Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 61


__ADS_3

Sinta melemparkan 1 botol air mineral, "Tangkap!"


Bambang menangkapnya dengan gesit "Makasih."


Memilih duduk di atas rerumputan sambil menikmati angin malam hari yang berhembus sangat kencang.Keringat mereka masih bercucuran, terdengar dari suara nafas yang masih ngos-ngosan.


"Udah lama nggak main bola, keder gue!" Bambang menelungkupkan lututnya.


Plak!


Sinta menepuk lutut Bambang dengan menatapnya tajam, "Jangan di tekuk nanti kram!"


Bambang meluruskan kembali kakinya, "Ck.. Bawel! Lupa gue."


"Kebanyakan kencan sama Miss, sampe lupa. Lurusin dulu kaki minimal 5 menit, buat lancarin perdaran darah."


"Hmm..Gue nggak pernah kencan sama dia, bahkan dia dulu salah satu cewek yang paling gue benci. Percaya nggak, gue dulu selalu ngehindari dia. Tiap ada acara di sekolah, dia orang yang paling pengen gue hindari." Jawabnya sambil menatap bintang, mengenang masa lalunya.


"Dan sekarang? Lu yang ngejar-ngejar dia, " pancing Sinta, "Inget woi! Titik tertinggi orang mencintai itu mengikhlaskan! Gue emang nggak pernah pacaran, tapi gue tau rasanya mengikhlaskan!"


"Berarti.. Lu tuh sok tau!" teriak Bambang.


Mereka asik berbincang hingga suara Dafa mengagetkan mereka. "Mbak Sinta! Mas Bambang! Di suruh Ibu mandi!" teriaknya.


Setelah mereka mandi, Bu Ani dan Sinta segera menyiapkan hidangan untuk makan malam. Nasi uduk dengan lauk lele goreng, tahu goreng juga lalapan. Masakan rumah yang sangat menggugah selera.


Melihat Bambang yang melongo sambil menatap masakan, terlintas ide jail Sinta, "Nih, jaga-jaga ngiler! " Dia melemparkan 1 lembar tisu kepada Bambang. Sontak membuatnya kaget.


Gila si bar-bar tau aja kalau gue kalap mata. Cium baunya doang aja, enak. Apalagi rasanya, pasti enak.


"Sinta! Malah ngerjain!" seru Bu Ani.


"Haha.. Mukanya mupeng bu!"


Melihat Sinta dan anak-anak yang lain membawa makanan mereka ke gazebo, tangan Bambang terulur membantunya.


Senyuman bahagianya terpancar, bisa merasakan kembali kehangatan makan bersama mereka. Mengingat waktu terakhir kali ia bisa makan bersama keluarga, saat masih menjadi suami Juminten.

__ADS_1


"Ayo Sinta, di pimpin doanya." ucapan Bu Ani mengagetkannya.


Sinta menyenggol keras Bambang membuatnya hampir terhuyung. Melihat lawannya membalas dengan tatapan marah, membuatnya cengar-cengir, "Pimpin gih doanya, lu kan calon bapak."


"Gue nggak hapal doanya." bisik Bambang.


"Ciyee.. Mbak Sinta bisik-bisik sama pacarnya!" goda anak-anak.


"Berisik bocil! Udah sono mulai doa."


Setelah makan, kebiasaan disana membuat Bambang takjub, setiap anak mencuci piringnya sendiri-sendiri. Bahkan mereka bekerja sama membersihkan gazebo yang tadi mereka tempati. Semakin betah rasanya ia disini.


Sinta mendekatinya yang sedang melihat keseruan anak-anak, "Kenapa? kaget?" Bambang menganggukkan kepalanya.


"Ya kayak gini kehidupan anak yatim piatu disini. Nggak ada yang namanya manja, semua di latih kuat juga mandiri. Setiap anak di sini juga di latih fisiknya, biar mental mereka kuat, hadapi semua bully-an di mana-mana. Coba lu tanding tarung ma anak sini, gue berani taruhan kalah."


Bambang menatap sinta, "Lu kira gue anak orang kaya, punya orang tua lengkap? Manja? Gue yatim piatu juga, Mamaku baru meninggal tahun kemarin malahan."


"Mbak Sinta di panggil Ibu! Dafa nangis minta ikut camping! " teriak anak-anak.


