Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
hanya alasan


__ADS_3

"uhg,,, "Sila menggeliat malas. ia mengerjapkan matanya pelan dan terkejut melihat seseorang duduk di samping ranjangnya.


"kau,,,"


"Sila,,, masih ingat padaku kah"


"Yuni,,, apa kabarmu"


Sila berusaha duduk dengan baik dan itu membuat selimutnya merosot. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati tubuhnya tak lagi memakai apapun.


"apa,,, apa yang terjadi, dimana pakaiankau?" tanya nya sambil menggeret


selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Sila tenanglah,,"


"bagaimana bisa tenang,, apa yang terjadi semalam,, ahmm" Ia panik saat merasakan nyeri pada vitalnya


"oh tidak!! seseorang meniduriku semalam,, aku tidak ingat apa apa!!"


"Sila tenanglah,, suamimu yang melakukannya" sahut Yuni cepat sebelum sahabatnya semakin panik.


Sila terdiam sejenak


"mas Tama? semalam ,,, aku tidak ingat apapun..."


"tenanglah,, tuan muda menolongmu sebelum semua terlambat."


"semalam aku hanya ingat di tawari istirahat dikamar oleh seorang cewek."


"ya,,, dan cewek itu menghadiahkanmu pada pak manajer, untunglah tuan muda datang tepat waktu., sekarang bangun dan mandilah. Setelah kamu segar kita bisa ngobrol lagi."


Sila membungkus tubuhnya dengan selimut, dan beranjak turun dari ranjang. Diliriknya ke arah ranjang dan tak menemukan apapun


,,,mengapa tidak ada darah, apa yang akan dipikirkan mas Tama,,,


Ia bergegas kekamar mandi, pikirannya berkecamuk seputar darah perawan yang tak dimilikinya.


"mengapa tidak ada? bagaimana jika mas Tama menanyakannya aku harus menjawab apa? bagaimana aku bisa menemui dan menghadapinya?"


Selesai mandi dia keluar dan didapatinya Yuni berdiri memegang pakaian dan diberikan padanya, setelan kaos panjang dan celana jeans.


"ini dari mas Tama?"


"pengawalnya yang membawakan"


"oh ya Yun,, apa tadi kamu melihat mas Tama marah?"


Yuni memicingkan mata dan mengerucutkan bibir seolah mengingat ingat


"kayaknya sih,, tadi marah sebentar sama salah satu pengawalnya"


,,pasti tuan Eri,, tebak Sila dalam hati


"Sil,,, kamu kemana saja selama ini. sejak terakhir kita ke kafe asri waktu itu kamu menghilang tanpa jejak. apa kamu sudah tak menganggapku teman lagi"


"maafkan aku Yun,, waktu itu aku butuh menenangkan diri."


"apa kamu tahu,, tuan muda mencarimu sampai seperti orang yang tidak waras. kamu benar benar beruntung mendapatkan suami seperti dia"


"benarkah?" tanya Sila seraya tersenyum.


"hm,, aku ingat, dulu kamu sama sekali tidak mau melihatnya,, hihihi, yah,,, dulu kan kamu sukanya sama kak Ryan,,"


"hei,,, siapa yang bilang aku suka sama kak Ryan?"


"lah memangnya,,, dulu suka ngebet ngajak ke kafe asri bukannya pengen ketemu kak Ryan ya,,"


"enak saja. kak Ryan hanya alasan, sebenarnya yang pengen aku lihat cowok yang selalu ada dipojokan kafe itu."


"cowok dipojokan? emang ada"


"ada. apa kamu tahu mengapa aku selalu ambil tempat duduk yang sama?"


Yuni menggeleng


"agar lebih leluasa melihat cowok itu,"


" memang siapa cowok yang disana. apa kamu tau?"


"ya,, aku tau,, senyumnya masih dimataku kau tau?" jawab Sila dengan senyum nakalnya.


"Sil, makan yuk,, aku laper banget belum sarapan tapi suamimu sudah menyuruhku buru buru kesini."


"maaf ya,,"


"sudah tidak perlu minta maaf. kamu perlu bayarin aku sarapan saja cukup"


"baiklah,,, ayo kamu pilih tempatnya."


