Pesantren Love Story

Pesantren Love Story
44. Khawatir


__ADS_3

satu persatu tulisan didalam kertas yang di tempel di pohon harapan mulai dibuka dan dibaca, Mahira berniat mencari tulisan terpentingnya dulu, namun dia terlambat kertas tulisan berwaena merah jambu berbentuk hati itu ditemukan dan dibaca duluan oleh Afra. yang isinya begini


"harapan jangka panjangku


aku ingin menjadi seorang istri dari Ali Imron


~Mahira sisilia"


betapa kagetnya Afra mengetahui sahabatnya mencintai suaminya, sepontan Afra langsung shok dan menutup mulutnya. ke empat orang yang melihat ekspresi Afra kaget dan penuh tanya tentang apa yang sudah dibaca Afra, tapi tidak dengan Mahira karena dia tahu Ekspresi Afra itu kenapa.


"mb Afra kenapa, kok malah melongo" tanya Rania yang duduk di depan Afra.


"Afra Hanya nengangkat kertas yang dia pegang" Rania pun langsung mengambil Tulisan itu dari tangan Afra dan membacanya keras.


sontak membuat Nasha dan Ghina kaget dan mengeluarkan tatapan tanda tanya pada Mahira, Mahira dengan wajahnya menunduk tak berani menatap wajah Afra dan belum menjawab satu pun pertanyaan Nasha dan Ghina.


"Ra, kamu mencintai gus Imron" tanya Ghina dengan nada kagetnya


"dari kapan Ra" Imbuh Nasha


"Ra, ma maafin aku, aku gak tau kalau kamu mencintai mas Imron" ucap Afra dan membuat Mahira mengangkat kepalanya dan memandang wajah Afra. namun tak satu pun kata terucap dari bibir Mahira.


"mb Nasha emang Ali Imron itu siapa" tanya Rania penasaran


"su suaminya Afra" jawab Nasha dan Rania pun kaget lalu hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"jadi mb Afra udah nikah, oke jadi kandidat calon mbk ipar buat abang tinggal mb Nasha," batin Rania yang memikirkan mencarikan bakal jodoh untuk abangnya.


Mahirapun dengan hati hati menjelaskan peristiwa asal mula kenapa dia menulis itu. mulai dari dia mau jatuh lalu di tolong Imron ketika acara khataman di pesantren, dan juga Imron juga yang memberinya semangat untuk berhafalan Qur'an.


Afra badanya masih lemas, dia gatau antara harus gak enak karena sudah mendadak menikah dengan laki laki yang dicintai sahabatnya atau harus marah dengan sahabatnya karena sudah mencintai suaminya.


Afra pun langsung pamit keluar untuk tidur di rumah/ ndalem, sembari dia berfikir untuk mencerna permasalahan dari awal.

__ADS_1


"ternyata se adem ademnya sebuah persahabatan bakal ada problem nya juga" batin Rania yang mengamati ekpresi geng sisterlillah satu per satu.


"tapi sebenernya masalahnya udah klir si, mbk Mahira mencintai Imron ketika dia belum nikah sama mb Afra, mb Afra juga gak tau kalau suaminya ternyata laki laki yg dicintai sahabatnya, dan sekarng mb Mahira gk mempermasalahin perasaanya pada Imron, tapi kenapa Mb Afra malah pergi ya" batin Rania dengan fikirannya yang masih bingung dengan masalah antara Afra dan Mahira


"mbk aku pamit keluar dulu ya, mau ke koperasi beli jajan" ucap Rania untuk menghindari kepusingan kepalanya memikirkan masalah yang seharusnya tidak di fikirkan. Rania pun pamit pada Nasha lalu di jawab anggukan oleh Nasha.


pamitnya ke Koperasi tapi Rania malah memilih keluar dan duduk di tempat persambangan sendirian. alasanya karena bosan didalam melihat drama percintaan persahabatan.


"heran deh sama orang - orang cuma gara - gara laki - laki aja sampai ribut, kaya laki - laki di dunia ini cuma satu aja" ucap Rania sambil berjalan menghampiri pondokan dan duduk disana.


