Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
malu


__ADS_3

"Dimana Ishana?" tanya Tama


"dia pulang setelah membuat sarapan."jawab Natan


"apakah anak itu sudah sarapanL"


"belum. antarkan sarapan untuknya. sekalian lihat kondisinya." perintah Eri.


"kau memerintahku?" lirik Tama jengkel


"Eri benar. kamu yang menyebabkan dia jadi seperti itu. paling tidak tanyakan keadaannya. buang imej cool mu itu sekarang." Tambah Natan. Tama diam sejenak


"siapkan kalau begitu biar aku antarkan"perintah Tama kemudian. Natan dan Eri tersenyum dan segera menyiapkan sarapan untuk Sila.


Tama membawanya masuk ke kamar Sila. Sila sedang termenung saat Tama masuk, dia segera bergegas beranjak dari ranjang menghampiri Tama.


"kenapa tuan muda repot repot seperti ini?." sambut Sila menerima nampan berisi sarapan itu


"itu,, kamu buruan sarapan" Jawab Tama kaku


"kan tuan muda tidak perlu repot. saya bisa pergi sendiri ke dapur."


"bagaimana keadaanmu? " tanya nya kemudian dengan nada angkuh. kedua tangannya pun telah masuk ke dalam saku celananya.


"saya sudah merasa baik tuan muda" jawab Sila canggung


"untuk yang semalam lupakan apapun yang terjadi. aku tidak ingat apa apa." lanjut Tama. Sila hanya menunduk.


"bahkan apa kau lupa kau mengatakan mencintai dia?" tiba tiba Eri menyeletuk dari arah pintu di ikuti Natan yang hanya tersenyum. Tama terbelalak kaget


"tidak seperti itu tuan Eri,, tuan muda mungkin ingin menyatakan pada orang lain,, tapi karena mabuk,,, " Sila tak melanjutkannya


"apa yang kau bicarakan?" Nada Tama menjadi tinggi karena ucapan Eri.


"aku mengatakan yang sebenarnya,, kau memeluk dan menciumi nya dan mengatakan,,,," goda Eri dengan senyum nakalnya


"sudah sudah!!. kalian semua hanya omong kosong!." bantah Tama kemudian duduk di Sofa di kamar itu. diikuti Eri dan Natan.


"makanlah sarapanmu. hargai usaha tuan muda yang telah susah payah menyajikannya khusus untukmu" perintah Eri. Tama hanya diam


"benarkah ini tuan muda sendiri yang menyiapkan?"Sila terlihat girang


"jangan seneng dulu,,, bos mu cuma berusaha membawanya kemari. yang masak dokter Ishana." Natan menjelaskan.


" hhhh tetep saja tak bisa mengharap lebih" gumam Sila. semua mata menuju kearahnya.

__ADS_1


"eh maaf ,, aku pikir tuan muda bisa masak! eh mana mungkin?" Sila cengengesan karena gugup.


"jangan meremehkan Aditama Wijaya kamu,,," ancam Eri. Sila hanya tersenyum


Sila memulai sarapan. sementara Ketiga lelaki yang menungguinya terlihat sedang berbincang santai disisi ruang.


"oh ya,, aku penasaran, bagaimana Nona Sha bisa menggunakan ponselmu?. dan kamu mengizinkannya?" tanya Eri penuh selidik


"aku juga tidak tahu." jawab Tama. ketiga orang itu menatap ke arah Sila. Sila yang jadi sasaran pandangan itu merasa sangat canggung.


"mengapa kalian menatapku?" tanya Sila sambil menggigit sendoknya.


"kami penasaran bagaimana semalam kamu bisa menggunakan ponsel Tama untuk menghubungi ku?" Sila menjadi sedikit gugup. Di tatapnya mata Tama, mencoba menyelami, akankah ia marah? tapi sorot mata itu tak menunjukkan amarah.


"itu,, tuan muda yang memberi tahu sandinya,," jawab Sila ragu untuk berbohong


"mana mungkin?." Eri terperanjat


"bahkan dia memberi tahu kata sandi dari ponselnya?.."


"apakah itu benar Tam?"tanya Eri menatap Tama.


"aku tidak ingat sama sekali"jawab Tama.


