
Dodi dan Tama kembali kekediaman Wijaya karena hari itu Wijaya sudah diijinkan pulang. Dodi mengantarkan nyonya Wijaya berbelanja dan Tama menemani sang ayah ngobrol di ruang tengah.
Tiba tiba datang seorang tamu tak diundang,
"om selamat siang,,"
Wijaya dan Tama menoleh bersama
"ngapain lagi kamu kemari,, sungguh tidak tahu malu"
"Tama,, om,, aku minta maaf, aku kesini mau minta maaf, tolong beri aku kesempatan kedua,,"
"hhh maaf?. setelah apa yang kamu lakukan pada Eri masih punya muka kamu kesini" bentak Tama marah
"aku tahu aku salah,, maafkan aku. aku melakukan ini karena aku mencintaimu Tam."
"cinta? persetan dengan cintamu"
"om,, tolong maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Sarah menghadap Wijaya dan Wijaya sama sekali tak merespon.
"Tama tolong maafkan aku,,aku mencintaimu,, aku tidak mau kamu ditipu si gadis jal*ng itu"
" siapa yang kau maksud?" tanya Tama murka
"siapa lagi kalau bukan si pelac*r Shakira itu"
"lancang sekali kau menyebutnya seperti itu" hardik Wijaya
"kalian telah dibohonginya,, dia tidak sepolos itu. dia pembohong"
Tama tersenyum sinis
"dia bukan wanita baik baik. Dia menjebak kalian"
Tama menghela nafas dalam
"lalu kau sendiri apa yang kau lakukan? apa kau merasa dirimu baik?" ucap Tama tenang. Dia kembali duduk di samping ayahnya yang sedari tadi memilih diam
"aku benar benar mencintaimu Tam,, aku melakukan semua demi cintamu"
Tama hanya tersenyum sinis kembali. Tidak tertarik lagi omongan Sarah.
"apa kalian tahu tentang pengawal jal*ng itu sebenarnya?"
Tama hanya menatapnya jijik
" sebenarnya dia bukan lagi wanita lajang. dia sudah menikah dan dicampakkan suaminya,, dia tidak pantas untukmu,,"
"lalu kamu berfikir kalau kamu pantas? jangan mimpi."
" dia bahkan dicampakkan suaminya yang dulu pasti karena dia tidak baik,, karena dia pelac*r dan bahkan dia juga menggunakan nama orang lain. wanita macam apa itu?"
Tama menoleh ke arah Sarah dan bangkit dari duduknya,
"apa maksud kamu?" bentak Tama
"ya,, Shakira bukan namanya sendiri, jika dia wanita baik baik mana mungkin dia menggunakan nama orang lain. dasar jal*ng"
" katakan padaku siapa nama aslinya!" bentak Tama sambil mencengkram leher Sarah
" Tama lepaskan,," Sarah berusaha memberontak
" katakan cepat!" bentak Tama lagi
"Sila! namanya Sila!" jawab Sarah.
Tama menghempaskan tangannya dari leher Sarah, tubuhnya terhuyung lemah.
Sang ayah yang sedari tadi duduk diam ikut terperanjat kaget.
"darimana kau tahu? katakan siapa yang memberi tahumu" ucap Tama lemah
"kau tak menyangka kan,,, gadis itu memang licik"
__ADS_1
"katakan saja padaku dari mana kau tahu nama aslinya!"
" tidak sengaja aku mendengar pembicaaran Natan"
"Natan,,,," gumamnya kesal.
" sialan kau Natan!!!!! brengs*k kau!!!!!" Dijambak rambutnya kuat dan berteriak sekuatnya.
Wijaya hanya menutup kedua matanya dengan telapak tangan kanannya menahan segala rasa yang ada di hatinya. Bahagia, cemas, sedih..
"pak Han!!" panggil Tama
"ya tuan..."
