
"sebenarnya seperti apa hubungan mereka Natan?" tanya Wijaya penasaran dengan perubahan putranya.
"Kalau masalah hubungan,, seperti pengawal dan tuannya.. tapi,, untuk perasaan aku rasa. keduanya saling tertarik" jawab Natan
"Tama tak pernah mengatakan apapun padaku ataupun pada ibunya".
"jangankan pada anda atau nyonya. dia sendiri saja tak mau mengakui".
"mungkin masih soal Sila. kemana sebenarnya itu anak?. seandainya dia masih hidup,, bagaimana kehidupannya?. semuanya kesalahanku. Aku sebagai orang tua tak bisa memberi solusi yang baik malah menghancurkan anak anakku". airmatanya tak lagi bisa ditahan demi mengenang menantunya.
" sudahlah tuan, yang berlalu biar berlalu. masa depan masih panjang". hibur Natan
" melihat gadis itu seperti melihat menantuku dengan kepribadian yang beda. wajahnya begitu sama." lanjut Wijaya.
"berbeda?" tanya Natan butuh kepastian
"ya kau ingat?. Sila begitu sopan dan pendiam. Dia tidak akan banyak bicara tanpa ditanya. begitu penurut. Waktu menikahkan mereka aku takut bahwa Tama akan membully istrinya. karena kamu tahu Tama yang begitu arogan, egois, tidak mau dibantah. tapi ternyata dia tak melakukan apapun yang aku khawatirkan. malah dia jadi orang yang dingin dan kehilangan ekspresi saat Sila pergi. tidak pernah marah, tidak pernah sedih bahkan tidak pernah tersenyum." ucap Wijaya.
" tuan tidak tahu saja putramu sering menangis dirumah kecilnya." batin Natan.
"oh ya Natan,, bagaimana keadaan ibuk."tanya Wijaya
" nyonya sedang istirahat di ruang sebelah. Tadi Tama memintanya untuk mendapatkan perawatan." Natan menjelaskan.
Wijaya merebahkan tubuhnya.
" Tan,, bagaimana kepribadian gadis itu?" tanya Wijaya sambil rebahan
"sama seperti nona Sila,"
"maksudmua? dimana kesamaannya?" Wijaya penasaran dengan kata kata Natan
" Dia akan menjadi sosok yang kuat saat bekerja dilapangan. menjadi serius saat bekerja di kantor, menjadi rileks dan sopan saat istirahat dan menjadi liar diluar pekerjaan." terang Natan
" lalu mengapa kau samakan dengan Sila kami yang lembut,".
" ya,, nona Sila memang pribadi yang lembut sopan dan penurut saat bersama keluarga mertuanya karena dia dituntut harus seperti itu. tapi saat berada dengan ayah dan kakak kandungnya, Nona Sila adalah sosok yang memberontak. dan bersama teman temannya dia adalah sosok yang ceria, liar, cablak jika anda ingin membandingkan seperti hal nya Eri, anda tahu bagaimana sifat Eri. "
"hm hm" Wijaya manggut manggut.
"bagaimana kamu bisa tahu sifat Sila sampai sedetail itu?".
"saya sering berada di sekitarnya jadi saya bisa membedakan perubahan sikapnya tuan. saat di kediaman orang tuanya, sesaat sebelum kita membawanya pulang saya mendengar pertengkarannya dengan ayahnya. dan saya sering mengikuti tuan muda ke kafe asri, dimana Nona Sila juga pasti disana setiap hari rabu, jadi saya juga mengamati bagaimana cara dia bercanda dengan teman temannya."
"oh,,, tidak salah Tama mempertahankanmu di sisinya".
__ADS_1
*
*
*
Dalam perjalanannya menuju apartemen Har, Tama melajukan mobilnya begitu pelan. Rasanya tidak ingin cepat sampai.
"tuan,, jika tuan mengendarainya seperti ini mapan kita akan sampai?." tanya Sila
"aku tidak ingin segera sampai" jawab Tama. Sila mengerutkan dahi.
"tapi saya ingin segera sampai. saya lapar tuan!" keluh Sila kembali. Tama menoleh sebentar. Dan menambah sedikit kecepatannya. Namun sesampainya diparkiran apartemen Sila tak kunjung keluar mobil.
" kenapa? katanya lapar dan ingin segera sampai?".
Sila menunduk
"maaf tuan,, saya lupa. saya tidak membawa kunci. jam segini kakak pasti sudah tidur."
"coba kamu telfon." usul Tama
" ponsel saya tadi mati dan sedang saya isi daya baterai."
" katakan padaku,, mengapa kau membohongiku?" tanya Tama tiba tiba merubah posisi duduknya menghadap Sila.
"bohong apa?". Sila balik bertanya
" kapten Yohan bukan suamimu!"
"memangnya aku bilang Kak Yohan suamiku enggak kan?." jawab Sila tanpa rasa bersalah
"apa kah kau sengaja menggodaku?. " tanya Tama mendekatkan wajahnya ke arah Sila. Sila menarik tubuhnya kesamping.
