
Waktu menunjukkan pukul 14.00
Setelah setengah hari mempersiapkan hati dan mentalnya. Sila segera bergegas menuju perusahaan Adijaya. Setelah bertanya tanya dan menyampaikan maksud kedatangannga, Sila dipersilahkan memasuki ruangan Direktur diantarkan langsung oleh seorang sekretaris. Setelah sekretaris itu mengetuk pintu, dan suara dari dalam mempersilakan masuk, Sila mengikuti langkah sekretaris itu masuk keruangan Direktur yang begitu luas. Didalam sana terlihat satu set sofa beserta meja di tengah ruangan. dua meja kursi kerja di sebelah kiri. satu alat olah raga treetmel di pojok ruang menghadap sebuah tv led besar yang menggantung di dinding. serta satu ruangan yang tertutup. Di sofa itu duduk tiga orang lelaki tegap dan tampan,dua diantaranya dikenali Sila sebagai pengawal pribadi dan satu orang lagi adalah asisten pribadi Tama. Mereka berdiri bersamaan dan terlihat begitu terkejut akan kehadiran Sila.
"benar benar mirip." gumam Dodi.
"aku tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada Tama setelah melihat ini." lanjut Natan menimpali Dodi
Sementara Eri berjalan mendekati Sila.
"nona Sha. kami sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi. akhirnya anda datang kesini juga." sambut Eri
"maaf tuan Eri. tadi saya masih ada sedikit urusan." jawab Sila sopan.
"mari saya kenalkan, ini adalah Natan dan ini Dodi." Eri memperkenalkan kedua rekan kerjanya. Sila menatap kearah keduanya dan tersenyum ramah sembari menyapa
"selamat siang tuan Natan dan tuan Dodi. mohon bimbingan untuk kedepannya." ucap Sila sedikit membungkukkan badan
"eh iya,, jangan sungkan untuk bertanya bila ada hal yang ingin kamu pelajari" jawab Natan tergagap.
"mari duduklah sini." Sila mengikuti langkah Eri duduk di sofa itu bersama yang lain. Sebenarnya dia ingin menoleh dan menengok mencari keberadaan Tama. Namun gerakan lehernya benar benar ia tahan.
"duduklah dulu sambil menunggu Tama, dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan" Dodi menjelaskan sementara tatapannya tak berpaling dari Sila.
Klak!!
suara pintu terbuka dan muncul sesosok lelaki gagah, menawan dari dalam sebuah ruangan yang tadi nya tertutup itu. Dengan tenang dan angkuhnya yang penuh pesona melangkah menuju keempat orang itu duduk. Silaa merasa seluruh tubuhnya lemah, hilang seluruh kekuatan yang ia kumpulkan dari pagi untuk sekedar melihat lelaki penuh karismatik itu. Dadanya terasa penuh sesak hingga bernafaspun terasa sangat menyiksa. Matanya seolah berkunang kunang.
"aku harus kuat. aku adalah seorang prajurit! aku tidak boleh lemah. aku harus sekuat karang!!. kak Yohan,,, bagaimana ini?. aku benar benar meleleh.." batin Sila ingin berontak. Sila memejamkan matanya sebentar, mengumpulkan sisa sisa tenaganya hanya untuk sekedar berdiri mencoba menyapa Tama.
__ADS_1
"Tuan muda benar benar tampan seperti yang selama ini saya dengar. maaf kan saya yang tiba tiba lemas menyaksikan ketampanan tuan muda" sapaan Sila kepada Tama yang mengundang gelak tawa Eri, Natan dan Dodi. Sementara Tama hanya sekilas senyum tipis yang mengambang di sudut bibirnya.
"Reflek Nona Sha ini benar benar jujur ya??." celoteh Eri di antara tawanya.
"Maaf,, jantung saya benar benar bedebar. Maaf bila saya kehilangan fokus." lanjut Sila yang tak ingin menyembunyikan kecanggungannya. Dia berfikir, jika dia bepura pura kuat menahan gejolak hatinya, itu hanya akan membuat kecurigaan. sebaliknya jika dia mengekpresikan nya itu akan membuatnya terkesan umum. seperti cewek cewek lain yang mengagumi ketampanan seseorang.
" kami membutuhkan seseorang yang tidak mudah hilang fokus. Seseorang yang benar bemar profesional bukan orang yang mudah lemas saat melihat pesona orang lain. Jika kami memperkerjakan orang sepertimu apakah bisa diandalkan kedepannya?." hardik Tama sebelum duduk dengan angkuhnya di depan Sila. Disandarkan tubuhnya dan melipatkan kakinya dengan kedua tangan menggenggam lulutnya
Deg
"seperti inikah keangkuhan mu?." batin Sila
"maafkan saya tuan muda. Saya kemari untuk memenuhi tawaran tuan Eri. jika sekiranya tuan muda tidak berkenan saya juga tidak keberatan untuk pamit."
Sila mencoba menenangkan hatinya. Tama tak sedikitpun menunjukkan ekspresi apapun.
