
Keesokan harinya Sila memulai pekerjaannya. Dia datang begitu pagi ke kantor Tama. Karena kedatangannya terlalu pagi, kantor masih sepi. Hanya beberapa orang yang sudah datang.
"apa yang harus aku lakukan disini?" gumam Sila. karena dia memang tidak tahu apa sebenarnya tugas dari seorang bodyguard. Ia berjalan menuju ke sebuah kantin di lantai dasar gedung megah itu. Dia memesan segelas teh hangat pada bibi penjaga kantin
"nona pegawai baru? " tanya penjaga kantin
"iya bu.. saya baru masuk hari ini. Gak tau mau ngapain karena pada belum datang." jawab Sila sambil menyeruput teh nya
" memangnya masuk dibidang apa?."
"pengawal bu." jawab Sila. Penjaga kantin itu sedikit tertegun.
"pengawal?. Biasanya pekerjaan itu dilakukan para laki laki. " penjaga kantin itu heran
"iya.. ya berhubung saya butuh uang jadi ya apapun pekerjaannya asalkan baik akan saya ambil" jawab Sila.
"tapi,, nona harus benar benar hati hati kalau menjadi pengawal. karena akbir akhir ini banyak sekali masalah di perusahaan ini." ibu itu memperingatkan Sila
" memang nya ada apa bu?"Sila menjadi penasaran
" akhir akhir ini presdir besar ataupun presdir muda sering mendapat serangan yang tak di duga. ya di jalan, di acara acara tertentu. namanya juga persaingan bisnis." dengan nada lirih ibu kantin itu menceritakan sesuatu pada Sila
"eh maaf. ibu jadi bicara nglantur. itu urusan perusahaan jadi saya sudah tidak bisa menceritakan yang lainnya."lanjut nya. Setelah Sila meneguk habis minumannya dia hendak merogoh ponselnya di saku jaket nya. Namun dari luar terlihat mobil Tama menuju area parkir pribadi di ruang bawah tanah. Di bawah lantai dasar itu memang ada sebuah ruangan yang digunakan sebagai area parkir pribadi para petinggi perusahaan dan para tamu. Sila hanya melihat mobil Tama dan tidak ada mobil Eri. Ia pun menelpon menanyakan keberadaan Eri.
"Tuan Eri anda dimana? saya sudah menunggu di sini dari tadi. sekarang apa yang harus saya kerjakan?." tanya Sila saat telponnya sudah diangkat
"jika Tama datang, masuklah ruangannya. Tanyakan padanya tentang tugasmu hari ini. sekarang aku sedang pergi dengan Tuan besar."
"oh maaf mengganggu"Sila menutup Telponnya
Karena tadi Sila sudah melihat mobil Tama, jadi dia bergegas ke ruangan Tama.
Setelah mengetuk pintu dan mendapat sautan dari dalamm Sila pun masuk
"maaf tuan. tuan Eri bilang saya harus kesini untuk menanyakan pek3rjaan saya." tanya Sila sopan.
"duduklah disana" perintah Tama sambil menunjuk kearah sofa. Ia masuk keruangannya sementara Dodi duduk disalah satu meja kerja di samping kanan
Sila hanya duduk mematung tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tak lama Tama keluar membawa setumpuk foto dan meletakkannya di meja depan Sila.
" dari pada kamu tidak ada kerjaan. pilihkan satu partner yang cocok untukku menghadiri jamuan makan malam nanti"perintah Tama sebelum kembali masuk ke dalam ruangannya.
"baiklah" jawab Sila menahan sesuatu perasaan yang luar biasa. Suaminya memintanya memilihkan satu wanita yang bisa diajak ke jamuan makan.
Dari dalam sana, Tama tak henti hentinya menatap Sila yang dengan wajah yang begitu serius memilah milah foto model yang cantik dan seksi seksi. pembatas ruang itu adalah maca tembus dari satu sisi saja. Tama bisa bebas melihat apapun di luar ruangannya. Namun bila dari luar memang kaca biasa.
