Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
diacuhkan


__ADS_3

"hah! hah!" Sila berusaha mendapatkan oksigen setelah beberapa saat terbekap oleh ciuman ganas


"mas! bukannya sedang masak ngapain disini."


"aku merindukanmu. kenapa kamu selalu meninggalkanku?"


"aku hanya ingian mandi mas..."


"mandipun juga harus mengajakku. tidak boleh meninggalkanku lagi"


"baiklah apapun maumu."


Akhirnya setelah beberapa saat. selesai juga acara mandi ++ mereka. Dan berpakaian rapi dan santai.


"mana sarapan yang mas buat tadi."


"belum siap!"


"baiklah biar aku siapkan"


Dan akhirnya Sila lah yang menyiapkan sarapan.


"tuan muda,,," tiba tiba muncul pak Parjo dari pintu samping dekat dapur


"pak Parjo,, mari sini sarapan sekalian" ajak Sila


"terima kasih nak, tapi maaf. hari ini bapak dijemput keponakan. Ada acara keluarga. jadi disini saya pamit. untuk waktu satu bulan bapak tidak dirumah jadi, tidak bisa bekerja"


"wah, ada acara besar kayaknya sampai memerlukan waktu satu bulan"


"iya nak Sila. dua keponakan bapak mau nikah san jarak waktunya cuma satu bulan."


" oh begitu, baiklah kami akan merawat taman kami dengan baik"


"terima kasih tuan muda, nak Sila."


Pak Parjo pun pamit.


Sepeninggal pak Parjo


"oh tidak!" Sila segera berlari kerumah pak Parjo


"jangan pergi! kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku lagi,, apakah semua ini hanya mimpi dan aku harus bangun?" ucap Tama lirih.


Beberapa saat terdengar suara deru motor memasuki halaman depan. Tama hanya mengira bahwa itu Natan . Namun Sila yang muncul dari balik pintu membawa senyum Tama kembali.


"apakah kamu benar benar telah kembali?"


"apa maksudmu mas?kamu telah menyetubuhiku dan sekarang kamu masih bertanya seperti ini? lalu kamu anggap siapa yang kamu mainkan tadi?"


"aku takut aku hanya bermimpi"


Sila duduk dipangkuan Tama dan memeluknya erat.


"aku takkan pernah meninggalkanmu. aku takkan pernah menghianati cintamu"


Tama menggendong tubuh istrinya dan dibawa keruang tengah. Dicumbui tubuh molek itu tak terlewat satu senti pun. meluapkan kerinduan nya. dua bulan kehilangan istri untuk kedua kali. Tak bisa diungkapkan lagi kebahagiaannya kini saat yang dirinduinya berada dibawah kendali.


"pintumu samping masih terbuka mas!"


Tama berhenti sejenak.


"biarlah"


"bagaimana bila tiba tiba ada yang datang,,,"


"aku akan membunuhnya"


"jika kau dipenjara?"


"aku akan membawamu. Kita akan bercinta dipenjara"


"iiih ogah. biar aku yang tutup dulu"

__ADS_1


"tetaplah disini."


Tama beranjak menutup pintu samping dan menguncinya saat Sila menawarkan diri.


Setelahnya, ia kembali dan melanjutkan acaranya.


"kemana kamu selama ini, apakah kamu tidak merasa aku merindukanmu" ucap Tama sambil mengecup tengkuk istrinya


"maafkan aku mas, saat itu aku tidak berdaya. aku tidak bisa pergi kemana pun meskipun aku diperlakukan baik, tapi aku tak bisa kabur. bahkan aku harus pura pura amnesia."


"tak seharusnya kamu minta maaf, bukan salahmu"


"apakah kamu tak ingin tahu siapa mereka?"


"kamu bisa menceritakan tentang mereka lain waktu, biarkan aku melepaskan kerinduanku dulu,"


Tama melummat habis tubuh sang istri.Menandainya dengan puluhan kissmark. Suara rintihan dan desahan lembut terdengar sayup sayup menambah gairah yang terpendam puluhan hari.


*


Natan dan Arya telah bersiap, Arya akan bertugas mengantarkan sang nyonya besar kerumah sakit untuk cek up.


"aku ikut sampai rumah kecil. aku akn menemani Tama sampai sore nanti."


"baiklah sayang. bagaimana kabar dari Eri, apakah orang itu sudah ketemu?"


"belum. aku rasa, ada pihak lain yang memang sengaja menyembunyikan mereka."


"kasus ini terbilang lama. kenapa kali ini kita kalah cepat"


drrt ddrrt


Ponsel Natan bergetar


"tumben Tama telpon, ada apa?" pikir Natan saat melihat ko tak yang enghubu ginya dari rumah kecil.


"ada apa Tam,, aku sudah bersiap kesana"


" hentikan pencarian. bilang juga pada Eri hentikan perburuannya. Semua percuma"


"ada apa sayang?"


"Tama menyuruh menghentikan pencarian dan perburuan Eri"


"tapi kenapa?"


"dia hanya bilang percuma"


Natan berlari keluar dan menemui Dodi dan Eri diruang makan. Disana ada pula tuan dan nyonya besar


"Er,,, baru saja Tama menghubungiku. Dia bilang kita hentikan pencarian Sila dan perburuanmu. "


"apa maksudnya?"


"entahlah dia hanya mengatakan percuma."