"telpon Natan sekarang juga,,, suruh kesini sekarang juga, cepat!!!!" suara amarahnya tak lagi terkontrol
"baik tuan"
lelaki bernama pak Han itu segera menghubungi nomer Natan
"tuan,, tuan muda menyuruh anda segera kemari, sekarang juga"
"ada apa pak Han,, " tanya Natan yang sedang mengemudikan mobil hendak mengantarkan Eri pulang
" tidak perlu banyak tanya tuan, cepat kemari. Tuan muda marah marah" bisik pak Han dan langsung menutup telpon
" ada apa lagi?" gumam Natan
"ada apa Tan,, " tanya Eri yang duduk disampingnya
" entahlah pak Han bilang Tama marah marah"
"kenapa lagi dengan anak itu, kemaren dia senyam senyum dan mengajak nona Sha sarapan, dan sekarang marah marah"
" kemaren? Tama mengajak Nona Sha sarapan?."
"kemaren lusa tepatnya"
" apa mungkin karena nona Sha tidak ada kabar ini ya?"
" jadi,, dua hari ini nona Sha tidak ada kabar sama sekali, ponselnya dilacak berada di apartemen. tapi kata Dodi setelah di samperi kesana tidak ada orang, begitupun kakaknya juga tidak ada. dicek dikantor kakaknya juga tidak hadir dalam dua hari ini. kapten Yohan juga tidak bisa dihubungi"
"apakah kejadian dua tahun lalu akan terjadi lagi?" tanya Eri cemas
Natan terdiam, dia merasa bersalah telah menyembunyikan kebenaran tentang Sila. Sebenarnya dia hanya ingin Sila sendiri yang membuka penyamarannya.
" aku pikir, Tama sudah mulai mencoba membuka diri pada orang lain dan pilihan itu jatuh pada nona Sha. aku pikir nona Sha menanggapi ketertarikan Tama meskipun dia pernah kandas dalam pernikahannya juga. mengapa semua ini terulang lagi.
aku merasa beruntung, meskipun belum menemukan pasanganku, setidaknya aku tidak semenderita Tama. Hatinya pasti lebih hancur lagi.hhhhhh"
Eri mendesah panjang memikirkan bos muda dengan kisah cintanya yang menyakitkan
hhhhhh
Natan pun sama sama menghela nafas panjang.
mobilnya telah melaju menapaki halaman rumah megah kediaman Wijaya. Didepannya nampak mobil Dodi juga baru saja datang
" Dodi juga disini?" gumam Natan. Eri menoleh kearahnya, sejenak keduanya saling tatap penasaran.
Dodi keluar mobil bersama nyonya Wijaya. Dia dan Eri juga turun. Dari dalam rumah nampak pak Han tergopoh gopoh menghampiri mereka.
" ada apa pak Han" tanya sang nyonya lembut sambil mengulurkan belanjaannya
"tuaan,,,tuan muda marah besar" jawabnya ngos ngosan
" apa yang terjadi?" tanya Natan
"ada nona Sarah datang dan tiba tiba tuan muda teriak teriak marah"
" masih berani perempuan itu datang" gumam Eri
" masalah apa lagi yang dia bawa" umpat Dodi.
__ADS_1
kelima orang itu masuk bersama sama.
Tama menyambut kedatangan mereka dengan amarah. matanya yang merah dan tangannya yang mengepal kuat. Dihampirinya Natan yang baru saja datang. Dia layangkan pukulan demi pukulan ke arah Natan. Natan hanya menghindarinya tanpa melawan.
"brengs*k kau! bajing*n! kurang ajar! sialan! brengs*k!" umpatan terus keluar dari mulutnya seiring pukulannya melayang
Tak seorangpun mencoba menengahi hanya suara sang ibu yang memanggil manggil nya
"Tama,,, Tama,,, ada apa?"
Setelah melayangkan pukulan pukulan yang tanpa hasil,, dia raih kerah kemeja Natan dan di cengkramnya.
