Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
rumah baru


__ADS_3

Suasana canggung tercipta. Bahkan saat sarapan pun tak ada kata kata atau obrolan keduanya. Tama tak pergi ke kantornya , dia hanya duduk santai sambil membaca koran dan majalah. Namun tak tahu apa berita dalam koran koran tersebut, karena matanya hanya tertuju pada setiap gerak gerik istrinya. Yang menurutnya lebih menyenangkan dari sekedar berita berita artis atau politik.


"Mas,, boleh Sila ngomong?" Sila membuka percakapan


"Ada apa? bicaralah.." sahut Tama pura pura melirik


" Bolehkah kita pindah saja dari tempat ini?" tanya nya ragu


"Kenapa?" Tama terkejut dan langsung meletakkan sebuah majalah yang pura pura di bacanya


"Apa disini tidak nyaman?, atau ada sesuatu yang mengusik?" lanjutnya


"Tidak,,, tidak,,, bukan begitu.." jawabnya gugup


"Aku hanya tidak biasa,, ini terlalu mewah untukku. Aku ingin tinggal dirumah yang sederhana dengan halaman sedikit luas".


" Baiklah,, aku akan menyuruh pak Ikrom mencari rumah yang seperti kamu inginkan" jawab Tama dengan sabar


Malam harinya


Tama berjalan pelan menapaki tangga menuju ke kamarnya. sesampainya di depan pintu dia berhenti sejenak.


"apa yang harus aku bicarakan,,? obrolan semacam apa yang disukai nya?"


Tama pun membuka pintu dan mendapati istrinya sedang duduk melamun di sofa.


"Kamu tidurlah diranjang."


"Ah tidak apa apa aku tidur disini saja..." jawab Sila canggung


"Lihatlah dirimu,, dengan sekali gerak saja bisa jatuh..."goda Tama


"Hehehhe iyaaa,,, " Sila cekikikan mendengar ucapan Tama. Dia geli dengan postur tubuhnya itu


"bahkan dia tak marah saat aku menyinggung masalah body nya?"


Tama tersenyum


"Mas hati hati jangan sampai jatuh, sayang gantengnya klo lebam". Sila langsung menarik selimutnya buru buru sampai menutup seluruh tubuh bongsornya.


Setelah satu minggu kemudian


"Sil,, pak Ikrom memberi kabar,, rumah seperti yang kamu inginkan sudah dapat, dan pak Ikrom juga sudah menyuruh orang membersih kannya. besok kita bisa pindah pagi2...


Keesokan paginya


mereka benar benar akan pindah. Tuan dan nyonya Wijaya pun datang

__ADS_1


" Sayang,,, kenapa sih harus pindah? apa disini tidak nyaman?"


"Bu- bukan bu... cuma saya tidak terbiasa,, rumah ini terlalu besar buat saya.." jawab Sila canggung


" Baiklah.. tidak apa apa. toh nanti klo Tama junior sudah hadir kan rumah ini bisa ditempati lagi.. ya kann??" goda sang ayah mertua.


"Tapi maaf ya sayang,, ibu tidak bisa ikut kalian, ibu terlanjur ada janji kapan hari lalu,, ayah juga ada rapat hari ini. g apa apa ya??"


...----------------...


Sesampainya dirumah baru. Sila langsung turun dan berjalan cepat menuju teras.


"Wahhh,,, pak Ikrom benar benar tau yang aku inginkan. Rumah ini indah, sejuk, asri.. tenang". ucapnya senang


Ada sepasang suami istri berdiri diluar pintu pagar besi samping rumah, satu satunya jalan menuju rumah disamping kiri itu.


"Selamat datang Den,,, Neng,,"


"Iya selamat pagi..."jawab Sila mendekat


"Saya mbok nah,, ini suami saya pak Parjo. klo neng dan aden membutuhkan kami silakan panggil kami. Ini rumah kami selalu terbuka buat kalian." sambil menunjukkan rumah disamping


"Iya mbok Nah,, terima kasih. Mari masuk sini,, kita bisa ngobrol ngobrol."ajak Sila


"Untuk sekarang ini kami mohon maaf, kami harus berangkat bekerja. Terima kasih mungkin untuk lain kali saja."jawab pak Parjo


"Baiklah tidak masalah."


"Kamar disamping juga dibersihkan. Mungkin jika kamu tidak mau tidur sekamar dengan ku aku bisa tidur dikamar sebelah." ucap Tama ragu. Dia tudak mau memaksa gadia ini untuk menerimanya saat ini


" Ehmmm untuk sementara temani aku dulu. Aku belum terbiasa dengan rumah ini.. kalo mas mau mas boleh tidur di ranjang kok"


Tama tersenyum.." mungkin memang sudah saat nya.."


"Biar Sila yang tidur di sofa.."lanjut nya


"hhhh sama saja kalo gitu ,,," Tama mendesah


Satu minggu mereka pindah,


Hari ini adalah kali kedua Sila minta diantarkan ke kafe Asri, untuk bertemu Yuni dan Ryan.