Keduanya bergegas meninggalkan hotel dan menuju kantin yang tak jauh dari hotel tersebut.


"kamu tidak kembali bekerja"


"tidak,, suamimu memberiku kelonggaran hari ini, setelah menemanimu, aku boleh pulang"


"mas Tama,,, "


"ya, kamu tahu,, presdir hotel tempatku bekerja adalah teman suamimu, dan kamar yang kamu tempati tadi adalah presidential suite milik pribadi suamimu. cuma dipakai kalau pas ada acara dan selesainya kemalaman aja."


"benarkah?"

__ADS_1


"apa? kamu beneran tidak tahu?"


Sila menggeleng.


Keduanya menghabiskan waktu bersama sampai waktu menunjukkan pukul 2 siang.


"Yun,, aku pulang dulu ya, kamu istirahatlah."


"baiklah bu bozz"jawab Yuni.


*


"Tan,, sampai jam segini nyonyamu belum menghubungimu. apa iya belum bangun?" tanya Eri


Natan menengok jam dipergelangan tangannya, dan menghubungi Tama lewat telepon kantor dimejanya.


"Tam,, nyonya mudaku belum menghubungiku. apa dia sudah menelponmu?"


Tama keluar dari ruangan sambil menempelkan ponsel ditelinganya. Dia menggeleng


"tak ada jawaban"


Ketiganya bergegas keluar kantor menuju hotel


"wah,, mungkin semalam kamu terlalu ganas sampai sampai nyonyaku tak bisa bangun hari ini.." celoteh Eri.


"diamlah kamu"


"akhirnya jebol juga,,"


"kalian bisa diam g?"


NAtan terkekeh


Tama mencoba menghubungi Sila lagi dan masih tak ada jawaban.


"apakah dia marah? atau terjadi sesuatu?"


"apa maksudmu marah?"


"karena aku sudah melakukannya saat dia tidak sadar,,"


"Tam, dia itu istrimu. kamu melakukannya kapanpun dimanapun dia tidak punya hak buat marah" Eri geram


"kenapa kamu yang kesal" tanya Natan


"ih,, kesel saja. Dia sudah menunggu istrinya sampai lebih dari dua tahun, sekarang baru bisa melakukan hubungan yang benar, kenapa dia takut istrinya marah? harusnya dia yang marah kalau istrinya tidak mau".


Natan menggelengkan kepala. Tama memukul kepala Eri


"aku bukan orang yang memaksakan diri sepertimu, setidaknya pada istri tercinta ku"


" eiit dah. bukan pemaksa. kamu itu bos yang egois, mau menangnya sendiri, arogan. kasar. kemana semua imej itu? langsung hilang tertelan senyum si nyonya muda,,," goda Eri


Natan pun mencoba menghubungi Sila, namun sama saja tidak ada yang menjawab.


Sesampainya di hotel Tama segera bergegas kekamar tempat dia meninggalkan istrinya. Namun tak ditemukannya sang istri.


"sudah tidak ditempat, kemana dia?"


"tuan,,, ini. tadi waktu saya membersihkan kamar anda ada ponsel di nakas" salah seorang pegawai kebersihan menemui Tama di loby.


"terima kasih" jawab Tama mangambil ponsel Sila


"bahkan ponselnya ditinggalkan"ucap Eri


Natan mendatangi resepsionis dan menanyakan tentang Yuni. sang pegawai resepsionis mengatakan Yuni pergi keluar dengan seorang perempuan. Natan pun meminta nomor ponsel Yuni.


"dengan Nona Yuni"


"ya, saya ,, siapa ya"


"saya pengawal non Sila. apakah anda masih bersamanya"


"oh,, Sila,, dia sudah pulang satu jam yang lalu"


"oh baiklah terima kasih"ucap Natan menutup telpon


"kalian dengar,, dia sudah pulang." lanjut Natan mamasukkan ponselnya ke saku


"ibu,, apa Sila sudah sampai dirumah"tanya Tama lewat ponselnya


"belum, aku kira dia bersamamu."


