
setelah drama haru bahagia Zafran bisa jalan kini saatnya berdo'a bersama yang dipimpin abah Labib untuk milad Nasha. acara malam itu terasa hangat dengan adanya dua keluarga besan yang akur dan saling menyuport.
Nasi tumpeng kuning, barbaque, jagung bakar dan cemilan menjadi menu makan malam itu.
"mas, aku kebelet pipis" ucap Mahira disela selanya makan.
"ayok aku anter Ra" Ghina yang mendengar ucapan Mahira langsung menawarkan diri untuk menemani ke toilet.
"aduu aduh mules Ghin" ucap Mahira yang merasa perutnya mules sambil tangan kirinya memegang dinding dan tangan kanannya memegangi perut.
"kenapa Ra" tanya Nasha.
"mules katanya" jawab Ghina.
"udah mau lahiran ini Ra Rizal Rizal tolong" Nasha memanggil manggil Rizal.
"kenapa kenapa" ucap Rizal menghampiri.
"ini Mahira mau lahiran" Nasha menunjuk ke arah Mahira dengan dagunya.
"udah waktunya yang?" tanya Rizal ke Mahira, Mahira mengangguk.
semua nampak panik saat melihat Rizal menggendong Mahira ke mobil untuk dibawa kerumah sakit ditemani Ghina. sedangkan Afra dan Imron ikut menemani dengan mobil yang berbeda, Arumi tinggal dirumah papa Nasha bersama Nasha.
"aw aw, mz cepetan mz, anakmu udah mau keluar ini aku sudah tidak tahan mz, sakitnya masya Allah" ucap Mahira sambil mencengkram rambut Ghina yang terbalut jilbab.
Ghina dan Mahira duduk dikursi belakang.
"rasa sakitnya bagaimana yang" tanya Rizal.
"Nikmat" jawab singkat Mahira.
"aduuh Ghin sakit rambutku". Ghina menahan sakit akibat jambakan Mahira yang terlalu kuat.
"huh huh huh awww mazzzz kamu lama banget si maz bawa mobil nyaaaa". gerutu Mahira.
"sabar sayang sabar ini mz udah ngebut". Rizal mulai panik mengemudi.
"Ra tarik nafas".
"huuuuuuuu
Mahira mengikuti Ghina .
"Huuuuuuu.
"buang".
"haaaaahhh".
"haaaaaahh".
"mz kamu tu ya lelet banget si ya Allah suamiku bawa mobilnya kenapa lama si ya Allah" ucap mahira kesal.
"Ghin kamu bantu tenangin Mahira dong, dia kesakitan ngomong terus aku jadi nambah panik ini".
"ini juga lagi aku tenangin mz dokter Rizal" ucap Ghina penuh penekanan dikata mz dokter Rizal.
"Ra kamu tenang dong, ikut mules aku dengernya" ucap Ghina kesal.
"iya sayang kamu tenang ya, biar kita juga gak ikut panik" sambung Rizal.
"mas dokter cepetan" ucap Ghina dengan memukul punggung kursi Rizal.
__ADS_1
"ini juga udah cepet Ghin, panik aku, kamu jangan nambahin panik dong".
"badanku sakit semua ini ya Allah dicakarin Mahira mas dokter" Ghina merasa perih bekas cakaran Mahira.
"udah si Ghin gak papa, besok juga sembuh, besok ilang itu sakitnya".
"gak papa gak papa, iya kalu sembuh kalau seumpama besok gak sembuh bagaimana, kalau malah infeksi terus diamputasi gimana". ucap Ghina kesal.
"Astaghfirullah ya gak mungkin lah, cuma bekas cakaran bumil masak bisa infeksi sampai amputasi".
"aku bilang kan seumpama".
"ya saama ajalah, lebay kau ni Ghin".
"stooooop, " Rizal dan Ghina langsung diam kaget mendengar teriakan Mahira yang sangat kencang dan cempreng.
"kalian bisa diem gak, beringsik tauk tambah bikin perutku mules tau gak" teriak Mahira penuh emosi.
klekeeeep
Rizal dan Ghina langsung diem.
"astaghfirullah habis badanku sakit semua, rambut dijambak tangan dicakar telinga diteriakin rasanya mau jebol" batin Ghina kesal melirik Mahira. Ghina merasa kesal tapi juga kasian melihat Mahira kesakitan menjelang melahirkan.
lima belas menit kemudian mereka sampai dirumah sakit. Rizal buru buru memanggil perawat untuk membawa bangkar.
Ghina turun dari mobil dengan jilbab acak acakan pakaian berantakan peris kuntilak.
