
Juminten merengkuh tubuh Sinta, membelai lembut punggungnya. Suara Murrotal Al-qur'an, Musik Sholawat tak pernah berhenti berputar dari sound music mini yang ada di dalam kamar.
Mendengar suara dengkuran halus Sinta, secara perlahan dia melepaskan pelukannya. Melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya, tujuan saat ini untuk membuka isi ponsel wanita tersebut.
"Gimana Miss? Masih nangis?" tanya Candra.
Juminten menggelengkan kepala, "Aman!" sambil mengayuhkan jempolnya.
Dia segera mengobrak-abrik ruangan tempat kerja mereka. Membuat Eko dan Candra, terbesit bingung, karena baru beberapa hari yang lalu, semua tempat di bersihkan saat pernikahan bossnya.
"Cari apa, Miss?" tanya Eko.
"Ponsel Sinta, kayaknya puncak stres dia setelah baca ponselnya deh. Masa dia punya utang sama orang, bukannya hasil uang rumah panti juga buat bayar hutangnya semua?"
Candra yang mengantongi ponsel Sinta, mengacungkannya ke atas, "Cari ini? Sorry tadi aku simpen, Mi-ss."
Tuing!
Candra membulatkan mata, membaca pesan yang baru masuk.
Dodit : [ 500 juta apakah cukup untuk harga perawan kamu?]
Tuling!
Dodit : [Kalau kamu setuju, aku kirim ke nomer rekeningmu sekarang👌]
Candra menggertakaan giginya membaca semua pesan masuk dari Dodit. Matanya seakan ingin mencuat, emosinya sudah membara ia ingin membabat habis pria bangsat saat ini juga.
"Woi, ada apa?" teriak Eko.
Juminten menarik ponsel yang ada di tangan Candra, "Astaghfirullah!" pekiknya sambil menutup mulut.
"Gue harus bikin perhitungan sama itu orang!"
__ADS_1
Candra yang akan berdiri segera di cekal Juminten.
"Jangan aneh-aneh kamu! Selesaikan semua masalah dengan kepala dingin! Jangan sampai Sinta stres sampai seperti aku dulu!"
Sepertinya ungkapan Juminten di pikir hanya angin lewat, Candra masih mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan wajah memerah.
"Woi sabar, Bro! Nurut aja sama Miss! Kita tunggu keputusan Boss, jangan sampai kau kena sasaran amukan Pak Udin!" seru Eko melihat temannya lebih mengedapankan emosinya, di bandingkan pikirannya.
"SIAPA YANG BISA SABAR, LIHAT PRIA ITU MASIH HIDUP? HAH!" teriaknya nyalang.
Juminten dengan berani memukul tangan Candra.
"Lu jangan bodoh-bodoh amat! Kalau Sinta hamil siapa yang tanggung jawab? Emang lu mau?"
"MEMANG SAYA YANG BERTANGGUNGJAWAB, MISS!" teriaknya kembali, Candra memukul tembok yang ada di dekatnya untuk meredakan emosinya.
Semua terdiam mendengar ungkapan pria tersebut, padahal niat hati Juminten hanya untuk menakut-nakutinya. Demi atas nama persahabatan mereka, dia rela bertanggung jawab menggantikan lelaki biadab yang dengan mudahnya mengatakan membeli. Tanpa memikirkan bagaimana down nya mental juga perasaan Sinta saat ini.
Mereka pun mulai menyentuh pekerjaan, sudah cukup beberapa jam untuk memikirkan masalah ini. Mungkin dengan sambil bekerja, tiba-tiba ada ide terlintas untuk memecahkannya.
"Mana Sinta?" teriak Rohaya yang baru masuk ke dalam rumah.
"Ada di kamar, Mak. Anak-anak mana?" tanya Juminten berusaha menenangkan Emaknya.
Dengan terburu-buru Rohaya memasuki kamar depan, mengacuhkan pertanyaan anaknya.
