
Setelah mengantar Sila. Tama segera kembali ke rumah sakit.
"dari mana kamu?. kenapa jam segini baru pukang?." tanya Har kasar
" memang kak Har tidak tanya sama kak Yohan?".
" kak Yohan lagi yang kau jadikan tameng!... Dia hanya bilang kau keluar dengan cowok!. dengan siapa? kemana?. ngapain aja?"
Sila tertawa melihat ekspresi kakaknya yang marah itu.
"kamu pikir kakakmu ini badut saat marah pun masih kau tertawakan?." Har terlihat bersungut sungut karena marahnya. Tapi hal itu terasa lucu bagi Sila.
"kakak sudahlah tidak perlu marah lagi,, kakak akan semakin bertambah lucu kalau marah marah seperti itu, dan aku tidak bisa menahan tawaku." bantah Sila.
"kalau begitu jawab kakak!. kamu tadi pergi dengan siapa?".
"aku pergi dengan Tuan Eri. puas?.."
"berani bohong kau!,, Tuan Eri tadi ada di acara pesta tuan besar.mana mungkin kau pergi dengannya?"
"aku pergi setelah pesta selesai. sebelum kakak pulang"
Har tertawa.
"justru aku semakin tak percaya. Pestanya berantakan. dan semua staf keamanan sibuk. sangat tidak mungkin tuan Eri kesini dan mengajakmu jalan.
"terserah. " jawab Sila berlalu ke kamarnya.
*
*
Tama kembali kerumah sakit dan dengan kesal melempar kunci kearah Natan. Masih tersirat amarah dimatanya, namun bibir nya tersimpan senyum misterius. Dia berjalan keruangan dimana menjadi tempat tidur Sila beberapa waktu lalu.
"kau akan tidur disini?." tanya Natan heran. yang Natan tahu sahabatnya ini gila kebersihan, tapi sekarang, bahkan dia bisa merebahkan tubuhnya diranjang itu.
"diamlah kau. aku tidak akan mengungkit kesalahanmu padaku!"
"kesalahan?.aku salah apa?" Natan penasaran. Namun yang didapatinya hanya tatapan tajam sang tuan muda.
Sejenak Natan berfikir "mungkinkah " gumamnya lirih. Diliriknya bibir sang majikan yang basah mengulum senyum. Natan pun tersenyum dan beranjak meninggalkannya "ada kemajuan,," komentarnya
"diamlah kau cerewet!.
dengar, jika kau pulang besok pagi. Antarkan ibu sekalian. Tadi kulihat infusnya sudah dilepas."
"hm."
*
*
Pagi pagi sekali nyonya Wijaya sudah masuk keruangan suaminya dirawat. Dilihatnya sang suami masih terlelap dalam tidurnya. Natan yang mendengar pintu dibuka, memicingkan matanya mengintip siapa orang yang masuk keruangan itu.
"Natan, ibu tau kamu sudah bangun. apa kamu begadang semalam?" tanya sang nyonya lembut. Natan pun akhirnya membuka matanya dan duduk dengan malas.
"ehm, sampai pukul 03. tadi."
"dimana Tama." nyonya wijaya mengedarkan pandangan kesekeliling.
Natan menunjuk kesebuah ruangan. Sang nyonya berdiri dan melangkah menuju tempat yang ditunjukkan Natan. Diranjang kecil itu dilihatnya sang putra begitu pulas dengan senyum tergambar dibibirnya.
__ADS_1
"apa ada hal besar yang terjadi semalam?" tanya sang nyonya setelah duduk kembali disamping Natan.
"sepertinya begitu" jawab Natan dengan ekspresi penasaran akan pertanyaan nyonya besarnya itu.
sang nyonya tersenyum "tak pernah kulihat tidurnya sepulas itu. bahkan dia masih tersenyum."
Natan tersenyum. "bius apa yang kau berikan pada suamimu nona Sila?." batin Tama
Telihat Tuan besar Wijaya membuka mata.
"ayah sudah bangun,,"sapa sang istri mendekat tuan Wijaya
"ibu, bagaimana keadaanmu?"
"ibu sudah segar ini,," jawabnya tersenyum manis
" ayah, ibu akan pulang kerumah. nanti ayah mau dibawakan masakan dari rumah tidak?"
"tidak usah bu. ibu jangan terlalu capek."
sang nyonya dibuat heran dengan sikap suaminya yang juga ikut berubah. Biasanya Wijaya tak selembut ini meskipun tidak sedingin Tama.
"ayah, kelihatannya Natan sangat kelelahan, biarkan dia pulang istirahat yang benar" ucap nyonya menoleh kearah Natan yang terlihat sedikit lesu. Tuan besar tersenyum dan membelai lembut wajah istrinya.
"wow.. atmosfer apa ini?.." gumam Natan yang menyaksikan adegan itu.
"Tan, kamu pulang saja bareng ibu. istirahatlah yang benar. Arya pasti menunggumu semalam." perintah nya. Natan tak menjawab dan hanya tersenyum.
Tiba tiba Natan teringat Eri. harusnya, jika semalam Eri pulang terlebih dulu saat ini pasti sudah nongol disini. tidak mungkin anak itu akan sesantai ini dalam keadaan yang seperti ini. "dimana itu anak" gumamnya. Dilihatnya ponsel miliknya. Tak ada pesan apapun kecuali stiker kecupan dari Arya istrinya.
