Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
ingin bebas


__ADS_3

Sila diperlakukan sangat baik oleh Aditya. Aditya tahu dia tak mungkin memiliki wanita itu sebagai pendamping hidupnya, tapi tetap disayanginya wanita yang pernah mengisi hatinya untuk pertama kali. Segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya selalu siap dan selalu di persiapkan sebaik mungkin. Seandainya bisa dia ingin menjauhkan Aditama dari wanita ini.


Bahkan Aditya selalu melangkah didepan orang orang Tama dalam pengejaran Ricard. Dia menyembunyikan orang yang menaruh bom di mobil Tama. Meskipun orang suruhan Tama telah mendapatkan rekaman cctv, namun mereka tidak dapat menemukan tersangka. Karena si tersangka beserta keluarganya ditahan sebagai pelayan di villa Aditya.


Adryan datang setelah beberapa lama tak terlihat


"kamu sudah kembali Adryan,, bagaimana perburuanmu"


"kita sudah tidak perlu lagi mengkhawatirkan Ricard tuan."


"maksudmu kamu telah menghabisinya?"


"untuk apa? hal itu akan menimbulkan masalah baru buat kita. Tuhan sendiri yang telah menghukumnya. Karma itu nyata dan sangat cepat"


"apa maksudmu Adryan."


"Ricard dan putrinya mengalami kecelakaan di Brazil. Putrinya mengalami cacat dia harus kehilangan kedua kakinya. Dan Ricard sendiri mengalami kabutaan."


"mungkin itu harga yang setimpal, dari pada kita bawa pulang mereka untuk dipenjara saja. itu sudah lebih adil"


"benar tuanku. apakah kita akan memberitahukan hal ini pada keluarga Wijaya?"


"tidak perlu Adryan"


"tapi mereka tidak akan berhenti tuan, tenaga mereka akan terbuang sia sia. Meskipun Aditama adalah rival bisnis anda. Dia adalah ipar anda juga. Jika Adijaya berkembang lagi maka adik anda ini juga akan sejahtera masa depannya"


"Adryan!! aku bisa memberikan kesejahteraan buat Sila. Aku, Aditya Manggala juga bisa memberikan apapun yang sibutuhkan Sila. Tidak perlu Tama."


"Tuan,, maaf. Tapi bagaimana dengan perasaan nona Sila. Apakah tuan pernah memikirkannya?"


"Dia tidak ingat apa apa. kita buat dia melupakan Tama. Kita buat hidupnya bahagia bersama kita. Kita bawa dia ke Amsterdam Adryan,,, bagaimana?"


Adryan hanya bisa terdiam melihat betapa Aditya tak bisa melepaskan Sila. Dia merasa teramat kasihan, Sila adalah cinta pertama tuannya. Tapi takdir menjadikan mereka saudara.


Sila yang mendengar rwncana Aditya merasa khawatir. Dia tidak mau dibawa ke luar negri. Dia berusaha menemui Adryan saat Aditya tidak berada ditempat. Namun, Adryan tak pernah terlihat saat Aditya tidak dirumah.


Hingga di suatu hari, Sila duduk santai di taman depan. Dia melihat Adryan datang, Sila segera bergegas menghampirinya.


"Adryan!" panggil Sila saat Adryan turun dari mobil


"eh,, iya non. butuh bantuan Adryan?"


"bilang sama si tampan aku tidak mau keluar negri" Adryan kaget.


"apakah tuan ada bilang mau bawa nona keluar negri? "


" aku dengar para pelayan bilang kita mau pindah keluar negri. aku gak mau"


Adryan tersenyum.


"pelayan salah dengar nona,, tuan berencana memindahkan pelayan dan suaminya tukang kebun itu kekediaman yang di luar negri"


,, ternyata Adryan membohongiku. Aku dengar sendiri kalian bicara, dan sengaja aku bilang dengar dari pembantu juga,,, batin Sila


"oh begitu,, ya sudah kalau begitu. bilang saja pada sitampan aku ingin jalan jalan ke mall. Aku ingin belanja buanyak baju pokoknya aku ingin menghabiskan uang sitampan hari ini juga"


" nona bilang saja sendiri pada tuan. Tuan pasti mengizinkan dan menemani nona saat dia senggang"


"ah,, kapan sitampan punya waktu senggang. Dia sibuk terus dan tak pernah mengizinkanku keluar. aku sebel sama kalian"


"Adryan!! kenapa masih disitu kemarilah cepat!" panggil Aditya.

__ADS_1


"nona,, tuan memanggil saya, saya mohon pamit"


"jangan lupa katakan pada sitampan apa yang aku bilang tadi"


"takutnya saya tidak bisa nona."


"awas jika kamu tidak mengatakannya. aku akan pergi sendiri dan akan mengacak acak semua toko yang ada."


