
"Mak tolong, tangan Jumi basah! Minta tissue, Mak! " pekiknya.
"Ya Allah, Jumi. Entar jangan banyak tingkah. Apalagi entar pake ada adegan gagal masang cincin gara-gara lu nervous. Awas aja!" peringat Rohaya.
"Mak, jangan bikin Jumi makin nervous napa?" Juminten mengibas-ngibaskan tangannya agar hilang rasa takutnya.
Eka turun dari mobil memakai jas hitam di padukan dengan kemeja putih dan celana hitam. Rambut hitamnya yang tertata rapi, karena pomade yang dia pakai menambah kadar ketampanannya.
" Peci nya Bang, jangan lupa di pakai! " Bambang menyodorkan peci hitam yang tertinggal di dalam mobil.
"Makasih, Dek. Abang nervous nih." Mengelap keringat banyak yang ada di dahinya.
"Haha.. Adem panasnya nanti pas di kamar aja, Bang. Jangan sekarang!" goda Bambang.
Sontak Eka memukul keras punggung Adiknya. Baru di halaman parkiran saja dia sudah mengeluarkan keringat, apalagi nanti saat berhadapan dengan penghulu. Mungkin keringatnya bisa untuk mandi sekalian.
Bumi dan Planet sebagai pengantin kecil, menyambut kedatangan Abah mereka di depan rumah.
"Selamat datang, Abah."
Eka mengambil bunga mawar berwarna merah muda dari Bumi, simbolis untuk menunjukkan rasa kasih sayang mereka untuk Abahnya. Eka mengecup juga memeluk anak perempuannya dengan posesif, semakin bangga dia bisa memiliki mereka di hari-harinya yang akan datang.
Sedangkan Bambang mendapatkan bunga mawar berwarna kuning dari Planet, simbolis agar bisa berdamai dengan hubungan yang akan Ibu dan Abah mereka jalani kedepannya. Planet memeluk Ayahnya, seperti dia mengetahui bagaimana perasaan Ayahnya saat ini.
Udin menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lebar, Eka menyalimi calon mertuanya. Ah, predikat calon akan dia buang jauh-jauh dan berganti menjadi mertua.
__ADS_1
"Semangat, Bapak doakan lancar ijab kabulnya. Sudah hafal kan?"
"Insya Allah sudah, Pak," jawabnya lugas.
Melihat Bambang berdiri di belakang Eka, ia juga memeluk mantan menantunya. Menepuk pelan punggungnya.
"Terima kasih, kamu sudah mengikhlaskan Juminten untuk menjadi Kakak Iparmu. Semoga setelah ini, kamu tetap menjadi Ayah yang baik untuk si kembar. Bagaimanapun juga mereka akan tetap membutuhkanmu."
Bambang memeluk kembali mantan mertuanya, mengabaikan orang di sekeliling mereka. Air matanya tak dapat menampung sisa rasanya untuk Juminten. Hari ini, waktu ini, jam ini, menit ini dan detik ini. Dia tak akan mengganggu kehidupan percintaan mereka, tujuannya hidup saat ini dengan membesarkan anak-anak Panti. Sepertinya, itu adalah salah satu cara untuk menebus dosa-dosa yang sudah dia lakukan.
Semakin bergetar tubuh Eka saat duduk di hadapan Kepala KUA, Penghulu, Calon Mertua dan Para Saksi pernikahan.
"Akhirnya, Bumi kalau malem ada yang peluk. Di pikir-pikir bosan juga ya, di peluk sama Ibu terus. Mana kalau tidur suka ngorok terus --" Juminten segera menutup bibir anaknya yang menjunjung tinggi kejujuran.
"Bisa nggak, satu hari aja nggak bikin Ibu mencak-mencak. Lihat dandanan Ibu udah kayak Putri Solo, masa kamu tega jatuhin image Ibu!" gerutu Juminten, melihat sekeliling mereka ikut tertawa dengan kelakuan putrinya.
"SAH! Alhamdulillah barakallahu laka wabaaraka alaikuma wa jamaa bainakumaa fii khoir. " terdengar seruan ucapan 'sah' dari arah luar membuat Juminten berkaca-kaca.
Dia segera memeluk Emaknya, "Terima kasih, Mak. Sudah selalu mendamping Jumi selama ini. Jumi nggak tahu bagaimana caranya bisa balas kebaikan, Emak. Sepertinya cukup menambah 2 cucu kembali, akan menambah rasa bahagia Emak dan Bapak."
Rohaya mencubit pinggang Juminten, momen romantis mereka di gagalkan dengan ucapan absurd anaknya." Baru juga sah, udah bahas cucu. Noh, Bumi suruh mingkem dulu baru nambah. " gerutunya sambil membalas ucapan selamat dari orang-orang yang ada di dalam ruangan.
Obrolan mereka terhenti saat Udin menghampirinya," Ayo, Nak. " Juminten mengamit lengan Bapaknya, semua mata memandang Juminten yang berjalan ke arah suaminya.
Juminten terlihat cantik dan dewasa dengan dress putih yang dia kenakan. Tubuhnya yang jenjang di dukung kulitnya yang putih, menambah kesan mempermanis penampilannya hari ini.
__ADS_1
Eka di buat tak berkedip melihat riasan Juminten hari ini, sungguh cantik istrinya. Entah mengapa semakin melihat dia berjalan mendekat, tubuhnya di buat gemetar, bahkan jantungnya berdetak lebih cepat dari pada saat mengucapkan ijab kabul.
" Selamat Mbak Juminten sudah sah menjadi Nyonya Eka mulai hari ini. Silahkan di cium tangan suaminya, Mbak."
Juminten segera mencium tangan suaminya, Eka di buat terharu merasakan kecupan kecil di tangannya. Tangannya terulur mengangkat kepala istrinya, memberika kecupan singkat di dahinya.
" Assalamualaikum, Istriku. " ucap Eka.
" Wa-waalaikumsalam, Suamiku, " jawabnya terbata.
"Sudah dulu ya adegan romantisnya, silahkan memakaikan cincin di jari manis Mbak Juminten."
Rohaya membawa cincin ke depan mereka berdua, "Semoga nggak ada acara jatuh ya, inget jaga image!" serunya pelan. Membuat Juminten mencebikkan bibirnya, Eka hanya bisa tertawa mendengar ucapan mertuanya.
Mereka menyalami satu per satu tamu undangan yang hadir, matanya mencari sosok yang mereka tunggu-tunggu kehadirannya." Bambang dimana, Bah? "
Bambang ternyata sedang duduk menjauh dari kerumunan acara, memilih duduk di bawah pohon belimbing milik tetangga Juminten, "Hai, Om Akio," mata cantik itu mengerjap melihat Bambang sedang sendiri.
"Hai Rena. Ah, kamu salah panggil nama Om. Panggil nama saya Bambang."
"No Om, Akio adalah nama panggilan kesayangan Rena untuk Om, karena Om adalah pahlawan untuk Rena. Terima kasih banyak Om."
Bambang mengelus rambut Rena, "Alangkah baiknya, panggil Om Bambang saja."
"Ah, bagaimana kalau aku memanggil Om itu calon suami, karena aku berharap masa depanku adalah menjadi istri Om," ucapnya dengan bertepuk tangan tanda dia suka.
__ADS_1
Bambang tertawa mendengar ucapan gadis berumur 14 tahun di depannya. Dengan mudahnya dia membahas pernikahan di umurnya yang masih belia.
Hihi.. Spoiler bab di novel Oh, My Hot Daddy 😂