
Eka : [APA ABANG PERLU CUCI OTAKMU AGAR PIKIRANMU TERBUKA! 😤]
Eka : [Q fikir sifat pengecutmu memang tak akan bisa dirubah👎]
Bambang : [ 🏳️ 🏳️ ]
"Makasih banyak ya, udah nyiapin acara hari ini." Juminten mengagetkan Bambang yang sedang membaca pesan.
Bambang dengan tergesa-gesa memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, "Sama-sama, kamu seneng?" Sambil mengelus rambut Juminten.
Juminten tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya. "Alhamdulillah,Terharu banget. Ternyata banyak yang sayang sama duo gemoy."
"Sstt...Sini! Liat deh, ada yang lagi gagal move on." Candra mengajak kedua temannya, Eko dan Santi, untuk mengintip bos nya yang sedang kasmaran di dalam ruangan.
"Udah.. Ayo, cepet kelarin beres-beresnya! Gue was-was bakal ada drama boker season 2, nih! Bakal lama ini." Sindir Sinta sambil melirik Eko.
Candra menabok pelan lengan Eko, "Jorok lu! Lagi asyiknya kita makan, lu malah kentut. Pake bunyi lagi!"
Melihat gerak-gerik bos dan mantan suaminya yang semakin intim, Eko meletakkan telunjuknya di bibir, "Sssttttt...!" sontak mereka hening dan menatap adegan di dalam ruangan.
Terlihat Bambang berdiri dan menggenggam tangan Juminten. Seperti biasa, lawan bicaranya akan menarik kembali tangannya.
Bambang tersenyum kecut, sepertinya memang tak ada kesempatan untuk mereka kembali. Penolakan verbal berkali-kali yang dia terima, sudah cukup menjadi bukti. Mereka bersama, karena kehadiran dua gemoy yang membutuhkan kasih sayang.
Ia memilih bersikap seperti biasa, agar tak renggang kembali hubungan ini, "Eh iya, lupa kalau nggak boleh sentuh kamu lagi. Tapi... kalau sentuh duo gemoy boleh kan?" Mensejajarkan tubuhnya dengan perut Juminten, "Ayah sayang kalian, juga Ibu kalian. Kita ketemu lagi saat kamu lahir, ya!"
"Mau kemana? Kok pamitannya gitu?" tanya Juminten.
Bambang hanya membisu, tak ingin menjawab pertanyaan mantan istrinya. Mengelus perut juga memberikan kecupan bertubi-tubi, menyalurkan rasa sayangnya untuk mereka bertiga.
Juminten di buat geli dengan kecupannya, "Dari tadi ciumin mulu, nggak bosen?" gumamnya.
Bambang menggelengkan kepalanya, "Kamu udah prepare barang perlengkapan mereka?"
Juminten menggelengkan kepalanya, "Mau cari bareng? Yuk! Aku mumpung aku free!" Juminten membantu mantan suaminya berdiri, dan menggandeng tangannya.
"Eh..!" kaget Bambang.
"Demi anak kita, yuk!"
__ADS_1
"Awalnya demi anak.. Lama-lama juga demi Ayah sama Ibunya," sindir Sinta sambil menyindir pasangan yang berjalan melewati mereka. Sontak Candra dan Eko menimpuk pelan kepalanya dengan gulungan kertas di dekat mereka.
Resiko kandungan trimester 3 dengan kehamilan bayi kembar membuat mereka memilih pergi ke baby shop yang ada di dekat toko. Di samping itu, di umur kehamilan sekarang Juminten juga akhir-akhir ini mudah lelah juga lapar.
Melihat semua peralatan bayi, membuat mereka lapar mata. "Jumi bingung mau beli apa?" ucap Juminten.
"Sama.. Aku juga! Apa kita beli semua?" jawab Bambang. "Udah yuk masuk aja!"
"Selamat datang.. Ada yang bisa kami bantu, Kak?" Seorang Pramuniaga mendekati mereka.
"Bingung Mbak, mau beli yang mana. Kehamilan pertama dan anak kembar. Rasanya pengen beli semua, tapi takut nggak kepakai." jawab Juminten.
"Mari kakak, saya bantu."