Tama melepas pengait sabuk pengamannya agar leluasa bergerak.
" kau tau aku tertarik padamu dan kau ingin membuatku cemburu dengan mengatakan bahwa kau sudah menikah iyakan"
"aku memang sudah menikah."
"dan kau dicampakkan suamimu?"
Sila diam sejenak "ya! memang benar" jawabnya kemudian dia ter senyum sinis
"dan bodohnya aku masih mencintainya sampai saat ini."
__ADS_1
Tama mundur mendengar kata kata Sila. Dirinya sendiri bahkan belum bisa melupakan istrinya meskipun mengakui tertarik pada gadis lain. Dia mendesah panjang.
" sebenarnya, aku juga pernah menikah. Aku sangat mencintai istriku bahkan aku tak menyentuhnya karena dia masih teramat muda untuk berhubungan yang seperti itu. aku takut menyakitinya. Sampai suatu hari, aku melihatnya mengalami tanda tanda kehamilan. aku marah karena waktu itu aku tahu dia menyukai seseorang, dan lelaki otu adalah seorang gig*lo. aku tak bisa membencinya, tapi aku marah. Dan aku memintanya menandatangani surat cerai. Dan dia pergi. Dia hilang. Dan dengan mengerahkan semua yang aku bisa, aku mencarinya sampai saat ini tak ada berita sama sekali tentangnya.
sampai akhirnya aku melihatmu dan aku pikir kau adalah dia. dan aku tertarik padamu. " Tama bercerita panjang lebar.
Dalam diamnya, Sila tersenyum bahagia mengetahui bahwa ia di cintai lelaki idamannya. wajahnya merona. sama sekali tidak seperti yang dipikirkanya selama ini.
"lalu apa yang terjadi dengan pernikahanmu?"
"aku?." Sila tersenyum. Dia akan menceritakan kisah yang sama dari versi dirinya.
"aku dinikahi laki laki yang aku dambakan, lebih tepatnya dambaan setiap gadis. tampan, populer, mapan. ya setidaknya aku sangat bahagia. tapi dia tidak membutuhkanku, sikapnya baik. tapi,, mungkin baginya aku tidak menarik. dia sering keluar kota bertemu gadis gadis cantik. sampai pada akhirnya, tiba tiba saja dia menceraikanku begitu saja!!". kata kata Sila dengan wajah yang sama sekali tak ada guratan kesedihan. karena kini dia tahu suaminya ternyata mencintainya.
"kamu sama sekali tidak sedih bercerai dari orang yang kamu cintai?."
"awalnya aku sedih, bahkan sampai hampir mati. tapi,, aku mencintainya tulus. kalau dia bahagia,, untuk apa aku sedih" jawab Sila masih dengan semangat.
"kau memang unik,,"
Tiba tiba Tama meraih tengkuk Sila dan menariknya dixiumnya bibir gadis itu dengan lembut tanpa perlawanan. Dilum*tnya makin dalam, makin bergairah karena mendapat sambutan. Tama pun makin berani, tangannya mulai merayap menjelajah perbukitan lembut. Bibirnya pun bergerilya turun hingga ke leher dan telinga. Sesekali terdengar lenguhan halus dari bibir seksi Sila. Gadis polos itu dibuat semakin tidak sadar oleh sang pria idaman sampai sampai cincin keramat dijarinya terlepaspun tidak dirasakannya lagi. Tama melempar cinxin itu ke kursi belakang. Jantung keduanya berdebar kencang beriringan.
Tiba tiba ponsel Tama berbunyi nyaring mengagetkan kedua insan yang sedang melayang dalam angan masing masing.
"shit!" umpat Tama melirik ponsel di dasbor mobilnya. "Natan" Tama kembali duduk rapi di belakang kemudi sementara Sila membuang pandangannya keluar jendela. rasa malu dan canggung merasuki jiwa keduanya.
"brengs*k kau.! ada apa!". Bentak Tama setelah menjawab panggilan Natan.
"hei,,hei,, kenapa marah marah!." suara Natan terdengar pelan. mungkin sang tuan besar sesang tidur.
"dasar sial an!" Tama masih mengumpat
" jangan bilang kau,,,, sedang,,,,, " Natan tak melanjutkan
"bisa diam tidak! ada apa?. cepat katakan". hardik Tama dalam kekesalannya.
"sory sory,, tapi ini yang punya adek sudah menghubungiku tiga kali dan bilang kau belum memulangkan adeknya. lalu aku harus apa?sementara adeknya kau yang bawa". keluh Natan
"aku sudah diparkiran akan aku antar dia keatas" jawab Tama. Sila menoleh
" eh jangan lupa. sebaiknya kamu minta nginep saja disana biar bisa dilanjut,,hahahaha" terdengar suara Natan tertawa puas.
"brengs*k kau!" umpat Tama sambil memutuskan panggilan.
Tama keluar mobil diikuti Sila dan segera mengantarkannya ke atas. Ternyata Har belum tidur karena sang adek tidak ada di rumah. Dan dia menghubungi Yohan.
__ADS_1