Ada sekelumit rasa getir dihati Tama saat melihat tawa istrinya bersama pria lain,, Dan dirinya sendiri hanya ada di meja pojok ruangan yang entah kenapa selalu kosong saat dia datang di kafe itu.. Namun suara tawa itu juga yang dirindukan Tama, tawa yang tak pernah hadir saat dirinya bersamanya.


"Tama,,, apa kau bodoh? lihatlah istrimu,,, bahkan tawa itu tak pernah terdengar untukmu,,,"


"tidak!!! aku telah berjanji akan membuatnya bahagia.. dengan cara apapun dan pengorbanan seperti apapun." pergulatan dalam batin Tama.

__ADS_1


Wajah sumringah istri Tama masih terlihat saat mereka telah sampai dirumah.


"Sepertinya kamu sangat senang??" Tama membuka obrolan sesampainya di kamar.


"Hmmm,,,," jawab Sila mengangguk malu.


"sebenarnya,,, aku tidak punya cukup alasan dan keberanian untuk mengajak anda bercanda dan tertawa, aku terlalu malu,, seandainya anda tau,, andalah alasan ku selalu rindu untuk datang ke kafe asri.. untuk melihat sosok anda untuk melihat lengan kekar anda mengangkat cangkir, untuk melihat anda yang begitu cuek menyeruput kopi. untuk melihat anda yang begitu serius dengan laptop anda,,, ahhh pokoknya untuk melihat anda yang selalu duduk sendirian di meja ujung itu. .. dan bagaikan mimpi yang aku sendiri tak pernah ingin bangun,, saat ini anda adalah suamiku. sungguh telah kuserahkan seluruh cintaku untuk anda,, dari dulu,, dan harapan untuk mengenal anda juga yang membuatku tidak siap untuk menikah" Sila sesekali melirik lelaki disampingnya itu, dia menghela nafas panjang menyembunyikan kekacauan pikirannya.


"Apa kau bahagia..?" lanjut Tama


" Ya aku bahagia" jawab Sila tersenyum. Garis kebahagiaan itu benar benar tergambar di raut wajahnya


"apapun akan kulakukan asal kamu bahagia,, meskipun itu aku harus melihatmu bahagia karena pemuda itu" pikir Tama.


Keesokan paginya saat Tama bangun,dia tak melihat tubuh bongsor istrinya di ranjang. Tidak juga terdengar gemericik air di kamar mandi.. Tama beranjak dari sofanya. mandi dan bersiap ke kantor. Saat keluar kamar dia melihat istrinya berkutat dengan penggorengan dan sutil di dapur.


"hari ini dia masak??" ya hari ini adalah hari pertama Sila memasak sarapan untuknya. Biasanya pasangan pengantin baru ini hanya sarapan roti dan selai saja.


"Kamu masak hari ini?? " tanya Tama sambil mengambil duduk ditempat ia bisa melihat setiap gerak istrinya.


" Ya,, aku ingin belajar buat nasi goreng.." jawab Sila tersenyum. wajah sumringah yang semalam masih tersirat disana


"Cobalah.." lanjutnya sambil menyodorkan piring berisi nasi goreng buatannya itu di hadapan suaminya.


Tama mulai menyendok dan memakannya..


"Bagaimana?" tanya Sila tak sabar dengan komentar suaminya


"Enak,, ambilkan aku air". Tama meneguk air. Tama begitu sering meneguk airnya


"Kenapa,, kok banyak sekali minumnya?"


"Tidak apa apa,, hanya saja ini sedikit pedas buat ku.."


Sila mengangguk,, dia senang bisa membuat nasi goreng yang disukai suaminya.


Selesai sarapan. Tama beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar berangkat bekerja. Sila mengikuti dibelakang suaminya. Sampai di depan pintu tiba tiba Tama berhenti hingga Sila menabraknya dari belakang.


"Ehh maaf."ucapnya segera.


Tama hanya membalikkan badan dan tersenyum. Perlahan lahan melangkah hingga membuat bingung Sila yang langsung minggir merapat ke tembok. Sila berfikir mungkin ada sesuatu yang tertinggal,, tapi salah... Tama malah berbalik kearahnya dan menyudutkannya. Tama meraih kedua tangan Sila dan meletakkan didadanya. Dengan lembut dikecup dan dilumat bibir mungil istrinya itu.


Sila terdiam,, mematung,, ingin mendorong tubuh itu tapi tak rela. Dia malu, dia gugup, ada perasaan aneh menjalar keseluruh badannya, keseluruh bagian bagian sel dalam tubuhnya. Rasanya ingin meledak,, hingga membuat nya gemetar, nafasnya tersengal namun ia menikmatinya..


Setelah beberapa saat Tama pun melepaskan bibirnya dengan senyum puas..


Dan beranjak. Sampai dipintu dia menoleh,,

__ADS_1


"Atur nafasmu dengan baik" kemudian berlalu.


Sila masih tak dapat bergerak,, dia merasa seluruh tulang belulangnya lepas, dia tak bisa lagi bertumpu pada kakinya. dia lemas dan merosot terduduk di dekat pintu. untuk waktu yang lumayan lama.


__ADS_2