Permata Yang Terbuang

Permata Yang Terbuang
pendonor


__ADS_3

Sesampainya Dodi di rumah sakit, Yohan dan Natan menghampirinya. Menanyakan keadaan di rumah.


"bagaimana kelanjutan kabar dari orang tersebut?. " tanya Natan penasaran


"dia berhasil kabur. hasil dari kamera cctv juga tidak begitu jelas. larinya juga sangat cepat dan gesit." Dodi menerangkan


"seandainya saja Shakira diijinkan bertugas malam ini, mungkin pria itu akan terkejar. biarpun perempuan tapi kemampuan larinya sangat cepat dan juga gesit," keluh Yohan


"apa maksud anda?" tanya Natan dengan suara sedikit meninggi.


" tanyakan pada tuan muda anda" jawab Yohan tenang sambil menoleh pada Tama. Yang di maksud pun berjalan mendekat.


"saya sama sekali tidak tahu apa yang anda maksudkan kapten Yohan" ada nada kesal dalam ucapan Tama pada Yohan.


Yohan tersenyum sinis.


"bukankah anda melarangnya bertugas malam ini. anda mengiriminya pesan Chat bukan?" jawab Yohan


"mungkin anda tidak ingin melihatnya,, tapi haruskah anda meremehkan kemampuannya sebagai seorang perempuan?" lanjut Yohan.


Tama mengerutkan dahi, diraihnya ponsel dalam sakunya dan dilihat sejarah chatnya satu persatu, namun dia tak menemukan apa yang dikatakan Yohan.


"tak seorangpun tahu sandi ponselku kecuali orangtuaku. dan hari ini hanya ayah yang berkesempatan dekat dengan ponselku. apa mungkin?" Tama mencoba menebak.


*


*


Ditempat lain Eri yang masih menerka nerka ucapan Yohan segera memencet bel apartemen.


Ketika pintu terbuka, Eri tercengang melihat sosok yang muncul di hadapannya. Sila dengan tanktop hitam ketat dan celana hotjeans, rambut di kuncir bund berantakan sambil menggigit sebatang coklat.


"tuan Eri ada apa?" tanya Sila melihat Sosok Eri tiba tiba ada di depan pintu apartemennya..


"ikut kerumah sakit sekarang. keadaan mendesak." jawab Eri sambil menggeret tangan Sila yang tak sempat menjawab atau melakukan apapun. Dia menarik pintu dan berlari mengikuti Eri. Bahkan dia lupa kalau pintu apartemennya otomatis terkunci saat menutup.


Diperjalanan Eri masih terpikirkan dengan kata yohan yang menyebutkan nama "Sila". Apakah yang dia dengar tadi benar benar nama "Sila", atau karena pikirannya yang kacau sehingga kata Shakira yang diucapkan Yohan terdengar menjadi Sila.


Dia menepiskan pikirannya yang kacau mencoba konsentrasi melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, tanpa menunggu Eri, Sila segera berlari menuju resepsionis menanyakan tentang ruangan pasien Wijaya. Petugas menunjukkan jalan pada Sila. Eri datang tepat pada saat Sila hendak meninggalkan tempat itu dan mereka berdua pergi bersama.


Saat mereka sampai seorang suster keluar dari ruangan.


"keadaan semakin mendesak sudahkah ada pendonor?" tanya si suster


"saya siap sus,,"tanpa ditanya, Sila yang baru saja datang langsung mengajukan diri.


"apakah golongan darah anda O negatif?." si suster memastikan


"bukan,," jawab Sila tanpa ragu.


"jika begitu mana bisa?."jawab suster.


"tidak perlu menunjukkan sok perhatianmu." tiba tiba Sarah menyeletuk dari belakang. Nyonya Wiijaya mendongak mmencoba tau siapa gadis itu, suaranya familiar ditelinganya. Namun yang dilihatnya hanya punggung tegap nya.


"golongan darahnya GOLDENBLOOD" jawab Yohan seakan sedih atas kondisi itu. Tanpa pikir panjang suster itu mengajak Sila masuk keruang tersebut. Semua yang menunggu disana saling pandang.

