Pesona Juminten

Pesona Juminten
BAB 67


__ADS_3

Jika aku tahu akhirnya akan seperti ini, maka kesalahan di masa lalu tidak akan aku ulangi. Mengenalmu tak pernah membuatku menyesal, hanya saja penyesalanku adalah ketika kau memberikan kepercayaan yang besar dan akhirnya aku sia-siakan, Maafkan aku Juminten.


-Bambang-


...****************...


Ani dan Neneng menatap pasangan yang ada di seberang mereka. Jika biasanya, mereka yang sedang duduk berdekatan akan terus berdebat, Namun berbeda kali ini, Dodit membiarkan Sinta menyuapi Rena dan dia asik dengan makanan yang ada di piringnya tanpa bersuara.


Neneng di buat gemas melihat tingkah mereka berdua, "Kalian ada masalah apa? Kok Mama liat dari tadi kalian nggak bertegur sapa? " Meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya.


Mereka serentak menggelengkan kepala.


"Terus kenapa kalian diam aja?" lanjutnya.


Mereka pun saling tatap mencoba mencari dukungan untuk menjawab, namun justru hal itu membuat mereka menjadi canggung antara 1 sama lain. Kejadian semalam masih membuat mereka malu untuk bertatap muka.


"Mama ribet deh, kita akur salah diem juga salah." jawab Dodit santai menutupi nervousnya.


Neneng masih mengernyitkan dahinya, "Tapi, kalian itu aneh. Masa bisa akur dalam sekejap. Biasanya tiap ketemu berisik, entah yang ribet perhatiin Rena atau ributin masalah yang nggak jelas. "


Ana menengahi perdebatan mereka, "Sudah, Mbak. Biarkan mereka menikmati pendekatannya. Bukannya ini kemauan Mbak sama Romo buat liat mereka akur dan saling kerja sama menjaga Rena?"


Sinta menatap adik asuhnya yang sedang dia suapi makan "Rena habis ini ikut Papa ya, Nak. Ibu mau ada perlu sebentar . Boleh? " Sontak Rena memeluk erat ibunya.


"Mau jenguk siapa? Tuh, anak kamu nggak ijinin loh, masa tetep berangkat. " tukas Neneng.


"Miss Juminten lahiran Mam, " jawabnya pelan. "Dia sekarang koma, karena ada accident Dokter putusin di operasi caesar saat itu juga."


Sontak Dodit terbelalak mendengarnya, "Ayo berangkat sekarang!" Dodit menarik tangan Sinta yang masih duduk di meja.


"Eh, enak aja! Main pegang-pegang, jangan ketagihan ya kamu!" Sinta mebelalakkan matanya.


Malas harus berdebat dan di pastikan akan berakhir lama, Dodit tetap menarik paksanya. Mengacuhkan teriakan Ibu Ana dan Mamanya yang menyuruh untuk berhenti.


Sontak Neneng berlari cepat mengejar anaknya, mencubit keras lengan anaknya." Au.. Au.." teriak Dodit.

__ADS_1


"Kamu kalau ngajak perempuan bisa manis dikit nggak? Kamu tuli apa gimana? Anak kamu nangis liat Ibunya di tarik-tarik, kayak sapi aja!" ucapnya menunjuk cucunya yang sedang menangis di pelukan Rena.


"Kayaknya Mama harus percepat pernikahan kalian, biar kamu tau gimana nggak dewasanya kamu jadi seorang PAPA! Mama telepon Romo kamu, biar cepat pulang dari Cina, " ucapnya menggebu-gebu.


"Ma.." Sinta menggelengkan kepalanya, memberi kode ada Rena di dekat mereka.


Dodit memejamkan matanya, sambil mencubit keningnya yang terasa pusing. Selalu sulit mengontrol emosinya dan berimbas kepada orang yang di sekelingnya.


"Yaudah kalian lebih baik berangkat bersama saja, Rena mau ikut sama Ibu apa di rumah sama Nenek?" tanya Bu Ani.


"Ikut Ibu." Rena memeluk erat Ibunya.


Mereka pun segera berangkat, Sinta yang sudah menyiapkan bekal untuk keluarga bossnya menaruh di jok belakang.


🍓🍓🍓🍓


Rohaya menepuk pelan bahu Eka, "Kamu tidur dulu, Bang. Nanti pas Adikmu sadar, Emak bangunin."


Eka menggelengkan kepalanya, tak ingin beranjak sedikitpun dari Kamar Intesif Juminten. Sabar menunggunya kembali sadar dan berharap menjadi orang yang pertama yang di lihat Juminten.


