
Mendekati akhir pekan yang sudah dijadwalkan, Natan dan Tama semakin sering tak terlihat. Eri semakin sibuk dengan pengaturan pesta. Dodi semakin sibuk dengan tumpukan dokumen dan file file perusahaan. Sila sebisa yang dia lakukan membantu Dodi.
"nona Sha,, saya perhatikan akhir akhir ini nona lebih banyak murung. apa ada masalah?" tanya Dodi hati hati.
Sila tersenyum pahit "tidak tuan, hanya sedikit masalah pribadi." jawab Sila
"oh ya nona. boleh kah saya tau bagaimana pendapat nona tentang pertunangan Tama dengan model itu." Dodi mulai mengorek informasi tentang hati Sila.
"saya harus berpendapat apa tuan,, tuan muda sangat tampan, berwibawa dan begitu kharismatik. Dan calon tunangannya juga begitu cantik, terkenal dan dari kalangan keluarga kaya. mungkin mereka memang jodoh." jawab Sila
"bagaimana dengan nona Sha. maksud saya, saya perhatikan nona tertarik pada tuan muda. Apa nona akan menerima begitu saja pertunangan ini." Dodi menutup laptopnya dan memutar kursi kerjanya menghadap kearah Sila.
Sila terkejut dengan pertanyaan Dodi, dia menoleh takut kalau kalu penyamarannya diketahui
"tuan ini ngomong apa sih?" sanggah Sila.
"nona Sha tidak perlu malu,, saya tau betul kok nona Sha sangat tertarik pada tuan muda." Dodi terus berusaha
"hhm,, memang begitu banyak wanita yang tertarik pada tuan muda. dan saya salah satunya. Lalu apa yang harus saya lakukan?."
"kenapa nona tidak memperjuangkan perasaan nona?. menyatakannya pada tuan muda misalnya" Dodi mulai memprovokasi hati Sila.
"tuan Dodi jangan ngaco, saya cukup sadar diri siapa saya dan siapa tuan muda. Jadi biarlah seperti ini. jika saya nekad salah salah saya dipecat dan menjadi semakin jauh dari tuan muda. Tapi dengan begini saya masih bisa melihat dan melayani nya juga kan." selain menjawab pertanyaan Dodi. pernyataan itu sekaligus menguatkan hatinya.
"bagaimana kalau sebenarnya Tama juga tertarik pada nona?"pertanyaan Dodi pelan sambil memutar kembali kursinya ke tempat semula.
Sila menghela nafas.
"tuan,, saya adalah wanita dari kalangan bawah yang pernah di nikahi seseorang dan di ceraikan begitu saja. apa yang bisa saya harapkan dari perasaan saya pada tuan muda. Kalaupun saya memaksakan diri, jika berakhir tidak baik maka hati saya akan semakin hancur, jika perasaan saya mendapat respon, saya tidak ingin menghancurkan nama baik keluarga Wijaya.jadi,," Sila diam untuk sejenak
" biarkan semuanya tetap seperti semula. saya sudah dilatih seperti seorang prajurit jadi saya kuat!."ucap Sila penuh semangat, namun suaranya bergetar.
"ya sudah. hari ini kita pulang lebih awal untuk persiapan pesta nanti malam. kamu pulanglah duluan, aku akan menyelesaikan beberapa file dulu." perintah Dodi
Sila pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Setangguh apapun dia, dia tetaplah seorang gadis yang jatuh cinta, meskipun dia bilang kuat tapi hatinya sakit. Selain pada Yohan, dia tidak tahu pada siapa akan menceritakan rasa sakitnya itu, sementara rasa kesalnya pada sang kakak yang memarahinya beberapa hari lalu belum hilang sepenuhnya.
Sementara di kantor, Dodi mengambil ponselnya dan menghubungi Natan.
"kau dimana?" tanya Dodi pada Natan yang beberapa hari tidak muncul dikantor
__ADS_1
"dirumah kecil" jawab dari sebrang
"Tan,, apa kau ingat surat cerai yang waktu itu, bukankah Sila belum menandatanganinya?"
"ya, dan Tama telah merobeknya."
"surat itu dibuat oleh pak Yosep. dan belum diajukan ke pengadilan. jadi,, jika tidak ada tuntutan apapun dari pihak istri maka mereka belum bercerai. mereka masih sah sebagai suami istri." ungkap Dodi.
" bodoh!! kenapa tak terpikir sampai kesana?. hah!!!. " Natan terdengar kesal
"belum terlambat. bagaimana kalau kamu bongkar saja penyamaran Sila pada Tama". usul Dodi.
