
Tiga jam Natan berhasil lelap dalam tidurnya. waktu menunjukkan pukul 9 saat Natan membuka mata. Diraih ponsel di meja samping ranjangnya. Masih tidak ada kabar dari Eri. Dia mencoba menghubunginya, berulang kali, namun tetap tak dapat tersambung
"dimana anak itu? apa yang terjadi?"
*
Dirumah sakit
Tama bangun dari tidurnya yang nyenyak dan melirik jam dinding di kamar itu pukul 9. Diraihnya jas yang menggantung di ujung ranjang dan dirogoh sakunya mencari ponsel.
" Nona Sha jika sudah bangun tolong datang kerumah sakit" sebuah pesan terkirim kepada Sila.
" siap tuan." tak disangka pesan itu langsung dijawab. ternyata gadis itu sudah bangun. gumam Tama.
hanya berselang waktu setengah jam. Sila sudah mencul di rumah sakit.
Suasana antara keduanya sangat canggung.
"ternyata tak semudah mengetik pesan dan mengirimnya". gumam Tama.
"apa tuan akan ke kantor?" Sila memulai pembicaraan.
" eh iya. ada bebearapa hal yang harus aku tangani." jawab Tama meraih jasnya
"tolong jaga ayah." ucapnya lagi dan pergi begitu saja
Tiba tiba ponsel Sila berbunyi. Natan yang menghubungi.
"nona Sha, apa Eri menghubungimu?"
"tidak tuan, ada apa?"
" sejak tadi malam tidak ada kabar dari Eri. aku mulai khawatir"
Sila terdiam.
"baiklah aku akan mencarinya di kediaman Wijaya."
"ya tuan" kemana tuan Eri sebenarnya. perasaanku jadi tidak enak." gumam Sila.
"telpon dari siapa nak?". tanya Wijaya.
"dari tuan Natan, menanyakan keberadaan Tuan Eri".
Satu jam setelah Natan menghubunginya, dan tak ada kabar lagi Sila menghubungi Natan balik.
" bagaimana tuan?. sudah ada kabar?"
"belum. nomornya tidak aktif juga. anak ini tidak biasanya seperti ini. aku jadi khawatir. kamu dimana nona Sha".
"saya dirumah sakit."
"baguslah jika ada yang merawat tuan besar" ucap Natan memutuskan sambungan telponnya.
"jika ponselnya tidak aktif bagaimana bisa dilacak" gumam Sila.
Sila menoleh kearah Wijaya yang sedang bekerja dari ranjang pasien menggunakan laptopnya.
"tuan besar,," panggil Sila ragu
" ya, nak. ada apa?" Wijaya bertanya dengan lembut
"em,, waktu saya bergabung kerja, tuan Dodi memberikan saya ponsel dengan kartu nomor operator yang sama dengan Tuan muda, tuan Natan, tuan Eri dan tuan Dodi. apakah perusahaan tuan muda ada pegang kendali atas perusahaan operator tersebut?" tanya nya hati hati.
Wijaya tersenyum." ya,, perusahaan tama punya 20%saham disana, dan perusahaanku juga memegang 32%.. ada apa?"
" jika begitu, apakah anda punya kendali atas operator disana. jika iya. saya minta tolong"
" sudah pasti nak.. memangnya ada apa sih?.
" saya mau minta bantuan pada anda untuk meminta perusahaan itu mengecek signal terakhir dari keberadaan tuan Eri." Wijaya tertegun
"sebenarnya apa yang terjadi?." Wijaya penasaran
__ADS_1
"tidak tahu tuan,, tapi tuan Natan bilang, sejak mengantar nona Sarah semalem tuan Eri tidak menghubunginya sama sekali dan juga sampai jam segini belum muncul juga"
Wijaya diam sejenak. Dia menghungi seseorang.
"lakukan satu hal buatku,,, lacak signal terakhir nomer Eri secepatnya. hasil ditunggu secepatnya" dia menutup telponnya.
" nak kemarilah" panggil Wijaya sambil menutup laptop nya.
"ya tuan"Sila mendekat dan duduk disamping rajang pasien
"maafkan aku, aku pernah berburuk sangka padamu. sungguh aku minta maaf" ucap Wijaya memautkan jemari nya diatas pangkuan.
Sila tersenyum "sudahlah tuan, tuan besar tidak perlu minta maaf. Saya tidak merasa dirugikan pun"
"maukah kamu memanggilku ayah?"
Deg, jantung Sila serasa berhenti berdetak untuk sekian detik. Diam terpaku.
"dulu, aku pernah punya seorang menantu secantik kamu. tapi karena,,," belum sempat Wijaya meneruskan kalimat, ponselnya berdering.
"bagaimana ,, baiklah" ia menutup telponnya dan membuka laptop dipangkuannya
"mereka sudah mendapatkan lokasi terakhir dari ponsel Eri dan mengirim lokasinya ke email" Wijaya terdiam sejenak.
"dimana tuan?"Sila seolah tidak sabar.
tok tok tok
pintu ruangan diketuk beberapa kali dan terbuka. Sila dan Wijaya mengalihkan pandangan ke pintu. Nampak Arya datang dan Yohan berada dibelakangnya.
"kak Arya? kok bisa barengan sama kak Yohan?" tanya Sila berjalan mendekat dan memeluk Yohan sekilas. Arya tersenyum haru melihat gadis itu berada disana.
"iya. tidak sengaja bertemu di parkiran" jawab Yohan
"tuan Natan kemana kak Arya?"