"Astaghfirullah hal adzim Ghina" ucap Rizal kaget melihat bentukan Ghina saat ini.
"gak usah kaget ini gara gara istrimu" jawab Ghina datar dan cemberut.
Mahira nampak senyum melihat ekspresi Ghina.
"Mahiraaaa kamu malah senyum senyum".
"Astaghfirullah hal adzim" ucap Ghina singkat nampak kesal.
"Astagahfirullah hal adzim, tak fikir kuntilanak Ghin" Afra dan Imron yang baru menghampiri Ghina langsung kaget spontan.
mereka semua terkekeh melihat bentukan Ghina.
"udah diem ah, ayok bawa bumil ngerepotin ini" ucap Ghina.
sesampainya diruang persalinan ternyata Mahira masih bukaan tiga.
"Astaghfirullah bener bener hari ini aku banyak istighfar karna Mahira, udah bikin bentukan seperti kuntilanak ternyata masih bukaan tiga" ucap Ghina yang kesal. Afra dan Imron yang mendengarnya terkekeh.
"sabar tsai," bisik Afra menahan tawa.
"kapan lagi kan jadi dayang bumil ngerepotin" lanjut Afra.
"rasanya aku perlu pendingin ning" .
"aku kekantin rumah sakit dulu ya ning cari air minum" pamit Ghina.
"mau ditemenin enggak". Afra menawarkan diri.
"enggak usah ning, aku sendiri saja" jawab Ghina.
dirumah Nasha saat ini dia baru selesai menindurkan Alif dan Amira. sambil menunggu Zafran Nasha membuka Handphonyya, ternyata ada pesan dari Afra yang mengirimkan foto bentukan Ghina yang seperti kuntilanak.
"ahahahahah"
__ADS_1
"sayang kenapa ketawa ketawa sendiri" tanya Zafran yang baru masuk kekamar.
Nasha menunjukan layar Handphonya poto Ghina yang seperti kuntilak. Zafran spontan ikut tertawa.
Ghina yang sudah sampai kantin memilih meminum disana sendiri sambil membersihkan luka cakar di lenganya.
"Ghina" ucap suara disebrang.
"kk Revan" ucap Ghina yang melihat Revan menggunakan pakaian casual.
"ngapain disini" tanya Revan yang langsung duduk dikursi depan Ghina.
"minum kak haus" jawab Ghina sambil nunjuk minumannya.
"iya tau minum, maksudnya ngapaim dirumah sakit siapa yang sakit" lanjut tanya Revan sambil melempar senyum.
Whuusssss
"senyum bang Revan manis banget, tampan" batin Ghina.
"itu Mahira mau lahiran kk"
"oh ya" Ghina mengangguk.
"aku duduk sini nemenin kamu boleh kan" Ghina mengangguk.
"kak Revan sendiri ngapain disini".
"mamaku dirawat disini kena tipes".
"kamu masih dipesantren Ghin" Ghina mengangguk.
"belum ingin boyong" (keluar).
"aku boyong nya nanti kak kalau dah mau nikah". Revan mengangguk namun terbesit rasa kecewa dihatinya.
"calonnya udah ada ya, orang mana" tanya Revan lagi .
"belum ada kak" Ghina menjawab sambil membuang nafas sembarangan.
Revan kembali mengangguk dan tersenyum rasa kecewanya mendadak hilang.
"Ghina, nikah yukkkkk!!" ucap Revan menatap Ghina.
uhuk uhuk uhk
"hati hati Ghin, maaf ya kamu jadi tersedat"
"kak Revan ngomong apa si"
"aku serius Ghin, mau gak kamu nikah sama aku" Ghina mencoba mencari keseriusan atas ucapan Revan dari mata dan raut wajah.
"kenapa mendadak kak, selama ini kita juga tidak dekat"
"pertama mamaku menginginkan aku segera menikah, kedua semenjak ketemu kamu beberapa hari yang lalu aku tidak bisa memeikirkan kamu, aku merasa kamulah jawaban do'a do'aku selam ini, jujur aku mengajakmu menikah bukan karena mamaku tapi karna hatiku mengatakan kamulah orangnya".
deg
hati Ghina meresa berdebar debar.
"beri waktu Ghina untuk berfikir ya kak" Revan menagngguk lalu menyodorkan kartu nama.
"Handphon kamu mana"
__ADS_1
Ghina menyerahkan Hendphonnya lalu Revan menyimpan nomornya.
"nih nomorku, kalu kamu sudah ada jawaban silahkan hubungi aku ya, aku tunggu dan aku terima apapun jawabanmu" ucap Revan sambil tersenyum.