"hmm,, Tama pernah mengatakan padaku, dengan pertunangan ini dia berharap Sila muncul di hadapannya dan dia akan tahu gadis itu telah memaafkannya."
"tapi kurasa itu tidak mungkin. karena baru saja dia mengatakan padaku jika dia merelakan Tama dengan wanita pilihannya dan tidak ingin mencemarkan nama baik keluarga Wijaya." Dodi menjelaskan apa yang tadi dikatakan Sila.
"apa yang harus kita lakukan untuk menyatukan mereka lagi?. Sebenarnya mereka saling mencintai satu sama lain. Tapi hanya terhalang sebuah kesalah pahaman yang kecil menjadikan semuanya jauh dan merepotkan." keluh Natan
keduanya diam beberapa saat. sampai pada akhirnya Natan memiliki sebuah ide.
"bagaimana jika kita beri kejutan untuk semua orang. termasuk Tama dan Sila sendiri." usul Natan
"sebelum pertunangan dimulai, kita hadirkan Sila dihadapan tuan dan nyonya. insting seorang ibu tidak akan salah. kamu tahukan betapa nyonya sangat menyayangi nona Sila. Dia pasti bisa mengenali menantu yang sangat disayanginya itu."rencana Natan
"hm, kamu benar. aku akan menyiapkan pakaian dengan model yang digemari nona Sila waktu dulu." Semangat Dodi
"rok panjang dan kaos oblong" kenang Natan
"ya, dengan warna ungu atau biru. warna favorit"
"warna biru saja, sama dengan favoritnya Tama."
"baiklah... mari kita buat kejutan!" semangat keduanya.
Keduanya menutup ponsel masing masing.
Natan masuk kedalam rumah kecil itu dan mencari Tama di kamar Sila.
"Tam,, hari sudah semakin sore kita harus pulang." ajak Natan pada Tama yang masih duduk melamun di sofa kamar itu.
__ADS_1
"biarkan aku mengenang kesalahanku dimasa lalu sedikit lagi. Bila pertunangan ini berhasil membawanya kembali,, semua kesalahan itu tak akan aku ulangi. aku akan membayarnya dengan segala kebahagiaan untuknya. Tapi jika tidak berhasil biarkan semuanya berlalu dan hilang bersama waktu."
"pasti akan berhasil. kau pasti akan mendapatkannya kembali. Yakinlah" Natan tersenyum dengan kebahagiaan rencananya.
"kalian pasti akan bersatu lagi." gumam Natan penuh keyakinan.
Hari mulai gelap. Natan membawa Tama keluar dari rumah kecil yang menjadi kenangan dengan istrinya.
Dikediaman Wijaya, semua telah siap
"Kenapa Tama sampai saat ini belum juga kembali" hati sang Ayah gusar karena tak mendapati putranya dirumah.
"Natan bilang mereka dalam perjalanan tuan" jawab Eri.
"ayah,, ibu masih belum yakin pada pertunangan ini." keluh sang istri
"apa maksud ibu?, kita sudah membicarakan ini, dan Tama juga sudah setuju."
"Tama setuju karena ayah tak memberinya pilihan." nampak kesedihan diraut wajah sang istri
"ayah sudah memberinya kesempatan untuk mendapatkan kekasihnya. Tapi mana? dia kembali dan menerima pertunangan ini kan"
"tapi ibu tidak begitu suka pada gadis ini, dia tidak seperti Sila kita"
"Sila lagi Sila lagi!. lupakan semuanya tentang Sila!. dia sudah tidak kembali tidak perlu diingat lagi!." tuan besar itu mulai emosi.
"jika Sarah sudah menjadi menantu kita, lama lama kamu pasti juga akan menerimanya." lanjut nya dengan nada pelan. Sebenarnya, hatinya sendiri juga belum bisa melupakan menantunya yang dulu.
"tuan besar,, tuan muda sudah pulang!." panggil seorang pelayan. Tuan besar Wijaya segera berlalu dari samping istrinya dan mencari sosok anak semata wayangnya itu. Dia menuju ke kamar Tama.
"dari mana saja kamu, sudah tahu akan ada acara dirumah bukannya cepat pulang.." belum sempat selesai bicara, Tama menoleh dengan tatapan dinginnya pada sang ayah
"tidak perlu mengkhawatirkanku. ada banyak orang yang menjaga dan mengawasiku"jawabnya datar.
Tiba tiba sang ayah teringat sesosok pengawal cantik yang beberapa waktu lalu datang ke perusahaannya bersama Tama.
"apakah benar yang dikatakan Sarah tentang pengawal itu?". gumam sang ayah.
"aku akan mandi dan bersiap siap." kata Tama sambil melepaskan jasnya. Ditaruhnya ponsel di meja dan ia bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1