Pesantren Love Story

Pesantren Love Story
93. Tentang Ghina


__ADS_3

Seperginya Revan Ghina kembali ke ruang tunggu Mahira, dengan langkah gonta gantai dan fikiran tidak menentu.


"Ghiiiiin, kamu kenapa?" tanya Afra yang melihat ekspresi Ghina nampak memikirkan sesuatu. Ghina duduk disamping Afra lalu menceritakan ucapan Revan dikantin rumah sakit.


"ikuti kata hatimu Ghin dan libatkan Allah, Istikhorohlah dan jangan lupa minta saran kedua orangtuamu. dalam hal seperti ini orangtua harus kamu berikan peran penting karena mereka yang selama ini sudah merawat dan menyayangi kamu setulus hati, jika kamu memilih pasangan tanpa meminta saran dan melibatkan orangtua itu akan menyakiti hati mereka. selama bertahun tahun mereka menjagamu tiba tiba kamu pergi dengan orang baru.".


"lalu siapa yang harus aku beritahu terlebih dahulu, semenjak mereka bercerai aku merasa tidak ada lagi tempat untuk bercerita".


"bersama, kamu harus memberitahukan mereka secara bersama, ajak mereka bertemu".


"sulit ning. mereka pasti akan beralasan sibuk karena mereka sama sama tidak mau saling bertemu, terutama mama yang sangat sakit hati karena penghianatan papa".


"dicoba dulu, tidak ada salah nya mencoba" Afra terus meyakinkan Ghina.


keesokan paginya Mahira juga belum melahirkan, Afra Ghina dan Imron memutuskan untuk pulang bergantian dengan kedua orangtua juga mertua Mahira yang menunggu lahiran Mahira.


dirumah Ghina, Ghina nampak memikirkan saran Afra namun sebelum menyampaikan kepada orangtuanya, Ghina mencoba meyakinkan perasaanya terlebih dahulu untuk bisa benar benar menerima Revan atau tidak dengan melakukan istikhoroh.


semenjak kedua orangtuanya bercerai rumah utama diberikan kepada mama Ghina, selama Ghina dipesantren mamanya memilih untuk tinggal di kampung halamannya dan bekerja dikantor cabang yang ada disana rumah hanya dihuni oleh pembantu dan penjaga yang kebetulan mereka berdua suamu istri. mamanya akan pulang kerumah utama kalau Ghina pulang dari pesantren, terkadang Ghina yang menyusul mamanya ke kampung halaman.


siang itu Ghina pergi ke sebuah taman untuk menghilangkan rasa rindunya dengan kedua orangtuanya. dulu ketika masih TK orangtua Ghina sering membawanya kesana bersama kakaknya namun tiba tiba kakaknya hilang dan tidak ketemu, semenjak itu orangtuanya sudah tidak pernah lagi membawanya kesana atau mengajak berlibur bersama karena memilih menyibukan diri dengan pekerjaan masing masing agar tidak berlaru dalam kesedihan atas hilangnya kakak Ghina. masuk ke jenjang SMP Ghina memilih untuk masuk pesantren karena dirumah merasa kesepian mama papanya semakin menggila dalam bekerja kadang jarang pulang. fikirnya jika dia di pesantren selain belajar ilmu agama dia tidak akan pernah kesepian karena 24 jam akan ada teman yang bersmanya.


hal itu ternyata benar Ghina alami dia bertemu Mahira juga Afra yang tulus berteman dengannya lalu datanglah Nasha diantara mereka menjadi pelengkap persahabatan mereka. disaat Ghina harus menerima kenyataan kedua orangtuanya bercerai hanya sahabat sahabatnyalah yang ada untuk Ghina.


dari kejauhan Ghina melihat sosok pria sedang duduk dibawah pohon, tempat yang selalu menjadi favorit Ghina kalau ke taman ini.


"pak Fahmi" ucap Ghina yang mengenali sosok pria tengah duduk dibangku bawah pohon.


"kamu Ghina" Ghina mengangguk Fahmi tersenyum nampak bahagia.


"sini duduk" Fahmi menepuk bangku disampingnya.


"kamu sama siapa disini".

__ADS_1


"sendiri" jawab Ghina.


"Ghina, ada suatu hal yang harus kamu tau".


"apa itu pak" .


"aku, aku adalah kakak mu Gilang".


jedduuuar .


hati Ghina seperti mendapat hantaman bom.