Mereka sibuk memilih barang yang di tawarkan pramuniaga, akhirnya mereka memilih perlengkapan yang terpenting untuk duo gemoy. Baju bayi lengkap, cloddy, kelambu anti nyamuk, perlengkapan mandi juga perlengkapan persalinan dengan tasnya.
"Tambahkan ini juga, Mbak. Semua saya yang bayar. " Juminten menengok suara pria yang dia kenali di sebelahnya.
"Pak Dodit!" pekik Juminten.
Dodit tersenyum dan mengacak rambut Juminten, "Mingkem!" Sontak Juminten menutup bibirnya.
Bambang melajukan motornya pergi ke danau yang biasa ia kunjungi dengan Mala. Suasana sepi saat Sore Hari, menambah asupan supply oksigen di otaknya. Mengurangi rasa gundah gulananya.
Puk!
Puk!
"Ngapain? Galau?"
Bambang kaget melihat cewek tomboy yang selalu berseteru dengannya ada di sana. "Ngapain lu disini?"
"Gue tiap sore ke sini, lu yang ngapain ke sini? Bukannya lu tadi sama Miss?" Sinta ikut duduk di kursi Bambang.
"Bukan urusan lu!" jawabnya sengit.
Plak!
Rasa panas menjalar ke pahanya, yang sudah menjadi sasaran empuk gamparan wanita tersebut. Sontak Bambang mengelus untuk mengurangi rasa panas juga sakitnya.
__ADS_1
"Cih, cemen! Gitu doang ngeluh. " cibirnya, "Ini yang gue nggak suka dari lu, lu tuh kalau di tanya bilang nggak tau, tapi giliran ada masalah suka kabur duluan. Yang punya masalah lu, yang nyelesein orang lain. Mental lemah! "
Bambang menatap tajam Sinta, perempuan ini selalu benar statementnya mengenai kepribadiannya. Bahkan mereka belum kenal dekat hingga sekarang, tapi dia seakan sudah mengenalnya dekat.
"Gue nyerah dapetin Juminten. Dia lagi deket sama guru sekolah kita dulu." Bambang menyenderkan punggungnya di kursi. "Kayaknya mereka deket banget."
"Siapa? Dodit?" Bambang menganggukkan kepalanya.
"Alah si perjaka tua nggak serius itu. Pacar dia banyak, ada yang di Cina juga. Gue aja di jodohin sama dia, gue nya ogah!"
Mendengar jawaban Sinta yang sepertinya serius, membuat moodnya kembali naik, tapi mengingat kembali Juminten yang menjaga jarak dengannya membuatnya lesu.
"Lah kok di tekuk lagi tuh bibir? Kenapa?"
Bambang diam tak meresponnya, hidupnya kacau balau, Bahkan dia masih berat meninggalkan kota ini seperti janjinya dulu kepada Mantan Bapak Mertuanya.
"Yuk, ikut gue ke tempat lain! Gue jamin mood lu naik!"
Sinta menarik paksa tangan Bambang untuk keluar dari danau.
"Jauh banget.. Mau kemana ini?" tanya Bambang sambil menyetir, bahkan mereka sudah ada di luar kota.
"Ke rumah gue! Udah lurus aja!" teriaknya.
Lah, kok di Panti Asuhan? Katanya ngajak ke rumahnya. Gimana sih, nih cewek!
"Welcome my home! Ini rumahku juga masa depanku. Yuk, masuk!"
Bambang mengikuti langkahnya masuk ke dalam, "Assalamualaikum." Bambang menyalami seorang Ibu yang sedang memeluk Sinta di depan.
"Waalaikumsalam.. Selamat datang Mas Bambang, mari masuk!"
Bambang ikut masuk ke dalam rumah, rasanya suasana sangat hangat. Pigora foto, kaligrafi juga piala terpajang rapi di ruang tamu.
"Woi, Ganti kaos ini!" Bambang menangkap jersey yang di lemparkan Sinta, "Langsung cabut ke belakang, anak-anak lagi ngumpul di lapangan!"
Bambang segera mengganti kaos nya, dan melepas sepatunya.
"Monggo, di minum dulu Mas Bambang." Bu Nia menyajikan 1 botol air mineral dingin di meja, "Eh, mau ikut main bola. Langsung ke belakang aja Mas, anak-anak udah mulai dari tadi!"
__ADS_1
Layaknya anak kecil, Bambang segera berlari cepat masuk ke belakang rumah.