Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
menawar


__ADS_3

Dimalam yang semakin sunyi dan dingin, Sila terbangun dan keluar kamar menuju dapur. Ia hendak mengambil air minum. Dari balik jendela Sila melihat seseorang melintas.


"siapa disana! " teriaknya. Tak ada jawaban taapi ia yakin diluar ada orang. Sila meningkatkan kewaspadaan nya ia mengingat setiap pesan Yohan. Tidak mudah menjadi pengawal keluarga Wijaya. Sila berjalan menuju ruang tengah ia tak berniat kembali ke kamar. Entah dari mana datangnya ada 6 orang yang tiba tiba berada dihadapan Sila.


"Dari mana kalian masuk?" tanya Sila


"Dari mana pun itu tidak penting. Tugas kami hanya untuk menghabisimu" jawab satu dari mereka


"eh,,, aku disini bekerja sebagai pengawal untuk menjaga tuanku,, kok malah aku yang jadi sasaran pembunuhan. apakah ini lelucon?. " gumam Sila.


"atau,,, kami punya penawaran. kau ikut kami dan bersenang senang gadis cantik,, sayang kalau harus mati sia sia.." kata yang lain


"kami akan memperlakukanmu dengan baik,," timpal yang lain lagi.


"ikut kalian?. kalian yakin mampu mengatasiku?. dan memperlakukanku dengan baik,,," tantang Sila dengan menyilangkan kedua lengannya di dada


"Bah!!jangan meremehkan kami gadis cantik..." salah seorang marah.


"oh,, benarkah? tapi aku ragu pada kemampuan kalian,," ejek Sila yang membuat mereka murka dan menyerangnya membabi buta.


" tunggu ,,tunggu" ucap Sila sambil meloncat mundur.


"apa kau berubah pikiran gadis cantik?."


"ya,, aku berubah pikiran. bagaimana kalau kita lakukan di belakang saja.. em disini terlalu terang. Dan bagaimana kalau tuanku dan kedua pengawalnya bangun?. kalian pasti habis" ucap Sila memberi saran.


"hm.. baiklah. kita cari tempat di belakang."jawab salah satu


"baiklah,, tapi kalian jangan berebut ya?. harus gantian." goda Sila. Dia pun dengan waspada berjalan keluar rumah menuju halaman belakang. Diikuti ke enam brandalan itu. Eri yang sedari tadi menguping dari balik pintu kamarnya pun mengikuti mereka setelah membangunkan Natan dengan panggilan ponselnya. Sesampainya dihalaman belakang Sila berhenti ditempat yang gelap.

__ADS_1


"oh,, nona cantik lebih suka yang gelap gelapan rupanya. "


"mari cantik,, layani kami. jika kami puas kami akan membawamu ketempat kami dan kita lanjutkan bersenang senang." tambah yang lainnya


"iya abang,,, aku suka yang gelap gelap" suara Sila mendesah menggoda


"agar kalian tidak terlalu menyesal telah datang mencariku!!!" tiba tiba Sila berteriak marah dan langsung menghajar ke enam orang tersebut hingga babak belur.


'katakan siapa yang menyuruh kalian!" bentaknya


"Mo , monica" jawab salah satu dari mereka sambil lari tunggang langgang.


"Dan kalian berdua dengan tidak tahu malu mengintip seorang gadis berkelahi sendirian?. Tanpa memberikan bantuan sedikitpun? " hardik Tama pada Natan dan Eri yang hanya menyaksikan perkelahian yang tak seimbang jumlah itu.


Sila menghampiri ketiganya.


"tidak perlu khawatir tuan. saya bisa mengatasinya."ucap Sila sambil berjalan mengikuti ketiganya masuk ke rumah.


"tidak tuan,, saya tidak apa apa." jawab Sila sambil tersenyum manis.


Sesampainya diruang tengah, Sila Natan dan Eri duduk disofa. Tama yang tadinya mampir kedapur pun juga sampai dengan membawakan segelas air putih untuk Sila. Natan dan Eri saling pandang dan menyembunyikan tawa mereka.


"hahahahha seorang pengawal malah menjadi target."tiba tiba Eri tertawa lepas.


"siapa mereka. mengapa mengincarmu?" tanya Tama


"ah bukan siapa siapa. mereka hanya tertarik untuk menggodaku saja" jawab Sila dengan nada menggoda. Tama semakin kesal dibuatnya.


Mereka akhirnya terjaga sampai pagi, Sila pergi kedapur dan memasak bahan makanan yang tersedia di lemari pendingin.

__ADS_1


"sejak ikut kak Har pulang, aku bahkan belum pernah masak." gumam Sila. Ia pun memasak makanan kesukaannya. kebetulan di lemari itu banyak persediaan telur dan ayam serta sayur sayuran. ya telur dan ayam adalah menu favoritnya begitu pula menjad favorit Tama.


"wah,, nona Sha kamu pandai memasak juga ya. ini semua makanan favorit Tama." puji Natan


"wah benarkah?. sebenarnya saya memasak ini karena saya suka menu dari telur dan ayam. saya tidak tahu kesukaan kalian jadi,," jawab Sila


"wah nona Sha juga favorit masakan telur dan ayam?. kalau begitu cocok dong sama Tuan muda kita." goda Eri sambil menyiku lengan Tama.. Justru Tama merasa tidak senang. Dia beranjak dari tempat itu dengan wajah muram.


Tama berjalan keluar dan menuju ke sebuah tanah lapang dihalaman villa tersebut. menghadap kearah matahari terbit menutup mata dan menyambut hangat sang mentari pagi. Entah sejak kapan Natan berada disampingnya.


"apalagi ysng membuatmu tidak senang?." tanya Natan


"mengapa kebiasaannya sangat mirip Sila juga. makanan kesukaannya, warna favoritnya, senyumnya." jawab Tama


"jadi lebih mudah untuk mencintainya kan?"


"ini akan menjadi tidak adil. aku mencintai istriku dan menjadikannya sebagai pengganti karena segala sesuatu yang kebetulan sama."


Hening. Natan pun tak menjawab


"bagaimana jika dia benar benar Sila yang telah hilang dulu?" tanya Natan


"apa maksudmu?. apakah kau mendapatkan suatu petunjuk"


"tidak!. hanya bertanya saja. siapa tahu dengan begitu banyak kebetulan."


"hhhh" Tama mendesah panjang


"mungkin dia lupa ingatan?" kata Natan yang membuat Tama tertarik

__ADS_1


"amnesia?"


"hm.. terkadang ada kasus seseorang yang lupa pada suatu kejadian atau sesuatu yang menyakitkan atau hal hal tertentu"


__ADS_2