__ADS_1


"Goldenblood?. aku jarang mendengar tentang golongan darah ini" kata Dodi.


"ya,, golongan darah ini sangat langka. menjadi kebanggaan dan kekhawatiran tersendiri bagi yang memiliki golongan darah ini. Di dunia ini hanya segelintir orang yang memilikinya. Tidak mencapai angka 50. Golongan ini bisa menjadi pendonor ke semua golongan darah lain. Tapi tidak bisa menerima transfusi dari golongan lain."Yohan menjelaskan. Dia diam sejenak.


"aku menyiapkan bank darah pribadi untuknya. Bila sewaktu waktu di butuh transfusi hal itu akan berguna." ucap Yohan pelan.


Pintu ruang operasi terbuka. Operasi telah selesai dan berhasil, namun karena transfusi belum selesai maka tim dokter memindahkan keduanya dalam kamar yang sama. Dan masih tak memperbolehkan siapapun masuk.


Setelah sekitar setengah jam, Dokter mengatakan kondisi pasien telah stabil dan mengizinkan keluarga menjenguknya. Semua masuk keruangan tersebut kecuali Sarah. namun, tuan beesar Wijaya masih tertidur.


"ibu, sekarang ayah sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jadi sebaiknya ibu istirahat dan melihat kondisi ibu yang lemah ibu harus mendapatkan perawatan juga."ucap Tama pada ibunya.


Sang ibu menyetujui. Dengan diantarkan Dodi, nyonya Wijaya medaftarkan diri untuk mendapat perawatan medis.


" Dok, dimana pendonor?." tanya Yohan khawatir di iringi rasa penasaran dari Tama Natan dan Eri.


" karena kebutuhan darah pasien memang agak banyak, kami tidak memiliki pilihan lain dan dengan persetujuan dari pendonor sendiri. Saat ini pendonor membutuhkan istirahat total yang cukup. Disana dia sedang istirahat untuk memulihkan diri." Dokter menunjukkan tempat keberadaan Sila. Di sisi lain dari ruangan tersebut.


"pendonor hampir mengalami hypovolemic shock." dokter menyampaikan penyesalannya


"bagaimana mungkin tim dokter membiarkan hal itu" amarah Yohan tercekat ditenggorokan karena ia sadar bahwa dia masih dirumah sakit.


"maaf kan kami,, tapi kami langsung menghentikan transfusi sebelum kejadian hal itu. kami sudah menghentikannya saat pendonor menunjukkan gejala."


"tidak masuk akal" umpat Yohan kesal "hal ini jga membahayakan nyawanya juga"


"maafkan kami telah lalai. " berkali kali dokter itu minta maaf.


" kak,, jangan marah marah. berisik tau... " terdengar suara Sila. Keempat lellaki itu bergegas menuju ruang dimana Sila terbaring lemas. Sila terkejut melihat Tama Natan dan Eri. "hhh pasti mereka sudah dengar aku memanggilnya kakak" batin Sila


"eh,, kok kalian disini semua." tanya Sila.


Sementara ditempat Wijaya, dia bangun dan tak seorangpun yang dilihatnya. Dia hanya mendengar obrolan dua suster yang mengatur obat di sebelah nya.


"wah gadis yang donorin darah itu baik banget ya."


"iya,, bahkan tak memikirkan nyawanya sendiri."


"iya,, tadi dokter sudah tanya sebenarnya apa dia masih sanggup. dia langsung aja jawab masih."


"ya mau gimana lagi dokter juga tidak ada pilihan lain. pasien masih butuh transfusi."


"tapi,, kalau saja dokter telat menyadari,, gadis itu nyawa nya pasti dalam bahaya."


Wijaya mendengarkan dengan seksama.


"gadis?. apakah yang di maksud kedua suster ini Sarah?." pikir Wijaya.


"suster,," pangggil Wijaya lirih.


"ya tuan. anda sudah bangun?."


"siapa orang yang kailan bicarakan,, yang mendonorkan darah untuk saya?"