"apa apaan ini?. kamu sudah sampai disini dan sudah menyetujui untuk bergabung bersama kami. mana bisa pamit begitu saja." protes Eri
Tama menegakkan tubuhnya dan melepas lipataan kakinya dan memangku kedua lengannya di lutut sambil badannya dicondongkan kedepan.
"Eri sudah memilihmu. mungkin kamu memang punya talenta. akan aku biarkan kamu mendapatkan pekerjaanmu." ucapnya yang membuat hati Sila dan teman temannya merasa lega.
"tapi ingat! tidak ada lain kali mengulang kesalahan" lanjutnya
"siap!!" ucap sila penuh semangat.
"datanglah bekerja mulai besok. Eri.. urus semua keperluannya." perintah Tama sebelum dia berdiri dan beranjak meninggalkan tempat itu.
"Natan.. ikut aku. aku ada urusan diluar." Natan pun meninggalkan pekerjaannya dan berjalan tegap mengikuti Tama
__ADS_1
"selamat. kamu disukai oleh Tama. " ucap Eri sambil menjabat tangan Sila dengan paksa. Sila terkejut dengan ucapan Eri
"disukai? maksudnya?" Sila kebingungan
"Tama tak akan menerima siapapun yang tak disukainya apalagi sebagai pengawal pribadi. Dia menerima nona Sha. itu berarti ada kesan tersendiri untuk nona Shakira bagi Tama." Dodi menjelaskan
"kita kerumah kecil" perintah Tama pada Natan. "rumah kecil" menjadi sebutan untuk rumah yang diminta Sila pada Tama dua tahun lalu.. Natan paham betul mengapanTama mengajaknya ketempat itu. Meleburkan rindu. ya Natan tau pasti saat ini hati sahabatnya ini benar benar terluka, dia melihat wajah seseorang yang benar benar mirip istrinya. Seseorang yang ingin dia peluk erat dan itu bukan miliknya.
Sesampainya dirumah itu.. Tama berjalan cepat memasuki kamarnya. Berhenti sejenak di ujung ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk itu. membiarkan airmatanya mengalir leluasa dalam keheningan. Hatinya terasa tercabik cabik. penyesalan demi penyesalan kembali bermunculan. Ia hanya bisa memejamkan kedua matanya berharap segalanya kembali ke masa itu, dua tahun lalu.
"saat ini kamu dimana?. tidakkah kamu merindukan ku?. aku disini masih milikmu! aku masih menunggumu!. Bisakah kau dengar panggilankau?. aku merindukanmu. benar benar merindukanmu."
Natan yang melihatnya dari kejauhan merasakan betapa beratnya rindu Tama pada istrinya. Dia tak sanggup membayangkan seandainya ia kehilangan istri tercintanya. Natan kaluar dari rumah itu, dan berhenti di ayunan yang mulai berkarat dihalaman rumah. Ia merogoh ponsel disakunya dan menelfon istrinya.
"jam segini telfon, apakah sedang berkunjung dirumah kecil?" tanya istri Natan di sebrang telfon. Natan hanya diam sejenak
"aku merindukanmu. aku benar benar tidak sanggup melihat Tama yang seperti ini" keluh Natan pada istrinya. airmatanya tak lagi bisa ia tahan
"hatiku benar benar sakit sayang,, aku ingin memelukmu saat ini..apa yang harus aku lakukan untuk sahabatku?. aku tidak bisa melakukan apa apa.."
"sayang,, jangan ikut menangis. jikaTama tau dia akan bertambah sedih"
"aku ingin memeluknya jika bisa,, Tapi Tama hanya diam, dia tak mengatakan apapun.. dia hanya menangis seorang diri dikamarnya. aku tidak sanggup melihatnya." suara Natan seolah terputus dan terhenti di tenggorokan.
"Hari ini pengawal baru yang bernama Shakira itu datang. Dia benar benar mirip dengan Sila. Tama tak banyak berbicara dengannya. Tapi aku tau, hatinya sakit. aku dapat merasakannya. dan akhirnya tujuannya adalah rumah kecil"
"sayang,, "
"aku merindukanmu" tiba tiba Natan menutup telfonnya. karena dia mendengar pintu tertutup. itu artinya Tama sudah keluar dari kamar istrinya. Natan segera menyeka air matanya dan berjalan cepat kearah mobil. menunggu beberapa saat. Sampai Tama keluar rumah dan masuk kemobil. Tak ada suara, Natan hanya meliriknya sekilas dari kaca spionnya. wajah tampan yang katanya dingin itu terlihat begitu muram.
__ADS_1
"bagaimana kalau kita ngopi?." suara itu berat dan serak.
"boleh!" jawab Natan dan langsung melaju mobil ke cafe asri, tak perlu Tama menyebutkannya. Selama ini memang hanya Natanlah yang selalu menemani Tama dalam urusan hati dan wanita yang mencoba menggoda. Sementara Eri bertugas dalam urusan keamanan. dan Dodi dalam urusan perusahaan. Natan dan Dodi sudah menikah bahkan Dodi sudah memilik seorang anak laki laki yang lucu. Sementara Eri masih pilih pilih. Dan Tama masih menunggu istrinya kembali