Pesantren Love Story

Pesantren Love Story
97. Bonus Chapter 2


__ADS_3

selesainya makan malam bersama keluarga, Nasha seperti biasa mengajari Alif mengaji yang kini sudah sampai Al-Qur'an juz 1. Zafran yang melihat keluarga kecilnya nampak bahagia dan bersyukur. Nasha seorang Istri sekaligus ibu yang sholihah dan Alif anak yang tamapan, pandai, juga penurut.


"uhuk uhuk uhuk" suara batuk ibu Aminah yang sedang berjalan menuju meja makan untuk mengambil minum.


"buuuk, ibu batuk lagi, Zafran ambilin obat dulu ya". ucap Zafran pelan.


"gak usah Fran ibu baru minum obatnya".


"ibu sehat sehat ya, Zafran mau ngasih cucu yang banyak buat abah dan Ibu" Ibu Aminah tertawa.


"kamu mah enak Fran tinggal bikan bikin aja sebar benih, tapi kasian Nasha nya juga kalau harus ngelahirin anak yang banyak buat kamu" jawab Ibu Aminah sambil memukul lengan Zafran. Zafran hanya tertawa menanggapi ucapan ibu Aminah.


"katanya banyak anak banyak rizki bu" ucap Zafran sambil senyum ibu Aminah hanya menggelengkan kepala sambil senyum.


ditempat Mahira kini dia sedang sibuk mengurus baby Aulia yang semakin hari semakin mennggemaskan dan sudah bisa merangkak juga bisa merespon kalau diajak ngomong meski hanya dibalas dengan ketawa ehhe ehhhe


"Assalamualaikum" ucap Rizal yang baru sampai rumah.


"Waalaikumussalam papa" jawab Mahira mewakili Aulia.


"anak papa udah cantik, wangi, udah mandi ya nak ya" sapa Rizal pada Aulia dan mencoba mendekati ingin mencium pipi gembul Aulia.


"papa mandi dulu ya baru cium aku, takut bawa virus papanya" ucap Mahira sambil menahan tubuh Rizal mendekati Aulia. Rizal tersenyum mendengar ucapan Mahira.


"okey baby cantik, papa mandi dulu nanti makan sama papa ya. kamu jangan bobok dulu sayang, tunggu papa Oke" jawab Rizal menatap anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.


"ocee papa, mandi yang bersih papa yang wangi" jawab Mahira sambil menggerakan tangan Aulia.


tiga puluh menit kemudian Rizal telah selesai mandi lalu Rizal mendekati Mahira dan Aulia yang saat ini sedang menyusu diranjang kebesaran mereka.


"hallo cantiknya papa, papa sudah mandi nih main yuk sama papa" ucap Rizal lalu mencium pipi Aulia dan pipi Mahira.


Aulia yang mendengar suara Rizal langsung menoleh keraahnya sambil terseyum.


"bababbababa" ucap Rizal gemas sambil menciumi wajah Aulia. Aulia yang diciumi papanya malah tertawa terpingkal pingkal.


"mz udah makan belum". ucap Mahira.

__ADS_1


"belum sayang" .jawab Rizal dengan masih menatap wajah Aulia.


"aku ambilin makan dulu ya jagain anaknya,"


"iya mama, makananya tarok dimeja makan saja sayang nanti mz nyusul" jawab Rizal, Mahira pun mengangguk dan bangkit untuk keluar daeri kamar menuju dapur.


"eh tunggu yang" cegah Rizal memberhentikan langkah Mahira.


"kenapa mz".


"maz mau makan berdua ditemani kamu, bisakah kamu menidurkan Aulia dulu" Mahira tersenyum dan kembali merebahkan badanya menyusui Aulia..


"nak, kamu cepet bobok ya. mama mau menemani papa makan . papamu lagi manja mau pacaran sama mama" ucap Mahira.


"emang dia udah ngerti yank, kamu ngomong seperti itu" .


"belum si mz, tapi bayi itu harus banyak banyak kita ajak ngobrol ajak interaksi agar dia cepat tanggap".


