. kenapa sampai malam begini mereka belum pulang" Tanya sang nyonya membangunkan Eri yang tertidur lelap di kamarnya


Ya,, Eri, Natan,dan Dodi mereka memiliki kamar masing masing di rumah besar itu.


"ehmm, tadi Tama telpon. katanya malam ini tidak pulang kesini. mereka pulang kerumah kecil"


"kerumah kecil?"


"ya sudahlah biarkan saja mereka menikmati masa masanya"jawab sang nyonya.


Eri tersenyum dalam tidurnya


"bagaimana buu,,"


"kata Eri mereka tidak pulang lagi malam ini. mereka dirumah kecil."


"ya sudah. biarkan saja. mungkin mereka tidak mau diganggu ibu hhehehe" canda Wiijaya


*


"mas aku mandi dulu" pamit Sila


"hm.."jawab Tama, dan dia mmenuju dapur membuat makan malam


Selesai mandi Sila menuju dapur


"mas ngapain"


"cuma bikin mie buat makan malam."


"oh,, mandilah "


" tidak mau membantuku mengggosok punggung?"


"ogah"


"hehe. makan dulu mandi nanti saja "


"terserahlah.


Keduanya makan, setelah selesai Sila merapikan tempat dan mencuci barang yang kotor sementara Tama mandi


"apa mas boleh tidur disini atau harus di sofa?" tanya Tama selesai mandi


"mas,, sini. "


"apa? apa lagi pengen?" tanya Tama mendekat dan merebahkan diri disamping isterinya yang bersandar di ranjang


"ah apa sih,,,"


"ya,,, siapa tau lagi pengen,,, ketagihan yang semalem" tangannya mulai merambat di paha sang istri.


Sila nampak merona


"mas,, apakah ada yang ingin kamu tanyakan?"

__ADS_1


"ada"


Sejenak nafas Sila terhenti. Rasa khawatir yang melanda hatinya menyeruak kepermukaan


"apa mas,,"


"apakah kamu pernah mencintai mas?"


,,,,bukan masalah semalam,,, pikir Sila


"pernah dan selalu."


"lalu mengapa kamu pergi meningggalkan mas"


"mas yang tidak meenginginkan Sila kan?"


"mas salah paham waktu itu. maafkan mas"


"salah paham apa mas sampai mas berniat ,,,," Sila tak dapat meneruskan kalimatnya


"waktu itu, mas kira kamu hamil, dan kamu sama Ryan,,,"


"kak Ryan?. aku hanya menganggapnya kakak"


"mas tidak tau,, mas pikir kalian saling mencintai makanya mas mau melepaskan kamu agar kembali sama Ryan, ternyata mas salah"


"justru aku pikir, mas sudah punya cewek lain makanya aku pergi"


Tama meletakkan kepalanya di pangkuan Sila, mengusap usapkan wajahnya kedalam pangkuan


"mas jangan begitu,,, aaku geli,,"


Tama mendongak dan tersenyum nakal


"mau lagi?" Tama mengulanginya lagi


"ah,,, mas. geli,,"


Tama bangun dan menarik tubuh istrinya hingga berbaring sejajar dengannya. Tangannya mulai nakal dan membuka satu persatu kancing piyama Sila.


Ditelusuri tubuh mulus itu dengan kecupan kecupan mesra. Sila hanya pasrah dan mengusap rambut lembut sang suami. Sesekali mendesis dan mendesah lirih saat bibir Tama menyentuh bagian bagian sensitifnya.


Tangan Tama pun tak mau diam ikut berpatroli dan bergerilya ketempat tempat tersembunyi.


"sssshh ah,,, mas,,, hentikan. badanku merinding semua"


"apa mau mas lakukan sekarang" senyum nakal Tama tersungging kembali


"ah,,, terserah mas lah,,, ahh,, mash,, hentikan itu.."


"memohonlah,, " kata Tama memang sengaja menggoda


"mashhh,, aku mohon hentikan.."


"dihentikan apa di masukkan."


"ahh jangan menggodaku. aku,, uhh aku gak tahan."


Nafas keduanya mulai memberat menahan gejolak. Namun Tama masih menahannya untuk terus menggoda istri cantiknya


Terus di kecup dan dikulum lembut bibir sang istri hingga ngos ngosan. Beralih ke leher dan turun,, dan kembali lagi. Dan tangannya masih gigih bermain dibibir bawah hingga membuatnya semakin basah.


"ssshhh mas,, hentikan,, aku mau pipis,,"


"pipis saja."


"disini?"


"hmm,,,"


"enggak ah. gak mau""


"kalau gak mau ya,, tahan saja"


Akhirnya karena merasa kasihan melihat istrinya yang terus menggelinjang tak karuan.,...................................................,.


"mas,,aku benar benar gak tahan, ahhh"


" sebentar lagi sayang,,"


"gak mau,, arrgghh" teriakan itu pun membuat Tama tersenyum. Dia menghentikan serangan rudalnya untuk memberi jeda sang istri menikmati kekalahannya.


Setelah beberapa saat, setelah nafas Sila mulai teratur


"mari bantu mas,,, "


"ahhh lemes,, "


Tama pun memulai serangan serangan lanjutannya dengan berbagai posisi.


Setelah hampir 2 jam


"mas,, kaki ku gemetar.. hentikann. ampun,, aku gak kuat lagi. besok saja lagi mas,,"


"baiklah,, akan mas selesikan. janji besok di lanjut,,"


"hmmm hmm." angguk Sila lemas


Akhinya setelah beberapa saat Tama pun mengakhiri pertempurannya di iringi erangan keras dan gemetar sang istri. Lebih kuat dari sebelumnya.


Saat torpedonya ditarik, ada lelehan darah disana, dan sebagian menetes diantara cairan kenikmatan yang telah meleleh dari setiap pertempurannya.


"apakah hari ini jadwalmu haid?" bisik Tama setelah berbaring di samping sang istri yang telah terkulai kelelahan.

__ADS_1


"tidak, itu sudah selesai dua minggu yang lalu dan belum waktunya datang" jawab Sila tanpa membuka matanya ataupun bergerak.


Tama tersenyum puas. Di rengkuh kepala Sila dan di dekapnya dalam pelukan


__ADS_2