
Akhirnya telah diputuskan Sila ikut Har kembali ke kota dan ikut tinggal di apartemen Har.
" kakak akan pesan makanan istirahatlah nanti aku panggil jika makanannya datang. kamu kekamar yng belakang saja." ujar Har sambil meletakkan barang2 yang dibawanya dari rumah ibunya.
"oke!" jawab Sila girang dan berlari kekamar yang ditunjukkan Har. Memang kamar itu tidak begitu besar tapi lumayan rapi. Sila pergi mandi dan berganti pakaian. Mereka makan setelah makanan yang dipesan sudah datang.
"apa rencanamu sekarang?" tanya Har membuka pembicaraan
"hmm.. aku akan mencari kerja. aku akan mencari waktu untuk melihat kaluargaku."jawab Sila sambil mengunyah makanannya
"baiklah. kemana kamu akan cari kerja?"lanjut Har
"sebelumnya aku adalah tukang bersih bersih di tempat fitnes kak Yohan. mungkin cari pekerjaan yang seprofesi itu g masalah"
"kamu tidak ingin bekerja di kantor?" Har mencoba menarik perhatian Sila
"kantor?. ijazahku cuma lulusan sma. lagipula itu jg tertinggal dirumah"
"ya sudah terserah kamulah." suara Har menghentikan percakapan
Seiring waktu yang terus berjalan Sila pun mendapatkan pekerjaan. walau hanya sebagai ofice girl di sebuah Club Gym terbesar di kota itu. Sesekali waktu Sila mengajak Har jalan jalan lewat depan rumah Ayah Rudi. Walaupun Har tidak tahu akan hal itu, namun ia hanya mengiyakan ajakan adiknya untuk jalan jalan saat tidak bekerja.
Pada satu pagi, seperti biasa Sila berangkat bekerja dengan jalan kaki sambil jogging. Dia memakai jaket hoody dan menutup kepalanya. Setelah melewati sebuah pasar yang ramai dia mendengar suara perempuan berteriak "jambret" dan beberapa orang yang ribut mengejar jambret tersebut. Sila menghentikan larinya namun masih tetap berjalan santai dengan tangan masih berada dalam kedua saku jaketnya. Dengan pendengaran yang teliti dia memperkirakan lari nya jambret tersebut akan lari menyalipnya. Dan tepat saat jambret tersebut berada di sampingnya, dengan gesit tangan kanannya keluar saku dan langsung menarik bagian belakang baju jambret itu dan menghempaskannya ke belakang hingga terguling beberapa kali. Maka para orang orang yang mengejarnya bisa mendapatkannya dengan mudah. Setelah sedikit melirik dan yakin jambret itu sudah diatasi, Sila pun kembali berlari kecil menyusuri jalan menuju tempatnya bekerja. Tanpa di sadari oleh nya ada sepesang mata yang melihatnya kagum dari kejauhan.
Saat pulang kerja, Sila tak pernah memakai jaketnya. Dia selalu melipat dan memasukkannya jaketnya kedalam tas kecilnya.
"hhh ternyata beladiri yang di ajarkan kak Yohan ada gunanya juga." kata Sila sambil mengunyah makanan yang di bawakan Har saat pulang kerja
"apa ada suatu masalah?" tanya Har penasaran
" ya.. tadi ada jambret di pasar. aku menjatuhkannya" jawab Sila antusias.
"kamu harus hati hati. Di kota ini sangat banyak kejahatan. hari ini kamu mengalahkan satu jambret, mungkin diwaktu lain teman temannya akan mencarimu." tutur Har khawatir.
__ADS_1
"kak Har jangan khawatir, jambret itu tidak melihatku kok. aku tidak melepas hoodyku. aku juga tidak berhenti. jadi dia tidak melihat wajahku"
"kalau begitu beberapa hari ke depan jangan pakai hoody lagi." saran Har.
"baiklahhh"jawab Sila manja
"apa kamu ada rwncana kapan menemui keluargamu?" tanya Har sambil meletakkan sendok dipiring. Sila tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya
Beberapa hari setelah kejadian jambret itu, Sila pergi berangkat bekerja numpang kakaknya, yang memang satu arah.
"kak. hari ini Sila mau berangkat sendiri, sambil jogging. beberapa hari nebeng kakak terus aku jadi g olahraga." Sila mengutarakan keinginannya sambil memakai jaketnya
"tapi haruskah kamu pakai jaketmu lagi?. bagaimana jika ..." Har tak meneruskan ucapannya.
" sudah beberapa hari juga,, pasti sudah aman" bela Sila
"hhh baiklah. tapi kamu harus hati hati. jangan cari masalah" Har akhirnya mengalah dan mengiyakan keinginan adiknya itu
"terima kasih kakak.." Sila merangkul dan bergelayut di kedua bahu kakaknya sehingga membuat Har harus merunduk menahan beban tubuh Sila.
"kan kakak yang ngasih Sila makan setiap hari." senyum manja Sila
" kak.. jika ketemu Sila di jalan panggilnya Shakira ya?." lanjut Sila mengingatkan akan penyamarannya. Sila memang mendaftarkan nama Shakira saat menncari kerja. Jadi orang orang yang kenal Shakira di kota itu memanggilnya dengan nama Shakira.
