Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 99


__ADS_3

Dalam kejapan mata, kedua gadis kecil yang ada di depan mata Juminten berubah semakin cantik dan tinggi. Mendengar suara deringan telepon rumahnya, mereka berlari cepat menuruni tangga.


"Mbok, itu telepon dari Mama?" ucap mereka dengan berbinar.


"Bukan, Nona. Nyonya belum ada telepon sampai sekarang," jawabnya dengan hati-hati.


"Kalau telepon dari Papa, ada?" tanya gadis yang memakai kacamata.


"Belum ada juga, Nona."


Wanita tua yang mereka panggil Mbok memeluk kedua anak majikannya,"Ayo bobok sama Mbok! Nanti kalau mereka datang, Mbok bangunin kalian, ya! "


Hanya berucap seperti itu, jawaban hiburan untuk kedua gadis tersebut. Bahkan saat awal majikannya menikah, mereka menanyakan setiap waktu kabar kedua orang tua mereka tanpa bosan.


Kedua anak itu menurut segera kembali ke lantai atas, beriringan dengan wanita tua yang mereka panggil 'Mbok'.


"Sini Mbok peluk." Dia memeluk dengan kedua tangannya, seakan sedang memeluk anaknya sendiri.


Juminten yang melihat, merasa iba dengan nasib mereka. Di umur mereka yang masih belia sudah menjadi korban keegoisan mereka.


"Planet.. Bumi.. Ibu rindu!" teriaknya.


Sore menjelang malam, suara sayup angin dari luar masuk ke dalam kamar mereka. Suara telepon rumah memecahkan keheningan, dengan tergesa-gesa Mbok yang sedang masak berlari ke sumber suara.


"Halo. . Iya, Selamat Sore. Apa? Nona Mila hamil? Ba... baik, saya akan segera ke sekolah. "


Juminten kaget mendengar ucapan Mbok mengucapkan nama Mila. Apakah berarti dia sedang bermimpi? Tangannya mencoba meraih pipinya, sialnya lagi-lagi dia tak bisa menyentuhnya.


" Abah, tolong bantuin Ibu keluar dari mimpi ini! " jeritnya mencoba menghentakkan seluruh tubuhnya agar dia bisa keluar dari mimpinya.


"Te-terus sekolahku gimana, Kak?" tanya Mala yang berubah menjadi seorang gadis remaja yang menggunakan seragam putih dan biru.


"Kalau kamu mau sekolah sendirian, Kakak nggak masalah. Nanti biar Bambang yang anter kamu."


Membuatnya tersipu malu, hanya dengan mendengar suara teman kelasnya.


"Ciye.. Naksir Bambang," goda Mila.


"Ah, enggak Kak. Cuman dia baik aja."


Juminten menutup mulutnya, dugaan dia selama ini salah. Ternyata Mala menyimpan rasa cinta dengan mantan suaminya sejak dulu. Jauh sebelum dia mengenal dengan suaminya.

__ADS_1


"Kita besok pindah ke rumah baru, ya. Biar dekat sama kerjaan Kakak." ucap Mila.


"Aku setuju aja, Kak. Mungkin mereka akan temui kita, saat sudah terbujur kaku di atas keranda dengan jeritan penyesalan. "


Mendengar ucapan absurd Adiknya, Mila melempar tisu yang ada di tangannya, "Hus, nggak baik putus asa kayak gitu! Jangan main-main sama kematian! "


"Kakak, kita tak perlu merengek memohon perhatian mereka, karena kita adalah buah cinta masa lalu. Bukannya itu yang pernah Papa katakan? Sepertinya mereka lupa, buah cinta yang mereka katakan adalah hasil keringat mereka sendiri."


Mila segera memeluk Adiknya yang terlihat sedang berjuang menahan air mata.


"Aku lelah hidup, kak! Aku iri dengan semua teman-temanku. Kenapa kita berbeda?" jeritnya.


Mila semakin memeluk erat Adiknya, membiarkan dia membasahi baju yang dipakai.


Juminten ikut menangis melihat kepedihan yang di alami Mala dan Mila selama ini. Tiba-tiba, Bambang melewati tubuhnya,


" Apa aku boleh main ke rumah kamu tiap hari, walau kita udah nggak satu sekolah lagi?"


Mala mengangguk dengan malu-malu, sontak Bambang memeluknya.


"Terima kasih, Adik. Mulai saat ini, panggil aku Abang, ya. Coba sebut itu , anggap aja gladi bersih."