"oh iyw si bener juga"


"mz kan bukan dokter anak yang"


"iya juga si ya" jawab Mahira dan mereka berdua tertawa kekeh.


"mz minggu depan Aulia Imunisasi lho, kamu temani kita ya mz, aku masih belum tega kalau ngeliat Aulia disuntik. rasanya hatiku teriris iris mas liyat dia nangis kesakitan kena jarum suntik".


"iya sayang nanti mas temani kalian, nanti imunisasi dirumah sakit mz aja ya".


"iya maz" jawab Mahira.


tak lama kemudian Baby Aulia sudah tertidur.


"Aulia sudah tidur mz, ayok makan" ajak Mahira dengan Rizal berjalan mengikutinya dari belakang.


kini Rizal sudah duduk dimeja makan Mahira mengambilkan makanan untuk Rizal dan duduk disampingnya.


"mz mau aku suapin?" tanya Mahira.

__ADS_1


"gak usah sayang, biar maz makan sendiri kamu cukup temanin maz saja duduk disamping mz" jawab Rizal sambil tersenyum.


"maz kamu semakin kesini kok semakin bucin si sama aku, manja banget tau gak"


"karena maz sangat sayang sama kamu Mahira".


"ya kalau itu aku tau mz, orang bucin pasti karena sayang, kalau gak sayang ya gak mukin bucin" jawab Mahira sambil memajukan bibirnya. Rizal semakin gemas melihat ekspresi Mahira.


"jangan manyun sayang, mz jadi pengen nyium kamu" seketika Mahira langsung membulatkan matanya. Rizal tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat ekspresi Mahira.


"mz kamu kalau suruh milih, mana yang kamu pilih antara anak dan istri" tanya Mahira menatap Rizal penuh cinta.


Rizal yang mendapat pertanyaan itu langsung memberhentikan kegiatan makannya dan langsung menggenggam tangan Mahira.


"sudah pasti maz pilih istri"


"kok istri mz" tanya Mahira.


"biasanya orang orang kalau suruh milih pasangan atau anak, pasti mereka akan milih anak" imbuh Mahira.


"terus kalau mas balik nanya, kamu pilih mana suami sama anak".


"ya jelas anak dong mz" jawab Mahira, Rizal tersenyum dan melepas genggamannya lalu melanjutkan makannya.


"mz belum jawab pertanyaanku, kenapa maz lebih milih istri dari pada anak" Rizal tidak bergeming dan terus menghabiskan makannya.


"menurut mz, Istri adalah orang yang sangat istimewa dia rela mengapdikan hidupnya untuk melayani maz dan merawat maz, menemani mz, mengurus mz dari pakaian, makanan sampai kebutuhan seksual mz dia mau mengorbankan tubuhnya untuk mengandung anak mz dia mau mengorbankan nyawanya untuk melahirkan seorang anak untuk maz, dia mau menemani maz sampai maz tutup usia . alasan apalagi yang maz harus beri kalau seorang istri lebih istimewa dari anak bagi mz"


"sayang, tugas kita pada anak itu merawat menyayangi dan membimbing agar dia menjadi manusia yang bertaqwa dan berbakti kepada kita, jika dia sudah besar kita akan merelakan dia hidup dengan pasangannya, apakah seorang anak bisa memenuhi semua kebutuhan yang mas perlukan layaknya yang bisa seorang istri bisa penuhi seperti yang mz sebutkan tadi? jawaban nya sudah pasti tidak"


"jika anak sudah menikah dan memilih tinggal dirumahnya sendiri kita bakal kesepian, beda dengan istri yang akan tinggal bersama mz menemani hari hari mz dan merawat mz hingga ajal menjemput mz"


Mahira yang mendengar penuturan Rizal sudah mengeluarkan air mata karena terharu, menurut Mahira apa yang diucapkan Rizal itu benar dan dia menggerutui dirinya sendiri yang tidak bisa berfikir seperti suaminya.


"kok nangis" ucap Rizal dan membawa Mahira dalam pelukannya.


"maafin Mahira mz yang belum bisa menjadi istri yang baik buat mz Rizal" ucap Mahira dengan derai air mata.

__ADS_1


__ADS_2