"seorang gadis cantik tuan."


Pada saat yang sama Sarah masuk dan kedua suster itu pamit keluar.

__ADS_1


"Sarah,, jadi kamu yang sudah mendonorkan darah buat om?" Tanya Wijaya


"terima kasih ya.."lanjutnya saat hanya senyuman yang didapatinya.


"tidak apa apa om." ucap Sarah memanfaatkan situasi.


"nona,,nona," asisten Sarah masuk dan berteriak memanggil Sarah. Seketika Tama, Natan dan Eri menoleh dan melihat Tuan besar wijaya sudah bangun. Ketiganya datang mendekat.


"wah,,, nona. Saya dengar tuan besar butuh transfusi darah dan golongan darahnya sama dengan nona. untungnya nona ikut kesini pasti bisa menjadi pendonor buat calon mertua . bagus deh!," celoteh sang asisten. wajah Sarah memucat.


"kamu bilang apa barusan?" tanya Eri pada asisten tersebut


"iya,, golongan darah nona kan juga O negatif. tuan ini,, kan pasti tadi nona yang kasih donor" asisten yang baru saja datang itu tak bisa menyembunyikan kebanggaannya pada nonanya. sementara sang nona tak bisa menyembunyikan wajah paniknya. Ketiga orang ini geram bukan kepalang mengetahui kenyataan bahwa tanpa menunggu Shakira sebenarnya ada yang bisa menjadi pendonor dan dia tidak bersedia.


"keterlaluan kau!" hardik Tama sambil menunjuk muka Sarah


"Tama. kau yang keterlaluan. Sarah sudah mendonorkan darahnya untuk ayah. kau bahkan membentaknya. apalagi tadi suster bilang dia malah dalam bahaya karena darahnya terlalu banyak diambil untuk ayah. kau harusnya menghormati dan menghargai pengorbanannya." sang ayah yang hanya mengetahui sebagian informasi malah memarahi Tama.


"katakan yang sebenarnya." perintah Tama pada Sarah.


"om,, Tama memang dari dulu memang tidak suka padaku,,,"


"tidak perlu mengatakan hal lain" potong Tama.


"Tama!" bentak sang ayah


""tidak apa apa om." jawab Sarah tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya.


"keluar kau dari sini, aku tak ingin melihatmu." usir Tama.


" Eri,, antar mereka pulang." perintah Tama.


"tapi tuan,, bukankah nona saya yang mendonorkan darah buat tuan besar,,," sang asisten masih ngeyel


"Eri!,, bawa mereka pergi!. " Tama semakin marah.


Eripun mengantar keduanya pergi.


"ini rumah sakit Tam, tidak perlu berteriak teriak seperti itu." komentar Yohan yang baru saja keluar dari sisi ruangan yang lain.


"kapten Yohan anda disini?." tanya tuan Wijaya. Yohan tersenyum


""iya tuan,, bagaimana keadaan anda?" tanya Yohan balik.


"sudah merasa lebih baik". jawabnya.


"baiklah karena semua sudah lebih baik,, maka saya pamit dulu. ada hal yang harus saya urus." pamit Yohan


"oh ya kapten. tapi sebentar. ngomong ngomong anda tadi dari mana?" tanya Wijaya menoleh kearah datangnya Yohan


"oh.. itu tadi. itu Adik saya masih terkapar di sana, di ruangan itu!". Yohan menjelaskan


"aku dengar oi.. emang apaan terkapar terkapar!!." protes Sila dari ruangan nya. Semua tertawa mendengar celoteh Sila.


"ya sudah kalau kamu dengar kakak pamit dulu. jangan nakal kamu" pamit Yohan setengah berteriak sambil menoleh kearah ruangan Sila.


"tunggulah sebentar, ni cairan hampir habis juga." sahut Sila

__ADS_1


" aku masih ada urusan. kamu nginep sini aja." perintah Yohan


"ih,, nyebelin. kalau boleh, aku minum aja deh ni cairan biar cepet abis." gerutu Sila.


__ADS_2