"apakah pekerjaan seorang pengawal hanya seperti ini tuan Dodi" tanya Sila memberanika diri. Dodi hanya tersenyum.
"jika memang tidak ada perjalanan Eri dan Natan akan berada di sofa itu untuk tidur." jawab Dodi setelah beberapa waktu
__ADS_1
" untuk masalah foto itu,, mereka tidak pernah memilih dengan serius. hanya mengambilnya acak saja." Dodi yakin betul bahwa Tama sedang mengawasi gerak gerik Sila. Dia pun masuk ke ruang Tama.
"hemmm... benar dugaanku" suara Dodi di sambut tatapan sinis dari bosnya itu
" kelihatannya dia bosan menunggumu memberinya perintah."
Tama tak merespon, matanya masih menuju kearah Sila sementara tangannya memutar mutar bolpoin.
" dan kamu sendiri tidak fokus pada pekerjaanmu" tambah Dodi kemudian keluar. Tama menghela nafas panjang. benar apa yang dikatakan Dodi. Dia benar benar tidak fokus pada pekerjaannya sendiri. Dilihatnya setumpuk dokumaen yang menunggu ditandatangani. Segera diraihnya satu persatu dan segera ditandatanganinya.. tiba tiba ponselnya bergetar dilihatnya di layar tertera nama Monica. Monica adalah salah satu model yang bisa dibilang dekat dengan Tama, karena kerja sama Tama dan Ricard ayahnya Monica. Ricard adalah pengusaha konstruksi yang menangani proyek pembangunan Rumah sakit di kota sebrang. Dan hanya tinggal beberapa hari lagi proyek itu selesai dan akan diresmikan.
" ya mon.. ada apa?"tanya Tama setelah menggeser panel hijau di layar ponselnya
"sayang,, anterin aku belanja.." suara manja itu membuat Tama muak
" kamu kan bisa belanja dengan teman temanmu atau aku suruh seseorang mengawalmu?" jawab Tama
"aku tidak mau.. aku maunya sama kamu" rengeknya
"aku sedang sibuk. tidak ada waktu" sahut Tama kemudian mematikan hpnya. Dia menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya dengan kesal "huh!!"
Karena tidak terima ditolak oleh Tama, Monica pun datang ke kantor untuk menemui Tama. Dia langsung saja masuk ke ruangan Tama. Sila dan Dodi dibuat kaget dengan gebrakan pintu yang dilakukan Monica. Sila berdiri dan bertanya
"anda siapa?" Monica menatapnya tajam
"aku Monia, kekasihnya Tama" jawab Monica lantang
"kekasih?. Mas Tama punya kekasih?. hhh aku sudah mengatakan bahwa aku siap. aku rela jika mas Tama mencari kebahagiaannya. lalu mengapa sekarang sakit?." batin Sila bergemuruh. ingin rasanya dia Marah pada wanita dihadapannya itu. ingin menamparnya menjambaknya dan melemparkannya keluar
"Dia pengawal baruku" jawab Tama
"cuih!, hanya seorang pengawal ternyata."hina Monica.
" kenapa kau kemari?"TanyaTama
"aku ingin belanja dan kamu harus ikut." rengek manja sambil bergelayut dilengan Tama
"untuk apa?" Tama melepaskan rangkulan
"aku ingin makan siang denganmu.."
Tama Diam beberapa saat kemudian mengiyakan keinginan Monica
"cepat aku masih banyak pekerjaan" langkah Tama menjauh meninggalkan mereka. Monica berlari kecil mengikutinya.
Hati Sila merasa sakit. Namun tak dapat berbuat apa apa.
" tidak apa apa. mas Tama bahagia aku juga bahagia" hibur hatinya.
" kenapa kamu masih bengong disini?. "pertanyaan Dodi membuyarkan lamunan Sila.
__ADS_1
"apakah aku harus ikut? jadi obat nyamuk dong?" protes Sila
"lalu siapa yang akan membawa mobil dan menjaga Tuan muda?. itulah tugas pengawal!!. Dengar, jaga tuan muda baik baik. cepat sana ikuti mereka" perintah Dodi sambil mengambil kunci mobil dan melemparkan pada Sila. Dengan sigap Sila menangkapnya dan berlari mengejar Tama dan Monica.