"tidak, tadi aku suruh Natan mengantarnya. mungkin masih dijalan"


"kenapa tak kamu telfon langsung"


"ponselnya ada padaku bu,, dia lupa"


Tama menutupnya


"Dia juga belum pulang"tukas Eri


"kemana ini anak?"


drrt drrt


ponsel Tama bergetar


"Tam,, kabar bagus"

__ADS_1


"katakanlah"


"kita memenangkan lelang atas resort di kota T, aku sekalian urus surat surat, sudah di pindah atas nama nona"


"kerja bagus,"


"oh ya, setengah jam yang lalu aku melihatnya masuk kafe asri sendirian."


"kamu melihatnya"


"ya, tapi dia tak melihatku, aku sudah berada dimobil saat dia datang"


"baiklah, info ini penting"


"maksudmu?"


"kami sedang mencarinya. Dia meninggalkan hotel dan ponselnya."


"anak ini,,"


"ya sudah aku akan kesana"


Tama menutup ponselnya


"Er,, kamu pulanglah kerumah ayah. hubungi kami jika dia sudah pulang."


"siap boss"


lMereka pun berpisah. Tama dan Natan melaju menuju kafe asri


"Tan,,"


"hm,,,"


"apa pendapatmu mengenai darah perawan"


Natan tertegun dan melirik kearah bos disampingnya


"apa maksudmu?"


Tama menghirup nafas dalam dan menghembusnya pelan


"aku tak bisa membicarakan ini didepan Eri,, kau tahu sendiri dengan mulut cablaknya aku pasti dibuat pusing"


Natan tertawa kecil. Ia benar benar tau sifat Eri yang tak bisa diam.


"apakah maksudmu kamu tak mendapatkannya semalam?"


"hm,, begitulah."


"tapi itu belum tentu dia sudah melakukan dengan orang lain kau tau?"


"aku tau,, hal itu bisa terjadi mungkin karena kecelakaan atau latihannya yang begitu keras selama ini."


"kau tau itu. mungkin kamu bisa membicarakan dengannya"


"jika aku bertanya apakah dia tidak akan meragukan kepercayaanku"


"benar juga. dia akan menganggap kamu menuduhnya"


"sebenarnya ada rasa kecewa, tapi,,, biarlah. aku lega saat membahasnya denganmu."


Natan tersenyum


"sebenarnya ada yang membuatku merasa terganggu,"


"apa itu"


"semoga saja tidak. aku pernah kepikiran. apa mungkin dia mendapatkan pengalaman yang tidak diinginkannya sehingga membuatnya berlatih bela diri sekeras itu. dan bahkan dia takut saat aku mengajaknya berhubungan beberapa hari ini."


Natan hanya bisa diam. kemungkinan itu juga bisa terjadi pikirnya.


"apakah kamu melakukannya dengan baik semalam?" pertanyaan Natan mencoba mencairkan suasana hati Tama yang terlihat kalut


"kamu pikir?"


"hahahah siapa tau kamu tidak bisa."


Tama memukul lengan Natan


"yah meskipun sedikit ragu. tapi aku melakukannya. puas kau??"


"kenapa harus ragu? kamu takut dia marah?"


"tidak,, hanya takut menyakitinya"


"hhhhaahhah aku pikir takut di marahi... benar kata Eri. Dia istrimu. kapanpun dan dimanapun kamu mau dia tidak punya hak menolak"


"oke oke baiklah,,, kapanpun dimanapun. akan aku lakukan hahahah"


Keduanya terlibat canda vulgar dalam perjalanan itu


"Tan berhenti"


pinta Tama tiba tiba


"ada apa"


"itu dia ditaman"


jawab Tama sembari membuka pintu mobil setelah Eri menepi dan berhenti. Tama berlari menuju taman dan melompat pagar setinggi satu meter untuk lebih cepat sampai pada istrinya

__ADS_1


"hhhh cinta membuat lupa semua aturan. Tingkahmu tak layak dilakukan seorang bos, kau seperti anak SMA yang sedang bolos"


gumam Natan sambil menggelengkan kepala saat melihat bos nya melompat pagar taman


__ADS_2