"Lagi asyik di kolam ikan, " jawab Udin, sambil meletakkan tas ransel si kembar. Udin segera menyusul istrinya yang sudah terlebih dulu di dalam.
Suara raungan tangisan 2 orang terdengar sayup dari jauh, Rohaya terlihat memeluk erat tubuh Sinta sambil berbaring.
Udin tergerak mendekati mereka, dia ikut merebahkan diri di belakang Rohaya. "Apa Bapak perlu menghukum Guru itu?" ucapnya pelan.
Namun tak ada sautan dari keduanya, sepertinya mereka masih terhanyut dengan tangisan mereka.
__ADS_1
"Mak, jangan ikutan nangis. Bukannya Emak tenangin, malah makin memperburuk suasana."
Rohaya segera menghapus tangisannya, memilih memeluk erat kembali tubuh Sinta.
"Emak nikahin lu sama Dodit, ya? Bukannya kalian saling mencintai? Nggak usah bingung biaya, Eko, Candra, lu semua Emak anggap anak. "
Sinta semakin meraung tangisannya, membuat hati Rohaya terenyuh. Selama hidupnya tak pernah mengerti siapa Ayah dan Ibu kandungnya, kehilangan Ibu asuh, dan sekarang dia meratapi perbuatan bodoh dengan seorang pria. Dan bejatnya lagi, pria itu dulu adalah wali kelas Juminten.
"Anak Bapak yang pemberani mana? Kamu salah Sinta, kalau kamu tunjukin dengan berlarut-larut seperti ini, mungkin Dodit menganggapmu lemah dengan cintanya."
"Ingat, tak semua masalah bisa di atasi dengan menangis! Dan tak semua masalah bisa di atasi hanya dengan mendiamkannya ataupun dengan kekerasan fisik! Gunakan akal untuk berfikir terlebih dahulu. Dia pintar, kamu juga harus lebih pintar dari dia! "
"Kamu harus berani menghadapinya, bertemu dengannya atau mengangkat teleponnya. Bukan malah seperti ini! Ini bukan Sinta, sang jawara toko Bapak yang selalu maju di garda terdepan melawan preman-preman pasar!"
Rohaya menyela ucapan Udin, "Kamu cantik, Nak. Kamu pintar masak, pintar bela diri, pintar mengasuk anak kecil. Kalau memang dia nggak ada niatan tanggung jawab, ya sudah cari yang lain. Masih banyak pria yang mau menerima kamu apa adanya."
Sinta masih diam, mencoba memikirkan semua masukan dari kedua bosnya. Apa benar saat ini bukanlah dirinya? Sinta yang sekarang suka diam, menangis dan hanya bisa meratapi nasib. Melupakan rasa syukur kepada Tuhan dengan di kelilingi orang-orang baik seperti mereka.
"Ah, benar kata Bapak dan Nyonya. Sinta harus kuat, apalagi nanti malam waktunya masuk kerja di rumahnya. Bismillah semoga bisa menghadapinya dengan baik, ada anak-anak panti yang harus aku hidupi." Sinta menhapus air matanya.
"Alhamdulillah, nah gitu dong. Tapi ingat, jangan mau di ajak ke ranjang lagi. Oke!" seru Udin.
"Sudah sana bangun, cuci muka, makan, minum obat terus tidur. Emak tadi beliin kamu sop buntut, di makan pakai nasi putih hangat terus di kasih sambal yang banyak. Di jamin ilang stresnya, yuk!" imbuh Rohaya.
Sinta mengangguk lalu turun dari kasur, langkahnya menuju ruang kerja teman-temannya yang terdengar hening tak seperti biasanya.
Cklek!
" Assalamualaikum! "
" Waalaikumsalam! " jawab mereka serentak dan kaget melihat siapa yang membuka pintu.
" Sinta, alhamdulillah akhirnya waras juga!" pekik Juminten lalu berlari memeluk erat Sinta.
__ADS_1