"untungnya kak Yohan dan kak Har sudah mengajarku menyetir"
"kamu sudah punya Sim?." tanya Tama dengan nada yang begitu dingin
"sebenarnya belum. Tapi saya bisa menyetir" jawab Sila yakin
"kamu duduklah dibelakang dengan nya. biar aku yang membawa mobilnya" perintah Tama.
"tapi tuan.. "Sila ragu
"Tama! apa apan kamu ini! untuk apa punya sopir jika kamu sendiri yang nyetir. lagi pula aku tidak mau duduk dengan orang rendahan seperti dia!. " Monica protes
"baiklah kamu duduk didepan" Ucap Tama pada Sila
"aku? duduk didepan? disamping mu mas? ya Tuhan aku senang sekali." batin Sila begitu bahagia, namun dia tak mau menunjukkan itu.
"dan kamu tetap lah disitu!." perintah Tama pada Monica. Dia pun masuk ke mobil dan menyetirnya menuju kesebuah mall besar. Di sepanjang jalan, Sila tak berani berbicara sepetah pun. pandangannya lurus kedepan tak sedikitpun berani melirik apalagi menoleh pada lelaki disampingnya ini. Rasanya jantungnya seperti berdegup lebih kencang dari biasanya.
Sementara Tama, sesekali memperhatikan raut wajah gadis itu
" dia begitu tenang, begitu serius"
Monica merasa ada yang berbeda dari Tama hari itu.
"bisa bisanya Tama sendiri yang membawa mobilnya. perempuan rendahan ini bukankah dia pegawai? bagaimana dia boleh duduk disebelahnya? dan bahkan Tama pun sering memperhatikannya. ini tidak boleh dibiarkan. aku tidak boleh kehilangan Tama. Dia harus menjadi milikku" Monica mulai curiga pada sikap Tama. Dia bertekad akan melakukan apapun untuk mendapatkan Tama.
Sesampainya di tujuan mereka Sila segera keluar dan membukakan pintu untuk Monica.
"kamu tunggu disini saja! " perintah Monica pada Sila. Sila menoleh sejenak kearah Tama. tak ada ekspresi apapun yang bisa dijadika petunjuk oleh Sila. Haruskah dia tinggal dan menunggu di mobil ataukah harus mengikuti mereka masuk? Sila benar benar bingung.
" harusnya kamu tau tugasmu" ucap Tama sambil melangkah meninggalkannya
"harus tau tugasku?. aku tidak diberi tahu apapun bagaimana aku tahu?." gumam Sila lirih. Tapi dia ingat pesan Dodi sebelum berangkat " jaga baik baik tuan muda" itu berarti aku harus mengikutinya kan?. Tapi bagaimana jika dia merasa terganggu dan marah?" Sila menatap bingung kearah dua orang itu berjalan semakin menjauh darinya. Akhirnya dia berjalan ragu mengikuti keduanya dari kejauhan. Ia merogoh ponselnya dan menghubungi Eri.
"ya nona Sha ada apa?"
" tuan Eri, saat ini tuan muda sedang berada di mall bersama kekasihnya. saya bingung apa yang harus saya lakukan. Nona Monica meminta saya menunggu di mobil dan tuan muda hanya mengatakan harusnya saya tau tugas saya. sementara tidak ada seorangpun yang memberitahu apa tugas saya, saya harus bagaimana tuan." tanya Sila pada Eri
"lalu apa yang kamu lakukan sekarang?"
"saya membuntuti mereka dari kejauhan".
" cepatlah!, kamu harus selelu berada di deket tuan muda. Harus benar benar memastikan keamanannya. Siapapun yang memintamu melakukan hal lain jangan hiraukan selagi tuan muda tak menyuruhmu.. mengerti?"
" baik tuan Eri"
__ADS_1
akhirnya Sila tau tugasnya.
"Harus selalu didekat nya, melindunginya dengan baik dari hal hal apapun" dia pun segera berlari mengejar Tama dan Monica