Benar apa yang dikatakan Har. Tak jauh dari pasar yang harus di lewati Sila ada 6 orang preman sedang menunggunya. Saat melihat Sila sudah dekat para preman itu menghentikannya.
"apakah benar kau yang membuat teman kami dihajar masa?" tanya salah seorang dari preman itu
"mana aku tau?"jawab Sila enteng
"jangan berlagak kau. kami sudah menunggumu disini selama 5 hari." bentak seorang preman
"lah siapa suruh menungguku di sini? aku tidak meminta kalian tunggu" elak Sila
__ADS_1
"wah wah wah.. suaranya sepertinya cewek ni... berani kau ya. punya nyali juga! jangan kira kami tak bisa kasar pada cewek! "
"kalo gitu kalian banci dong,, sama cewek keroyokan" canda Sila tenang
"bedebah!! sialan kau!!" para preman itu sudah tak bisa sabar dan langsung menyerang Sila. Masih dengan santainya Sila menghindar dan sesekali menangkis dan membalikkan serangan preman tersebut. Tak butuh waktu lama, para preman itu bergelimpangan di jalan. Dengan langkah tanpa bersalah Sila berjalan dengan santai menuju tempat kerjanya.
Pada saat bersamaan Sila berkelahi dengan para preman tadi, ada seseorng di sebrang jalan yang hendak membantunya karena merasa perkelahian itu tidak imbang. satu melawan enam. Namun karena padatnya lalu lintas, membuatnya memerlukan waktu yang lumayan untuk menyebrang. Dan saat dia sampai disebrang keenam preman malah sudah bergelimpangan dan terlihat orang yang memakai hoody tersebut sudah meninggalkan tempat itu dengan santai. seperti tak pernah terjadi sesuatu. Kemudian dia mengikuti Sila dari jarak yang lumayan jauh. Dilihatnya Orang yang dengan jaket hitam itu masuk kesebuah arena Club Gym yang terkenal. Dia langsung ikut masuk da memperhatikan sekeliling mencari sosok berhoody tadi. Namun tak menemukan orang tersebut. Dia berjalan cepat ke ruang ganti, di salah satu bilik ganti dilihatnya sekelebat bayangan hitam dia pikir itu adalah jaket yang sedang ditarik kedalam. Ditunggunya namun pada saat pintu bilik dibuka, yang keluar ternyata sesosok gadis cantik berseragam ofice girl dengan rambut hitam panjang yang diikat dua bagian. ditangannya ditenteng tas pinggang berwarna hitam. Gadis itu memang Sila yang tertegun melihat sesosok pria gagah berdiri dihadapannya.
"bukankah ini tuan Eri. Sahabat sekaligus pengawal mas Tama? ada apa dia kemari? apakah dia mengenaliku? tapi sepertinya tidak,," Sila merasa cemas namun segera bisa menguasai diri
"ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya sila sopan
"aku tadi melihat seseorang pria memakai hoody hitam masuk gedung ini. apakah kamu melihatnya? belum lama." tanya pria yang tak lain adalah Eri itu sambil terus memutar kepalanya mencari cari
"maaf tuan. saya baru sampai juga. jadi tidak melihatnya. mungkin ada hal lain yang bisa saya bantu?." lanjut Sila
"emm tidak tidak terima kasih" jawab nya
"kalau begitu saya permisi" pamit Sila sambil menunduk dan berlalu.
Sekelebat Eri beradu pandang dengan Sila, dia tertegun.
"apa aku mengenalnya? seperti pernah melihat mata ini?. ahh tidak mungkin. banyak orang yang memiliki mata yang indah" gumamnya lirih sambil menoleh kearah Sila yang telah berlalu.
"siapa sebenarnya lelaki berhoody tadi. kemana dia.?"
Eri memutuskan untuk menunggu seharian di depan gedung itu. berharap melihat pria berhoody itu keluar. Namun sampai sore orang yang diharapkan tak kunjung keluar, bahkan sampai ofice girl yang ditemuinya tadi keluar dan pergi. Sampai tempat itu benar benar ditutup, Eri tak melihat pria berhoody yang ditunggunya keluar.
"sial!!. Bagaimana bisa?. jelas jelas tadi pagi aku melihatnya masuk ke gedung itu. bagaimana dia keluar sampai aku tak bisa melihatnya?." gerutu Eri. Benar benar sia sia dia menunggu seharian.
"untung saja hari ini aku bebas kerja." eri masih ngomel. Dia memang ditugaskan Tama untuk mencari seorang pengawal yang benar2 tangguh yang bisa diandalkan. Sebenarnya perusahaannya memiliki pengawal yang banyak. Namun dari kerja mereka belum ada yang bisa memuaskan penilaian hati Tama.
Namun baik Eri, Natan, ataupun Dodi tak ada yang bisa melawan kata2nya.
__ADS_1
"emang dasar Tama yang aneh. banyak maunya".