"ma maksudnya".


"aku adalah kakakmu Gilang yang dulu hilang saat kita sekeluarga bermain ditaman ini".


"kamu ingat?" tanya Fahmi Ghina mengangguk dan langsung memeluk Fahmi dengan derai air mata.


"kenapa baru sekarang kamu mengatakannya kak, selama ini kamu dimana, kenapa waktu itu kamu pergi kk, dan kenapa nama kamu ganti menjadi Fahmi".


Fahmi tertawa, Ghina memasang wajah bingung.


"satu satu bertanyanya".


"apa kamu lupa namaku Gilang Fahmi pratama" Ghina tersenyum.


"kamu ingat waktu itu kita sedang bermain petak umpet" Ghina mengangguk.


"Kakak diculik sama preman kakak mencoba memberontak tak bisa karena badan preman itu besar, kakak dibawa ke Surabaya kakak disuruh ngamen, hingga akhirnya kakak bertemu sepasang suami istri yang tidak memiliki anak, kakak diadopsi oleh mereka"


"kenapa kakak gak minta diantar pulang orangtua kakak kesini, apa kakak sengaja gak ingin pulang dan berkumpul bersamaku lagi"


"orangtua angkat kakak sangat menyayangi kakak dan berat mau melepas kakak hingga akhirnya mereka membawa kakak tinggal di Jerman, dan baru 3 tahunan ini kakak kembali ke Indonesia, kakak datang kerumah lama kita. tapi ternyata rumah lama kita sudah dijual".

__ADS_1


"iya kak mama sempet depresi karena kakak hilang, jadi papa memilih untuk menjual rumah itu dan pindah agar mama tidak terbayang bayang kakak lagi, setelah mama pulih mereka mulai menyibukan diri untuk bekerja"


"saat pertama kali kakak melihatmu kakak merasa dekat dan Aisyah sering mengatakan kalau kita mirip hingga akhirnya kakak mulai menyelidiki kamu, kakak tau mama papa sudah bercerai karna papa selingkuh kan?" Ghina mengangguk. Fahmi menarik nafas dan kembali memeluk Ghina.


"dan karena kamu masih dipesantren kakak berfikir untuk mengatakannya nanti ketika kamu pulang" Ghina mempererat pelukannya ke Fahmi.


"aku rindu kakak".


"kakak juga rindu kamu dek".


dreet dreeet handphon Ghina berbunyi ada panggilan dari Nasha yang mengatakan Mahira sudah akan melahirkan.


"kak, aku harus kerumah sakit Mahira akan melahirkan aku ingin menemaninya tapi aku masih rindu dengan kakak" Fahmi tersenyum.


"ayok kakak temani".


sesampainya dirumah sakit semua keluarga Mahira, Nasha dan Rania ada diluar ruangan karena Mahira sedang melakukan prosesi Lahiran. Ghina datang bersama Fahmi membuat orang yang melihatnya bertanya tanya terutama Nasha yang langsung menyambut Ghina dengan pertanyaan


"Ghina kok bisa datang bersama pak Fahmi"


"ceritanya panjang, nanti saja aku ceritanya" jawab Ghina dan Nasha hanya mengangguk.


oeeek oeeek oeee


terdengar suara tangisan bayi didalam ruang persalinan yang diyakini anak Mahira sudah lahir.


didalam ruang bersalin Mahira nampak lemas dan Rizal nampak bahagia.


"terimakasih sayang kau telah memberikan putri cantik untuku" ucap Rizal lalu mencium kening Mahira, Mahira mengangguk dan tersenyum.


tak lama kemudian Mahira dan Bayinya sudah dibersihkan, semua orang yang menunggu sudah bisa masuk untuk melihat bayi Mahira. Bayi berjenis kelamin perempuan dengan hidung mancung seperti Rizal mata sipit seperti Mahira kulit putih terlihat sangat cantik dan menggemaskan.


maaf ya Luur untuk beberapa episode kedepan kita fokus ke Ghina dan Mahira dulu, cerita Nasha hanya akan hadir untuk selingan. anggap saja Nasha dan Zafran sedang fokus melalukan prosesi pembuatan adik Alif dan pengembangan Bisnis mereka. Kasihan kan Ghina belum ada jodohnya sendiri wkwkwkwk

__ADS_1


__ADS_2