"aku sungguh tak mengerti. Saat Sila hilang dua tahun lalu, dia bahkan tak menyerah sampai dua tahun. Dan sekarang,, ini masih dua bulan. kenapa kita harus menyerah? aku tidak akan berhenti mencarinya. jikalau Tama memaafkan pelakunya, tak masalah. Tapi untuk mengh3ntikan pencarian, aku tidak bisa. Sila harus ketemu. berapapun banyak waktu yang dibutuhkan" tekad Eri. Semua orang setuju.


"aku akan kerumah kecil, aku akan memintanya menjelaskan. Atau mungkin dia diancam?"


"tidak,, Tama bukanlah orang yang mudah diancam" sambung Dodi


Arya, Natan dan nyonya besar bersiap untuk berangkat. Saat mereka berada di depan mobil datang seorang cewek yang mengaku temannya Tama


"Selamat pagi, saya taman kuliahnya Tama diLondon. saya dengar sesuatu terjadi makanya saya datang kemari untuk mnjenguknta"


" maaf ya nona, mungkin anda bisa kembli lain waktu. hari ini Tuan muda tidak dirumah. dan kami ada acara penting jadi,,,"


"baiklah,, tidak masakah. kalau begitu saya permisi."


"tunggu,,, sepertinya aku mengenalmu, kamu Lidya kan?"


"iya betul. anda siapa"

__ADS_1


"namanya,,,,"


"aku pengawal Tama." potong Natan pada ucapan Arya.


"ohhh,"


jawab Lidya ketus smbil berlalu.


Natan mengemudikan mobilnya menuju rumah kecil. Dia turun di depan pintu gerbang dan mebyerahkan mobil pada Arya. Natan berjalan masuk pekarangan setelah Arya meninggalkannya mengemudi menuju rumah sakit.


"seperti motor Ferry. jangan jangan..." Natan berjalan cepat saat melihat sebuah sepeda motor sport yang dikenalinya terparkir rapi di garasi depan. Ia berusaha membuka pintu, namun terkunci


"Tama,,, buka pintu nya.!"panggilnya setengah khawatir.


"Tam, buka pintumu,,,!" Natan berjalan kearah pintu samping


"Tama,,, dengarkan aku! buka pintumu!" teriak Natan semakin tak karuan perasaannya. Karena dia tahu betul. pemilik motor yang terparkir didepan adalah seorang cowok yang menyimpang orientasi seksualnya. Dia takut dalam keadaan Tama yang sedang terpuruk, dia akan terjebak.


"Tama!!" bukalah pintumu!!kita bicaraz!!" Natan menggedor gedor pintu samping. Pikirannya semakin kalut. Rasanya dia mau mendobrak pintu rumah itu. Tapi sayup sayup didengarnya suara perbincangan dari dalam


"itu suara perempuan." Natan merasa lega. Bahkan jika Tama mulai bermain wanita luar, dia masih normal. pikir Natan.


"jadi,, biarlah dia bersenang senang."


Akhirnya Natan memutuskan untuk menunggu. Dia dusuk di kursi kayu diteras samping yang menghadap kerumah pak Parjo.


Dilihatnya pak Parjo masuk kesebuah mobil lalu Natan berdiri di gerbang yang menghubungkan teras samping dengan pekarangan pak Parjo.


"pak mau kemana?" sapa Natan


" eh den Natan,, ini, bapak mau kerumah saudara. kira kira satu bulan. tolong jaga tuan muda ya,,"


"siap pak"


Lelaki tua itupun masuk mobil dan dibawa pergi oleh keponakannya. Natan kembali menatap dinding kaca samping yang terlapisi korden putih didalamnya, disana sesekali terlihat siluet pasangan yang sedang bercumbu mesra. Sesekali pula terdengar suara desahan, pekikan, dan tawa yang samar samar.


"hhhhh " Natan menghirup nafas dalam dan menghembusnya pelan.


"Sila,,,maafkan kami yang tak bisa menjaga suamimu." gumamnya.


*


*


'"Tama,,,buka pintunya!"


"mas,, itu tuan Natan datang,,"


"biarkan saja"


Tama tidak mau mengakhiri aktifitasnya diatas tubuh istrinya saat mendengar Natan berteriak teriak memanggilnya. Bahkan suara gedoran pintu pun tak mau ia pedulikan


'mas,, bagaimana kalau tuan Natan mendobrak pintunya" Sila Khawatir


"biar saja jika dia berani" jawab Tama santai dan tak merubah ritme serangannya.


berkali kali Natan memanggilnya hingga bosan.


"benarkan dia bosam mm " ucap Tama sambil menghisap pelan pinggul mulus yang menggeliat geli. suara tawa yang tertahan membuat Tama semakin ganas dan liar. Dengan serangan Tama yang begitu intens dan lembut membuat seluruh tubuh Sila merinding dan melupakan keberadaan Natan diluar sana.


Satu jam


dua jam


tiga jam


sampai berjam jam hingga matahari pun mulai berpamit pada siang. Tubuh wanita ini tak sekalipun dilepaskan oleh pemiliknya. bahkan saat berkata hauspun tetap dalam gendongan dan pelukan sang lelaki perkasa. Hingga berkali kali terkulai kelelahan di ranjang besar di kamarnya.


" kau benar benar menghajarku hari ini mas,,, aku,,, tak bisa bergerak lagi"


Tama tersenyum bangga.


"istirahatlah dulu, nanti kita lanjut"

__ADS_1


"oh tidak... aku sudah tak sanggup"


"pasti kamu akan menikmatinya lagi." senyum Tama menggoda.


__ADS_2