"baiklah saya usahakan nona"


"aku tunggu. pokoknya hari ini harus bisa"


"Adryan!!! cepatlah" panggil Aditya sekali lagi membuat Adryan berlari tergesa gesa


Sesampai diruang kerja Aditya


"apa yang kamu bicarakan begitu lama dengan Sila. jangan jangan kamu mengatakan kalau kita akan membawanya keluar naegri."


"saya tidak berani tuan. Nona hanya bilang ingin belanja hari ini. Nona bilang ingin menghabiskan uang tuan hari ini juga."


Aditya tersenyum senang. Akhirnya hari ini Sila memiliki kemauan,


"dia berkata seperti itu?"


"ya tuan. Nona bilang hari ini ingin membeli bajunya sendiri"


"baiklah. kita belanja hari ini Adryan. kita ikuti kemauan kesayanganku"


"tapi tuan,, hari ini ada jadwal kita bertemu notaris untuk tanda tangan pengalihan nama perusahaan tekstil kepada nona. jika kita tidak dapat datang hari ini, kita harus menunggu satu atau dua minggu lagi. karena notaris ada jadwal keluar kota dalam waktu dekat."


"lalu belanjanya"


"bagaimana jika terjadi sesuatu"


"tugaskan beberapa pengawal mengikuti mereka"


"okelah. kita bisa menemaninya belanja lain waktu"


"baik tuan"


Aditya menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya


"Adryan, kapan kita mendapatkan jadwal penerbangan"


"oh iya saya hampir lupa. besok lusa tuan"


"baiklah,, sekarang kita berangkat, temui notaris."


"siap tuan"


Kedua orang itu keluar dari ruangan dan berjalan tegap menuju mobil. Sila menghadang dengan berkacak pinggang


"kemana kalian mau pergi? "


"kami ada urusan penting sayang,,"


" heh kamu Adryan! " panggil Sila sambil menunjuk kearah lelaki yang selelu setia menemani pria tampannya


"saya nona" jawab lelaki itu sambil menunduk


" bukankah tadi sudah kubilang aku mau belanja! apa kamu tidak sampaikan pada pria tampan ini?"

__ADS_1


"sudah nona,, tapi hari ini tuan tampan anda sedang sibuk, tidak bisa menemani anda belanja"


"aku tidak peduli. Setiap saat dia memanggilku sayang, tapi dia tidak mementingkan aku. sayang dari mananya."


"jangan begitu,,, jangan marah marah, bahkan kamu aku peluk saja tidak mau"


"buktikan dulu kamu beneran sayang ma aku. akan aku biarkan kamu memelukku sampai puas"


Aditya tersenyum, dan mendekat.


"sini aku peluk dulu baru boleh belanja sama An."


"benarkah?" Sila girang mendapat janji dari lelaki tampannya


"tuan,,," bisik Adryan.


Aditya hanya melirik dan memeluk erat tubuh Sila yang begitu diidamkannya. Seolah tak ingin lagi dia melepaskannya.


"sudah sudah. sini beri aku uang buat belanja."


Aditya mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna perak dan menyerahkan kepada Sila.


"Anton!!" Panggil Aditya pada seorang pengawal yang sejak tadi mengawasi Sila


"ya tuan,,"


"beri tahu An untuk menemani nona belanja. dan kamu bawa dua orang untuk mengawal mereka"


"siap tuan"


"kenapa harus dikawal."


"agar kalian aman. kamu adalah kesayangan Manggala, jadi kamu harus selalu aman"


"baiklah baiklah. sana pergi!"


Aditya dan Adryan masuk ke mobil dan meninggalkan pekarangan vila mewah itu.


"Adryan,, apakah orang amnesia itu benar benar menunjukkan sifat aslinya atau dia mendapatkan karakter baru?"


"memangnya kenapa tuan"


"jika memang sifat aslinya. aku penasaran bagaimana Tama menghadapinya setiap hari dengan karakter yang meledak ledak seperti itu."


Aditya tersenyum geli


"kenapa tuan tersenyum seperti itu?".


" hanya membayangkan bagaimana Tama yang arogan dan dingin tunduk pada seorang wanita."


"Tama pasti punya cara jitu untuk menaklukkannya tuan. biar bagaimana pun mereka suami istri. Tama pasti punya rahasia untuk menaklukkan istrinya."


"hhh meskipun aku benci mendengarnya, tapi kamu benar. Saat menghadapi emosinya yang selalu melawan, ingin rasanya aku gendong dan ku lempar kekasur. aku benar benar gemas.hhhh"


,,,, hatiku benar benar sakit saat membayangkannya"


Aditya hanya bisa memejamkan mata dan menghela nafas panjang


,,,,,oh tuanku,,, kasihan amat nasibmu,,,,


Batin Adryan

__ADS_1


__ADS_2