Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
saingan


__ADS_3

Setelah jamuan makan malam waktu itu, Sarah merasa dirinya mendapat lampu hijau untuk mendekati Tama. Sesekali dia datang ke kantor membawakan makanan untuk Tama. Dan pasti ketiga pengawalnya dan asistennya yang kesenangan. Karena Tama tak pernah sekalipun mau menyentuh makanan itu. Begitu pula dengan Monica yang mengetahui bahwa Sarah mulai mendekati Tama, diapun lebih sering datang membawakan segala buah atau camilan. Dan lagi lagi yang diuntungkan adalah orang yang bekerja di ruangan direktur diluar private room.


"wahh kalau begini terus terusan aku bisa jadi gemuk nih!" celoteh Sila.


"inilah keseruan yang ditunggu tunggu nona Sha,,," Eri terkekeh


"iya tapi kalau begini terus terusan?." Sila tak melanjutkan.


Tiba tiba Tama keluar dari ruangannya dan duduk bersama saama mereka. Bagi Natan, Eri dan Dodi hal itu dirasa biasa karena mereka sahabatan sudah lama. Apalagi mereka merasa akhir akhir ini Tama tak lagi sering marah marah. Namun hal itu membuat Sila merasa canggung.


"lihat apa?" tanya Tama datar saat ia dapati Sila menatapnya terus terus.


"ti,,tidak tuan muda!" jawab Sila gugup dan menjatuhkan pandangannya. Natan tersenyum penuh arti.


"gak perlu canggung begitu nona Sha,,, santai saja. Kita hanya perlu jaga imej diwaktu yang tepat,, bukan saat saat seperti ini." Eri terkekeh sambil menjelaskan.


Sila memang tak habis pikir.. mereka bertiga memang terlihat sangat sangar dan keras saat bekerja. Tapi susana seperti saat ini mereka hangat seperti sebuah kaluarga. Hanya saja Tama yang sikapnya hanya sedikit perbedaannya.


"leci ini buat kamu saja" Eri menyodorkan beberapa buah leci kehadapan Sila


"maaf tuan Eri,, saya tidak bisa makan buah leci." jawab Sila. Tama kaget. diingatannya, istrinya juga tidak suka makan buah leci.

__ADS_1


"kenapa?" tanya Eri


"saya ada alergi." jawab Sila.


"Sila juga tidak suka Leci, tapi dia tidak pernah mengatakan alasannya tidak menyukai leci." batin Tama mengingat kenangannya


Tok tok


Suara pintu diketuk lalu muncul sekretaris Lusi diikuti sosok wanita yang tak asing bagi mereka. Monica. membawa kotak bekal ditangannya. Raut wajahnya begitu girang saat melihat Tama ada diruangan itu. Karena biasanya hanya para pengawalnya saja.


"Tama,,, akhirnya aku bertemu denganmu. ini aku bawakan bekal makan siang untukmu" kata kata manja nya sambil menyodorkan kotak bekal. Namun Tama tak menggubrisnya.


"kamu! ambil itu untukku" perintah Tama pada Sila, yang memang kebetulan dekat dengan Monica berdiri.


"sekarang kamu boleh pergi. mulai besok tidak usah lagi repot repot mengantar makanan untukku. Dia yang akan membawakanku makanan" kata Tama dambil menunjuk ke arah Sila. Sila kaget dan mengarahkan telunjuknya sendiri kedepan hidung. Natan dan Eri menahan tawa.


" kenapa harus dia?. "tatapannya Monica sangat tajam seolah menyayat nyayat wajah Sila, penuh ancaman.


" baik tuan,, mulai besok akan saya bawakan bekal untuk anda" jawab Sila tegas seolah menjawab ancaman Monica. Monica akhirnya meninggalkan ruangan itu.


"Natan aku mau besok Arya bisa datang" ucap Tama sambil mengarahkan telunjuk pada Eri dan menariknya mengisaratkan ajakan. kemudian meninggalkan tempat itu di ikuti Eri.

__ADS_1


"tuan apa benar besok saya harus membawakan bekal buat tuan muda?." tanya Sila pada Natan dan Dodi.


" ya kamu sendiri yang janji,,," jawab Natan menahan senyum.


"yah,,, saya pikir itu cuma buat alasan ke Nona Monica" Sesal Sila sambil mengerucutkan bibir.


"jangan khawatir,,, kan ada kami. kalau toh Tama tidak mau kan bisa kita makan sama sama." Dodi merasa tidak tega melihat raut wajah Sila yang merasa di kerjai.


"nona Sha,, kamu persiapkan diri. mungkin kita akan pergi untuk beberapa hari."ucap Natan


"darimana tuan Natan tau?. tuan muda tak mengatakan apapun." tanya Sila


"tuan muda sudah meminta Pengawal Arya untuk datang. Pasti akan melakukan perjalanan untuk beberapa hari."jawab Natan


"minggu depan peresmian Rumah sakit di luar kota." lanjut Dodi dan melangkah keluar ruangan.


"terlalu rumit." gumam Sila.


"lama lama nona Sha juga akan terbiasa. dan bisa memahami tuan muda. mohon kesabarannya." jawab Natan saat mendengar gumam Sila.


"nona saya ada keperluan. mungkin tuan muda akan kembali nanti sore. jika nona mau pulang juga tidak apa apa." lanjut Natan dan beranjak pergi.

__ADS_1


"baik tuan Natan. "


__ADS_2