" dia pergi ke kantor. Tuan muda memanggilnya tadi" jawab Arya tak ingin melepaskan pandangannya serasa ingin memeluk gadis yang dulu belum sempat dikenalnya itu
"bagaimana kabar anda tuan besar?"tanya Arya.
"sudah semakin baik Ar"
"kelihatannya hubungan kapten Yohan dan nak Shakira lumayan intim ya?" lanjut Wijaya.
Yohan teraenyum begitupun Sila terlihat begitu manja kepada Yohan
"dan yang semalam?" Wijaya tak melanjutkan
"yang diajak kakak kepesta semalam adalah tunangannya, namanya Kak Kirana" jawab Sila masih dalam senyumnya.
Wijaya kembali pada laptopnya.
"ini nak lokasi terakhir signal dari ponsel Eri." Wijaya memutar laptop kearah Sila dan Yohan.
"apa yang terjadi?" tanya Yohan
"dari semalam Eri tidak ada kabar. kata mas Natan sejak dia mengantar Sarah dai mengirim sebuah pesan suara yang berisi rekaman. setelah itu sampai saat ini belum ada kabar apapun." Arya menjelaskan.
"rekaman apa kak?" Sila penasaran
"kakak juga tidak tahu."
"ini di kawasan perumahan xxx." kata Yohan setelah mengamati titik signal.
"sarah tinggal disana" lanjut Wijaya
"jangan jangan,,, kakak" Sila menatal serius kearah kakaknya. Yohan mengangguk
"saudari Arya, mohon anda tetap disini. Kami akan kesana menyelidiki. Ayo sayang,," kata Yohan bergegas
"tunggu!" cegah Wijaya
"Dia perempuan, bagaimana kapten mau mengajaknya? Sarah adalah adik dari pengusaha kaya bernama Aditya manggala. Dirumah itu pengawalnya banyak"
__ADS_1
Ya Aditya manggala adalah saingan bisnis Aditama. Dia juga termasuk orang yang berpengaruh dalam dunia bisnis. Terkenal kejam dan tanpa ampun, sama halnya Aditama.
Yohan tersenyum saat mendengar Wijaya seolah menyepelakan seorang perempuan
"anda tidak perlu khawatir. Lebih baik saya mengajak dia seorang dari pada 10 orang dari pengawal perusahaan anda" jawaban Yohan mampu membuat Wijaya bungkam. Dia teringat bagaimana Tama menyalahkannya semalam karena mencegah gadis itu datang kepesta.
"baiklah. Kapten lebih tahu yang terbaik" jawabnya kemudian
" kami pamit" ucap Sila sambil berjalan cepat mengikuti kakaknya
*
Sementara dikantor
"Tan apakah sudah ada kabar dari Eri?"
"belum. aku sudah menyuruh orang orang ku untuk menyelidiki kediaman Sarah"
"sebenarnya apa yang terjadi pada anak itu?" Tama cemas.
"hhh. jangan terlalu cemas, yakinlah tidak akan terjadi apa apa pada Eri" hibur Natan. padahal dia sendiri merasa khawatir.
"oh ya,, semalem ada sesuatu yang indah kayah nya" Natan mencoba mengalihkan perhatian Tama.
"apa?" tanya Tama tersenyum penuh arti
"entahlah,, yang aku lihat sih,, bosku yang keren dan dingin pulang dalam keadaan mabuk" goda Natan
"eh siapa yang mabuk?" Tama mulai geram
"mabuk kepayang maksudku,,"
"ck. Ngaco omonganmu itu" Tama menghindari tatapan selidik Natan
" Ngaco apanya. kalau aku perhatikan,, semalem pasti ada ******n bebas hahaha. jangan pikir aku tidak tahu"
"dasar sialan. bukannya kamu sudah menhancurkan kenikmatan ku semalem. pakai ngeledek lagi" sergah Tama.
"hah! jadi hal itu beneran? bener bener hebat gadis itu. tuan mudaku yang selama ini jijik sama cewek cantik,,, eeee, bisa dilumat sama pengawalnya hahahah" Natan benar benar tertawa.
"brengs*k kau!" Tama begitu kesal karena merasa di jebak oleh ledekan Natan.
Tiba tiba ponsel Natan berdering
"ya bagaimana? baiklah aku mengerti, tetap awasi dan cari tau info apapun tentang rumah itu dan penghuninya."
"kabar apa?"
"orangku melihat mobil Eri ada dirumah Sarah pagi tadi, tapi saat ini sudah tidak terlihat lagi pasti sudah di sembunyikan."
"bagaimana mungkin anak itu terlibat masalah" terlihat lagi raut kecemasan dari kedua sahabat Eri ini.
ponsel Natan berdering kembali. Kali ini dari Arya istrinya
"ada apa sayang,,,"
"mas. aku ada dirumah sakit saat ini."
"apa kamu sakit?"
"tidak tidak. aku sedang menggantikan nona Sha."
"kemana dia?"
"dia dibawa kapten Yohan untuk menyelidiki rumah Sarah. Karena tadi nona Sha meminta tuan besar melacak signal terakhir dari ponsel Eri dan di temukan dirumah Sarah."
"oh bersama kapten Yohan?"
"ya.. mas, apa benar kita tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan nona Sha, sedangkan kita tahu,,," Arya menggantung kata katanya
"jika kapten Yohan sendiri yang membawanya kita tidak perlu khawatir. Mas tau betul kemampuan bela diri nya." Natan mencoba menenangkan Arya
"baiklah kalau begitu. aku merasa sedikit tenang"
__ADS_1