"Anak ini belum memberiku kabar apa apa sejak pesan terakhir semalam. ada apa dengannya." batin Tama masih tidak tenang.
Pintu terbuka dan muncul Dodi yang sudar terlihat segar.
"Tan ayo kita pulang. kamu harus istirahat." ajak nyonya nya.
Natan memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan beranjak keruangan dimana Tama tidur.
"tidak perlu kamu bangunkan dia Tan. biarkan saja." pinta nyonya Wijaya.
"apakah Nona Sha masih disini?." tanya Dodi
"siapa nona Sha?." sang nyonya penasaran.
"gadis pengawal Tama. Dia yang mendonorkan darahnya semalam" jawab Wijaya. Sang istri menoleh kearahnya.
"bahkan aku tidak sempat bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih." keluh nya.
"masih banyak waktu untuk itu.. dia gadis yang baik." Wijaya tersenyum bangga
Natan masih menatap Tama yang masih terlelap. senyum haru muncul dibibirnya "wajah setenang ini,, telah hilang sejak dua tahun terakhir. dan hanya anda yang bisa membawanya kembali nona." Natan melangkah perlahan kearah nyonya nya.
"mari nyonya." ajak Natan. ketiga orang itu pun melangkah meninggalkan ruangan.
Dodi duduk dibelakang kemudi dan Natan berada disampingnya. Sang nyonya berada di bangku belakang. Namun, baru beberapa meter meninggalkan parkiran, mobil itu terhenti secara tiba tiba
"ada apa Dodi?".
" maaf nyonya. kehabisan bahan bakar." jawab Dodi nyengir
"bagaimana bisa?." nyonya nya tersenyum. Ketiganya turun. Natan menghubungi seseorang untuk mengurus mobil itu dan menyerahkan kunci mobilnya ke pada Dodi. Dodi bergegas mengambil mobil Natan di parkiran.
__ADS_1
"apa ini?." tangan nyonya Wijaya menemukan sesuatu lingkaran benang di tempatnya duduk. Natan menoleh dan Dodi mengintip dari spion.
"itu!!!" kedua orang itu terkaget dan saling pandang
"bagaimana bisa, itu adalah cincin yang selalu melingkar dijari nona Sha, sebenarnya hal apa yang sudah berlaku semalam. sampai sampai cincinnya terlepas dan tertinggal dimobil.. haduhh apakah semalam aku sudah benar benar mengganggu?. hhhhh" Batin Natan kacau. Dia mengacak kasar rambutnya sendiri. Dodi menoleh heran, pandangannya menyiratkan tuntutan penjelasan.
*
dibangku belakang
*
"Tan, apa Tama sering bepergian dengan mobil ini?" tanya nyonya sambil membuka lilitan benang itu penasaran.
"iya nyonya" jawabnya sambil mengernyitkan kening mengkhawatirkan benang yang mulai panjang terbuka. " ah nanti bisa dililit lagi," pikirnya
"bukankah ini cincin Tama!?. jangan jangan, ada orang yang ingin berbuat yang tidak tidak pada anakku. mengguna gunainya?" tebak nyonya khawatir. Natan dan Dodi tersenyum melihat cincin itu. kedua kalinya mereka saling pandang dan saling senyum.
Nyonya memberikan cincin itu pada Natan
"Tan kamu simpan dulu cincin ini. "
Natan menerimanya tanpa sepatah kata.
*
*
Setelah mengantarkan sang nyonya, Dodi melaju mobilnya menuju rumah Natan.
"bagaimana bisa cincin itu berada disana?." tanya Dodi setelah menyeruput kopi yang disajika Arya
"cincin apa?"tanya Arya menoleh kearah suaminya. Natan mengambil cincin itu dari sakunya dan meletakkan dimeja.
"bukankah itu cincin milik Tama?" tebak Arya
"bukan" jawab Natan dan Dodi bersamaan. Arya bingung. karena dia yakin cincin itu milik Tama. Diambil dan diamatinya. Batu pipih melingkar berwarna biru keunguan.
"ini benar benar cincinnya Tuan muda kecuali ada yang sama?" Arya menoleh Dodi. Dodi tersenyum.
"itu pasangannya" jawab Natan.
"jadi ini milik Sila?. apakah ini cincin kawin mereka?". Arya antusias
"Tama benar benar mencintai gadis itu bahkan membuatkannya cincin yang spesial."
"hrm hrm.. nyonya Natan sepertinya iri dengan cintanya sang tuan muda" ledek Dodi menyikut lengan Natan
"tidaklah tuan Dodi,, aku tau Natanku punya caranya sendiri untuk mencintaiku. sehingga tak ada ruang untuk iri pada pasangan lain. iyakan sayang,," Sikap manja Arya memeluk lengan suaminya.
"kayaknya ada yang ngasih kode ni,,. aku pamitlah kalau gitu" ucap Dodi tersenyum dan berdiri.
"Kode apa tuan. tuan mau kemana?" tanya Arya kaget.
" pulanglah. aku mau istirahat"usir Natan
"Natan kamu kok begitu sih." keluh Arya
"sayang,, aku mau istirahat. semalam Tama membuatku begadang."
"oh."
__ADS_1
"maaf ya tuan Dodi." permintaan nya pada Dodi.
"tidak apa apa Arya,, semalam memang melelahkan" Dodipun meninggalkan kediaman Natan