Bambang semakin menundukkan tubuhnya, mendengar mantan mertuanya terus saja menyindir juga menyalahkan. "Maafkan aku Juminten." Teriaknya pelan.


Melihat semua mengacuhkannya, Rohaya memilih keluar dari Kamar dan menuju Kamar Rawat bayi. Udin yang selalu ada disana menunggu cucunya, menarik tubuh istrinya. "Mak, kita keterlaluan ya sama Juminten?"


"Sudah, Pak. Yakin abis ini kita pasti bahagia dan bawa pulang Juminten sama si utun."


"Assalamualaikum." Sinta menyalimi kedua bosnya.


"Waalaikumsalam." jawab mereka serentak.


Dodit memilih duduk dengan mereka, sedangkan Sinta membuka bekal yang dia bawa tanpa menawarkan bosnya terlebih dahulu.


"Ayo Nyonya, aak..."


Rohaya menolak makanan yang akan di suapkan. "Nggak laper, nggak selera."

__ADS_1


Sinta tak menggubrisnya, tetap menyodorkan sendok yang sudah dia pegang. "Kalau Nyonya nggak makan, siapa yang jaga mereka? Setidaknya saat mereka di nyatakan sembuh, Nyonya kuat melayani mereka."


"Maksud kamu?" tanya Rohaya.


"Nyonya pasti akan mulai di sibukkan menjaga cucu juga melayani Miss Juminten yang sedang fase pasca persalinan. Nyonya juga, tadi Pagi menyeka tubuh Miss. Kalau nyonya sakit, siapa yang menyekanya? "


Rohaya segera melahap makanan yang di suapkan Sinta, lalu mengambil alihnya, "Biar Bapak juga ikutan makan." Menyuapi suaminya yang duduk di sampingnya. "Ayo, Pak makan. Kita terakhir makan kemarin pagi. Biar kita nggak ikut lemas." ucap Rohaya.


Sinta tersenyum, mengambilkan kotak makanan yang lain. "Sama Papa dulu sayang, Ibu mau ngasih nasi ini ke dalam kamar ya. Ibu janji cuman sebentar." Rena menganggukkan kepalanya.


Sinta memasuki Ruang Juminten, melihat 2 lelaki yang sama-sama tampak keadaan kacau. "Bambang, makan yuk." Mengelus pelan bahunya.


Sontak Bambang memeluk erat Sinta dan berteriak, "KENAPA DUNIA KEJAM DENGANKU? KEDUA ORANG TUAKU MENINGGAL, SEKARANG ANAKKU DAN JUMINTEN BELUM SEHAT. BAGAIMANA CARA AKU BISA BERNAFAS TANPA MEREKA? KAPAN JUMINTEN SADAR? " jeritnya dengan menangis tersedu.


"Juminten gerakin tangan!" pekik Eka.


Melihat Eka seperti orang kebingungan karena bahagia, Sinta segera menekan tombol memanggil tim medis yang ada di dekat ranjang Juminten.


Benar apa kata orang-orang, kalau orang sedang kalut seberapa cerdiknya orang itu, pasti mendadak menjadi orang bodoh dan melupakan semua materi yang pernah dia pelajari. Batin Sinta.


Dokter segera memeriksa Juminten, semua orang di buat cemas menunggu kabarnya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Eka.


"Alhamdulillah, kesadaran Nyonya Juminten tambah 1 tingkat. Saya mohon sering di beri stimulan otaknya seperti tadi, agar segera sadar. Bisa mengajak ngobrol atau mendengarkan musik yang dia sukai."


Ucap syukur alhamdulillah mereka panjatkan, Eka segera berlari mendekati ranjang Juminten. Berkali-kali mencium telapak tangannya," Lekas sembuh, Abang rindu kamu,Juminten. "


Sontak Bambang menarik bahu Eka," Abang maksudnya apa? "


Melihat adiknya yang menatapnya marah, Eka menarik tangannya keluar. "Kalau ngajak ribut, jangan di dalam!" ucapnya nyalang.


Bambang memberanikan diri menarik kaos Abangnya, "Maksud Abang apa bilang gitu? Jangan bilang Abang selama ini suka sama Juminten!"


"Kalau memang iya kenapa? Ingat! Kau sudah mengucapkan talak 3 pada Juminten yang sedang hamil. Pernikahan kalian sudah selesai dan Juminten sudah menggelar status janda setelah melahirkan anakmu!" Eka menarik keras tangan Adiknya yang mulai lemas.

__ADS_1


"Agama tak melarang turun ranjang! Camkan itu!" Eka meninggalkan Bambang yang masih terbengong di luar.


__ADS_2