"hmmm bete deh jadinya di dalam" ucap Rania sambil menarik nafas dan membuangnya cepat.


"Assalamualaikum mbk, mbk santri disini atau bukan" tanya seorang laki - laki yang tiba - tiba datang dan membuat Rania kaget, membuat badannya sedikit mental.


"Wa Waalaikumusalam, iya saya santri baru disini" jawab Rania dengan terpesona ketika menatap wajah ganteng laki laki itu.


" kenapa diluar malam- malam, ini kan bukan jamnya sambangan, taukan peraturan di pondok tidak boleh keluar keluar dari pagar pesantren asrama kalau tidak ada hal yang penting, cepatlah masuk" ucap laki laki itu dengan lembut dan gayanya yang beribawa.


laki laki tadi itu baru saja turun dari mobil melihat ditempat sambangan ada perempuan, dan dia langsung menghampiri Rania dan menegurnya agar segera masuk ke area pesantren karena sudah jadi peraturan sangei dilarang keluar masuk area pondok kalau tidak ada hal urgent.


"badannya yang tegap, nada bicaranya yang tegas namun beribawa, senyumnya yang manis, bodinya yang sispek, hidungnya yang mancung hememem bikin meleleh hati adek bang" batin Rania membayanggkan sosok laki laki tampan tadi dan dengan senyam senyum sendiri


brughh


"auh, sakit, kenapa si pager ada disini, ganggu orang lewat aja" gerutu Rania sambil memukul pager yang telah ditabraknya, dan mengelus ngelus jidatnya yang sakit.


"kenapa dek kok ngedumel" tanya Nasha yang heran melihat Rania ngomel ngomel sendiri.


"itu mb, pagernya ngalangin orang lewat" jawab Rania sambil nunjuk pager depan asrama putri


"pagernya loh gak gerak gerak dek" ucap Sambil ngeliatin pager


"emang kamu ngapain bisa sampai pager, mau kabur gak jadi ya" tanya Ghina ketus

__ADS_1


"apaan, rang aku mau ke koperasi kok" ucap Rania gugup


"trus kenapa malah gugup" jawab Ghina lagi


"siapa yang gugup, enggak ya" ucap Rania langsung duduk dan membuka kantong plastuk yang dibawanya yang berisi jajanan .


"mb Mahira mana mb" tanya Rania pada Nasha


"di kamar mandi" jawab Nasha halus


.


.


di dalam kamar mandi Mahira menangis sejadi jadinya


"ya allah ampunilah aku, aku sudah ikhlas melihat laki - laki yang aku cintai bersama perempuan lain. dan aku gak mau kalau sampai persahabatanku rusak hanya karena laki laki" ucap lirih Mahira sambil menangis dan memegangi gagang keran kamar mandi yang sengaja dihidupkannya agar suara tangisnya tidak terdengar dari luar.


"mb Mahira mana ya, udah sejam lebih kok belum balik - balik dari kamar mandi, oiya katanya kan tubuhnya belum vit, meskipun dia judes sama aku tapi dia baik kemaren dah mau ngerawat aku, apa aku susulin aja ya dia dikamar mandi" batin Rania yang gelisah kepikiran Mahira.


"mau kemana lagi Ran" tanya Nasha yang melihat Rania tiba tiba berdiri akan keluar dari asrama.


"Rania kepikiran mb Mahira yang dari tadi gak balik balik dari kamar mandi mb" jawab Rania


"iya juga ya Ran, ini dah sejam lebih" jawab Nasha


"yaudah mb aku cek dulu ya" ucap Rania dan langsung keluar asrama,


"mbk ikut" kata Nasha yang langsung nyusul Rania di belakangnya


sesampainya kamar mandi mereka tidak menemukan Mahira


"gak ada mb disini" ucap Rani khawatir dengan menunjuk kamar mandi sampingnya

__ADS_1


"disana juga gak ada Ran, pondok udah sepi udah malem, para santri sudah pada tidur. ya Allah Mahira kemana ya" jawab Nasha yang gelisah


happy reading guys😘


__ADS_2