Sarah tersenyum menang melihat semua hal itu
,,, bahkan Tama bisa melakukan itu pada Natan yang sudah jelas jelas setia padanya sejak lama, apalagi si jal*ng itu,, ****** kau jal*ng. aku yang akan memiliki Tama, enyahlah kau lac*r,,, batin Sarah dalam senyum liciknya
"kenapa kau diam saja! kenapa kau biarkan aku menderita?! apa ku puas sekarang?!" teriak Tama tanpa jawaban
" katakan dimana dia sekarang katakan padaku dimana dia???" Natan hanya menggeleng pelan
" ada apa? apa yang dimaksud Tama? siapa?" tanya nyonya Wijaya pada suaminya yang dari tadi diam menutup kedua matanya yang mengalir bagai air terjun.
" Sila,," jawabnya lirih dan bergetar. nyonya Wijaya tercekat, tak dapat mengatakan apa apa. begitu pula Eri yang mendengar suara lirih Wijaya.
" jadi selama ini Natan tahu dimana nona Sila, dan dia tak memberi tahu Tama, apa yang sebenarnya Natan inginkan" batin Eri.
Tamparan tamparan lemah Tama mendarat dipipi kanan Natan.
Mata yang tadi merah marah itu kini disapu banjir yang mengalir deras. Natan mendekap punggung gagah dihadapannya, air matanya pun tak bisa ditahannya, mengalir bebas.
Semua penghuni rumah itu tak ada yang tak terbawa arus,, tangis Tama sang tuan muda garang yang selama ini tegar laksana karang mampu menghanyutkan perasaan seisi rumah.
,,, tuan muda yang selama dua tahun belakangan ini tak punya ekspresi, saat ini menangis luluh,,,
Hanya Sarah yang kebingungan disana. Senyum kemenangannya sirna oleh rasa penasaran yang bergolak dalam jiwanya
"ada apa ini? mengapa amarah Tama yang tadinya bisa membakar seluruh rumah kini menjadi banjir tangis haru,, apa yang sebenarnya terjadi,,, siapa Gadis bernama Shakira yang berusaha dia bongkar kedok kebohongannya ini...."
" sejak kapan kamu tahu? sejak kapan kamu mengetahuinya,,," Tanya Tama tanpa meninggalkan bahu Natan. Natan merogoh sakunya dan sedikit mendorong tubuh Tama, ia tunjukkan cincin batu permata pipih biru keunguan itu dihadapan Tama.
"darimana kau dapatkan ini,,, dimana kau menemukannya"
tanya Tama mengambil cincin itu dan terhenyak di sofa.
" ibu menemukannya di bangku belakang mobil Natan., dililit benang, ibu pikir itu punyamu dan ibu titipkan pada Natan"
jawab sang ibu saat melihat cincin yang dipengang putranya, dan ternyata dijari Tama masih melingkar cincin yang sama.
Sarah merasa tak ada hal yang bisa dia tanyakan disana, diapun keluar dengan kesal tanpa seorangpun peduli padanya. Digeretnya pak Han keluar rumah
" katakan padaku,, siapa sebenarnya wanita bernama Sila itu? bukankah dia membohongi keluarga ini? kenapa malah jadi seperti ini?"
pak Han tersenyum senang
"nona Sila adalah istri tuan muda,,"
mata Sarah terbelalak tak percaya, dia shock dan terhuyung kebelakang hingga jatuh terduduk di lantai beton halaman samping rumah.
"is,,, istri???" ia tutup mulutnya yang menganga tak percaya.
"iya nona,,, nona Sila adalah istri tuan muda yang sangat dicintainya,, karena kesalahan tuan muda akhirnya nona Sila pergi. Dan sejak saat itu, tuan muda tidak mau jatuh cinta lagi. Sampai pada akhirnya nona Sha datang,, dan mungkin tuan menyukainya. Tapi sekarang,, berkat nona Sarah tuan muda jadi tahu kalau nona Sha adalah nona Sila, Cinta nya tuan muda"
pak Han menjelaskan dengan hati yang senang.
"tidak mungkin,,,, aku ingin menyingkirkan wanita sialan itu,, tapi malah memberinya jalan masuk. tidak mungkin,, kini aku yang membuang diriku sendiri,, bagaimana bisa?"
" bod*h,,"
"dung*"
"beg*"
"sungguh tidak berguna"
__ADS_1
Sarah mengutuki dirinya sendiri.