"Nanti ya, jangan sekarang." Mala buru-buru masuk ke dalam rumah, namun tangannya di cekal Bambang.


"A-abang."


"Yes,makasih Mala! Aku pulang dulu, ya!"


Mala tersenyum senang sambil melambaikan tangannya, mengantarkan Bambang keluar dari rumah. Senyum dia pudar melihat Juminten yang masih remaja mengagumi Bambang setiap mereka bertemu.


"Ya Allah, itu aku pas sekolah." Juminten menutup mulut. Melihat senyuman lengkungan bibir ke atas Mala, berganti dengan lengkungan ke bawah.


"Abang jangan sering main kesini, nanti kalau ketahuan Juminten. Aku nggak enak," tolaknya halus.


Bambang mengacuhkan ucapan Mala dan tetap memilih duduk di kursi ruang tamu mereka.


"Tahu juga biarin, aku berharap pernikahan ini batal atau tak terjadi sama sekali!"


Juminten menangis tergugu mendengar ucapan Ayah si kembar, sebenci itukah masa lalunya saat terpaksa memilih menikahinya.


Mendengar suara deruman motor yang dia kenal, Mala berlari mendekatinya, "Abang kenapa aku kirim pesan nggak balas? Abang sibuk, ya?"

__ADS_1


Bambang diam tak menjawab pertanyaan Mala. Bahkan dia terkesan menghindari, saat tatapan pandangan mata mereka beradu.


"Hai kesayangan!" Suara pekik Juminten dari kejauhan, membuat Bambang tersenyum lebar.


"Eh, ada Mala. Mau nunggu Mila?" tanya Juminten berpakaian putih dan abu-abu.


Mala menggelengkan kepalanya, "Yaudah kalian hati-hati, ya. Aku duluan!"


Sepanjang perjalanan pulang, Mala menangis tersedu. Menyalahkan ucapannya untuk menerima pernikahan mereka. Menyesali rasa kehilangan perhatian dari Bambang.


"Aku sayang kamu, Bambang!" teriaknya di dalam kamar.


Mila yang menggendong Radit memasuki kamar, "Adik! Kakak bilang apa? Ikhlaskan dia. Ini semua keputusan kamu. Jangan malah kayak gini. “


" Aku nggak bisa tanpa Bambang, aku butuh Bambang. Aku sayang Bambang, Kak! " teriaknya dengan mengacuhkan seluruh perabotan kamarnya.


" Adik! " pekik Mila melihat darah mengucur deras di tangan adiknya. Mereka menangis tersedu bertiga, dengan Radit yang ketakutan mendengar suara teriakan mereka.


Tangisan Mala tiba-tiba berhenti menjadi senyuman, "Kak, aku punya ide agar mereka bisa pisah dan Bambang kembali perhatian sama kita."


"Kamu jangan aneh-aneh ya, Dek! Kakak nggak suka!"


"Hahaha.. Bambang harus menjadi milikku, Kak! Tak akan ku biarkan gadis sial** itu merebutnya atau membawa hasil benihnya!"


Plak!


Mila menampar pipi Adiknya, "Kamu harus sadar! Dia suami orang! Berdosa kamu, merusak rumah tangga orang!"


"Kenapa Kakak membela wanita sial** itu? Kakak harus inget, Bambang lebih dulu cinta aku dari pada dia! Sudah waktunya aku yang bahagia! Wanita itu sudah punya segalanya, kedua orang tua yang sayang dia, kedua sahabatku dan sekarang Bambang. Apa Kakak masih bilang aku egois? Tuhan nggak adil, membiarkan dia bahagia sedangkaj seumur hidupku tidak! "


Juminten memejamkan mata, air matanya mengucur deras melihat betapa kejamnya dia tega merebut kebahagiaan Mala.


Juminten berusaha meraih tangan Mala yang ada di dekatnya," Maafin aku, Mala. Kenapa kamu nggak bilang dari awal, kalau kamu suka sama Bambang?"


Mendengar suara rintihan tangisan istrinya, Eka segera berlari masuk ke dalam kamar.


"Sayang.. Bangun!"


Tepukan pelan di pipinya, membuat Juminten terbangun dari mimpinya. Keringat dingin keluar mengucur deras, di sertai bulu halus yang ikut meremang.


"Mimpi apa sayang?" tanya Eka yang seharian di buat resah, melihat istrinya memejamkan mata.

__ADS_1


Juminten membalas dengan memeluk suaminya dengan erat, ketakutannya untuk bisa kembali raganya sudah menguar.


"Mana anak-anak, Bah?"


__ADS_2