Sinta segera berlari ke kamar Bu Ani, Bambang ikut penasaran dan segera menyusulnya. Terlihat Dafa menangis sesegukan di dalam kamar.


Sinta segera masuk ke dalam kamar, "Dafa kenapa, bu? "


Dafa memeluk kakaknya," Dafa ingin ikut camping kak. Soalnya aku ketua kelompok, jadi wajib ikut. "


"Butuh uang berapa emangnya? Nanti kakak coba utang sama temen-temen. Udah nggak usah nangis." Dafa menganggukkan kepalanya.


"200ribu, Sin." jawab Bu Ani.


Bambang segera membuka dompetnya, melihat uang yang tak jadi ia pakai untuk membeli perlengkapan anaknya tadi siang. "Ini kamu bayarin buat acara besok. Udah jangan nangis, boy!"


"Alhamdulillah, tuh ada rezeki dari Mas Bambang ucapin makasih." ucap Sinta.


"Makasih, Mas Bambang."


Bambang terdiam sesaat, melihat Bu Ani kewalahan menjaga panti sendirian rasanya tak tega. Walau hanya menjaga 5 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.

__ADS_1


"Bu, saya boleh ikut disini?" ucapnya membuat mereka kaget.


Sinta refleks memukul lengan Bambang. "Jangan bercanda! Gue sama Ibu nggak bisa bayarin lu. Mau makan sama apa kita besok, kalau bayarin lu!"


Bambang berjalan mendekati pemilik yayasan, "Saya memang sedang butuh tempat, Bu. Saya juga kos 10 menit dari sini, saya hidup sebatang kara. Setidaknya bila saya disini, saya bisa merasakan kehangatan memiliki keluarga kembali. Saya janji akan tinggal disini hanya sebentar, saya juga ikut memberikan uang hasil kerja saya untuk anak-anak. "


"Memangnya Mas Bambang mau kemana? " tanya bu Ani.


"Ikut abang ke kalimantan,Bu."


Bu Ani tersenyum mendengar ucapan tulus Bambang. Dengan senang hati beliau menerimanya, karena bila tak ada Sinta, beliau sering merasa bingung tak ada teman yang diajak mengobrol ataupun berbagi keluh kesah untuk masalah anak panti. Adanya Bambang juga bisa membantunya menjaga panti.


🍓🍓🍓🍓


Mila merasakan sakit pada bagian wanitanya, bahkan terasa perih hingga menusuk tulang. Tubuhnya yang demam, membuat jalannya terseok-seok.


Eko yang sudah menunggunya dari 3 jam yang lalu, segera berlari melihat pujaan hatinya yang sedang kesulitan berjalan. Sesekali terlihat Mila membuka kakinya, seperti merasakan rasa tak nyaman di bagian bawah.


"Kamu kenapa?" Eko memegang kedua lengannya, menatap penuh sayang pada wanita yang semakin ia kagumi akhir-akhir ini.


Mila sontak melepaskan tangan yang di kedua lengannya, "Aku nggak apa-apa, kamu jangan gini Mas. Aku kan udah pernah bilang, tolong cari perempuan yang lain. Jangan aku mas, aku kotor!"


Eko menggelengkan kepalanya, menatap serius kedua bola mata yang ada di depannya. "Apa aku terlihat bercanda selama ini?"


"Tolong menjauhlah!"


Tubuhnya tiba-tiba terangkat dari tanah, Eko menggendongnya ala bridal. Mengacuhkan tatapan orang-orang yang berlalu lalang.


"Turunin aku! Turunin!" teriaknya.


Eko segera membonceng Mila ke rumah sakit. Tenaganya yang lemah, membuatnya hanya bisa pasrah mengikuti pria yang di depannya.


"Hmm.. Perjuangan gue dapetin elu gini amat, Mil. Dulu kudu nolong Radit sampe dapet jahitan kaki, sekarang nolongin elu bawa ke IGD malem-malem kaya maling anak orang."


Eko kaget merasakan tubuh Mila yang semakin panas, ia segera melajukan pelan motornya sambil tangan kirinya memeluk tubuh agar ia tak jatuh. Sampai di IGD, Eko menggendongnya kembali.


" Sus, calon istri saya panas. Taruh dimana, Sus? " Suster segera mempersilahkan Eko ke kamar yang kosong.

__ADS_1


"Silahkan Mas, taruh di sini. Masnya pakai masker dulu, ya. Mbaknya biar kami periksa dulu."


__ADS_2