Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
setuju


__ADS_3

"Er!!. Ini sudah lebih dari sehari waktu yang aku berikan padamu. Mana dia?." Tama terlihat begitu tidak sabar


"kamu pikir kamu menyuruhku membawa patung atau boneka? yang sekali bilang langsung bisa aku angkut dan bawa kehadapanmu?." jawab Eri tenang.


Dodi dan Natan tak menanggapi obrolan kedua temannya, keduanya fokus pad kerja mereka masing masing. Eri memutar mutar ponsel dalam tangannya dan sesekali menatap layarnya. Sementara Tama terlihat begitu gelisah seolah olah menunggu sesuatu yang begitu lama dirindukannya.


"bisa kah kau realistis?. Dia perlu waktu untuk berfikir. apalagi kita begitu mendadak." lanjut Eri.


"Natan sudahkah kau mendapatkan datanya?" Eri berpaling pada Natan.


"sebentar lagi " jawab Natan tanpa menoleh.


Tama beranjak dan masuk kedalam ruangannya sendiri. Ketiga sahabatnya itu hanya saling menatap.


"ini,, sudah aku dapatkan data dirinya." kata Natan sembari memutar laptopnya menghadap Eri dan Dodi.


" Shakira,, Lahir di kota T,, usia 20th,, dan kembali dari luar negri satu setengah tahun yang lalu. ayah ibu kakak laki laki." Didi membaca yang tertera di layar itu


"itu berarti dia punya keluarga yang mungkin tidak diragukan. Tapi bagaimana bisa wajahnya begitu mirip dengan Nona Sila?. hanya saja postur tubuhnya." Dodi tak melanjutkan ucapannya.


"mereka bukan orang yang sama. hanya kebetulan saja memiliki wajah yang mirip" Lanjut Eri

__ADS_1


"jika dibandingkan


nona Sila dengan postur tubuh gemuk mungkin bisa diet, tapi dalam waktu satu setengah tahun,, perlu upaya keras dan pasti menyiksa.. dengan karakternya yang sedikit manja mungkin tak akan sanggup.


nona Sila dengan wajahnya yang imut kekanak kanakan dengan Shakira yang terlihat begitu serius, tenang dan pembawaan nya yang penuh wibawa.


Mata yang sama. Namun dimata nona Sila selalu terpancar kilau keceriaan sedikit menyipit dan penuh kegembiraan sementara Shakira ini tatapannya yang begitu tajam angkuh dan penuh misteri sangat berbanding terbalik. melihat bentuk bibir keduanya memang sama, tapi nona Sila tak pernah lepas dari senyuman hangatnya sementara Shakira hanya terlihat senyum ramahnya sesekali saja. tak juga banyak bicara." Eri membandingkan keduanya karena hanya dia yang pernah bertemu Shakira.


" apakah bisa kita samakan dengan perubahan Tama?. Tama yang dulu pemuda yang ramah hangat, dan penuh kasih pada orang orang disekitarnya. lihat sekarang. Dia begitu dingin, angkuh dan keras pada siapapun termasuk dirinya sendiri." timpal Natan.


"bukankah Tama dari dulu memang seperti itu?. sombong dan egois?." tanya Eri


"setidaknya dulu dia sangat hangat pada keluarganya dan kita. tidak pernah terlibat perseteruan bisnis dan lainnya. Tidak pernah pula terlibat skandal dengan para model. Dan sekarang?.. begitu banyak persaingan dalam bisnis, berita skandal bergantian menyudutkannya, dan sama sekali tak pernah diklarifikasi." Dodi mengingat perjalanannya hidupnya bersama Sahabat sekaligus Bosnya itu


Ponsel Eri bergetar, nomor tak dikenal menghubunginya


"halo siapa? " tanya Eri mengangkat telfon


"tuan Eri ini saya, Shakira. " jawab dari sebrang. Eri tersenyum menantikan sesuatu yang menggembirakan. dia menekan gambar spiker di ponselnya dan meletakkan di meja,


"iya nona Sha, bagaimana keputusan nona?. kami mengharapkan kabar baik" lanjut Eri

__ADS_1


" saya sudah fikirkan dan rundingkan dengan keluarga. dan saya memutuskan untuk menerima tawaran tuan Eri. mohon bimbingannya." suara perempuan di sebrang terdengar begitu profesional dan tegas.


"terima kasih nona Sha,, semogankita bisa bekerja sama dengan baik. nona,, bisakah nona Sha datang langsung ke kantor?. karena Direktur ingin bertemu langsung dengan nona Sha" lanjut Eri


sejenak tak ada jawaban. setelah beberapa detik


"baiklah saya akan datang." jawab Sila. Tanpa banyak bicara lagi mereka mengakhiri percakapan. Ketiga sahabat Tama ini saling pandang dan melepas senyum puas.


"akhirnya tugasku selesai!! hhhh!!" Eri menghela nafas panjang.


Entah apa yang dilakukan Tama dalam ruangannya. Eri berjalan menuju ke ruangan bos nya itu. saat dia membuka pintunya, terlihat Tama sedang berdiri mematung dengan tangan terlipat di dadanya berada didekat dinding kaca menatap jauh keluar gedung. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Dia bahkan tak menoleh sedikitpun saat Eri membuka pintu dan masuk.


"apa yang kau pikirkan?" tanya Eri saat sudah berada di dekatnya.


"tidak ada." jawab Tama singkat


" nona Shakira sudah menyetujui tawaran kita. aku sudah memintanya untuk datang menemuimu." Eri menyampaikan. Namun tak ada ekspresi apapun yang dapat dilihatnya dari wajah Tama. Tak ada senyum, tak ada binar mata yang bisa diartikan sesuatu. Datar. Tak ada raut harapan yang dilihatnya beberapa saat yang lalu saat menanyakan tentang usahanya membawa Shakira.


"apa kau tidak senang?"tanya Eri


"senang untuk apa?. kau mendapatkan seseorang yang tangguh?. itu adalah syarat untuk menjadi pengawal pribadi. kita bisa mendapatkan siapapun yang memang berkompeten" jawab Tama. Eri tak mau membahasnya lebih lanjut. Dia pun keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"bagaimana reaksinya?" tanya Natan setelah melihat Sahabat nya ini keluar dan mendekat padanya dan Dodi


"ekpresi apa yang kalian harapkan?. bahkan seolah ini adalah tidak penting." jawab Eri sedikit kesal. Dodi dan Natan saling pandang.


__ADS_2