"kamu menciuminya saja tidak ingat apalagi hanya sebatas kata" goda Natan


"tuan muda sebentar,, " Sila beranjak dan mengambil jas yang beberapa waktu lalu di pakainya dan menyerahkannya pada Tama. Tanpa ragu pula Tama menerima dan memakai begitu saja, karena memang dia masih menggunakan kemeja saja. Eri dan Natan saling pandang. Natan tersenyum


'bukan jas biasa, sudah kubilang"bisik Natan sambil berlalu mengikuti langkah Tama. Dan Eri masih terbengong di tempat duduknya.


saat di perjalanan


''kelihatannya ,,, " Natan tak melanjutkan kata katanya


"apa?" tanya Tama


"kelihatannya tuan muda ku ini sudah mulai membuka hati,," Natan tersenyum menggoda bosnya


"diam kamu!. kamu tau apa?" gertak Tama.


"tau banyak hal. kamu pikir aku ini bodoh?." bela Natan. Tama hanya menatapnya lewat kaca spion.


" kamu pikir aku sama sekali tidak tahu setiap hari kamu memperhatikan gadis itu diam diam dari dalam ruanganmu. saat dia bermain treetmel kamu juga mempertanyakan keadaannya. Jas yang kamu pakai sekarang, jika jas itu tersentuh wanita lain, bukan di badanmu sekarang melekat tapi sudah berakhir di tong sampah. aku tidak buta Tam,, aku juga tidak bisa pura pura tidak peduli. aku sahabatmu dari kecil aku tau apa yang jadi kebiasaanmu.."


"sudahlah,, ini tak akan berhasil. " jawab Tama lesu

__ADS_1


"jadi kamu mengakui bahwa kamu membuka hati untuknya?" Natan terlihat sangat senang.


"dia sudah menikah" lanjut Tama.


"apa? bagaimana kamu tahu?." tanya Natan


"saat mobil mu mogok, aku berusaha bicara dengannya, mencaritahu identitasnya dan dia mengakui bahwa dia sudah menikah dan masih mencintai suaminya." Tama mendesah panjang dan membuang pandangannya jauh keluar jendela.


"seandainya kamu tahu bahwa dia adalah orang yang kamu cari selama ini,, hhh aku tidak akan membongkar rahasia ini. aku akan mengikuti kemana Nona Sila akan memainka sandiwaranya." batin Tama.


"lalu,, apakah dia mengatakan siapa suaminya dan dimana saat ini berada?"


lanjut Natan


"dia bilang,, suaminya memiliki wanita lain"jawab Tama. padahal tidak seperti itu yang dikatakannya waktu itu. Dia hanya mengatakan "mungkin" . mungkin sedang bersama wanita lain.


"kalau begitu kamu mungkin bisa merebutnya dari laki laki yang tak tahu diri itu?.." Lanjut Natan sambil tersenyum


" kamu menyarankan seorang Aditama harus merebut istri orang?." Tama melotot ke arah Natan. Natan hanya tersenyum.


"siapa tau akan berhasil. dia ditinggalkan suaminya dan istrimu juga pergi"


"kepergiannya kesalahanku" jawab Tama tanpa menoleh.


Di villa


"nona Sha,, apa benar Tama mengizinkan mu memakai ponselnya" tanya Eri penasaran


"jika tidak bagaimana mungkin saya bisa menghubungi Tuan" tanya Sila balik.


"lalu bagaimana tanggung jawabmu sehingga bosmu bisa sampai di bius orang?"


"maaf tuan Eri,, semalam tuan muda menyuruh saya istirahat. dan karena tuan muda marah jadi saya tidak berani menentang lagi jadi saya masuk kamar dan mandi. sehabis mandi saya keluar tuan muda sudah tidak di tempatnya" jawab Sila sambil menunduk merasa bersalah.


"lalu bagaimana kamu tahu..."


"saya buka ponsel tuan muda mengirim pesan suara," potong Sila pada pertanyaan Eri. Dia meraih ponselnya dan memberikan pada Eri. Eri mendengar pesan suara dari Tama.


"oh ya tuan.. bagaimana dengan Monica?"


"aku dan Natan sudah mengusirnya,, tapi, Monica bilang,,, kamu yang berusaha merayu Tama. kamu mengambil kesempatan ya??..." goda Eri.


Tak disangka wajah Sila benar benar memerah.


"wah lihat lah wajahmu seperti kepiting rebus jangan jangan aku benar?.hahahah" Eri merasa senang

__ADS_1


"tuan,, jangan seperti itu.. saya kan malu.." ungkap Sila tersipu malu


"wah,, benar benar nih! aku dukung deh kalau memang kamu bisa membuat Tama berubah " dukung Eri. suasana hening. Sila merasa malu bahwa dia tak bisa menutupi rasa cintanya pada Tama.


__ADS_2