Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
serba salah


__ADS_3

Yohan dan sang mata mata Natan membawa Eri kerumah sakit. Eri segera mendapat pertolongan. Yohan segera menghubungi Natan dan mengabarkan bahwa mereka berhasil menyelamatkan Eri.


Natan, Arya, Tama dan Dodi segera sampai diruangan Eri dirawat karena memang mereka sedang dirumah sakit yang sama.


"dimana nona Sha?"tanya Arya khawatir.


"jangan cemas, dia pasti akan sampai kesini. dia pasti berhasil lolos"


"apa maksudmu? apakah kau jadikan dia umpan?" teriak Tama yang tak bisa mengontrol rasa cemasnya.


"mana mungkin aku mengumpankan adikku. Jangan asal lah kalu ngomong"


"sudahlah Tam, percayalah dengan kata kata kapten Yohan." bujuk Natan menenangkan Tama.


"lagi pula,, kenapa kamu sepeduli ini? dia adikku. Aku yang harusnya lebih khawatir." ucap Yohan dalam senyumnya.


Tama tak bisa menjawab apa apa. Dia terdiam dan menghela nafas dalam.


Setelah beberapa saat, Sila berhasil sampai dirumah sakit. Dia ke resepsionis menanyakan keberadaan Eri, dan mendapatkan petunjuk.


Dikamar VIP rumah sakit yang berada dibawah naungan Wijaya grup itu, Eri terbangun. Semua merasa begitu senang.


"kau sudah bangun, bagaimana perasaanmu?" tanya Natan


Eri tersenyum. "dimana nona Sha?" tanya Eri karena tak melihat keberadaan Sila.


"pikirkan dulu keadaanmu. bagaimana bisa sampai seperti ini?" jawab Tama setengah berteriak.


Semua menatap kearahnya, Natan dan Dodi mengerutkan dahinya. Yohan memicingkan matanya sementara Arya melototinya. Tama jadi bingung


"kalian ini kenapa?"


"Nona Sha yang menolongnya, dan saat dia bangun orang yang menolongnya tak terlihat apa salahnya dia bertanya?" jawab Natan.


"kalian ini,,, tadi aku bertanya salah dan sekarang aku lagi yang salah!" hardik Tama kesal.

__ADS_1


Dia berjalan menuju pintu keluar. Namun sebelum sampai kepintu, pintu itu terbuka dan suara merdu seorang gadis terdengar terlebih dulu sebelum sosok nya muncul.


"kak kunci mobil mana? seragamku,,," sosoknya muncul bersama hilangnya suaranya tercekat ditenggorokan, karena dilihatnya semua mata tertuju padanya. Tama yang berada dekat di depannya merasa kakinya begitu lemah untuk melangkah dan mendekap gadis yang di khawatirkannya beberapa waktu tadi.


Hanya ditatapnya gadis itu dengan nafas yang semakin berat airmata yang mulai merangsek ke pelupuk indahnya, membuat mata itu seakan bak kaca terkena pantulan cahaya.


Arya melangkah menerobos diantara keduanya. Didekapnya erat gadis itu.


"kamu tidak apa apa nona Sha?" tanya Arya sambil mengusap usap kedua pipi gadis cantik itu. Sila tersenyum


"tidak apa apa ka. Aku baik baik saja."


"syukurlah kalau tidak terjadi apa apa padamu." ucap Tama seraya melangkah keluar dan berhenti di luar pintu.


"kemana jaketmu?" tanya Yohan.


"diambil orang tadi,," jawab Sila menunduk bersalah


Yohan melepas jaketnya dan memakaikannya pada adiknya.


" ya gimana? dia tarik jaketku ya ku lepas, aku bilang saja sekalian jaket barunya biar buat dia aja. lagian sudah kotor ini". jawab Sila sambil berjalan mendekat kearah Eri.


"bukan kalah kak! cuma lengah aja pas mau mastiin kakak udah bener bener keluar apa belum. Eh malah dipukul!" cerita Sila


"tapi kamu ga apa apakan dimana yang dipukul? sakit tidak?" Yohan cemas


"kakak! aku gak apa apa. buktinya sekarang aku sampai disini."


semua akhirnya lega. begitu pula Tama yang mendengarkan ocahan mereka dari luar. Dia pun menuju kamar rawat ayahnya.


"Bagaimana keadaan Eri?" tanya Wijaya saat putranya masuk keruangannya dirawat.


"baik, dia sudah bangun."


"syukurlah, lalu keadaan Nona Sha dan kapten Yohan?"

__ADS_1


"mereka juga baik baik saja. barusan nona sha juga sudah datang"


"maksudmu mereka meninggalkan nak Sha di tempat itu?"


"kelihatannya seperti itu. untuk mengalihkan perhatian tapi dia tidak terluka hanya kehilangan jaketnya saja katanya".


"syukurlah."


" apakah ibu boleh menemui nya?" tanya sang nyonya yang belum pernah bertemu dengan pengawal cantik putranya itu.


" besok saja lah bu. Mungkin kapten Yohan juga akan membawanya pulang. mereka butuh istirahat, mereka habis berkelahi pasti capek." jawab Tama


"berkelahi katamu?"


"ya. mereka baru saja menyelamatkan Eri dari penyekapan.jadi ya.."


"tapi bukankah dia perempuan? kenapa harus berkelahi?"


"dia seorang pengawal ibu,, Arya juga jago berkelahi walaupun tak sehebat nona Sha, tapi dia juga bisa lembut juga kan?" jawab Tama


"hmmm" nyonya manggut manggut.


" ya sudah,, ibu pulang dulu sana, minta Dodi untuk mengantar dia ada dikamar Eri." pinta Tama pada ibunya.


"baiklah. ayah ibu pulang ya.. ayah istirahat yang benar biar cepat pulih"


"iya bu.. ibu hati hati."


Nyonya Wijaya akhirnya keluar dari kamar Wijaya diantarkan Tama menuju ruang Eri. beberapa meter dari pintu ruangan Eri, mereka melihat pintu terbuka dan terlihat dua sosok muda mudi keluar ruangan tersebut. Nampak Yohan dan Sila keluar dari sana.


"tuan muda kami pamit dulu ya," ucap Sila dari depan pintu saat melihat Tama berjalan kearahnya. Tama tersenyum dan Yohan menggandeng bahu adiknya dan membawanya pergi.


Sang ibu terdiam sejenak. Suara itu, dia merasa mengenal suara itu, dan senyuman gadis itu,


"Tama,,, apakah dia Sila? dia Sila kita kan?" tanya sang Ibu antusias

__ADS_1


" dia yang bernama nona Sha ibu,, Shakira. wajahnya memang mirip Sila kita. Tapi ,,, " Tama tak melanjutkan.


sang ibu mengerti dan kini dia tahu mengapa Putranya ini menjadika pengawal itu istimewa.


__ADS_2